I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 1. Kunjungan Makan Malam



"Mama," sapa Derri yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk putih di dalam kamar. "Kenapa tidak mengabari dulu kalau mau kesini?"


"Sejak kapan orang tua harus meminta izin dulu untuk mengunjungi rumah anaknya?" sergah Eva, mama Derri, sambil mendudukkan pantatnya di tepian tempat tidur.


"Setidaknya ketuklah pintu dulu sebelum Mama masuk." Derri mendaratkan kecupan hangat dikedua pipi mamanya.


"Kenapa? Agar tidak ketahuan bahwa kau sering mengajak teman wanitamu menginap di kamarmu ini?" tanya Eva sambil mengulurkan lipstik berwarna merah terang pada anaknya yang bengal itu.


Derri menerimanya dengan mata mendelik.


"Mama baru saja menemukannya di bawah bantalmu." Eva menjawab wajah bingung Derri sambil membetulkan posisi duduknya.


"Hah, pasti dia sengaja meninggalkannya," gumam Derri malas sambil melemparnya ke tempat sampah di sudut kamar.


"Sudah, sayang. Berhentilah bermain-main." Eva mulai melancarkan aksi membujuknya. "Kau senang sekali mempermainkan anak orang."


"Bukan aku, Mama .... Tapi mereka sendiri yang datang padaku," kilah Derri sambil berjalan menuju walk in closet, kemudian berhenti di depan deretan baju kerja untuk memilih setelah jas yang akan dikenakannya pagi ini.


"Mereka bukan wanita baik-baik."


Eva kembali bersuara saat melihat putra sulungnya berjalan mendekat dengan celana panjang hitam dan kemeja hijau pastel yang masih belum terkancing.


"Mana ada wanita baik-baik yang memberikan tubuhnya begitu saja pada pria yang bukan suaminya?" Eva masih mencoba menjelaskan.


"Mau bagaimana lagi, anak Mama ini memang tampan," kilah Derri sambil mengerling nakal pada mamanya.


"Jika kau tidak menanggapi, mereka pasti juga akan berhenti menggodamu."


"Iya, Ma. Aku akan menjadi anak manis kesayangan Mama," tukas Derri sambil mengancingkan kemeja yang pernah dibelikan oleh kakak perempuannya.


"Dasar kau anak nakal," hardik Eva sembari berdiri, kemudian berjalan mengahampiri putra manjanya itu. "Mama sudah semakin tua. Mama tidak ingin mati tanpa pernah menimang cucu darimu." Eva meraih dasi hitam polos dari tangan Derri.


"Kebetulan sekali, aku memang tidak mau kehilangan Mama. Jadi biarkan saja aku tidak menikah selamanya, agar Mama tetap berada di sisiku."


"Hei, jaga bicaramu," ucap Eva sambil memakaikan dasi pada putra bengalnya itu. "Tentang gadis yang melabrakmu tempo hari, bagaimana kelanjutannya?"


"Gadis remaja itu?" Derri balik bertanya. "Mana mungkin aku tertarik padanya," ucapnya dengan senyum arogan. "Dia bukan tipeku."


"Benarkah? Mama tidak yakin," sahut Eva tak percaya. "Kau sudah mencari tahu tentangnya?"


Bukan menjawab, Derri justru meraih ponselnya di atas nakas dan segera menelepon.


"Andre, berkas yang kuminta kemarin, bawa kemari sekarang juga." Panggilan dimatikan setelah terdengar jawaban patuh dari seberang telepon.


Tidak sampai lima menit, Andre sudah datang dengan setelan jas dan dandanan rapinya.


"Selamat pagi, Tante Eva." Andre menyapa dengan santun.


"Iya. Selamat pagi, Andre. Bagaimana kabar ayah dan ibumu?"


"Mereka baik-baik saja, Tante." Andre menjawab dengan senyum ramah tersungging di bibirnya." Mereka selalu mesra, seperti biasanya."


"Sudah lama Tante tidak bertemu dengan mereka. Tolong sampaikan salamku pada mereka ya, Andre."


"Pasti, Tante."


"Bagaimana jika hari Sabtu besok kau antar Tante mengunjungi mereka?" usul Eva tiba-tiba. "Tidak apa-apa kan, Derri? Berilah Andre cuti barang sehari untuk menemani Mama."


"Ok. Andre akan mengantar dan kembali menjemput jika urusan Mama sudah selesai. Selebihnya Andre harus tetap bersamaku," ucap Derri.


"Itu namanya bukan cuti," sungut Eva merasa dibodohi.


"Mana berkas yang kuminta tadi?" tanya Derri pada Andre tanpa mempedulikan Eva yang masih bersungut kesal.


Andre segera menyerahkan map merah yang dibawanya sejak tadi. "Seperti yang kulaporkan kemarin, semua tertulis lengkap di situ."


Derri langsung menyerahkan map itu pada Eva.


"Jadi dia anaknya Keanu Syarif?" Eva bertanya sambil membalik halaman demi halaman laporan itu.


"Mama mengenalnya?" tanya Derri dengan kedua tangan sibuk mengenakan jas hitam yang telah dipersiapkannya.


"Tentu saja," jawab Eva dengan mata berbinar. "Istrinya Keanu adalah teman kuliah Mama dulu."


"Wah, bagaimana bisa kebetulan begitu," komentar Derri sekenanya.


"Tumben sekali kau bergerak cepat. Apa kau memang sudah mulai tertarik dengan gadis itu?"


"Justru karena aku tahu Mama tidak akan setuju dengan gadis itu, makanya aku ingin segera menunjukkan berkas itu pada Mama," sahut Derri tanpa beban.


"Kenapa tidak setuju?" Pandangan Eva masih tertuju pada berkas yang dipegangnya.


"Karena dia masih 17 tahun."


"Apanya yang salah dengan 17 tahun?"


"Belum cukup umur untuk menikah," sahut Derri santai.


"Lima belas bulan lagi dia berusia 19 tahun."


"Dia punya cita-cita, Ma."


"Ya bagus. Memang harus begitu," sahut Eva penuh antusias.


"Berarti dia harus menempuh program strata satu dulu," ucap Derri. "Minimal begitu."


"Tidak masalah."


Riak wajah Derri mulai berubah, tak sesantai sebelumnya.


"Akan terlalu lama menunggu dia menyelesaikan studinya." Derri kembali beralasan.


"Bisa tetap kuliah walaupun sudah menikah," sahut Eva cepat. "Bagaimana menurutmu, Andre?" Ia pun beralih bertanya pada orang kepercayaan anaknya itu.


"Tidak masalah bagi saya, Tante. Saya akan tetap mengabdikan diri pada Derri, dengan atau tanpa seorang nyonya yang mendampinginya," jawab Andre dengan senyum misterius di bibir.


"Hei, kenapa Mama malah meminta pendapat Andre? Aku lah yang akan Mama nikahkan," protes Derri kesal.


"Lalu bagaimana pendapatmu tentang gadis ini?" Eva bertanya lebih lanjut pada Andre tanpa menggubris anak laki-lakinya yang tengah menahan kesal.


"Dia gadis yang menarik, Tante." Andre menjawab sambil nerdiri santai dengan kedua tangannyanya masuk ke dalam saku celana. "Cantik, pintar, supel dan memiliki rasa solidaritas tinggi pada teman-temannya. Walaupun sedikit manja dan keras kepala, tapi pada dasarnya dia memiliki kepribadian yang baik."


"Hei, aku atau Mama yang menggajimu?" hardik Derri pada Andre. Laki-laki berkulit bersih itu mulai menahan kesal tingkat dewa. Sementara Andre hanya diam tak bergeming.


"Bagus." Eva tersenyum puas masih tanpa menghiraukan protes keberatan dari anaknya yang manja itu. "Besok malam kita berkunjung ke keluarga Syarif," putus Eva. "Andre, siapakan semuanya," perintah Eva tak terbantahkan.


"Arrgh! Mama ...!" teriak Derri frustasi.


___


.


Sesuai yang telah Eva rencanakan, malam ini keluarga Prawira bertandang untuk memenuhi undangan makan malam dari keluarga Syarif.


"Eva, apa kabar?" Mike menyambut pelukan hangat Eva. Mereka benar-benar tampak seperti sepasang merpati yang telah lama terpisah dan saling meridukan. Maklumlah, sudah hampir seumur Derri mereka tidak bertemu. Tidak lupa mereka saling cipika-cipiki, begitu kalau menurut bahasa anak muda zaman sekarang.


"Baik. Kau sendiri apa kabar?" Eva balik bertanya.


"Ya seperti ini lah, aku masih tetap cantik seperti dulu." Mike menjawab sambil berpose bak model profesional.


Eva mengamati penampilan Mike dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tampak tumpukan lemak berlebih di beberapa tempat yang mencolok mata. Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa garis-garis kecantikan duniawi memang masih terpahat jelas di wajah bulatnya itu.


"Iya loh, masih tetap cantik seperti waktu masih jadi model," puji Eva.


"Ngeledek apa ngeledek, nih?" sungut Mike sambil mengerucutkan bibirnya yang disambut dengan tawa renyah dari semua yang hadir di sana.


"Sudah, Eva. Jangan diledek terus, bisa-bisa nanti aku yang harus menanggung akibatnya." Keanu, sang suami, mencoba menengahi.


"Hei, kalian menggunjingku di depan hidungku?" potong Mike. "Siap-siap saja, nanti malam tidur di sofa," lanjut Mike sambil mencubit pinggang suaminya. Tawa renyah pun kembali pecah di teras rumah keluarga Syarif malam itu.


___


.


Derri pov


"Jadi ini si Derri? Wah, sudah besar ya sekarang?" Tante Mike mengambil duduk disebelah kiriku. Saat ini aku memang sedang asyik bercengkrama dengan dua makhluk Tuhan yang mempunyai hobi julid itu. Sedangkan para laki-laki lebih memilih memisahkan diri dan mengangkat topik pembicaraan seputar bisnis di teras samping.


"Bukan hanya besar, sudah tua malah." Suara Mama mengembalikan kesadaranku pada keberadaan mereka berdua.


"Ah, kau ini. Itu namanya dewasa. Pria matang." Tante Mike membelaku, jadi tidak perlu lagi aku menyerang Mama dengan kata-kata frontal.


"Terlalu matang." Mama masih terus saja berusaha menyudutkanku. Sepertinya memang tidak rela jika aku mendapatkan pujian dari mulut Tante Mike.


"Dulu kita tinggal satu komplek di Bekasi. Tante sering sekali mengajak Tiara dan Riana bermain ke rumahmu. Mereka betah kalau bermain denganmu. Mereka sangat menyayangimu. Mungkin karena mereka ingin memiliki adik laki-laki. Waktu itu kamu masih kecil. Usiamu kira-kira belum genap dua tahun, baru belajar berjalan. Tapi bandelnya minta ampun. Kalau melihat Tante bawaannya selalu saja ingin minta gendong, tapi begitu digendong langsung deh ngompolin Tante."


Ya Tuhan, sememalukan itu kah aku waktu masih kecil?


"Benarkah? Ayolah Tante, jangan rusak image-ku di pertemuan pertama kita," protesku yang mendapat tawa hangat dari dua wanita satu generasi itu.


"Sepertinya kau tumbuh menjadi pria yang menyenangkan. Hah, tidak terasa kau sudah menjadi laki-laki dewasa yang setampan ini. Tapi bagiku kau tetap lah bayi kesayanganku."


Tante Mike mengacak puncak kepalaku dengan gemas. Benar-benar gemas.


Hei, aku ini pria dewasa, Tante. Sudah tidak pantas lagi untuk diperlakukan layaknya anak kecil seperti ini. Tapi tidak apa lah, kulihat Tante Mike tulus padaku.


Aku bisa merasakan betapa ia menyayangiku seperti anaknya sendiri. Mungkin memang benar, mereka sangat menginginkan hadirnya anak laki-laki di tengah-tengah keluarga.


"Sudah, jangan dipuji-puji terus. Bisa besar kepala dia."


Aish, Mama ... tetap saja berusaha menyudutkanku, meskipun sedang sibuk dengan rengginang yang tersusun rapi di dalam toples.


"Terserah apa kata Tante saja, misalkan Tante memintaku dari ibu kandungku ini sekalipun, aku juga tidak akan keberatan."


"Kenapa begitu?"


"Karena Tante lebih cantik," bisikku di telinga Tante Mike, namun tetap dengan suara keras agar tetap terdengar oleh Mama. "Dan sepertinya Tante juga lebih penyabar."


"Hei, Mama dengar," hardik Mama. Kemudian kami bertiga pun tertawa bersama.


"Kira-kira 30 tahun yang lalu kami terpaksa harus pindah karena Om Keanu mendapat promosi jabatan untuk memegang kantor cabang di Surabaya," ucap Tante Mike sambil mengusap punggungku dengan sayang.


"Benarkah, Tante? Sudah lama sekali berarti, ya," sahutku sambil tersenyum semanis mungkin.


"Iya. Setelah lima tahun memimpin kantor cabang di Suraba akhirnya Om Keanu memutuskan untuk merintis usahanya sendiri di Kota Pahlawan itu." Tante Mike bercerita dengan tatapan menerawang. "Baru tiga tahun belakangan Om Keanu membuka cabang di kota ini dan lebih memilih untuk menetap di sini saja. Biar lebih dekat dengan orang tuanya katanya. Oh ya, Tante dengar katanya malah sudah banyak proyek kerjasama yang Om Keanu garap bersama perusahaanmu, ya?"


"Iya tante. Tapi Om Keanu tidak pernah bercerita bahawa keluarga kita punya hubungan sedekat ini."


Mama dan Tante Mike adalah teman semasa kuliah di Jakarta. Begitu juga halnya dengan Om Keanu dan Papa, mereka adalah teman semasa menempuh program magister di Bandung. Kebetulan sekali bukan? Maka tidak heran jika kedua keluarga kami memiliki hubungan sedekat ini.


"Berapa kekasihmu?" tanya Tante Mike sambil mengulurkan tangan mengambil secangkir teh di meja.


"Pertanyaan macam apa itu, Tante?"


"Kau ini tampan." Tante Mike menjawab sambil menyodorkan secangkir teh padaku. "Sayang sekali jika hanya memiliki satu kekasih saja."


"Sebenarnya banyak wanita yang mendekat. Tapi tidak satupun yang bisa menggetarkan hatinya. Aku sampai pusing dibuatnya. Sebenarnya wanita macam apa yang dia cari. Entahlah." Mama turut menimpali.


"Hei, bagaimana rencana kita dulu itu? Kita jadi besanan, bukan?" celetuk Tante Mike tiba-tiba.


Ini dia, akhirnya Tante Mike mulai membahas perihal yang dimaksudkan Mama.


"Kau masih mengingat kelakar kita waktu itu?"


"Tentu saja." Tante Mike menjawab dengan mata berbinar. Hah, memang ekspresif sekali wanita satu ini. "Itu bukan kelakaran, tapi sebuah janji. Karena Tiara dan Riana sudah menikah, kita jodohkan saja Kiara dengan Derri. Bagaimana?" Tante Mike menatap Mama penuh harap.


"Tapi umur kami selisih jauh, Tante," protesku.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Tante Mike dengan tatapan mata mendelik.


Tiba-tiba saja terdengar suara pintu samping yang terbuka. Seluruh pasang mata pun melihat ke arah yang sama.


"Kiara!" Tante Mike berseru ke arah pintu samping.


"Iya, Ma." Terdengar sahutan dari tempat yang masih menjadi objek pandang seluruh pasang mata.


"Kesini sebentar, Nak."


"Ada apa?"


Seorang gadis berambut sepunggung berjalan mendekat.


"Ini ada teman kuliah Mama. Namanya Tante Eva. Kenalan dulu dong."


"Oh, selamat malam, Tante. Saya Kiara." Gadis itu menyapa sambil mengulurkan tangan. Namun sesaat kemudian ia terkesiap menatap Mama yang masih berjabatan tangan dengannya.


"Teman Mama?" Kiara bertanya ragu, yang dijawab dengan anggukan oleh mamanya. "Ini bukannya tante-tante yang waktu itu, ya ...," gumamnya pelan.


"Hei, apa maksudmu? Bicara yang sopan, Kiara," hardik Tante Mike. Sementara aku hanya bisa menahan tawa geliku melihat wajah masam Mama yang duduk di hadapanku.


"Terus ini Derri. Putranya Tante Eva. Kalian sudah saling kenal, ya?"


Kiara beralih menatapku. "Kau? Kenapa kau ada di sini?"


Gadis bernama Kiara itu langsung on dalam mode galak.


"Hei, jangan begitu. Bersikaplah sopan pada orang yang lebih tua, sayang."


"Bukan lebih tua, tapi sudah tua." Kiara meralat ucapan mamanya. Membuatku sedikit merasa jengah.


"Kenapa harus kasar dan galak seperti itu? Memangnya ada masalah apa sih di antara kalian?"


"Dia itu sudah---."


"Sangat cantik, Tante," potongku cepat. Sengaja, agar gadis itu tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Ya memang cantik, persis seperti mamanya." Mama menambahkan.


Jujur kuakui, gadis itu memang tampak berbeda malam ini. Dress fanta selutut, dipadu dengan sling bag dan flat shoes putih. Ditambah poni tipis sebatas alis dan dua jepit kupu-kupu di kiri dan kanan kepala, menjadikannya tampak imut dan begitu menggemaskan. Benar-benar berbeda dengan saat pertama kali kami bertemu.


"Tapi sayang, dia galak sekali." Suara Tante Mike membuyarkan lamunanku. "Tapi sebenarnya dia itu sosok gadis yang baik."


Tante Mike mengusap lembut kepala putrinya. Tampak jelas bahwa gadis itu dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan ... termanjakan.


"Jadi bagaimana, kalian setuju kan?" Tante Mike kembali bersuara.


"Setuju!" sahut Mama mantap yang pastinya kusambut dengan tatapan protes yang tajam. Namun tentu saja itu percuma. Dua emak ini telah berubah menjadi netizen mahabenar yang tidak bisa menerima protes, usulan, apa lagi penolakan dari pihak lain.


Ok, baiklah. Sepertinya akan menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk menggoda gadis galak yang duduk cemberut di depanku itu. Meskipun sesungguhnya itu benar-benar akan sangat merepotkan.


Toh nanti seiring berjalannya waktu, mereka juga akan melihat sendiri bahwa kami berdua bukanlah pasangan yang cocok, apa lagi serasi. Aku bukanlah pasangan yang tepat untuk gadis bau kencur itu, begitu pula sebaliknya.


"Ah, syukurlah. Kita bicarakan langsung saja pertunangan, pernikahan, dan lain sebagainya."


"Ini apa-apaan sih, Ma?" Akhirnya gadis itu angkat suara juga.


"Ah, karena terlalu senang Mama jadi lupa memberitahukanmu," ucap Tante Mike sambil menepuk jidatnya pelan. "Kami berdua sepakat menjodohkan Kiara dengan Derri."


"Jodoh? Dengan dia?" tanya Kiara dengan suara naik tiga oktaf. Tampak benar-benar lucu ekspresinya kali ini.


"Iya, sayang."


"Mama, Derri, ayo kita pulang. Sudah malam." Tiba-tiba Papa muncul dari balik pintu samping bersama Om Keanu dan Wilson, kakak ipar Kiara.


"Loh, pembicaraan kita belum selesai, Pa." Mama mengutarakan rasa keberatannya.


"Sudah. Papa sudah membicarakannya dengan Keanu."


"Kami berdua sudah setuju dan sepakat," sahut Om Keanu.


"Karena ini sudah malam, untuk lebih lanjutnya kita bicarakan lagi nanti." Papa menambahkan.


"Oh, ya sudah kalau begitu." Mama tersenyum antusias.


"Akhirnya kita besanan betulan," komentar Tante Mike tidak kalah antusias.


"Apa-apaan ini? Apa maksud kalian?" Kiara bertanya dengan ekspresi bingung.


"Kenapa kau seperti itu? Terlalu senang karena dijodohkan dengan pria tampan, ya?" goda Tante Mike tanpa memperhatikan tanduk yang mulai tumbuh di sela rambut putri kesayangannya.


BERSAMBUNG ...