
Melihat Derri yang telah menyadari keberadaannya, Kiara memaksakan diri untuk melangkah pelan meninggalkan tempat ia berdiri menuju laki-laki bersetelan kerja yang telah kembali duduk pada kursinya.
"Hai, Om," sapa Kiara canggung begitu tiba di hadapan Derri.
"Kau telah melihat semuanya?" tanya Derri to the point dengan suara lirih menahan perih di dalam hati.
"Maaf, Om. Aku tak bermaksud mecuri dengar," sahut Kiara cepat. "Hanya saja ... aku kebetulan tiba di sini bertepatan dengan Om yang sedang bercakap serius dengan wanita itu tadi," lanjutnya. "Lagi pula aku mendengar hanya ... hanya sedikit saja."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kau memang harus tahu. Bukankah kau adalah calon istriku?" Seperti biasanya, Derri melempar senyum manis pada remaja belasan tahun itu. "Duduklah."
"Iya, Om." Kiara duduk di hadapan Derri, tempat di mana Stella menikmati percakapan tatap muka terakhirnya dengan Derri.
Derri mengangkat tangan kanan, memberi isyarat pada pelayan agar segera mendekat.
"Kau ingin memesan apa? Aku belum memesankan untukmu karena aku sendiri tak tahu banyak tentang es krim. Bahkan tadi aku hanya ikut memakan milik Stella saja."
Ya, dapat Kiara lihat langsung satu mangkuk es krim berukuran jumbo yang masih menyisakan sedikit sisa yang telah mencair.
"Jadi ... itu tadi yang bernama Stella?" Kiara memberanikan diri bertanya.
"Ya. Dia cantik, bukan?" Derri balik bertanya, bertepatan dengan pelayan yang datang dengan daftar menu di tangan.
"Sangat cantik," puji Kiara tulus. "Tapi kenapa Om malah membuat wanita cantik itu menangis?" tanya Kiara sembari menunjuk menu yang ingin dipesannya pada pelayan, kemudian ditegakkan jari tengah dan telunjuk kanannya sebaggai isyarat bahwa ia menginginkan dua porsi.
"Karena itu adalah hal yang terbaik untuknya, Ki." Derri menunduk, kembali meresapi luka hati kehilangan sosok wanita yang selama ini selalu ada di sekitarnya.
Ya, terkadang Derri merasa kehadiran wanita cantik yang satu itu sebagai gulma yang selalu saja menempel kemanapun ia pergi. Namun, hari ini baru disadari bahwa ternyata kehilangan sosok gulma itu adalah suatu hal yang berat juga baginya.
"Tangisan adalah hal terbaik? Aku tak mengerti." Kening Kiara berkerut. Gadis belasan tahun itu benar-benar tak paham dengan apa yang Derri maksud.
"Agar dia bisa lepas dari bayang-bayangku dan segera memulai kehidupan yang baru." Derri mendongak, kemudian melempar senyum pada Kiara. Sebuah senyum yang terlihat sangat dipaksakan.
"Dapat kulihat ... Om ini dikelilingi oleh banyak sekali wanita-wanita baik. Hanya saja ... aku tak habis pikir, mengapa Om lebih memilih untuk menjadi laki-laki brengsek di hadapan mereka," gumam Kiara tanpa sadar, bertepatan dengan seorang pelayan yang telah selesai menghidangkan dua porsi pesanannya.
Kedua mata Derri terpicing, benar-benar tak menyangkan gadis di hadapannya itu berani mengatainya sebagai laki-laki brengsek. Konyolnya, tepat sedetik kemudian, gadis itu baru menyadari bahwa apa yang baru saja diucapkan adalah sesuatu yang tak sepantasnya meluncur dari mulut manisnya. Setidaknya seperti itulah orang tuanya mengajarkan.
"Mmm ... maaf. Hehehe ...." Kiara berucap sembari menunjukkan senyum canggungnya.
Derri tersenyum sebelum kemudian berucap, "Jadi ... untuk apa kau memanggilku ke sini? Ada apa?" Derri lebih memilih untuk mengganti topik pembicaraan.
"Tidak ada apa-apa, Om," sahut Kiara sembari menggeser satu mangkuk es krim tepat ke hadapan Derri.
"Tidak ada apa-apa?" Derri membeo.
"Ya, memang tidak ada apa-apa." Gadis berambut sepunggung itu mulai menikmati sendok demi sendok es krimnya.
"Lalu?" kejar Derri.
"Aish, baiklah ... baiklah." Akhirnya Kiara menyerah juga. Diletakkan sendok es krim sebelum memulai penjelasannya. "Begini, aku telah membuat dua keputusan, Om. Hanya saja, aku harus mengambil salah satu saja karena keduanya saling bertolak belakang. Kita sebut saja dengan keputusan A dan keputusan B."
"Lalu?" Derri menunjukkan wajah tertarik, walau sebenarnya apa pun yang dimaksud dengan keputusan A dan B itu adalah dua hal yang sama sekali tak membuatnya penasaran.
"Begini aturan mainnya ... jika Om datang karena panggilanku ini, maka aku akan mengambil keputusan dan langkah A. Sebaliknya, jika Om mengabaikan panggilanku kali ini, maka keputusan B-lah yang kuambil," papar Kiara dengan senyum cerah di bibir.
"Menarik." Derri manggut-manggut mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh gadis bermata sipit itu. "Dengan kata lain, dalam hal ini kau akan mengambil keputusan A. Begitu kah?"
"Yups, tepat sekali."
"Lalu apa bunyi dari sesuatu yang kau sebut dengan keputusan A itu?"
"Hah, sayang sekali, Om. Itu rahasia dan hanya aku yang boleh tahu."
"Hah, bagus. Kau telah melibatkanku dalam pengambilan keputusan konyolmu itu tanpa aku mengerti ada permainan apa sebenarnya di dalamnya." Derri merutuk pura-pura kesal.
"Itu karena Om memang tak perlu tahu," sahut Kiara tak mau kalah. "Tugas Om hanyalah membantuku menentukan keputusan mana yang harus kuambil. Itu saja."
"Ya Tuhan, permainan konyol macam apa ini."
"Hei ... keputusan ini sangat berkaitan dengan keberlangsungan hubungan kita, Om," bela Kiara atas dirinya sendiri.
"Begitu kah? Tapi ini namanya gambling, Ki," tukas Derri. "Kenapa tidak kau sampaikan saja padaku apa masalahmu itu, lalu aku akan membantumu memecahkannya?"
"Aku sudah pernah menyampaikannya. Tapi Om justru menyerahkan keputusan pada tanganku. Sekarang aku malah jadi bimbang karena ketetapan hatiku mulai berubah haluan."
Derri mulai paham kemana arah pembicaraan gadis bersetelan crop tee putih dan rok hijau selutut itu.
"Hah, aku sudah mencoba mencerna ucapan-ucapanmu, tapi tak juga paham dengan apa yang kau maksud. Yang ada kepalaku malah menjadi pusing dibuatnya." Derri pura-pura menyerah dengan permainan Kiara.
"Hahaha ... Om tidak perlu memikirkannya. Biar aku saja. Sekarang aku sudah bisa menentukan langkah apa yang akan kuambil."
"Baiklah, itu terdengar bagus," sahut Derri. "Tapi aku harus segera kembali ke kantor. Ada beberapa hal yang menunggu untuk kubereskan di sana."
"Apakah Om sangat sibuk?"
"Ya, begitulah."
"Ya Tuhan, Om benar-benar meluangkan waktu untukku di tengah kesibukan urusan pekerjaan?"
Derri mendongak, kemudian menatap gadis di hadapannya itu sejenak, sebelum melemparkan senyum khasnya.
"Mau bagaimana lagi, bukankah kau adalah calon istriku? Jadi aku harus memprioritaskanmu."
Kiara tersenyum. Sorot matanya memancarkan binar terang yang indah. Melihat hal itu Derri sengaja mengulurkan tangan kanannya, menjentik ujung hidung gadis dengan gemas.
"Apa kau senang Nyonya Ewon Prawira?" bisik Derri disertai senyum manis tersungging di bibir.
Kiara diam tak bersuara. Namun semburat merah di kedua pipi gadis itu telah cukup memberikan jawaban bagi Derri.
"Apakah kau diantar oleh Mang Jaja?" tanya Derri sembari meriksa jarum jam di pergelangan tangannya.
"Tidak. Aku ke sini naik taksi."
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang dulu sebelum kembali ke kantor. Ayo."
"Tidak, Om. Tidak perlu. Masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan di sini," tolak Kiara halus.
"Di sini? Maksudmu?" tanya Derri tak mengerti.
"Aku berjanji untuk bertemu dengan Axel di sini."
"Jadi kau mengencaniku dan anak ingusan itu secara bergantian? Ya Tuhan, betapa menyedihkannya aku ...."
"Aish ... kau benar-benar memperlakukanku dengan sangat rendah di sini. Aku merasa seperti selingkuhan saja."
"Hahaha ...!" Kiara tertawa terbahak-bahak mendengar ungkapan Derri.
"Apakah dia masih lama?" tanya Derri akhirnya.
"Mungkin sepuluh menit lagi dia datang."
"Kalian akan melakukan apa?"
"Apa? Memangnya apa yang akan kami lakukan?" Kiara balik bertanya. "Hei, jangan berfikir macam-macam ya. Aku bukan gadis mesum seperti Om!"
Derri tersenyum mendengar jawaban polos gadis itu. "Apakah kalian akan lama?"
"Aku tak akan lama. Mungkin lima belas sampai dua puluh menit saja."
"Baiklah, aku akan menunggu."
"Ini adalah pembicaraan rahasia antara pasangan kekasih yang otaknya normal. Apakah Om berencana untuk menjadi pihak ketiga dalam pertemuan sepasang merpati yang sedang berbahagia kali ini?" tolak Kiara, sengaja sedikit kasar.
"Hah, merepotkan sekali! Baiklah, aku akan menunggumu di tempat parkir!"
Tangan kanan Derri terulur meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, kemudian memasukkannya ke dalam saku celana. Setelah itu ia pun segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah.
"Hei, setidaknya Om makan dulu es krimnya," cegah Kiara. "Aku memesannya dengan cinta." Kiara mencoba berkelakar.
Derri menoleh, ditahan langkah kakinya tanpa bersuara. Tangan kanan laki-laki itu bergerak menyendok es krim bagiannya kemudian segera memasukkan ke dalam mulut. Hanya satu sendok kecil.
"Habiskan," perintah Derri pada Kiara. Ia pun beranjak dan segera berlalu dengan wajah kesal yang justru mengundang senyum puas di bibir Kiara.
___
.
"Maafkan aku, Axel." Wajah Kiara tertunduk sayu. "Aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri."
"Apa maksudmu?" tanya Axel dengan wajah bingung tak mengerti. Kedua tangan kokohnya menggenggam lembut jemari milik Kiara.
"Aku tak bisa menyangkal semua tuduhanmu itu," jawab Kiara lirih. "Karena semua itu memang benar adanya."
"Kau yakin?" tanya Axel sambil menggenggam erat jemari Kiara.
"Iya, Axel. Aku mencintainya." Dengan berat hati, Kiara berusaha mengurai genggaman Axel dari kedua tangannya.
"Tunggu sebentar ... apa kau melakukan ini semua karena perjodohan konyol itu?" tanya Axel penuh harap. "Jika iya, maka kita akan mengatasinya bersama-sama."
"Tidak, Axel. Aku melakukan semua ini karena aku memang mencintainya."
Mendengar itu, sinar harapan pada sorot kedua mata Axel padam seketika.
"Tidak adakah sedikit saja ruang di hatimu untukku?" tanya Axel parau. "Aku akan berusaha memperlebar ruangku sendiri jika kau bersedia memberiku kesempatan." Diraih dan digenggamnya kembali kedua tangan Kiara dengan erat.
"Maafkan aku, Axel," ucap Kiara tertahan. "Aku tidak ingin menyakitimu. Tapi aku pun juga tidak ingin melukaimu lebih dalam lagi."
Axel terdiam. Dilepaskan genggaman tangannya pada jemari Kiara. Lidahnya kelu, tak tahu apa yang harus diucapkan. Karena sejatinya ia pun telah merasakan dan menyadari perubahan Kiara. Cinta Kiara bukan lagi untuknya.
Axel telah mempersiapkan hatinya untuk kenyataan ini. Namun, ternyata tetap sangat sakit rasanya mendengar hal itu langsung dari mulut gadis yang telah dicintainya selama tiga tahun terakhir ini.
"Axel..." panggil Kiara lirih. "Apa kau membenciku?" diremasnya lengan kokoh Axel.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku telah kalah dalam bercinta," ucap Axel akhirnya. "Memaksakan cintaku padamu pun percuma," ucapnya lagi. "Aku harap kau tidak akan menyesal dengan pilihanmu ini, Ra."
"Apa maksudmu, Axel?" tanya Kiara tak mengerti.
"Jawab pertanyaanku. Apakah dia juga mencintaimu?"
Mendengar pertanyaan Axel, seketika wajah Kiara berubah pias. Pandangan matanya terlempar ke sembarang arah. Satu titik yang tak bisa ditatapnya saat itu, yaitu kedua mata Axel.
"Jawab aku, Kiara." Suara Axel kembali terdengar.
"Aku ... aku tak tahu," sahut Kiara ragu. "Aku tak tahu dia mencintaiku atau tidak."
Selama beberapa saat Axel menatap kasihan ke arah Kiara yang hanya berani menundukkan wajah.
"Kau terlalu gegabah, Kiara," gumam Axel pelan.
"Iya, Axel. Aku memang sudah gila," sahut Kiara pelan, masih dengan pandangan tertunduk ke bawah. "Aku dengan bodohnya melepaskanmu yang benar-benar mencintaiku demi dia yang belum lama kukenal dan belum tentu tertarik juga padaku, apa lagi mencintaiku."
Sesaat kemudian terdengar helaan nafas berat dari remaja laki-laki itu. Ia benar-benar tak mengerti dengan cara berfikir gadis yang telah sejak lama dicintainya sepenuh hati.
"Aku bisa terima jika saat ini kau sangat membenciku sebab aku sadar telah melukai hatimu, Axel ...."
Axel diam tak menjawab. Laki-laki itu memang tengah sibuk menata hatinya yang kini telah hancur.
"Dia bukan laki-laki yang baik untukmu," ucap Axel kembali meraih jemari Kiara.
"Kini kau menjelekkannya karena rasa bencimu padaku?" Kiara terkekeh pelan sembari mengurai tangan Axel.
"Bukan, Ra," tukas Axel cepat. "Siapa dia? Orang seperti apa dia? Sosok seperti apa dia? Kau tak tahu, bukan? Kau belum tahu siapa dia sesungguhnya. Dia bukan pilhan yang tepat untukmu. Kau benar-benar terlalu baik dan sempurna untuknya."
"Kenapa? Memangnya siapa dia?" Kiara mulai tersulut emosi. Ditatapnya remaja tampan di hadapannya itu dengan sorot mata tajam.
"Dia adalah seorang pembunuh," jawab Axel dingin. Ada rasa tertekan yang terselip di sana.
Kiara tersentak mendengar ucapan Axel. Ia tak percaya jika Axel bisa menngucapkan kata-kata sekejam itu di hadapannya. Selain itu, ia pun juga tak percaya bahwa Derri adalah sosok laki-laki seperti yang telah Axel tuduhkan itu.
"Omong kosong macam apa ini?" sanggah Kiara semakin diwarnai emosi. "Kini kau mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya diucapkan," lanjutnya sambil menarik kasar jemarinya dari genggaman Axel. "Aku tidak menyangka kau tega mengucap fitnah sekejam itu, Axel."
"Aku tahu kau tidak akan percaya karena kau telah dibutakan oleh cinta," sahut Axel yang masih berusaha untuk membuka pandangan Kiara terhadap laki-laki yang menurutnya belum lama dikenal oleh sang kekasih itu.
"Kau! Kau lah yang telah buta," tukas Kiara. "Keinginanmu untuk memiliku telah menjadikanmu sosok yang begitu jahat dan kejam dalam sekejab."
Lagi-lagi remaja bertubuh tegap itu terdiam. Ia tahu betul apapun yang ia ucapkan saat ini hanya akan menguap bersama udara di hadapan Kiara.
"Baiklah, Ra. Sekali lagi kukatakan bahwa aku hanya berharap kau tidak kecewa dengan pilihanmu." Axel mengalah, tidak ingin emosi Kiara semakin menjadi. "Yang perlu kau tahu, aku akan tetap mencintaimu apa pun yang terjadi," imbuhnya. "Jika dia menyakiti dan mengecewakanmu, datanglah padaku. Aku selalu memiliki cinta untukmu," pungkas Axel sebelum bangkit dari duduknya.
Dipandangnya wajah sayu Kiara beberapa saat dari tempatnya berdiri. "Aku pergi," ucapnya setelah puas menatap wajah kekasih hati yang kini bukan miliknya lagi.
BERSAMBUNG ...