
Lima menit setelah melaju dengan kecepatan sedang, mobil Derri telah berjajar dengan rapi di sebuah area parkir dalam basement gedung bersama deretan mobil yang lain.
"Loh ... kenapa kita ke sini, Om? Ini kan hotel ...," gumam Kiara dengan wajah pias.
"Bukankah tadi kau bilang lapar?" Derri mematikan mesin mobilnya, kemudian melepas sabuk pengaman dan bergegas turun.
"Iya, aku memang lapar. Tapi lapar yang sebenarnya," sahut Kiara gugup. "Maksudku lapar. Makan. Aku ingin makanan," lanjutnya. "Bukan bermain-main di hotel seperti ini," lanjutnya lagi dengan bola mata bergerak gelisah.
"Hah, kau membuatku bingung," gumam Derri. "Ayo, cepat turun."
Derri berjalan memutari kap mobil, hingga berdiri tepat di sisi pintu, tempat di mana seharusnya Kiara turun. Dengan satu tangan dibukanya pintu mobil hingga menampilkan Kiara yang tengah duduk tegang dan gugup di tempatnya.
"Ayo, cepatlah turun."
"Tidak, aku tidak mau," tolak Kiara cepat. Wajah manisnya mengisyaratkan ketakutan.
"Ayo cepat. Akupun juga lapar." Derri mulai tak sabar menghadapi tingkah aneh Kiara.
"Apa? Om lapar?" sahut Kiara spontan dengan kedua mata melotot cemas.
"Iya."
"Tidak. Om sendiri saja yang makan."
Tangan Kiara terulur untuk menutup kembali pintu mobil yang telah Derri buka untuknya.
"Lalu kau?" tanya Derri dengan tatapan bingung.
"Aku tidak jadi lapar." Kiara menunduk, mencoba menghindari tatapan laki-laki di hadapannya.
"Sungguh?"
"Iya," sahut Kiara yakin.
"Baiklah, setidaknya kau temani aku makan." Sebisa mungkin Derri mencoba kembali bersabar.
"Tidak. Tidak. Aku di sini saja. Aku akan menunggu Om di sini saja," sahut Kiara masih dengan menunduk, menghindari tatapan Derri.
"Hah, kau benar-benar merepotkan," rutuk Derri akhirnya.
"Apa?" Tanpa sadar Kiara mendongak, memandang tepat ke arah wajah laki-laki berparas Asia itu.
Derri menghela nafas kasar, mulai jengah dengan perilaku Kiara sore ini.
"Baiklah," ucap Derri akhirnya. "Jika memang kau lebih memilih untuk menunggu di sini saja, kuharap kau benar-benar bisa menjaga dirimu dengan baik," lanjutnya dengan wajah dibuat seberat mungkin.
"Apa maksud Om?"
"Kau tahu, bukan? Tempat parkir ini begitu sepi."
Spontan Kiara mengedarkan pandangan ke segala penjuru mata angin. Memang benar yang dikatakan Derri, tempat ini begitu lengang dan sepi. Hanya ada deretan mobil-mobil mewah yang berjajar dengan rapi. Bahkan jika diingat-ingat, semenjak mobil Derri terparkir di tempat ini hingga saat sekarang Kiara hanya melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang berjalan menuju pintu lift dengan tangan saling bergandengan, tak ada lagi yang lain.
"Dan ini adalah hotel. Banyak pria dewasa maupun hidung belang yang berada di sini."
Seketika wajah dan tubuh Kiara menegang mendengar ucapan Derri. Tanpa berpikir panjang, Derri meraih pergelangan tangan Kiara lalu menyeretnya menuju pintu lift di lantai basement gedung itu.
"Tidak! Jangan!" Kiara berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkerman Derri. "Tolong! Tolong ...!"
Derri menoleh, menatap bingung ke arah gadis yang terus berusaha memberontak dari cengkeramannya itu.
"Hei, diamlah," hardik Derri pelan. "Wanita yang kesini bersamaku biasanya selalu dengan senang dan rela hati menemaniku."
"Apa?" Kiara terpaku mematung, tak mampu bergerak setelah mendengar ucapan Derri barusan.
"Hei, apa kau tahu, kau tampak konyol sekali saat ini. Wajahmu tampak bingung ketakutan, tapi matamu melotot seolah ingin membunuhku dengan sinar laser yang akan keluar dari bola matamu itu." Derri berucap tepat saat pintu lift terbuka. Tanpa membuang waktu Derri segera menarik tangan Kiara masuk ke dalam lift.
Kiara berdiri mematung, menatap ngeri ke arah Derri yang berdiri diam dengan kedua alis hampir saling tertaut. Perlahan disapukan pandangannya ke seluruh sudut bilik sempit itu. Sepi, sunyi ... hanya ada mereka berdua.
"Shit!" umpat Kiara dalam hati. Sapuan kedua matanya pun berakhir pada wajah laki-laki berparas tampan itu. Lagi-lagi, laki-laki itu menatapnya dengan seringai aneh di bibir, membuat Kiara semakin ngeri.
"Kenapa wajahmu terlihat ketakutan seperti itu?" Tiba-tiba Derri bersuara, membuat Kiara melompat mundur karena terkejut. "Hei, kau kenapa?"
"Tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Kiara gugup.
"Kau terlihat aneh, kau tahu?" gumam Derri pelan.
"Jadi ... apa yang akan Om lakukan padaku?"
"Eh?" Derri menoleh, menatap tak mengerti pada gadis belasan tahun itu.
"Om jangan macam-macam, ya. Meskipun papa dan mama telah menjodohkanku dengan Om, tapi bukan berarti Om bisa berlaku seenaknya kepadaku."
"Berlaku seenaknya?" ulang Derri. "Aku?"
"Aku pastikan mama dan papa tidak akan senang dengan apa ya akan Om lakukan padaku."
"Apa maksud--" Ucapan Derri terpotong saat ia menyadari apa yang sesungguhnya tengah Kiara pikirkan saat ini. "Astagah ...."
Derri tersenyum geli ke arah Kiara yang berdiri gelisah tak jauh darinya.
"Baiklah ... jika memang itu yang kau inginkan."
Derri melangkah pelan ke arah Kiara.
"Kurasa kedua orang tuamu tidak akan mempermasalahkan ini."
Kaki Kiara bergerak mundur satu langkah saat Derri semakin mendekat.
"Hal terburuk yang bisa terjadi hanyalah dipercepatnya pernikahan kita."
Derri menatap dengan seringai di bibir ke arah wajah penuh ketakutan Kiara saat tubuh gadis itu berakhir dengan menempel pada dinding bilik lift, tak dapat lagi bergerak mundur.
"Apa-apaan ini! Jangan macam-macam, Om!"
Kiara mendorong dada bidang Derri dengan sekuat tenaga. Tak ada hal berarti yang terjadi. Tubuh tegap itu hanya bergeser satu langkah saja ke belakang.
"Mungkin Om sudah terbiasa tidur dengan teman kencan Om, tapi tidak denganku! Aku bukan gadis murahan seperti yang Om pikirkan!"
Kiara berseru sangat lantang dengan telunjuk kanan mengarah tepat ke arah hidung Derri, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.
Tanpa membuang-buang kesempatan, Kiara langsung bergegas keluar dari bilik lift meninggalkan Derri yang sedang mati-matian menahan agar tak tertawa terpingkal-pingkal. Sementara Kiara terus berjalan melewati lorong sempit yang menghubungkan pintu lift dengan satu-satunya pintu di atas lantai yang dipijaknya itu.
"Apa?" gumam Kiara saat ia membuka pintu itu lebar-lebar.
Tampak puluhan meja makan tertata rapi dengan berbagai macam perabot dan furniture bertema klasik. Beberapa orang pelayan berjalan dengan menu di tangannya untuk disajikan di meja yang telah memesannya.
"Restoran?" Kiara kembali bergumam. "Jadi ... ada restoran di atap gedung ini?"
"Memang ada." Tiba-tiba saja Derri telah berdiri tepat di belakang Kiara. "Kau baru tahu?"
"Jadi ... Om memang benar-benar bermaksud mengajakku makan?"
"Memangnya kau pikir apa?"
Derri berjalan tenang melewati Kiara yang masih berdiri terbengong di tempatnya. Namun langkah kaki Derri terhenti saat disadarinya gadis itu masih berdiri terpaku tak bergeming. Ia pun kembali melangkah menghampiri Kiara.
"Hei, ayo cepat. Aku sudah sangat kelaparan," seru Derri sambil menarik pergelangan tangan Kiara.
Laki-laki bersetelan jas hitam itu terus berjalan dengan Kiara mengikutinya dari belakang.
"Selamat sore," sapa Derri pada seorang wanita yang tengah duduk sendirian di salah satu meja.
Tangan kanan wanita itu terulur kemudian menjabat tangan Derri dengan sopan, lalu beralih pada Kiara yang turut duduk di sebelah Derri.
"Silahkan duduk," ucap Aurora ramah.
"Iya," sahut Derri kemudian menarik kursi untuk Kiara yang sedang menatap tanpa berkedip ke arah wanita itu. "Kau sudah lama menunggu?" Tatapan Derri beralih pada Aurora.
"Lumayan."
"Maaf, Aurora. Aku telah membuatmu harus menunggu." Derri mgambil
"Tidak masalah. Aku senang melakukannya," sahut Aurora tepat saat pelayan datang dengan berbagai kacam menu yang telah dipesannya. "Aku telah memesankannya untukmu. Seperti biasa, menu yang sama setiap kali kita makan berdua."
Derri tersenyum hangat. Sementara Kiara masih menatap takjub ke arah wanita di hadapannya yang tampak begitu cantik dan anggun bagai dewi itu.
"Iya, terimakasih." Terdengar suara ramah Derri di telinga Kiara. Laki-laki itu kemudian beralih memandang ke arah Kiara yang sedari tadi hanya diam di sampingnya.
"Kau boleh makan makananku," ucap Derri sembari menggeser piring di depannya tepat ke hadapan Kiara. "Bukankah tadi kau bilang sangat lapar?"
"Tapi Om bagaimana?"
"Aku akan memesan lagi untukku."
Kiara memandang ke arah Aurora yang hanya diam menyimak interaksi keduanya.
"Iya, tidak masalah," ucap Aurora kemudian.
Mendengar hal itu, tanpa canggung-canggung Kiara langsung menyantap makanan di hadapannya. Bukankah perutnya memang sudah kelaparan sedari tadi?
"Tadi aku sempat bertemu dengan Om Ha Won si sini." Aurora kembali bersuara.
"Benarkah?"
"Iya. Sedang menjamu kolega dari luar kota. Begitu yang beliau ucapkan."
"Ya. Kudengar belakangan ini papa memang sedang sangat sibuk dengan beberapa proyek kerja samanya."
"Kau benar," sahut Aurora. "Beliau sempat mengatakan sudah ingin bersantai dan menikmati masa tuanya dalam ketenangan. Tapi kudengar kau pun sama sekali tak berminat untuk meneruskan perusahaannya."
"Aku sudah terlalu sibuk dengan perusahaanku sendiri," sahut Derri.
"Itu bukan alasan."
"Lagi pula bukankah papaku itu masih sangat muda? Belum saatnya untuk pensiun dan menikmati saat-saat yang ia sebut sebagai masa tua."
"Kau benar." Aurora melempar senyum manis yang dimilikinya. "Entah mengapa aku merasa semakin berumur justru Om Ha Won tampak semakin tampan dan gagah."
"Sebaiknya kau jangan pernah mengucapkan kalimat itu di hadapan mamaku. Hanya sebagai saran saja."
"Hahaha ...." Aurora memandang ke arah Derri, memamerkan wajah cantiknya saat sedang tertawa renyah.
Derri membalas tawa wanita di hadapannya itu dengan senyum menawan seperti biasanya tepat di saat pelayan datang untuk menghidangkan pesanannya. Menu yang sama dengan apa yang sedang Kiara nikmati saat ini.
Melihat makanan untuk Derri telah terhidang, kedua tangan Aurora bergerak anggun meraih sendok dan garpu untuk segera memulai makannya.
"Cepat habiskan makanmu," ucap Derri pada Kiara.
"Oh ya, ngomong-ngomong gadis ini siapa?" tanya Aurora setelah menelan suapan pertamanya. "Apakah dia anak Kak Derra? Tapi bukankah seharusnya anak Kak Derra bersekolah di Jakarta?"
"Ya, memang begitu," sahut Derri. "Tapi gadis ini bukan keponakanku."
"Lalu?" tanya Aurora dengan sorot mata penasaran.
"Yang akan kau dengar nanti ... mungkin akan menyakiti hatimu."
"Apa maksudmu dengan sakit hati?" tanya Aurora dengan senyum di bibir. "Bukankah tadi dia memanggilmu dengan sebutan Om?"
"Ya, kau benar," sahut Derri sembari melirik Kiara yang telah selesai makan. "Dia lebih suka memanggilku begitu. Entahlah, aku sendiri juga tak tahu bagaimana rasa cinta ini nanti bisa semakin tumbuh."
"Cinta?" Aurora menghentikan aktifitas makannya. "Apa maksudmu?"
"Ya. Gadis yang kau lihat ini adalah calon istriku."
"Apa?"
Tubuh Aurora berdiri tegak di atas kedua kaki. Wanita itu menatap tak percaya pada laki-laki di hadapannya itu. Ia bahkan tak yakin bahwa pendengarannya kali ini berada dalam kondisi baik.
Sementara Kiara menoleh ke arah Derri. Ia benar-benar tak percaya bahwa laki-laki di sampingnya itu bisa menyampaikan hal semenyakitkan ini pada wanita secantik bidadari itu.
"Mereka telah menjodohkan kami." Derri kembali bersuara.
"Kau sedang bercanda, bukan?" sahut Aurora pelan. "Katakan kau hanya bercanda, Derri."
"Aku sendiri juga tak habis pikir. Pria dewasa berusia tiga puluh tahun sepertiku ini dijodohkan dengan remaja tujuh belas tahun yang benar-benar masih hijau."
Mendengar ucapan Derri, Kiara sudah hampir membuka mulut saat laki-laki itu menggenggam tangannya yang terkulai di atas pangkuan. Diurungkan niatnya untuk bersuara saat menyadari bahwa itu adalah sebagai isyarat agar dia menutup mulut.
"Tapi ... tapi Om Ha Won tak pernah mengatakannya padaku."
"Bukan papa, tapi mama yang merencanakan semua ini."
"Tapi ... tapi bagaimana ini bisa terjadi?"
"Ya, semua terjadi begitu saja," sahut Derri.
"Kau jahat, Derri." Perlahan tubuh Aurora meluruh, kembali terduduk di kursi semula.
"Apa maksudmu?"
"Kau memutuskan untuk bersanding dengan gadis ini."
"Aku ...."
"Di saat kau bahkan tahu betul jika aku mencintaimu."
"Maafkan aku, Aurora," sahut Derri pelan.
"Kau jahat."
Aurora berdiri dari duduknya, kemudian menyambar tas miliknya yang berada di atas meja. Tanpa banyak bicara, Ia pun langsung beranjak meninggalkan Derri dan Kiara yang terbengong mendapati live drama yang baru saja dilihatnya.
Sedetik kemudian, pandangan Kiara tertuju pada sang dewi yang berjalan tergesa-gesa menuju pintu ke luar.
"Kenapa, Om?" Suara Kiara terdengar pelan dengan sorot iba yang tergambar jelas pada raut wajahnya. "Kenapa Om tega melakukan itu padanya?"
"Sejujurnya ... aku sudah terlalu lelah harus berpura-pura nyaman bersamanya," ucap Derri tenang. "Semakin hari sikapnya semakin menunjukkan betapa dalam perasaannya padaku. Dia mulai menginginkanku bukan hanya sekedar untuk menjaga kelangsungan kerja sama dalam pekerjaan, melainkan untuk menjadi miliknya sendiri."
"Sepertinya dia wanita yang baik," komentar Kiara. "Lalu apa yang salah darinya?"
"Yang salah adalah ... tak seharusnya dia menaruh hati padaku."
"Cinta ... cinta datang tanpa diundang," gumam Kiara.
"Bahkan cinta tak bisa memilih pada siapa ia akan menancapkan panahnya," sahut Derri datar setelah terdiam untuk beberapa saat. "Aku tahu itu," lanjutnya. "Tapi sayangnya, aku tak akan mungkin bisa membalas cinta mereka sampai kapanpun."
Kiara menoleh ke arah Derri yang duduk tenang di sampingnya. Diamatinya wajah laki-laki itu dengan lebih seksama. Tampak jelas kekecewaan dan rasa sakit tergambar di sana. Di balik wajah tampan dan sikap menyebalkannya itu ternyata tersimpanr asa sakit yang teramat dalam.
BERSAMBUNG ...