
"Hoam ...!" Derri menguap panjang sembari menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang meringkuk semalaman di atas kasur.
Setelah puas dengan aktifitas singkatnya, laki-laki yang hanya berkaos singlet dan celana boxer itu beringsut meraba-raba permukaan nakas dengan tangan kiri. Tak butuh waktu lama, ditemukannya gawai tipis yang selalu menemani kemanapun ia pergi.
Ditekannya lama tombol angka tiga sebagai speed dial. Nama Kiara langsung muncul pada layar.
"Ya, Om," sapa Kiara setelah nada sambung berdering beberapa kali.
"Hari ini kau ke kampus, Ki?" tanya Derri tanpa bertegur sapa.
"Iya, Om."
"Pukul berapa?"
"Satu jam lagi mata kuliah pertama, Om."
"Baiklah, tunggu aku tiga puluh menit lagi. Kita berangkat bersama."
"Tapi sekarang ini aku sudah berada di kampus, Om."
"Sepagi ini? Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Derri penuh keheranan.
"Mau bagaimana lagi, aku memang sudah ada di kampus sepagi ini."
"Nanti pulang jam berapa?"
"Kuliah terakhir selesai jam satu siang."
"Ya sudah, nanti kujemput."
"Ah, tapi belum jelas aku pulang jam berapa, Om. Ada tugas yang harus kuselesaikan secara berkelompok."
"Aish ... kenapa kau sibuk sekali?" keluh Derri mulai kesal. "Baiklah, nanti kau telepon aku jika sudah selesai."
"Ok, Om."
"Ya sudah, sampai nanti."
"Iya, Om."
Panggilan pun berakhir dengan kekecewaan mewarnai hati laki-laki itu.
"Kenapa dia begitu? Biasanya dia sangat senang berangkat dan pulang kampus denganku," gumam Derri pelan.
"Aku ... aku ... ya Tuhan, apa yang baru saja kulakukan? Hah, dasar bodoh. Benar-benar memalukan."
Tiba-tiba saja kalimat itu berkelebat dalam ingatan Derri.
"Tunggu dulu, jangan-jangan dia masih memikirkan ciuman semalam."
Berfikir demikian, tiba-tiba saja sebuah senyuman tersembul di antara kedua bibir Derri. "Ya Tuhan ... oh my Kiki ... baiklah, aku bisa memakluminya."
Pagi ini Derri bangkit dari tempat tidur dengan tubuh dan hati yang terasa sangat ringan. Ia pun segera masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
___
"Aku ... aku ... ya Tuhan, apa yang baru saja kulakukan? Hah, dasar bodoh. Benar-benar memalukan."
Sebuah senyum simpul kembali muncul di antara kedua bibir Derri saat kalimat yang pernah diucapkan oleh Kiara kembali berkelebat dalam pikirannya. Entah mengapa kalimat-kalimat itu begitu sering muncul dalam pikiran Derri seharian ini.
"Kenapa dia belum juga telepon?" Diliriknya gawai pintar yang tergeletak di sisi tangan kanan.
Derri memeriksa jarum arloji di pergelangan tangan kanannya. Tepat pukul satu siang. Artinya sebentar lagi Kiara akan menelepon.
"Ah, sial! Kenapa tiba-tiba aku merindukan suara berisiknya itu?"
Untuk yang kesekian kali, diraihnya benda pipih itu, bermaksud menekan angka tiga pada mode speed dial. Namun, untuk yang kesekian kali pula, diurungkan niatnya itu.
"Sebaiknya aku tunggu saja dia yang menelepon. Jangan sampai aku mengganggu kesibukannya."
Diletakkan kembali ponsel miliknya itu ke posisi semula. Lalu ia pun mulai menyibukkan mata dan pikiran dengan layar laptop di hadapannya.
"Kau sudah ada di sini?" tanya Andre yang baru saja masuk. "Kupikir kau belum kembali dari makan siang."
Andre berjalan mendekat, kemudian meletakkan map hijau di atas meja Derri.
"Aku akan makan siang dengan Kiki," sahut Derri sambil meraih map yang baru saja Andre taruh.
"Tapi ini sudah lewat. Apa tidak akan terlambat jika kau masih saja sibuk dengan laptopmu itu di sini?" Andre mengingatkan.
"Aku masih menunggu telepon darinya," jawab Derri. "Begitulah aturan mainnya," lanjut Derri saat mendapati wajah bingung Andre yang tertuju ke arahnya.
"Baiklah, terserah kalian saja." Andre mengambil duduk di sudut sofa, kemudian memeriksa beberapa email yang masuk ke dalam ponselnya.
Keduanya pun larut dalam kesibukan masing-masing. Sampai pada akhirnya Andre memaksakan diri untuk bersuara, setelah benar-benar tak bisa menahan keinginan untuk bertanya.
"Hei, ada apa dengan ponselmu?"
"Apa?" Derri mendongak, mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Dari tadi kau terus-terusan melirik ponselmu. Ada apa?" Andre kembali bertanya.
"Tidak. Tidak ada apa-apa," elak Derri sekenanya.
"Aku benar-benar terganggu dengan tingkahmu itu," hardik Andre yang merasa tak nyaman.
"Ah, benar-benar menjengkelkan!" rutuk Derri sembari bangkit dari kursi kebesarannya. "Aku sudah berpesan agar dia meneleponku jika sudah selesai urusan kuliahnya. Tapi kenapa dia belum telepon juga?!"
Andre langsung paham siapa orang yang dimaksud oleh bosnya itu.
"Aish! Sungguh menjengkelkan, mengganggu konsentrasi kerja saja!" Derri kembali merutuk sembari melirik arloji di pergelangan tangan kanannya. Pukul tiga sore. "Seharusnya dia sudah meneleponku sejak dua jam yang lalu," lanjutnya.
"Kenapa kau tidak meneleponnya saja?" usul Andre kemudian.
"Apa?" tanya Derri tak mengerti.
"Dari pada kau tersiksa karena terus-terusan menunggu telepon darinya."
"Begitukah? Ah, sepertinya kau benar. Baiklah aku akan meneleponnya saja," putus Derri kemudian.
Andre mengangguk mengiyakan, kemudian tersenyum tipis.
"Apa kau belum selesai kuliah?" tanya Derri to the point begitu panggilannya diangkat.
"Sudah Om," sahut Kiara di ujung telepon.
"Kenapa tidak menghubungiku? Kau di mana sekarang?"
"Sekarang aku sudah ada di rumah."
"Apa? Kau sudah pulang ke rumah?"
"Iya, Om. Maaf aku lupa untuk menelepon."
"Bukankah aku sudah bilang agar kau meneleponku?"
"Iya, maaf, Om. Aku lupa," ulang Kiara.
Derri menghela nafas panjang sebelum kembali berbicara.
"Baiklah, kau ada waktu sore ini?"
"Memangnya kenapa, Om?"
"Aku ingin bertemu denganmu."
"Apa? Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin bertemu saja. Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan langsung datang ke rumahmu."
"Tapi ...."
"Ada apa?" sahut Derri cepat.
"Sore ini aku sudah terlanjur membuat janji dengan Sesil. Kami akan pergi ke toko buku."
"Baiklah, aku akan mengantar kalian."
"Tidak perlu, Om. Sesil akan membawa mobil katanya. Dia menjemputku."
"Akh ... apa kau tidak merasa bahwa kau sungguh sangat menyebalkan hari ini?"
"Apa?"
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kau terus menghindariku dari tadi pagi," tanya Derri yang mulai kesal.
"Aku? Tidak, Om. Tidak, aku tidak menghindar."
"Lalu apa?" Tangan kiri Derri terangkat, memijit keningnya sendiri perlahan.
"Aku benar-benar sedang sibuk saat ini."
"Hanya tugas kampus saja."
"Baiklah, kali ini jangan lupa kau telepon aku jika sudah pulang."
"Ok, Om."
"Ya sudah, aku lanjut bekerja."
"Iya, Om."
Derri menutup panggilannya dengan kasar. Dipejamkan kedua mata untuk meredakan rasa kesalnya.
"Apa-apaan ini!" geram Derri pelan.
"Ayolah, akui saja." Tiba-tiba Andre bersuara.
"Apa?"
"Sebenarnya kau menyukainya."
"Bicara apa kau ini?"
"Kau kesal hanya karena merasa diabaikan olehnya?"
"Aku hanya menunjukkan sedikit perhatianku saja. Bukankah dia adalah calon istriku?"
"Tapi kau tak perlu sekesal itu jika memang tak menyukainya," tukas Andre cepat. "Biasanya dia begitu perhatian dan selalu mematuhi kata-katamu. Itu membuatmu merasa senang dan nyaman," lanjutnya. "Entah apa yang telah terjadi di antara kalian berdua saat kau mengantarnya pulang tadi malam. Yang jelas itu sudah membuatnya bersikap sedikit berbeda dan point pentingnya adalah ... kau merasa tak tenang karena kehilangan sosoknya seharian ini."
"Tidak. Jangan sok tahu!"
"Aku berani bertaruh, kali ini pun dia tak akan menghubungimu," sahut Andre. "Dan kau tidak akan bisa tenang sepanjang malam karenanya."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah. Mungkin dia mulai menyadari bahwa kau tak mungkin bisa menyukainya. Lalu dia berfikir untuk menjauhi dan melupakanmu saja," jawab Andre. "Bukankah hipotesa ini lebih masuk akal?"
"Tapi ...." Ucapan Derri terhenti. Walau bagaimanapun ucapan Andre ada benarnya juga. Untuk apa terus bertahan di sisi seseorang yang tak lagi punya sisa cinta? Untuk apa terus berharap pada laki-laki yang tak mungkin bisa memberikan cintanya? Menurut Derri ... setidaknya seperti itulah yang ada dalam pemikiran calon istrinya.
"Aku akan ke rumahnya nanti malam," putus Derri kemudian.
"Kurasa dia tidak akan mau bertemu denganmu," sahut Andre sekenanya.
"Lalu aku harus bagaimana, brengsek?!"
___
.
"Tidak boleh!" Tangan kanan Suzi berkacak pinggang, sedangkan tangan kirinya memegang ponsel yang menempel di telinga. "Jangan sampai!"
"Tapi aku sudah tidak kuat lagi, Zi," rengek Kiara di seberang telepon.
"Najis!" Suzi mendelik.
"Dulu juga kamu bilang cinta duluan pada Angga. Kenapa aku tidak boleh?" protes Kiara.
"Dulu aku hanya main-main dengan Angga. Jadi tidak masalah jika dia menolakku," tukas Suzi. "Kalau kamu kan beda, Ra. Kamu betul-betul jatuh cinta sama Om Derri."
"Terus?"
"Terus kalau kamu tembak duluan, iya kalau dia cinta juga sama kamu. Kalau tidak?" papar Suzi. "Yang ada dia malah jadi ill feel dan menjauhimu," lanjut Suzi sambil melangkah ke arah jendela di sudut kamarnya.
"Tapi kami sudah sepakat untuk membuka hati masing-masing, Zi. Kami akan memberi kesempatan pada hati dan perasaan kami untuk saling mencintai."
"Membuka hati bukan berarti jatuh cinta, kan?" tanya Suzi dengan intonasi kesal. "Dia memang membuka hatinya untukmu dan memberi kesempatan pada hatinya untuk mencintaimu. Tapi itu hanya kesempatan, Ra," papar Suzi. "Bagaimana kalau kesempatan itu akhirnya hangus?"
"Apa maksudmu?"
"Kau bilang dia masih terikat pada kenangan dengan mantan kekasihnya kan? Bagaimana jika dia benar-benar tidak bisa move on? Jangan sampai kau hanya menjadi pelampiasan saja, Ra. Jangan sampai dia menerima cintamu tanpa dia bisa balas mencintaimu."
"Tapi kamu tahu sendiri kan, Zi ... dia itu tampan. Banyak yang suka sama dia. Belum lagi perempuan-perempuan ganjen kegatelan itu. Bagaimana kalau dia tergoda?"
Terbayang oleh Suzi wajah Kiara yang kesal bersungut bercampur cemas.
"Hallah, mereka boleh suka sama Om Derri. Tapi finalnya dia kan tetap jadi suami kamu. Ingat, kalian itu sudah dijodohkan."
"Terus aku harus bagaimana?"
"Tarik ulur."
"Tarik ulur?" Kiara membeo.
"Iya."
"Kelamaan, dia nanti keburu naksir yang lain, Zi," sahut Kiara cemas.
"Memangnya dulu berapa lama kamu menarik ulur Axel?"
"Ini beda, Zi. Banyak wanita cantik di sekelilingnya."
"Wanita murahan maksud kamu?" ralat Suzi dengan nada sinis. "Ya kamu harus jual mahal dong berarti." Suzi menyandarkan punggungnya di bingkai jendela. "Tunjukkan dan bikin Om Derri tahu kalau kamu berbeda dengan wanita-wanita tidak jelas di sekelilingnya itu," pungkas Suzi.
"Caranya?" tanya Kiara yang terdengar mulai antusias.
Sementara itu, pada saat yang sama di sudut sofa dalam sebuah kamar di ujung lorong, Derri tampak tengah duduk bergeming. Tatapannya tertuju pada ponsel tipis yang tergeletak di atas meja.
"Akh ... menyebalkan!" umpat Derri tiba-tiba. "Kenapa dia belum juga meneleponku?"
Derri berdiri sambil menatap tajam ponsel yang sedari tadi tak juga berbunyi.
"Apa kau rusak? Ah, aku yakin kau pasti rusak!" omel Derri pada ponselnya sendiri. "Kenapa kau harus rusak di saat aku sedang menunggu telepon darinya? Ah, dasar kau tidak berguna!"
Dengan satu gerakan, disambarnya gawai pintar itu. Tangan kokoh itu pun terayun melempar benda yang telah dipelototinya berjam-jam lamanya. Namun, tiba-tiba gerakan tangan itu terhenti di udara.
Kedua mata Derri kembali menatap layar ponsel, kemudian cepat-cepat membuat panggilan.
"Halo, Mama," sapa Derri begitu panggilan tersambung.
"Iya. Ada apa malam-malam begini menelepon?" terdengar suara Mike di ujung sambungan.
Derri melirik jam dinding di tembok kamarnya. Pukul sebelas tepat.
"Apakah Kiki sudah pulang, Ma?"
"Pulang? Dia tidak kemana-mana malam ini. Dia di rumah."
"Apa?"
"Tunggu, sepertinya tadi sore dia berencana untuk keluar dengan Sesil. Tapi tidak jadi."
"Benarkah? Kenapa dia tak menghubungiku?"
"Mendadak sakit giginya Sesil kambuh, begitu yang Mama dengar."
"Lalu apakah sekarang Kiki sudah tidur?" tanya Derri tak sabar.
"Belum. Barusan tadi dia ngobrol dengan Mama di depan televisi. Dia baru saja naik ke kamar, berganti mengobrol dengan Suzi di telepon. Dua anak itu kalau sudah online berdua suka lupa waktu. Mungkin karena itulah kau sulit menghubungi Kiara."
"Ah, iya, Ma. Pantas saja panggilanku tak tersambung," sahut Derri berpura-pura.
"Itu ... dia baru saja keluar kamar. Coba kau telepon saja sekarang."
"Baik, Ma. Terimakasih."
Derri mengakhiri panggilannya dengan wajah tertekuk.
"Sebenarnya ada apa dengannya? Apa dia benar-benar berniat mengakhiri semua ini dan melupakanku? Akh ... teka-teki yang sulit."
Tak ingin pusing, Derri pun memutuskan untuk segera tidur. Dihempaskan tubuh lelah beserta rasa kesal dan bingungnya ke atas kasur empuk di sudut kamar. Berharap semua itu akan berlalu seiring terpejamnya kedua mata lelahnya malam itu.
Namun, hingga pagi menjelang dua netra hitam itu tak juga bisa terpejam walau sejenak. Bayangan wajah malu sekaligus gugup milik Kiara saat mencuri ciuman darinya terus saja hadir dalam ingatan.
"Hah, sial! Rokokku habis," gumam Derri sembari melempar bungkus rokok kosong ke sembarang arah.
Ditatapnya puluhan puntung rokok yang tersebar di luar jendela kamar. Sampah rokok yang dihasilkannya malam ini benar-benar mengganggu pandangan mata.
"Pukul empat pagi?" gumam Derri sembari melirik jam dinding yang menempel di tembok kamar. "Pantas saja udara terasa sangat dingin," tambahnya.
Tubuh tegap itu pun beringsut menuju tempat tidur. Diraihnya ponsel pintar yang sejak berjam-jam yang lalu hanya tergeletak tak tersentuh di tepi tempat tidur. Diketuknya layar ponsel beberapa kali, kemudian menempelkannya di telinga kanan.
"Aku kehabisan rokok," ucap Derri begitu panggilan diangkat. Hanya satu kalimat, lalu segera dimatikannya sambungan telepon itu.
Lima menit kemudian Hendri datang dengan tiga bungkus rokok di tangan. Diketuknya pintu kamar yang sedikit terbuka itu. Laki-laki bertubuh jangkung itu pun melongokkan kepala, kemudian segera masuk ke dalam kamar. Diletakkan rokok yang dibawanya ke atas nakas lalu bergegas pergi meninggalkan kamar di ujung lorong itu.
Sengaja ia bergerak tanpa menimbulkan suara sebab tak ingin mengganggu bosnya yang tengah terbaring dengan mata terpejam itu. Ia tahu bahwa bosnya memang harus mempersiapkan amunisi guna menghadapi hari esok sebab sepanjang malam ini orang nomor satu di rumah itu tak pernah meninggalkan jendela kamarnya barang sedetik.
BERSAMBUNG ...