
Pagi ini, saat bangun tidur entah mengapa tiba-tiba saja Derri merasa dilanda rindu pada sosok seorang ibu. Hal yang tak pernah dirasakannya selama tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Oleh sebab itu diputuskannya pagi ini dengan berbekal sekotak brownis kukus kesukaan sang ibu, ia berencana mampir ke rumah orang tuanya untuk mengunjungi seseorang yang sangat dirindukannya itu.
Namun, dalam perjalanan menuju ke rumah yang sudah lebih dari satu bulan tak dikunjunginya itu, tepat di depan rumah Kiara, ia melihat mobil yang dikenalnya berbelok masuk melewati pintu gerbang.
"Hei, bukankah itu mobil yang kemarin?" gumam Derri.
Seketika Derri menghentikan laju mobilnya, kemudian putar balik untuk memastikan siapa pemilik mobil yang baru saja dilihatnya itu.
"Ternyata benar dia." Derri kembali bergumam saat terlihat seorang laki-laki turun tepat di halaman rumah Kiara sebelum pintu gerbang tertutup kembali. "Jadi dia belum menyerah ...."
Setelah memastikan dengan kedua mata kepalanya sendiri, Derri pun kembali memacu mobilnya lebih cepat ke arah rumah kedua orang tuanya.
___
.
"Sudah selesai." Dinda menyodorkan buket bunga dahlia pada Derri. "Kali ini untuk siapa?"
"Orang yang spesial," jawab Derri dengan senyum di bibir.
"Setiap kali kutanya kau selalu menjawab begitu," ucap Dinda sambil melambaikan tangan ke arah salah satu karyawan yang sedang sibuk menyiram tanaman. "Ternyata banyak sekali orang spesial di hatimu."
Derri tersenyum menanggapi ucapan Dinda. "Very special person kalau begitu," ralat Derri dengan bibir masih mengulum senyum.
"Mulailah serius dengan satu wanita, Derri. Kau sudah dewasa. Sudah waktunya berpikir untuk berkeluarga."
"Ah, kenapa aku merasa kau ini adalah duplikatnya Kak Derra?" gumam Derri pura-pura kesal.
"Karena aku menyayangimu sama seperti Derra yang begitu sayang pada kita berdua."
"Baiklah, aku pastikan kau akan segera menerima undangan pernikahan dariku."
"Benarkah? Kapan?" tanya Dinda antusias.
"Tahun depan mungkin," jawab Derri enteng. "Atau bisa jadi dua tahun lagi."
"Ah, itu masih terlalu lama," seru Dinda kesal merasa dibodohi.
"Hahahaha ...." Derri hanya tertawa geli melihat ekspresi kesal sahabat karib kakaknya itu.
"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu karyawan setelah berdiri di samping Dinda.
"Bawa pot-pot itu ke mobil Derri." Dinda menunjuk beberapa pot yang dipilih Derri.
"Terimakasih, Dinda. Aku pamit." Derri tersenyum kemudian berjalan ke luar dari Dealova Floris dengan langkah lebar bersama karyawan Dinda yang sibuk membawa pot bunga di kedua tangannya.
Setelah pot-pot itu tersimpan dengan aman, Derri langsung memacu mobilnya menuju rumah Kiara.
Sebuah lagu dari Good Charlotte, grup band favorit menemani perjalanannya siang ini. Sesekali Derri tampak manggut-manggut mengikuti musik yang didengarnya.
I need an
alrm system in my house
So I know when people are
Creepin about
These people are
Freakin me out
(these days)
It's getting hectic everywhere that I go
They won't leave me alone
There's things they all wanna know I'm paranoid of all the people I meet
Why are they talking to me?
And why can't anyone see?
I just wanna live
Don't really care about the things that they say
Don't really care about what happens to me
I just wanna live
Just wanna live
Derri melirik buket bunga yang tergeletak di samping jok pengemudi. Entah mengapa ia merasa sedikit gelisah pagi ini. Rencana untuk berkunjung dan makan siang di rumah orang tuanya gagal total. Ia hanya bisa bertahan di rumah itu selama satu jam saja.
Kini mobil sport putih Derri telah terparkir dengan rapi di halaman rumah keluarga Syarif. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung melangkah masuk. Saat tak ditemuinya seorang pun di ruang tamu ia terus berjalan menuju ruang belakang.
"Pagi, Ma ...," sapa Derri saat didapatinya Mike tengah sibuk di depan meja dapur.
"Ah, Derri! Kau membuat Mama terkejut!" seru Mike yang tengah sibuk dengan adonan kue bolu.
Derri pun tersenyum sembari berjalan mendekat, kemudian memeluk tubuh Mike yang sudah dianggap sebagai mama mertuanya sendiri itu dari belakang.
"Kenapa tiba-tiba main peluk seperti ini? Apa tidak takut kena tonjok Papa Syarif?"
Derri mengurai pelukannnya, kemudian memyodorkan buket bunga dahlia ke hadapan Mike.
"Untuk Mama?" tanya Mike dengan mata berbinar. "Wah ... indahnya."
"Eits." Derri kembali menarik buket bunga itu dari hadapan Mike saat wanita itu hendak meraih dan menciumi bau wanginya. "Apakah benar-benar indah?"
"Iya, tentu saja," jawab Mike bingung.
"Tapi ini bukan untuk Mama," ucap Derri sambil meringis tak enak hati.
"Lalu?"
"Tentu saja untuk Kiki, Ma."
"Lalu bagaimana dengan Mama? Kau benar-benar jahat Derri!" rengek Mike seperti anak kecil manja yang meminta permen.
"Aish, benar-benar tak ingat umur," gumam Derri pelan.
"Mama dengar!" seru Mike kesal.
"Hehehe ...." Derri tersenyum canggung sambil memamerkan deretan giginya. "Tenang saja, aku membawa beberapa bunga juga untuk Mama."
"Mana?"
"Itu."
Pandangan Mike mengikuti telunjuk Derri yang mengarah ke pintu samping. Dihampirinya pintu itu kemudian dibukanya. Tampak beberapa pot dengan bunga aster warna-warni berjajar rapi di sana.
"Wah ... indahnya," saru Mike dengan binar ceria. "Dari mana kau dapatkan ini semua?"
"Mama suka?" Bukannya menjawab, Derri justru balik bertanya.
"Suka sekali," jawab Mike tanpa menoleh.
Derri tersenyum puas, kemudian mengambil duduk di belakang Mike berdiri beberapa saat yang lalu.
"Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah ke sini? Bukankah kemarin sore sudah ke sini?" Mike berjalan kembali masuk ke dalam dapur.
"Kangen," jawab Derri singkat.
Mike mencuci tangan, kemudian mengambil dan menaruh beberapa potong kue ke atas piring.
"Cobalah," perintah Mike yang kini telah duduk berhadapan dengan Derri.
"Papa kemana, Ma?" Tangan kanan Derri terulur mengambil sepotong kue, kemudian memakannya.
"Sudah berangkat ke kantor pagi-pagi tadi," jawab Mike. "Katanya ada janji ketemu teman sekaligus kliennya."
"Pagi-pagi?" ulang Derri.
"Iya. Papamu bilang temannya itu harus buru-buru mengejar penerbangan pertama ke Nusa Tenggara."
"Iya, Lion sudah ke sini sejak pagi," jawab Mike.
"Untuk apa lagi? Bukankah kemarin Mama bilang dia sudah di sini seharian?"
"Mana Mama tahu? Itu kan urusan anak muda."
"Kenapa Mama bilang begitu? Kiki kan anak Mama," protes Derri dengan mulut penuh kue.
"Sedangkan kau calon suami Kiara!" tukas Mike cepat.
"Ah, iya ... Mama benar."
"Kau yang calon suaminya saja diam, kenapa Mama jarus bertingkah?"
"Hehehe ...." Derri menanggapi ucapan Mike dengan cengiran khasnya.
"Hei, sekarang katakan pada Mama. Bagaimana sebenarnya perasaanmu pada Kiara?" tanya Mike dengan cangkir kosong di tangan kiri.
"Aku? Tentu saja aku menyukainya, Ma," jawab Derri cepat. "Memangnya laki-laki mana yang tak suka dengan gadis secantik Kiki?"
Tangan Derri kembali terulur mengambil sepotong kue di atas piring.
"Dia memang cantik," ucap Mike sembari memasukkan bubuk kopi ke dalam cangkir.
"Ya, dan aku yakin kecantikannya itu didapat dari mamanya," sahut Derri. "Mamanya benar-benar cantik." Derri mulai melancarkan aksinya.
"Jadi kau menyukai putri kesayangan Mama hanya karena kecantikannya?"
"Hehehe ... ayolah, Mama tahu apa yang kumaksud."
"Hah, dasar perjaka tua!"
"Apa? Mama bilang apa tadi?" Detti bangkit dari kursi. "Aku ini calon menantu idaman, Ma. Bagaimana bisa Mama mengataiku seperti itu?" protes Derri dengan wajah kesal.
"Hah, terserah kau saja!" seru Mike sembari meletakkan secangkir kopi susu di hadapan Derri lalu melanjutkan aktifitasnya bersama adonan kue.
Sementara Derri hanya bisa manyun dalam diam.
"Kenapa tiba-tiba gerah begini?" gumam Derri akhirnya. "Aku akan mencari angin di luar, Ma."
"Iya," jawab Mike singkat.
"Ngomong-ngomong mereka sekarang sedang di mana, Ma? Kulihat di ruang tamu tidak ada siapa pun."
"Mereka sedang bercakap-cakap di kebun belakang," jawab Mike tanpa menoleh.
"Oh ...."
"Habiskan dulu kopimu." Mike mengingatkan.
"Aku akan membawanya," sahut Derri sembari beringsut dari tempatnya berdiri.
Derri berjalan cepat menuju taman bunga hasil buatan tangan Mike di belakang rumah dengan secangkir kopi susu di tangan kiri. Sampai di pintu belakang diedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pekarangan, hingga ia dapat melihat keberadaan Kiara yang tengah duduk santai tepat di bawah atap gazebo bersama Lion.
"Benarkah?" terdengar suara Kiara masuk ke gendang telinga Derri.
"Ya, memang begitu," jawab Lion. "Jadi kau harus membaca beberapa seri bukunya dulu, karena teori-teori pada masing-masing buku memang saling berkaitan."
"Sepertinya tidak akan mudah, Kak," komentar Kiara sedikit lesu.
"Tenang saja ... aku akan membantumu," sahut Lion. "Jika kau membutuhkan referensi, aku memiliki tumpukan bukunya di rumah."
"Tentu saja," sahut Kiara. "Aku pasti akan sangat membutuhkannya."
"Ya Tuhan, apakah dia tidak tahu bahwa semua itu bisa didapat melalui internet?" gumam Derri kesal sekaligus geli. Diurungkan niatnya untuk menghampiri keduanya dan lebih memilih untuk tetap berdiri di balik pintu kaca.
"Kau tinggal meneleponku saja dan aku akan dengan senang hati mengantarnya ke sini," ucap Lion.
"Apa lagi ini? Modus garing!" Derri mencela kemudian menyeruput kopi susunya yang masih sedikit panas.
"Baiklah, Kak. Aku akan meneleponmu jika membutuhkannya." Suara Kiara kembali terdengar.
"Oh ya, Ra. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
"Apa itu?" Kiara menyesap jus jeruk di hadapannya.
"Mmm ...." Tampak keraguan terlukis di wajah mahasiswa smester akhir itu.
"Apa?" tanya Kiara penasaran.
"Bagaimana cara mengatakannya ya ...."
"Kenapa Kakak jadi canggung? Ayo katakan saja." Kiara semakin penasaran.
Lion terdiam sejenak. Perlahan diraihnya kedua tangan Kiara dengan lembut.
"Hei, apa itu?" gumam Derri. "Apa-apaan dia? Dasar bocah!" lanjutnya tak senang.
"Aku menaruh hati padamu, Kiara," ucap Lion akhirnya. "Aku mencintaimu."
Saat itu juga, semua terdiam. Kiara diam tersentak tak menyangka akan mendapat pernyataan cinta dari laki-laki di hadapannya itu. Mulutnya ternganga tak tahu harus berucap apa.
Lion terdiam dalam rasa gelisah, tegang dan cemas. Ia pernah mendengar dari adiknya bahwa gadis di hadapannya itu menaruh hati padanya. Tapi itu dulu, saat adiknya masih duduk di bangku kelas satu SMA. Lalu sekarang setelah perjalanan hati Kiara dengan teman sekolahnya beberapa waktu lalu, sejujurnya ia tak yakin apakah gadis itu masih memiliki perasaan yang sama untuknya. Tapi bukankah dia memang harus mengutarakan isi hatinya agar mendapat kepastian perasaan gadis itu padanya saat ini?
Di balik pintu, Derri terdiam menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Kiara. Ia tahu bahwa gadis itu pernah menyukai sosok Lion sebelum akhirnya meletakkan hatinya pada Axel si bocah ingusan. Entah kenapa ada rasa kesal merambat saat mendengar laki-laki lain menyatakan cinta pada gadis itu. Ingin rasanya segera keluar dan mendatangi keduanya kemudian mengatakan bahwa Kiara adalah calon istrinya. Namun, ia memutuskan untuk tetap mendengarkan percakapan mereka. Ia ingin tahu bagaimana perasaan gadis itu pada laki-laki yang pernah mencuri hatinya itu saat ini.
"Sejak kapan?" tanya Kiara canggung.
"Sebenarnya sudah sejak lama, Ra. Saat itu aku memutuskan untuk memendam perasaanku karena aku tahu kau sudah memiliki kekasih. Aku tak ingin menjadi orang ketiga yang akan merusak hubungan kalian," jawab Lion dalam ketenangan dan senyuman.
"Astagah, kenapa aku merasa bocah itu sedang menyindirku?" gumam Derri kesal.
"Tapi sekarang kupikir ini adalah kesempatanku untuk mendapatkanmu." Lion kembali bersuara.
"Tapi ... tapi aku ...." Ucapan Kiara terputus. Gadis itu kembali terdiam karena memang benar-benar tak tahu harus berucap dan bersikap bagaimana dalam menaggapi situasi saat ini.
"Ya, aku tahu ini terlalu cepat bagimu. Tapi aku benar-benar tak bisa menahan perasaanku ini lagi, Ra. Aku mencintaimu dan aku ingin kau menjadi kekasihku," ucap Lion tulus.
"Kak Lion, aku ...." Kiara kembali terdiam.
"Kau butuh waktu? Baiklah, aku akan memberikanmu waktu," putus Lion akhirnya. "Tapi jangan biarkan aku menunggu terlalu lama," godanya untuk mencairkan ketegangan Kiara.
"Satu bulan," ucap Kiara gugup.
Seketika Derri tergelak tanpa suara di tempatnya berdiri karena mendengar ucapan Kiara.
"Apa? Apa kau berencana untuk membunuhku perlahan ya?" tanya Lion tak habis pikir
"Apa?" Kiara balik bertanya.
"Apa kau tidak merasa satu bulan itu terlalu lama?" Lion pun menjawab dengan pertanyaan. Sedikit kesal, namun juga geli dengan jawaban Kiara. "Kau akan membiarkanku stres karena menunggu jawaban darimu hingga satu bulan lamanya?
"Apanya yang salah dengan satu bulan? Bahkan dulu Axel pun menungguku lebih dari satu tahun," gumam Kiara dalam hati.
"Dua hari," tawar Lion.
"Dua minggu," sahut Kiara.
"Satu minggu." Lion kembali menawar.
"Satu hari," sahut Kiara.
"Hari ini juga?" tanya Lion bingung.
"Apa?" tanya Kiara yang juga semakin bingung.
Melihat kekonyolan Kiara, lagi-lagi Derri tergelak tanpa suara di tempatnya. Tapi mendadak tawa itu terhenti saat ia benar-benar menyadari ucapan Kiara barusan.
"Hah, sialan!" rutuk Derri di tempat persembunyiannya. "Kenapa kau tidak bertahan dengan pilihan waktu satu bulan saja?" gumamnya kesal. "Hah, gadis plin-plan itu."
"Jadi apa jawabanmu, Kiara?" tanya Lion tak sabar.
BERSAMBUNG ...