I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 18. Kiki Sayang



"Halo, Ki ...! Halo ...! Kiki ...! Halo ...!"


Derri mengalihkan ponsel dari telinga kanan tepat ke depan pandangannya. Diperiksanya layar ponsel dengan wajah keheranan. Sambungan benar-benar telah terputus.


"Ada apa?" tanya Andre sembari membetulkan kerah bajunya.


"Entahlah. Dia berteriak minta tolong," sahut Derri tol*l. "Ah, sial!" umpat Derri tiba-tiba. "Aku lupa. Tante Mike memintaku untuk menemani Kiki malam ini karena dia di rumah sendirian."


"Sendirian? Bukankah ada asisten rumah tangga dan yang lain di sana?" Andre memandang heran ke arah Derri yang telah beranjak dari tempat duduknya.


"Entahlah, bagaimana bisa mereka semua pulang kampung dalam waktu yang bersamaan." Derri menjawab sembari melangkahkan kaki menuju halaman rumah, tempat dimana mobilnya tengah terparkir.


"Perlu kutemani?" Andre menawarkan bantuan.


"Tidak usah," tolak Derri dengan berteriak. "Segera kau jemput saja Lana. Jangan sampai kau membuatnya kesal lagi malam ini," lanjutnya masih dengan teriakan sembari melangkah masuk ke dalam mobil. "Aku pergi."


Tanpa aba-aba mobil Derri langsung melesat ke luar pintu gerbang menuju jalan raya, menembus padatnya lalu lintas petang itu. Dengan penuh rasa cemas Derri terus melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Sial! Kenapa aku bisa lupa?!" rutuk Derri pada dirinya sendiri dengan kedua tangan mencengkeram roda kemudi.


Tepat pukul tujuh malam mobil sport putih Derri berhenti di depan pintu gerbang rumah Kiara. Mobilnya tak bisa masuk sebab pintu gerbang terkunci rapat. Ia pun segera ke luar dari mobil dan melompati pagar dengan tangkas setelah memastikan tak ada seorang pun yang melihatnya.


"Kenapa gelap sekali," gumam Derri. "Listriknya mati kah?"


Derri segera berlari menuju bangunan rumah mewah itu, melewati jalan beralas paving di antara taman bunga luas di pekarangan depan. Ia pun berjalan mengendap-endap penuh kewaspadaan memasuki rumah mewah ketika menyadari ada yang tak beres dengan keadaan saat itu.


Pintu depan tidak terkunci, memudahkan Derri untuk langsung menerobos masuk. Namun, keadaan yang gelap gulita cukup membuatnya kesulitan dalam membaca situasi rumah saat itu.


Sepuluh menit kemudian, dengan penuh waspada Derri menapaki anak tangga menuju lantai dua setelah memastikan lantai satu berada dalam kondisi aman. Ia langsung menuju kamar Kiara. Ditempelkannya telinga kiri ke daun pintu. Namun, tak ada sedikit pun terdengar suara dari dalam kamar.


Tangan kiri Derri terulur memegang handle pintu. Setelah terdiam beberapa detik, tangan kirinya kembali bergerak membuka pintu kamar perlahan, nyaris tanpa suara. Ditendangnya pintu kamar hingga terbuka lebar. Sementara kedua tangan terkepal erat penuh siaga.


Saat bersamaan terdengar teriakan panik yang berasal dari dalam kamar.


"Waaa ...! Tolong ...! Tolong ...! Om Derri, tolong ...!"


Meskipun terdengar suara teriakan yang sangat kencang, namun tak terlihat satu pergerakan pun di dalam kamar itu sebab kondisi yang gelap gulita. Derri berusaha mempertajam penglihatannya. Terlihat samar olehnya sosok yang tengah duduk di sudut tempat tidur.


"Kiki ...," panggil Derri terdengar ragu.


Tampak sosok di sudut tempat tidur itu terdiam sesaat, kemudian bergerak pelan.


"Om Derri ...! Kau kah itu?"


Sosok di sudut tempat tidur tersebut berdiri, kemudain berlari menghambur ke arah Derri.


"Om Derri ...!" rengek sosok itu terus memeluk tubuh Derri dengan erat.


"Kiki," gumam Derri. "Kau baik-baik saja?" Derri balas memeluk tubuh Kiara, berharap bisa menyalurkan rasa tenang pada remaja dalam pelukannya itu.


"Iya, Om. Untung Om datang." Suara Kiara masih menyisakan rasa ketakutan yang teramat sangat.


"Tenangalah, ada aku di sini," bisik Derri. "Kau aman bersamaku."


Kiara tak menjawab. Namun, Derri dapat merasakan pelukan gadis itu yang terasa semakin erat.


Keduanya terdiam, menjelajah pikiran masing-masing dalam keheningan. Benar-benar hening. Bahkan Derri sampai mampu merasakan degup jantung Kiara yang saling berkejaran sangat kencang.


Tangan kanan Derri pun bergerak. Dibelainya perlahan kepala gadis berambut sepunggunng itu. Berharap mampu memberi kekuatan untuk melawan rasa takutnya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Kiara terus terdiam menikmati belaian lembut yang terasa nyaman dan mampu menerbitkan rasa damai di hatinya. Namun, jantung yang semula berdebar karena ketakutan kini beralih menjadi debaran akibat rasa gugup dan gelenyar aneh yang perlahan merambat ke dalam hatinya.


Gelenyar asing yang terasa bagai mencubit-cubit hati, jantung, bahkan seluruh tubuhnya. Rasa yang benar-benar asing itu membuat Kiara tak nyaman. Namun, entah mengapa dia begitu menyukai sensasi yang ditimbulkan.


Dua puluh lima menit kemudian, tampak dua orang laki-laki berjalan mendekat ke arah Derri dengan tas dan kotak peralatan di tangan keduanya.


"Semua sudah beres, Tuan. Lampu di dalam rumah dan seluruh sudut pekarangan ini telah menyala sebagaimana mestinya."


"Baiklah, terimakasih," sahut Derri dengan senyum di bibir.


"Kami pergi, Tuan. Anda bisa menelepon kami bila ada masalah perihal listrik lagi."


"Ya, sekali lagi terimakasih, Paman."


"Sama-sama," sahut keduanya, kemudian bergegas pergi meningggalkan rumah itu.


"Baiklah, sekarang katakan padaku ada apa sebenarnya. Kenapa kau sampai menggigil ketakutan seperti itu?"


Derri mengambil duduk di kursi belajar Kiara, menghadap ke arah gadis berusia belasan tahun yang tengah duduk tertunduk di bibir tempat tidur itu.


"Tadi ... tadi aku sedang menonton film, Om. Tiba-tiba saja listriknya mati. Mati lampu, semuanya jadi gelap." Kiara menjawab ragu.


"Hanya karena mati lampu kau meneleponku dan berteriak panik minta tolong seperti itu?"


"Maaf, Om," ucap Kiara tulus penuh rasa bersalah. "Aku tak bermaksud membuat Om cemas," lanjutnya. "Entah kenapa yang muncul dalam benakku tadi adalah Om, jadi aku langsung menelepon. Tapi belum selesai bicara, ponselku terlanjur mati karena kehabisan baterai."


Derri menghela nafas panjang, kemudian berdiri dan berjalan pelan menuju tempat tidur yang Kiara duduki.


"Memangnya film macam apa yang kau tonton?"


Tangan Derri terulur meraih semua kaset DVD yang tergeletak berserakan di samping Kiara.


"Kau menonton film horor?" tanya Derri setelah menemukan titik permasalahannya.


"Iya, Om." Kiara menjawab dengan wajah tertunduk sebab ia tahu betul pasti akan mendapat hardikan keras dari mulut laki-laki yang tengah berdiri menjulang di depannya itu.


"Jadi kau takut dengan film-film semacam itu?"


Kiara mengangguk pelan.


"Hah, brengsek! Orang kurang kerjaan mana yang membuat film-film bergenre horor semacam ini?!" umpat Derri sembari melempar DVD film horor itu ke dalam tempat sampah di sudut ruangan. Sementara sisanya, beberapa DVD drama korea, ia letakkan kembali ke sisi tempat Kiara duduk.


"Bukan mereka yang kurang kerjaan, Om. Tetapi aku," sahut Kiara dengan wajah terdongak menatap Derri yang berdiri tegak di hadapannya. "Sudah tahu takut, tapi tetap saja menonton film itu."


Derri menatap kesal ke arah Kiara dan membuka mulut bersiap menyemburkan amarahnya pada gadis belia itu.


"Apa lagi saat ini aku tinggal sendirian di rumah," ucap Kiara sebelum Derri sempat memuntahkan kata-kata makiannya. "Seharusnya aku menjauhi hal-hal seperti itu."


Mendengar ucapan Kiara, Derri pun mengurungkan niatnya, kemudian menarik tubuh Kiara agar berdiri tegak di hadapannya, lalu kembali merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya.


"Maafkan aku, Ki," bisik Derri. "Seharusnya tadi aku datang lebih awal agar kau tak perlu mengalami semua ini."


"Om ...," gumam Kiara yang bingung dan tak tahu harus bagaimana.


"Mama Mike telah menyuruhku untuk menemanimu malam ini. Tetapi aku lupa .... Maafkan aku, Kiki sayang."


Kiara terdiam, tak percaya bahwa ia telah mendengar sebutan sayang dari mulut Derri untuk dirinya.


"Maafkan aku ...."


Tanpa sepengetahuan Derri, seulas senyum tersembul di antara kedua bibir gadis itu sebelum menyandarkan kepala di dada bidangnya.


"Kenapa dekapan Om begitu hangat?" gumam Kiara. "Dan nyaman ...."


Derri tersenyum simpul mendengar ucapan Kiara. "Kau suka?" tanyanya tanpa mengubah posisi tubuhnya sedikit pun.


"Iya, Om. Aku suka," jawab Kiara jujur. "Aku bahkan bisa jadi ketagihan seterusnya jika sekali lagi saja merasakan dekapan ini," canda Kiara yang disambut dengan tawa renyah dari mulut Derri.


"Belum, Om."


"Aku pun juga belum makan. Aku langsung meluncur kesini begitu mendapat telepon darimu," sahut Derri.


"Benarkah? Hmm ... dapat kulihat. Bahkan Om pun masih mengenakan setelan kerja ke sini."


"Ya. Jadi ingatlah betapa berjasanya aku malam ini," ucap Derri jumawa.


"Ya Tuhan, kenapa laki-laki ini selalu saja membuatku menyesal telah mengucapkan kata terimakasih?" gumam Kiara kesal yang disambut dengan cubitan gemas Derri di kedua pipi gadis itu.


"Baiklah, kita periksa di kulkas ada bahan sayuran apa, lalu mari kita lihat masakan apa yang bisa kau buatkan untukku."


"Baiklah, aku setuju. Tapi Om saja yang memasak untukku," sahut Kiara setelah mampu menguasai kedua pipinya yang tiba-tiba saja terasa menghangat.


"Aku laki-laki dan aku tamu di sini," tukas Derri cepat.


"Tapi tentunya Om paham, bahkan tanpa kuberi tahu sekalipun bahwa aku tidak bisa memasak." Kiara meringis canggung menyembunyikan rasa malunya.


"Sudah kuduga," sahut Derri dengan mata terpejam menahan kesal.


"Wait," sela Kiara. "Mungkin aku bisa membuatkan mi instan untuk Om."


Tanpa kata terucap, Derri menatap penuh selidik ke arah Kiara.


"Bukankah ada petunjuk penyajian di sebalik bungkusnya?" tanya Kiara mencoba menjawab tatapan Derri.


"Lupakan saja," tukas Derri cepat. "Aku bahkan tak yakin kau bisa membedakan bubuk bumbu dan bubuk cabai pada mi instan."


"Hei, kenapa Om merendahkanku sampai sejauh itu?" hardik Kiara tak terima.


Gadis itu pun berdiri kesal dengan berkacak pinggang, menggantikan Derri yang kini telah duduk di tepian tempat tidur.


Tangan Derri terlurur meraih ponsel dari balik saku celana. Tanpa menggubris ucapan Kiara, ia pun segera membuat panggilan.


"Kita pesan delivery order saja," ucap Derri sementara menunggu panggilannya terjawab.


"Baiklah, itu terdengar lebih masuk akal." Kiara turut duduk di sebelah Derri.


"Ah, tidak. Kita makan di luar saja," ucap Derri tiba-tiba. Ia pun segera bangkit dan memasukkan ponsel ke dalam kantong celana.


"Aish ...! Dasar om-om plin-plan."


"Rumahmu ini begitu sepi dan terasa menjemukan. Membuatku merasa tak nyaman. Di luar sana bukankah ada banyak gadis cantik yang sayang untuk di lewatkan?"


"Hah, dasar mata keranjang!" rutuk Kiara.


"Hei, aku mendengarnya!" Derri berjalan ke luar dari kamar Kiara. "Cepat ganti bajumu. Aku sudah sangat kelaparan."


Seketika Kiara menunduk, memandang piyama motif Mickey Mouse yang dikenakannya, kemudian mendongak kembali menatap ke arah laki-laki bermata sipit di ambang pintu kamarnya.


"Hanya makan, kan? Kenapa harus seribet itu?" Kiara berjalan melewati Derri dengan kepala mendongak arogan.


Sontak Derri melotot tak habis pikir melihat tingkah cuek gadis belia berambut sepunggung itu. Namun, beberapa detik kemudian kedua sudut bibir Derri tertarik ke atas menyadari sisi unik gadis yang dipaksa menjadi calon istrinya itu.


Sepuluh menit kemudian keduanya telah tampak duduk santai menikmati santapan masing-masing.


"Makanlah yang banyak. Kau harus menghabiskan semua ini, Ki."


"Yang benar saja? Ini semua terlalu banyak, Om."


"Bukankah kau sendiri yang menginginkan dan memesannya?"


"Ya, tapi kupikir tadi kita akan memakannya berdua."


"Hanya kau, bukan kita," sanggah Derri.


"Hei, lihat siapa ini ...!" Tiba-tiba saja terdengar suara wanita yang tengah berseru. "Kiara rupanya."


Sontak Derri dan Kiara menoleh serempak ke arah asal suara. Tampak Marta tengah berjalan mendekat dengan kedua temannya di sisi kiri dan kanan.


"Loh, Om Derri? Iya, benar. Ini Om Derri." Marta kembali bersuara.


"Oh, hai Marta," sapa Derri ramah. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Aku baru saja selesai makan dengan Indah dan Sasa."


"Ah, sayang sekali, tadinya aku ingin sekali mengajakmu bergabung makan bersama kami."


"Bergabung? Dengan Om Derri dan Kiara? Big no!" seru Marta dengan pandangan meremehkan ke arah Kiara. "Ya Tuhan, bagaimana bisa Om Derri dengan setelan jas rapi makan dengan gadis udik berbaju piyama seperti ini? Kau sungguh memalukan, Kiara."


Kiara diam tak menyahut, hanya mendelik kesal ke arah Marta dan kedua temannya. Ia pun melanjutkan makan tanpa mengindahkan ucapan-ucapan kasar dari mulut teman yang pernah satu kelas dengannya itu.


"Jika butuh teman makan malam seharusnya Om mengajakku saja," ucap Marta pada Derri. "Kenapa malah mengajak gadis kampungan ini. Om bisa melihat sendiri bukan, mematut baju saja dia tak bisa. Sungguh-sungguh merusak citra baik Om Derri."


"Benarkah?" tanya Derri dengan ekspresi wajah dibuat bingung.


"Tentu saja."


"Tapi dia lah gadis yang kusukai," ucap Derri dengan senyum cerah di bibir.


"Apa?" ucap Kiara dan Marta bersamaan karena mendengar ucapan Derri.


"Iya, Marta. Lalu menurutmu aku bisa apa, selain menerima dia apa adanya?"


"Ya Tuhan, Om .... Kau ini tampan, tapi sayangnya tidak bisa membedakan mana batu permata dan mana batu kali," hardik Marta tak terima.


"Batu apa pun dia, pada kenyataannya dialah yang bertahta di hatiku."


Kiara terkesiap, memandang tak percaya ke arah Derri. Sementara Marta menatap kesal ke arah laki-laki bersetelan kerja di hadapannya sebelum pergi tanpa menoleh kembali.


"Kenapa Om melakukan itu?" tanya Kiara gugup setelah Marta tak lagi tampak dalam pandangan mata.


"Hah, sudahlah, Ki. Lagi pula aku juga lelah harus menghindarinya terus."


"Terus? Jadi selama ini dia masih mengejar Om terus? Hwah, kasihan sekali dia, suka pada hidung belang macam Om."


"Hei," hardik Derri dengan wajah tak terima.


"Apa?" sahut Kiara tanpa dosa.


Tiba-tiba saja perhatian Kiara beralih pada salah satu kursi tak jauh dari meja tempat ia makan.


"Loh ... Ane," ucap Kiara ragu.


Derri turut menoleh ke arah pandang Kiara.


"Ha-hai ...," sapa Ane canggung. Sangat terlihat jelas bahwa gadis itu telah melihat keberadaan Kiara dan Derri semenjak tadi.


"Kau di sini juga?" tanya Kiara pelan. "Jangan-jangan ...."


"Ane, ayo. Aku sudah selesai."


Tiba-tiba saja seorang laki-laki muncul dan telah berdiri di belakang Ane sembari menggamit pergelangan tangan gadis manis itu bersiap untuk pergi.


"Dirga ...." gumam Kiara tepat di saat Dirga mendongak dan mendapatinya tengah duduk berdua dengan Derri.


BERSAMBUNG