
Derri mengendap-endap dari balik gelapnya rerimbunan semak di samping gedung berlantai tiga. Ia telah berhasil melompati pagar setinggi dua meter di belakang bangunan itu dengan mudah sejak beberapa menit yang lalu. Kini ia mendongak, menatap ke arah balkon lantai dua yang telah terbiasa ia datangi beberapa bulan belakangan.
Di balkon itu lah ia biasa bertemu dengan kekasihnya untuk sekedar melepas rindu. Sebenarnya ia bisa saja masuk lewat pintu depan sebagaimana layaknya orang menemui kekasihnya. Namun ia sengaja memilih cara yang tak biasa, yaitu mendatangi pujaan hati melalui balkon yang langsung tersambung dengan pintu kamar kos kekasihnya itu. Cinta itu butuh perjuangan, begitu mungkin yang ada dalam pikiran Derri. Entah mengapa, ketika ada cara yang mudah dan lumrah, mengapa dia memilih jalan yang susah.
Lumayan lama Derri tidak bertemu dengan kekasihnya di balkon tersebut. Selama dua minggu ia pergi ke Magelang karena ada salah seorang sepupu yang menikah saat itu. Selama berada di Magelang, tidak sehari pun ia lewati tanpa memikirkan pujaan hatinya itu. Dia memang tergila-gila pada teman satu angkatannya tersebut. Cintanya yang begitu dalam telah menerbitkan rasa rindu yang teramat menyiksa.
Begitu menginjakkan kaki kembali di Jakarta, yang dipirkannya hanyalah segera menemui kekasihnya itu.
"Tidak biasanya .... Mungkin dia sudah tidur," gumamnya setelah berkali-kali menelpon, namun tidak juga diangkat. "Freya, aku sangat merindukanmu," bisik Derri pada dirinya sendiri, kemudian memanjat perlahan dengan setangkai mawar merah teselip dalam gigitannya.
Derri melewati pagar balkon hanya dalam satu kali lompatan. Ia berdiri diam sejenak di balik bayangan pohon mangga untuk mengatur nafasnya kembali.
"Hah, dia masih saja ceroboh seperti biasanya," gumam Derri saat dilihatnya pintu balkon masih terbuka lebar. Dilangkahkan kakinya perlahan menuju pintu dengan gorden transparan tersebut.
Langkah Derri terhenti tepat di depan pintu. Tubuhnya terpaku, mulutnya tercekat, lidahnya kelu, sorot matanya menatap nanar tanpa berkedip penuh kekecewaan, kesakitan, dan luapan amarah.
"Dalton ...!" geram Derri sambil merangsek masuk ke dalam kamar dan menarik kasar bplahu laki-laki yang tengah bergumul dengan kekasihnya itu. Dicekalnya pundak Dalton dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan melancarkan pukulan bertubi-tubi.
"Argh ...!" Derri mengerjabkan matanya beberapa kali. "Sial, mimpi itu lagi!" umpatnya sambil meraba tombol lampu di atas nakas, kemudian menyalakannya.
"Mengapa mimpi itu kembali hadir?" gumamnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Diliriknya jam persegi di atas nakas, pukul dua dini hari. Tangan kanannya kembali terulur meraih sebotol air mineral di sebelah lampu tidur, kemudian meminumnya hingga tandas.
Beberapa saat kemudian, setelah merasa lebih tenang ia bangkit dan berjalan menuju jendela kaca di sudut ruangan.
"Freya, apakah kau masih mencintaiku?" bisiknya lirih sambil menerawang ke arah taburan bintang. Pagi ini, ia habiskan dengan puluhan batang rokok sambil merajut kenangan indah yang pernah dilaluinya bersama Freya.
___
"Kami duluan ya, Ra." Suzi dan Sesil berpamitan, melangkah menuju parkiran sekolah sambil melambaikan tangan pada Kiara.
"Iya, jangan lupa nanti sore, ya." Kiara membalas lambaian tangan mereka seraya berjalan menjauh menuju pintu gerbang sekolah.
Langkahnya berhenti tepat di bawah pohon asam di luar pagar sekolah, tempat dimana Mang Jaja biasa memarkir mobilnya jika menunggu Kiara bubaran sekolah. Tanpa sengaja ekor matanya menangkap kehadiran pria yang belakangan ini telah sering mengacaukan moodnya.
"Untuk apa dia kesini?" tanya Kiara dalam hati. "Tunggu, dia sedang bersama Marta?" dikerutkan keningnya sebagai tanda keheranan. Dipertajam pendengarannya, hingga sayup-sayup terdengar percakapan dua insan yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
"Sungguh, kau memang cantik." Terdengar kata pujian dari mulut Derri yang disertai senyuman manis. Mendengar itu, entah mengapa ada sesuatu yang bergejolak dalam diri Kiara.
"Apa-apaan itu? Dasar genit!" sungut Kiara pelan.
"Benarkah?" tanya Marta. "Om Lee Min Ho, nanti malam kau tidak sibuk kan? Bagaimana kalau kita nonton?" terdengar suara manja Marta menyampaikan usulnya.
"Sayang sekali, aku sudah ada janji dengan Kiara," sahut Derri.
"Janji? Kami tidak punya janji apa-apa. Hah, dasar pembohong yang genit!" Kiara kembali berkomentar dari tempatnya berdiri. Namun tak ayal, jawaban Derri itu menghadirkan rasa lega di hatinya.
"Besok? Bagaimana kalau besok?" Marta masih mencoba menawarkan.
"Besok? Entahlah, kita lihat saja."
"Hah, memang dasar genit!" Kiara memaki setelah mendengar jawaban Derri.
"Jemputanku sudah datang," ucap Marta sambil merapikan seragam sekolahnya. "Aku duluan ya. Daaagh...! Nanti aku akan menelpon Om Lee Min Ho," lanjut Marta seraya melangkah masuk ke dalam mobil.
"Apa? Telepon-teleponan? Sejak kapan mereka menjadi sedekat itu?" gumam Kiara dengan ekspresi tak suka di wajahnya. "Aku bahkan tak memiliki nomornya."
Kiara segera beranjak dari tempatnya berdiri hendak menghampiri Derri. Namun diurungkan niat itu saat dilihatnya Axel diikuti segerombolan teman-temannya telah lebih dahulu mendatangi Derri.
"Kau! Kau masih berani menampakkan batang hidungmu?" tanya Axel dengan suara pelan pada Derri yang berdiri bersandar pada pintu mobil. "Apakah belum cukup pelajaran yang kuberikan semalam?" lanjutnya.
"Jadi semalam ... Hah, sialan! Ternyata anak ingusan ini yang berbuat ulah!" Derri mengumpat dalam hati.
Semalam, saat pulang dari apartemen Aldo, mobil Derri dihadang oleh gerombolan orang tidak dikenal. Dia memang berhasil membereskan gangguan tersebut, namun sayangnya satu sayatan belati sempat mampir di pipi kirinya yang kini meninggalkan luka yang tentu saja belum kering.
"Tidak akan kubiarkan kau mengambilnya dariku," bisik Axel mengancam.
"Terserah kau saja," sahut Derri santai. "Yang perlu kau catat baik-baik adalah ... aku yang akan menjadi suaminya," lanjutnya sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Aku laki-laki yang dicintainya." Axel menyahut dengan tatapan sinis, lalu memberi isyarat pada teman-temannya agar segera pergi.
Kiara menatap kepergian Axel dan teman-temannya hingga mereka menghilang di balik pintu gerbang sekolah. Segera dilangkahkan kakinya menuju seseorang yang telah mencuri perhatiannya sejak tadi.
"Hei, sedang apa Om disini?" Kiara berusaha menyapa sebiasa mungkin, pura-pura tak melihat apa yang baru saja terjadi.
Derri menoleh, "Mama memintaku untuk menjemputmu."
"Mama?" Kiara kembali bertanya. "Maksudnya Tante Eva? Memangnya ada apa?" tanya Kiara bingung.
"Mama Mike," jawab Derri singkat.
"Sejak kapan mamaku menjadi mamamu?" tanya Kiara dengan tatapan sinis.
"Sejak aku menginginkannya, tentu saja," jawab Derri sekenanya.
"Kenapa bukan Mang Jaja saja yang jemput?" protes Kiara. "Mang Jaja kenapa?"
"Kucingnya melahirkan," jawab Derri singkat.
"What?"
"Begitulah kata Mama," sahut Derri dengan wajah tanpa beban. "Ayolah, segera masuk ke mobil," lanjutnya sambil membuka pintu depan.
"Hei, pipi Om kenapa?" Tiba-tiba Kiara menahan lengan Derri yang hendak duduk di jok pengemudi.
"Oh, ini?" Derri meraba luka sayat di pipinya. "Tidak kenapa-napa. Hanya tersayat silet saja saat bercukur tadi pagi," kilah Derri berbohong.
"Benarkah?" tanya Kiara tak yakin.
"Iya."
Tangan kanan Kiara terulur, menyentuh luka itu pelan. Gadis itu pun segera mengeluarkan sebotol kecil idophor dan plaster luka dari dalam tasnya. Dengan satu gerakan didorongnya dada bidang laki-laki di hadapannya itu hingga terduduk di jok mobil.
"Mana mungkin luka sayat pisau cukur bisa sedalam ini?" tukas Kiara sambil mengoleskan sedikit cairan idophor, kemudian segera menempelkan plaster pada luka di pipi Derri.
"Gadis bar-bar, tidak biasanya dia sejinak ini. Dia bahkan menunjukkan perhatiannya pada lukaku. Apakah tadi pagi dia salah makan?" tanya Derri dalam hati.
"Sudah selesai," ujar Kiara sambil mengusap hasil karyanya itu dengan lembut. Plaster warna pink dengan motif Hello Kitty melekat sempurna tepat pada luka sayat itu. "Ayo kita pulang."
Mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil dan segera melesat melawan hiruk pikuk jalan protokol yang selalu padat saat jam pulang sekolah.
"Kau pergi ke sekolah membawa perlengkapan P3K?" Akhirnya Derri membuka percakapan setelah beberapa saat saling hening.
"Kadang sesekali aku bertengkar dengan anak-anak," sahut Kiara sambil mengamati titik-titik gerimis yang mulai menerpa kaca jendela.
"Hanya bertengkar?" tanya Derri asal.
"Berkelahi juga." Kiara menjawab dengan tersipu malu.
Derri menoleh, kemudian tersenyum geli mendengar jawaban lugas gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Jago berantem juga ternyata," komentar Derri. "Apa yang kalian ributkan?"
"Axel," jawab Kiara to the point.
"Laki-laki yang berkenalan denganku malam itu?" tanya Derri.
"Iya."
"Hanya karena masalah laki-laki?" Derri kembali bertanya.
"Sangat."
Kiara kembali tersenyum malu mendengar komentar Derri.
"Kau ingin langsung pulang atau bagaimana?" tawar Derri sambil membelokkan setirnya ke arah kiri.
"Apa Om tidak sibuk?" Bukannya menjawab, Kiara malah balik bertanya.
Sama halnya dengan Kiara, Derri tidak segera menjawab, justru sibuk dengan panggilan cepat dengan ponselnya.
"Brenda, tolong kosongkan jadwalku hari ini." Derri berbicara dalam sambungan telepon.
" ... "
"Iya. Nanti sepulang kantor tolong antar sekalian berkas-berkas itu ke rumahku."
" ... "
Derri memutus panggilan teleponnya kemudian tersenyum hangat ke arah gadis yang duduk tenang di sampingnya.
"Bagaimana?"
"Kita makan dulu saja," usul Kiara. "Mbak Iyem sedang pulang kampung,"
"Mama tidak masak?" tanya Derri sambil menatap plaster pink di pipinya yang tampak pada pantulan kaca depan.
"Biasanya masak."
"Lantas?" Derri mengernyitkan kening.
"Aku tidak ingin keracunan oleh masakan Mama yang tidak jelas rasanya itu."
Derri tersenyum geli mendengar jawaban yang ke luar dari mulut gadis di hadapannya itu
"Separah itu kah?" Derri menahan agar senyumnya tak berubah menjadi tawa, menyadari betapa tengilnya gadis yang dijodohkan dengannya itu. "Kau suka masakan Cina?"
"Iya."
Tak memerlukan waktu lama, sepuluh menit kemudian keduanya telah tampak berada di salah satu restoran masakan Cina. Mereka duduk dengan tenang menikmati hidangan yang telah mereka pesan.
"Derri, kau kah itu?" Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menyapa dari balik punggung Derri.
Derri dan Kiara, keduanya serempak menoleh ke arah asal suara. Seorang wanita cantik dengan tubuh semampai tengah berdiri dengan senyum indah terukir di bibir.
"Ah, benar. Kau adalah Derri," seru wanita itu antusias.
Tanpa permisi wanita itu pun langsung duduk pada kursi kosong di sebelah kiri Derri.
"Apa kau masih ingat padaku?"
Derri menoleh, kemudian memandang bingung dan tak paham.
"Aku Erina. Kita bertemu dua hari yang lalu di lobi hotel Horizon."
"Oh, tidak. Tentu saja aku tidak mungkin lupa padamu, Erina."
"Bagaimana kabarmu, Derri?"
Tangan wanita itu terulur, menggelayuti lengan kiri Derri.
"Seperti yang kau tahu, aku selalu tak kurang suatu apa pun," jawab Derri dengam senyum ramah.
"Ya, kau benar," sahut wanita itu. "Terkadang aku bertanya-tanya, bagaimana bisa kau selalu terlihat sangat tampan di setiap kesempatan."
Derri menoleh, kemudian melempar senyum pada Erina, sementara Kiara hanya diam menikmati menu makan siangnya.
"Kenapa kau tak pernah meneleponku?"
Tangan halus Erina bergerak pelan mengusap lengan Derri dengan lembut, kemudian beralih ke pipi.
"Ah, maaf ... akhir-akhir ini aku selalu sibuk," jawab Derri sekenanya.
Erina menoleh ke arah Kiara yang masih mengenakan seragam sekolah selama beberapa detik. Namun terus kembali fokus pada sosok laki-laki tampan di sampingnya.
"Bagaimana jika nanti malam aku datang ke rumahmu? Aku sedang kosong, tidak ada kesibukan."
Erina menawarkan diri sembari melempar senyum termanisnya. Sementara Derri hanya tersenyum mendengar ucapan Erina, tanpa minat untuk menjawab.
"Sepertinya kau begitu lelah dan penat akibat aktivitas kerjamu," bisik Erina tepat di telinga Derri. "Mungkin aku bisa memijit tubuh lelahmu ini nanti malam," lanjutnya sembari mengusap lembut punggung Derri.
"Datanglah nanti malam," sahut Derri. "Aku punya banyak waktu untukmu."
Mendengar jawaban Derri, spontan Kiara mendongak. Di hadapannya terpampang pemandangan wanita bernama Erina itu yang sedang mencium pipi Derri dengan gemas.
"Ya Tuhan, jika ini bukan tempat umum aku yakin bukan pipi yang kau cium," komentar Kiara tanpa sadar.
Erina mendengus mendengar kata-kata yang ditujukan padanya.
"Ya, kau benar. Mungkin aku sudah melucutinya," sahut Erina jujur dengan senyum manis di ujung kalimat.
Kening Kiara terkernyit tak habis pikir dengan apa yang wanita di hadapannya ini ucapkan dan akan lakukan.
"Maaf, Erina. Bisa kah kau pergi dari sini? Sepertinya gadis ini tak nyaman dengan kehadiranmu."
"Hah, kau selalu saja bicara dengan berterus terang. Apa kau tak tahu bahwa kata-katamu itu begitu menyakitiku? Kau mengusirku," hardik Erina dengan wajah cantik yang dibuat pura-pura kesal. "Tapi baiklah. Lagi pula ada banyak hal yang harus kupersiapkan untuk kunjunganku ke rumahmu nanti malam."
Erina kembali mengecup lembut pipi Derri, kemudian beranjak pergi dengan senyum puas menghias di bibir.
"Siapa dia?" tanya Kiara setelah Erina berjalan semakin jauh.
"Entahlah," sahut Derri sembari melanjutkan aktivitas makannya. "Kami hanya kebetulan bertemu kemudian berkenalan di lobi hotel dua hari yang lalu. Dia mengenaliku tapi aku tak tahu siapa dia."
"Tidak mengenalnya, tapi memperbolehkannya datang kerumah?" tanya Kiara tak habis pikir.
"Mau bagaimana lagi? Dia sangat cantik. Tubuhnya juga bagus. Apa aku harus melewatkan makanan selezat itu?"
Kiara melongo demi mendengar jawaban yang meluncur dari mulut laki-laki di hadapannya itu. Gadis itu memang masih duduk di bangku kelas tiga SMA dan tak pernah ada indikasi tertarik, apa lagi terlibat dengan pergaulan bebas. Tapi dia tak cukup polos untuk mengetahui apa maksud dari kata-kata itu.
"Ya Tuhan," keluh Kiara kemudian. "Kita ini dijodohkan, Om. Setidaknya tunjukkanlah hal-hal yang baik mengenai diri Om di hadapanku."
"Untuk apa?" tanya Derri santai. "Bukankah kita sama-sama menentang perjodohan ini?"
"Ya, tapi di film-film biasanya seperti itu. Kita tunjukkan kwalitas terbaik kita di hadapan pasangan."
"Hei, jangan-jangan kau sudah berubah pikiran," goda Derri dengan senyum manisnya. "Karena ketampananku, kau mulai berpikir untuk menerima dan menyetujui perjodohan ini?"
"Enak saja! Axel jauh lebih tampan dari pada Om!"
"Hahaha ... iya, kekasih ingusanmu itu," sahut Derri.
"Apa Mama juga tahu laki-laki macam apa Om ini?" tanya Kiara dengan ekspresi tak mengerti sekaligus senang karena telah menemukan nilai minus dari laki-laki yang dijodohkan dengannya itu.
Seketika aktivitas Derri terhenti, sisa-sisa tawa pun mendadak sirna dari wajahnya. Perlahan diletakkannya sendok dan garpu dari kedua tangannya di atas piring.
"Kita lihat nanti, apa yang akan Mama lakukan jika tahu laki-laki macam apa Om ini."
Derri diam tak menjawab. Hanya sorot dua bola matanya saja yang berubah tampak tak nyaman.
BERSAMBUNG ...