I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 28. Bocah Lain yang Ingin Memilikinya



"Tok ...! Tok ...! Tok ...!"


Berkali-kali Kiara mengetuk pintu kamar yang pernah dikunjunginya beberapa hari yang lalu.


"Tok ...! Tok ...! Tok ...!"


Untuk kesekian kalinya gadis berkaos longgar itu mengetuk daun pintu bercat putih di ujung lorong dengan kencang.


"Om ... bangun, Om!"


Akhirnya Kiara berteriak saat tak juga terdengar jawaban dari dalam kamar setelah beberapa saat menunggu.


"Om ... bangun!" teriak Kiara mulai kesal. Tak dihiraukannya Andre dan beberapa anak buahnya yang datang untuk memeriksa situasi.


"Om! Om Derri!"


Tangan Kiara kembali terulur. Iseng-iseng diputarnya handle pintu. Tak disangka pintu yang hampir satu jam digedor-gesornya itu terbuka karena tak terkunci.


"Ya Tuhan, ternyata dia seteledor ini," gumam Kiara sembari sedikit membuka daun pintu.


Dilongokkan kepalanya hingga sebatas leher ke dalam kamar. Tampak olehnya Derri yang masih bergelung dalam selimut putih di atas tempat tidur. Gadis remaja itu pun memberanikan diri melangkah masuk.


"Sudah jam sembilan pagi dan dia masih sepulas ini?" gumam Kiara sambil menatap wajah tenang Derri. "Hah, benar-benar enak sekali hidup laki-laki satu ini."


Tangan Kiara terulur perlahan. Digoyangnya pundak laki-laki di hadapannya itu agar terbangun.


"Hei, bangun! Om ...!"


Setelah puas menggoyang pundak tanpa membuahkan hasil, Kiara mencoba menoel pipi Derri beberapa kali.


"Ya Tuhan, dia benar-benar raja kerbau tukang tidur," gumam Kiara sembari menghenyakkan pantatnya di tepian tempat tidur.


Dibetulkannya selimut yang sudah tampak berantakan itu hingga menutupi bagian tubuh Derri sampai sebatas leher.


"Benar yang Sesil katakan ... dia memang tampan," gumam Kiara yang sedang menatap lekat-lekat wajah laki-laki yang tengah tertidur pulas itu.


Tangan Kiara terulur pelan. Dijentiknya hidung mancung itu dengan lembut. Dari ujung hidung, telunjuk Kiara turun ke bibir. Dengan lembut jemari Kiara mengusapnya bibir yang telah menjadi yang pertama baginya itu. Kiara tersenyum menyadari bahwa kejahilan ini tak akan mungkin bisa dilakukannya saat pemilik bibir itu dalam mode terjaga.


Tangan yang tadinya hanya menoel pipi kini telah beralih menjadi mengusap pipi Derri dengan lembut. "Om ... bangun, Om." Suara Kiara melembut. "Om ...."


"Freya ...." Tiba-tiba terdengar suara meluncur dari mulut Derri.


Seketika Kiara terkesiap mendengar nama yang terucap. Tubuh gadis itu menegang dengan pandangan menatap tajam ke arah bibir yang telah mengucap sebuah nama itu. Nama yang tak lagi asing di telinga Kiara. Namun, sosok pemilik nama itu begitu asing dan misterius bagi Kiara.


Sesaat kemudian wajah Derri tampak tegang, kemudian bergerak gelisah dengan kedua mata tetap terpejam.


"Om," panggil Kiara cemas. "Om kenapa? Bangun, Om."


Kiara menepuk-nepuk lembut pipi Derri dengan cemas. Wajah laki-laki itu mulai berkeringat.


"Om, bangun! Bangun, Om."


Dibukanya selimut yang menutupi tubuh Derri yang mulai berkeringat agar laki-laki itu tidak merasa gerah dan lebih tenang.


"Om kenapa? Bangun! Bangun Om."


Tiba-tiba saja mata Derri terbuka dengan wajah pucat dan nafas tak beraturan.


"Om," panggil Kiara canggung sambil menatap pergelangan tangannya yang berada dalam genggaman Derri.


"Kiki?" ucap Derri terkejut. "Kau ... kenapa di sini?" tanyanya masih dengan nafas memburu tak teratur.


"Iya, Om," jawab Kiara semakin canggung. "Mmm ... itu, Om. Tangannya," lanjut Kiara sambil melirik tangan yang masih berada dalam genggaman Derri.


"Maaf, Ki." Derri melepas genggaman tangannya. "Kau sedang apa di sini?" tanyanya sambil mengucek kedua mata.


"Tadinya aku ingin mengajak Om jogging, tapi Om belum bangun," jawab Kiara sambil mengambil botol air mineral dari atas nakas lalu menyodorkannya pada Derri.


"Aku lelah sekali, Ki. Semalam tidak bisa tidur." Derri meraih botol dari tangan Kiara.


"Benarkah?" Kiara memang sengaja tak membahas tentang mimpi atau apa pun yang baru saja terjadi pada laki-laki di hadapannya itu.


"Iya," jawab Derri setelah menenggak air putih dari dalam bitol. "Jam empat pagi mataku ini masih terjaga."


"Ayo olah raga. Nanti pasti badan Om jadi lebih segar," ajak Kiara penuh semangat.


Derri memandang ke arah Kiara dengan lebih seksama. Gadis itu memang telah mengenakan setelan olah raga, siap untuk berkeringat kapan saja.


"Tidak." Tangan Derri bergerak membetulkan letak bantal dan selimut.


"Kenapa?" tanya Kiara dengan wajah bingung.


"Aku mau tidur lagi." Derri merebahkan tubuh kemudian beringsut untuk menemukan posisi yang paling nyaman.


"Ayo, bangun." Tangan Kiara terulur. Ditariknya selimut itu hingga menampilkan seluruh tubuh Derri.


"Aku masih mengantuk," gumam Derri dengan mata terpejam. Tak dihiraukan tubuhnya yang tak lagi tertutup selimut.


"Ayo, Om." Kiara menggoyang lengan Derri, sengaja mengganggu laki-laki itu.


"Tidak!" Derri kembali beringsut. Kini tubuhnya tampak membelakangi Kiara yang masih setia duduk di tepian tempat tidur.


"Ayo, cepat!" seru Kiara sembari menarik paksa tangan Derri.


"Aku tidak mau ...!" rengek Derri yang telah bangkit dari posisi tidurnya dengan terpaksa.


"Aku tidak mau tahu, Om harus menemaniku jogging pagi ini." Kiara terus menarik paksa tangan Derri ke luar kamar.


"Tidak, Ki. Aku tidak mau!!!"


"Bukankah sudah kukatakan dari beberapa hari yang lalu bahwa Om harus jogging denganku hari minggu ini?"


"Siapapun, tolong aku ...!!!" teriak Derri.


___


.


"Ditunggu lama, ya."


Kiara yang tengah asyik memandangi berbagai macam tanaman bunga dalam pot di sisi kiri teras rumah sontak menoleh ke arah asal suara. Tampak Lion berjalan mendekat dengan dua kaleng soft drink di tangan.


"Ditunggu lama?" tanya Kiara bingung. "Kenapa bukan ditunggu sebentar?"


"Karena biasanya Suzi butuh waktu sangat lama untuk mandi," jawab Lion sembari melemparkan senyum hangatnya.


"Ah, ya. Kalau itu sih aku juga tahu," sahut Kiara sembari kembali menikmati keindahan bunga-bunga di taman kecil itu. "Tapi itu sebanding juga dengan kecantikan wajah dan kulitnya."


"Ya, harus kuakui bahwa dia memang cantik." Lion menyodorkan satu kaleng soft drink dengan tangan kanan.


"Terimakasih, Kak," ucap Kiara saat menerima minuman yang Lion berikan. Sementara Lion hanya menanggapinya dengan senyuman manis.


"Banyak sekali teman kuliahku yang menyukainya. Tapi entahlah ... tak satu pun dari mereka yang mampu merebut hati anak manja itu."


"Mungkin dia memang belum ingin pacaran, Kak," sahut Kiara sembari membuka tutup kaleng minumannya. "Setahuku begitu."


"Ya, kau benar. Lagi pula dia masih terlalu kecil untuk pacaran."


"Terlalu kecil?" Kiara membeo. Disesapnya minuman dalam kaleng dengan pandangan tetap ke arah berbagai macam bunga.


"Maksudku dia masih terlalu kekanak-kanakan," ralat Lion sembari turut menyesap minumannya.


"Aku yakin dia akan memiliki pasangan di saat yang tepat, Kak."


Lion menoleh, kemudian tersenyum simpul pada Kiara yang tengah memandang bunga anggrek bulan di hadapannya.


"Sepertinya sudah lama kau tidak datang ke mari. Kali ini ada perlu apa?" Lion beringsut dari posisinya berdiri. Kini menghadapa persis ke arah Kiara.


"Tidak ada acara khusus sebenarnya, Kak. Hanya kumpul-kumpul saja seperti yang sudah-sudah."


"Pasti sangat menyenangkan bisa berkumpul dengan teman-teman satu gank setiap hari."


"Tentu saja," sahut Kiara dengan wajah berbinar. "Tapi bisa dibilang ini aji mumpung sih, Kak," lanjut Kiara. "Mumpung masih bisa bertemu. Kalau sudah mulai masuk kuliah bisa jadi kami tidak akan memiliki waktu mi time bersama-sama lagi seperti ini karena sudah sibuk dengan studi masing-masing. Apa lagi kalau kami sampai kuliah di luar kota."


"Sepertinya kau sangat menyayangi teman-temanmu ini," timpal Lion.


"Ya, begitulah. Begitu banyak suka dan duka yang kami lalui bersama. Jadi bisa dibilang ini adalah acara-acara perpisahan bagi kami," sahut Kiara dengan suara sendu.


"Hei, jangan bersedih. Kalian pasti tetap bisa bertemu. Bukankah selalu ada libur smester? Kalian bisa memanfaatkannya untuk saling berkunjung ke kost masing-masing."


"Iya, Kakak benar," sahut Kiara dengan senyuman. "Andai saja Sheila memperbolehkan kami membawa pasangan laki-laki, pasti aku akan mengajak Kak Lion."


"Benarkah?"


"Sebagai pasanganmu?"


"Ya pasangan Suzi lah. Kan dia yang jomblo. Hahaha ...."


Lion turut tertawa renyah bersama Kiara. Entahlah, apa pun yang dilakukan Kiara memang selalu mengundang perhatian baginya.


"Jadi saat ini kalian semua dalam status sedang berpacaran, kecuali Suzi?"


"Sejauh yang kutahu begitu, Kak."


"Hmm ... begitu," gumam Lion hampir tak terdengar.


"Memangnya kenapa, Kak?"


"Sepertinya aku patah hati," sahut Lion tampak lesu namun terap berusaha memeprlihatkan wajah cerianya.


"Maksudnya?" tanya Kiara bingung. "Hei, jangan bilang bahwa Kakak menyukai salah satu di antara kami."


"Kalau iya, bagaimana?"


"Wah, ngajak gelud itu berarti," sahut Kiara dengan ekspresi pura-pura marah.


"Hahaha ... kau ini lucu sekali Kiara."


"Habisnya, Kak Lion begitu ...."


"Tapi yang kau katakan tadi benar adanya." Lion kembali bersuara.


"Yang mana?"


"Aku menyukai salah satu teman dekat Suzi."


"Benarkah? Siapa?" tanya Kiara dengan sorot penasaran.


"Kau ingin tahu?"


"Tentu saja, Kak," jawab Kiara antusias.


"Aish! Apa-apaan itu? Dasar kanak-kanak!" rutuk Derri di tempat duduknya tak jauh dari Kiara dan Lion yang tengah bercakap-cakap.


"Tapi aku merasa tak layak untuk mengatakannya." Suara Lion kembali terdengar.


"Kenapa begitu?"


"Karena aku memang tak layak."


"Ach, kenapa harus berbelit-belit?" gumam Derri setelah menyesap soft drink di tangan kanan. "Katakan saja terus terang. Dasar pengecut," lanjutnya.


"Hei, Ra. Sedang apa kau di situ? Ayo cepat sini." Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan tiga orang yang sedang berada di teras.


"Ah, Suzi sudah selesai mandi rupanya, Kak," ucap Kiara pada Lion.


"Ah sudahlah, ayo cepat masuk, Ra. Kau jangan terlalu lama bergaul dengan singa masai itu. Nanti bisa ketularan jomblo." Suzi menyeret tangan kanan Kiara ke dalam rumah.


"Tapi aku memang jomblo," sahut Kiara santai.


"Apa?" sahut Suzi, Lion, dan Derri bersamaan.


"Oops!" Kiara buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan setelah menyadari bahwa telah salah bicara.


"Kau berhutang cerita padaku!" seru Suzi.


Gadis berambut sebatas tengkuk itu sengaja menyambar tangan Kiara untuk segera menyeretnya ke dalam kamar.


"Loh, ada Om Derri juga rupanya?" seru Suzi antusias setelah menyadari keberadaan Derri. "Kalian datang bersama?"


"Aku?" Derri menghela nafas malas. "Di sini aku adalah korban."


"Korban?" tanya Suzi tak mengerti.


"Aku menyeretnya saat masih tertidur pulas untuk jogging di taman kota," sahut Kiara menjawab kebingungan Suzi. "Lalu kupakasa dia menemaniku ke sini. Hehehe ...."


"Masuk akal," komentar Suzi saat didapatinya Derri yang hanya berkaos tanpa lengan dan celana kolor motif atazmania Devil. "Hah, kau memang benar-benar jahat," hardik Suzi.


"Hei, kenapa kau mengataiku?" protes Kiara. "Temanmu adalah aku, bukan dia."


"Tapi dia tampan, Ra," bela Suzi. "Sedangkan kau tidak."


"Ya Tuhan ...!" Kiara memutar kedua bola matanya jengah.


"Ya sudah, ayo kita ke dalam, Ra." Pandangan Suzi beralih pada Derri. "Om Derri, ayo masuk!" perintah Suzi.


"Maaf, Kak Lion. Kita lanjutkan lain waktu, ya," pamit Kiara pada Lion.


"Iya. Bersenang-senanglah," sahut Lion sekenanya karena sibuk mencerna ucapan Kiara sebelumnya.


"Ayo, Om." Suara Suzi kembali terdengar.


"Aku?" Derri menunjuk ke wajahnya sendiri dengan ekspresi bingung. "Aku masih ada janji, sebaiknya aku pulang saja."


"Hei, bukankah hari Minggu Om free tidak ada acara?" tukas Kiara cepat. "Memangnya dengan siapa Om membuat janji?"


"Bantal dan guling," sahut Derri tanpa menoleh, kemudian kembali menikmati sesapan terakhir soft drink-nya.


"Hei, sepertinya dia memang benar-benar lelah dan mengantuk," bisik Suzi tepat di telinga Kiara. "Sudahlah, biarkan saja dia pulang dan beristirahat. Kasihan ... bukankah kau sudah menyiksanya saat jogging di taman tadi?"


"Iya sih, dia tadi sudah menemaniku walaupun hanya duduk dan mengantuk." Kiara membenarkan ucapan Suzi. "Baiklah, Om pulang saja," putus Kiara.


"Telepon aku jika kau sudah selesai," pesan Derri seraya bangkit dari duduknya.


"Telepon aku jika Om sudah bangun," ralat Kiara."


"Ya, terserah kau saja," sahut Derri sekenanya. "Aku pergi."


"Ya, Om," sahut Suzi heboh. "Hati-hati di jalan. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai di rumah. I love you, Om!"


Derri beranjak dari tempat duduknya, melambaikan tangan dengan asal, kemudian segera melangkah pergi.


"Sebaiknya segera kau ungkapkan isi hatimu." Langkah Derri terhenti tepat di samping Lion. "Tapi sepertinya aku akan menjadi rivalmu."


"Kau juga menyukainya?" Lion cepat tanggap.


"Dia menyukaiku." Derri menjawab sembari mengerjabkan mata. Memaksa kedua kelopak itu agar tetap terbuka.


"Aku pasti akan mendapatkannya."


"Ayolah ... bahkan kita berdua pun tahu jika kau tidak setampan itu," ucap Derri songong.


Lion menoleh, menanggapi ucapan Derri dengan senyum geli.


"Sepertinya aku mulai menyukaimu." Lion berbalik, kemudian mengayunkan kaki mengiringi langkah Derri.


"Tapi aku tak tertarik untuk berteman denganmu."


"Apa kau tahu benda atau hal apa saja yang disukainya?"


"Aku rasa ...." Derri menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mobil. "Sama sekali. Aku tak tahu sama sekali," lanjutnya. "Memangnya apa saja yang dia sukai?"


"Apa menurutmu aku harus memberitahukan padamu?"


"Tidak. Pasti kau tak ingin mengatakannya padaku."


"Tepat sekali," sahut Lion.


Tangan Lion terulur membuka pintu penumpang untuk Derri.


"Sudah kuduga," sahut Derri cuek.


"Sekarang cepat pergi. Pulanglah ke mamamu."


Lion segera menutup pintu setelah Derri masuk ke dalam mobil.


"Aku pergi." Derri langsung menutup kedua matanya tanpa menunggu jawaban dari Lion.


Hendri segera menginjak pedal gas. Mobil pun bergerak meninggalkan pelataran paving dan menembus keramaian jalan di hari Minggu.


"Sialan. Selesai dengan bocah ingusan itu, malah ada bocah lain yang ingin memilikinya," gumam Derri dengan mata terpejam rapat.


Lima detik kemudian hembusan nafas halus dan teratur keluar dari lubang hidung laki-laki berparas Asia itu. Ia telah benar-benar tertidur saat ini.


BERSAMBUNG ...