I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 10. Apakah Ini Selingkuh?



"Aurora?"


"Iya, benar, Pak."


Derri mengernyit sesaat, kemudian memandang jengah ke arah jendela kaca di sudut ruang kerjanya.


"Ya Tuhan, aku benar-benar muak pada wanita itu, Brenda," keluh Derri pada sekretaris pribadinya.


Ya, memang kepada Brenda, Derri tak pernah menyembunyikan apa yang tengah dirasakannya. Bahkan bagaimana sifat asli dan baik-buruknya pun Brenda tahu dan paham itu semua dengan baik.


Brenda adalah satu-satunya wanita yang bekerja di gedung itu yang sering kali menjadi tempat bagi pemilik perusahaan bercerita. Maka tak heran jika ia paham betul siapa dan bagaimana kepribadian sosok sang bos tampan. Bahkan terkaannya mengenai apa yang dirasakan dan akan dilakukan oleh laki-laki berdarah Korea itu pun tidak pernah meleset.


"Rasanya seperti menelan telur mentah bulat-bulat."


Brenda justru tersenyum geli mendapati wajah kesal yang mengucapkan perumpamaan aneh itu.


"Tapi Anda telah menandatangani kontrak dengannya, Pak." Brenda mengingatkan.


"Apakah kesepakatan untuk sering-sering makan bersama seperti ini termasuk di dalamnya?"


"Memang dia yang mengusulkannya," jawab Brenda dengan senyum manis khas yang sejujurnya memang bisa menyejukkan hati Derri tiap kali melihatnya.


"Kenapa kau tidak membacanya dengan seksama sebelum menyodorkan berkas itu untuk kutandatangani?" koreksi Derri dengan wajah semakin kesal, namun langsung melunak begitu mendongak dan melihat senyum indah milik Brenda.


"Anda sendiri yang menambahkannya pada pertemuan terakhir kita," sahut Brenda.


Seketika Derri terdiam melongo mendengar penjelasan singkat dari wanita berlesung pipi itu.


"Apa?" tanya Derri masih dengan mulut melongo, lebih seperti gumaman. Wajah kesal dan tegangnya perlahan melemas. Ia masih mencoba mengingat-ingat pertemuan terakhir yang Brenda maksud.


"Iya, Pak."


"Benarkah?" Derri kembali bertanya saat salah satu kepingan memorinya mulai ditemukan.


"Benar, Pak."


"Ya, aku ingat. Waktu itu karena jenuh dengan pembicaraan Aurora, iseng-iseng aku membuka pesan yang masuk ke dalam ponsel."


Saat itu ada pesan masuk dari beberapa nomor tanpa nama kontak. Namun perhatiannya terpaku pada room chat paling atas. Dibukanya room chat itu. Tampak satu video diterima. Saat ia klik ikon anak panah sebagai simbol play, sebuah video yang sangat menarik pandangan mata langsung tersuguh di hadapannya. Brenda tahu betul video apa yang Derri maksud.


Mendadak wajah Derri berubah menjadi kesal, namun hanya dalam hitungan detik telah kembali tampak melunak karena tertutup rasa malunya di hadapan Brenda. Bahkan ia sendiri pun tak menyangka ternyata dirinya bisa setol*l itu.


"Hapus semua schadule makan siang ataupun malam dengannya. Itu tak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan."


"Tentu saja ada, Pak. Jika Bapak membuatnya kecewa sudah dapat dipastikan dia akan membatalkan kontrak ini secara sepihak."


"Bukan masalah bagiku. Aku tak akan jatuh bangkrut karena pembatalan satu kontrak dengannya saja."


"Dan Pak Hawon akan marah besar pada Anda." Brenda menambahkan. "Bukankah pemilik Aurora Cosmetic adalah putri dari Bapak Herbawa, sahabat karib yang pernah menyelamatkan nyawa ayah Anda?"


"Ish ... benar-benar menjengkelkan!" rutuk Derri kesal. "Baiklah, katakan padanya aku akan menemuinya sehabis jam kantor.


"Sore?" Kening Brenda berkerut. "Tak biasanya Anda berkencan di sore hari."


"Justru karena itu lah kau harus mengatur pertemuanku dengannya untuk sore saja. Karena ini bukanlah kencan," sahut Derri cepat. "Nanti malam aku berencana untuk berkeringat bersama Wendah."


Brenda mendongak mengalihkan tatapannya dari map di kedua tangan, beralih pada dua netra hitam yang menyempurnakan wajah tampan atasannya.


"Kami akan pergi ke sport center bersama-sama." Melihat ekspresi aneh di wajah Brenda, Derri cepat-cepat menjelaskan. "Memangnya kau pikir apa?"


Brenda tak menjawab, hanya mengulum senyum penuh arti. Memangnya orang bodoh mana yang tak tahu apa yang akan terjadi setelah kegiatan olah raga bersama mereka di sport center nanti malam?


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Derri galak, menutupi rasa malunya. "Hei, jangan mentang-mentang kau adalah adik dari sahabatku lantas kau bisa coba-coba merayuku, ya. Atau akan kupecat kau nanti," ancam Derri dengan salah tingkah yang kentara.


Lagi-lagi Brenda hanya tersenyum menanggapi omelan bosnya. Lima tahun bekerja untuk laki-laki keturunan Korea di hadapannya itu, membuat sang sekretaris pribadi tahu betul bahwa orang nomor satu di perusahaan itu bukanlah laki-laki kurang ajar yang akan meniduri sembarangan wanita seperti dirinya.


Tak pernah sekalipun ia melihat bos tampan, namun terkadang absurdnya itu berkencan dengan gadis rumahan, gadis baik-baik, dan gadis-gadis lain sejenis itu. Meskipun sudah dapat dipastikan hanya dengan satu senyuman dan rayuan saja mereka akan dengan senang hati bergelayut manja dan melakukan apa pun untuk membuat senang laki-laki di hadapannya itu. Sedangkan Brenda merasa bahwa ia adalah salah satu gadis yang masuk dalam kategori mereka, maka dia aman. Setidaknya seperti itulah menurutnya.


"Kenapa kau terus tersenyum seperti itu? Apa kau berharap aku akan mengajakmu berkencan? Kau sama sekali bukan tipeku. Cepat kembali ke ruanganmu. Aku sudah cukup berurusan denganmu."


"Baik, Pak." Brenda mengangguk sopan, kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan beraroma maskulin yang selalu tampak bersih dan rapi itu.


"Heran ... kenapa senyumnya bisa semenarik itu?" gumam Derri sembari menatap pintu yang kini telah kembali tertutup rapat. "Jika bukan karena ancaman Andre, sudah kepacari dia. Hanya laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan senyum seindah itu."


___


.


"Lagi?" Derri mengusap wajahnya kasar, pertanda tak nyaman dengan situasi yang tengah terjadi. Untung saja lawan bicara di ujung telepon tidak dapat melihat ekspresi wajah dan gerak-geriknya.


"Iya, hari ini Mang Jaja harus mengantar Mama pergi arisan di Jalan Madegondo, berlawanan arah dengan sekolah Kiara. Apa kau keberatan?"


"Tentu saja tidak, Ma," sahut Derri cepat.


"Karena ada berita lelayu, arisan yang biasanya digelar pagi, untuk hari ini terpaksa diundur jadi siang bertepatan dengan jam pulang sekolah Kiara."


"Iya, aku paham. Tidak masalah, Ma. Biar aku yang menjemput Kiara."


"Benar kau tidak keberatan?" Mike kembali memperjelas.


"Tentu saja tidak, Mama."


"Ya, lagi pula meski kau keberatan sekalipun Mama juga tidak perduli. Mama tetap akan memaksamu untuk menjemputnya."


"Hahaha ... Mama benar-benar sosok calon mertua gambaran sinetron ikan terbang."


"Hei, berani sekali kau mengatai Mama seperti itu!"


"Hahaha ...!" Derri kembali terbahak-bahak. "Bukankah Kiara adalah calon istriku, jadi sudah seharusnya aku yang memperhatikan segala hal tentangnya."


"Baguslah jika kau paham. Ya sudah, sana cepat-cepat kau bersiap-siap menjemput Kiara. Jangan sampai dia menunggumu terlalu lama jika kau tak ingin depresi karena omelan mautnya."


"Hahaha ... Mama bisa saja berguraunya. Ya sudah, aku akan bersiap-siap. Sampai jumpa, Ma."


Panggilan pun diakhiri dengan jawaban singkat, "Ya."


___


.


"Sudah selesai," ucap pemilik Dealova Floris sembari menyematkan sebuah boneka kecil pada buket bunga sebagai sentuhan terakhir.


Rangkaian bunga itu kini telah berpindah pada tangan kanan Derri.


"Cantik sekali," gumam Derri diwarnai senyuman. "Bunga apa tadi namanya, Dinda?"


"Hibiscus," jawab Dinda dengan senyum cerah. Senang sekali rasanya melihat seorang pelanggan puas dengan hasil karyanya.


Setiap kali Derri datang berkunjung, Dinda selalu menyempatkan diri untuk melayani dengan tangannya sendiri. Meskipun sebetulnya Derri tak pernah keberatan jika harus berurusan dengan salah seorang karyawannya saja.


"Untuk siapa kali ini?" tanya Dinda.


"Masih sama seperti biasanya," jawab Derri masih dengan senyuman dan pandangan tak teralih dari buket bunga di tangannya.


"Stella?"


"Hmm ...."


"Biasanya mawar merah. Kenapa berganti dengan hibiscus pink?"


"Ya, mawar merah. Meskipun aku tak tahu makna dari mawar merah itu sendiri. Aku memilihnya karena memang hanya bunga itulah yang kutahu." Derri meringis menyadari kebodohannya sendiri. "Aku bosan. Kurasa dia juga bosan selalu menerima bunga mawar merah dariku. "Seperti yang kau jeladkan tadi ... hibiscus pink memiliki arti persahabatan dan ungkapan segala macam perasaan cinta dan kasih sayang."


Derri tersenyum simpul mendengar komentar sahabat karib kakak perempuannya itu.


"Andai saja kau tahu, ingin rasanya aku memilihkan hibiscus merah sebagai simbol cinta dan gairah saja untuknya," gumam Derri dengan kerlingan nakal di sudut mata.


Mendengar hal itu Dinda tersenyum, kemudian menggeleng geli ke arah Derri yang memang sudah akrab dengannya semenjak remaja.


"Ah ya, hampir lupa." Derri menepuk jidatnya sendiri setelah memeriksa jarum jam di arloji pada pergelangan tangan kirinya. "Aku harus segera menjemputnya."


"Menjemput Stella?"


"Tolong kirim saja bunga ini ke alamat Stella. "Aku benar-benar buru-buru, tak sempat mampir ke apartemennya."


"Bukan Stella kah yang akan kau jemput?" tanya Dinda saat Derri kembali menyerahkan rangkaian bunga itu padanya. "Ada pesan atau ucapan yang harus kutuliskan?"


"Semoga kau menyukainya."


"Baiklah."


"Ah, sekalian ini." Tangan kanan Derri menyambar beberapa bunga tulip yang telah terangkai dengan indah.


"Untuk Stella juga?"


"Bukan," sahut Derri sembari buru-buru beranjak pergi dengan rangkaian bunga tulip di tangan.


___


.


"Hei ...!"


Axel berteriak, kemudian berlari kecil meninggalkan teman-temannya yang mulai duduk meluruskan kaki di lantai lapangan basket menuju taman di depan lapangan tempatnya latihan.


"Sudah lama menunggu di sini?" tanya Axel sembari mengatur nafas karena baru saja selesai latihan basket.


"Tidak juga." Kiara menunduk, memeriksa jarum jam di pergelangan tangan kirinya. "Baru lima belas menit."


Axel tersenyum kemudian menatap wajah gadis yang penuh pegertian itu.


"Lelah?" tanya Kiara sembari menyodorkan sebotol air mineral dingin yang dibelinyadi kantin sekolah sebelum melihat kekasihnya yang begitu lihai mendrible bola.


"Terimakasih, sayang," ucap Axel sembari kembali menutup botol minum dengan erat. "Lelahku hilang begitu melihatmu."


"Halleh, bisa banget gombalnya," tukas Kiara menahan tawa.


Axel pun tersenyum, kemudian beringsut menuntun Kiara untuk kembali duduk di bangku yang tadi didudukinya selama menunggunya selesai latihan.


Tangan Kiara terulur untuk mengusap peluh di dahi Axel dengan handuk kecil yang sengaja dibawanya dari rumah. Axel sedikit menunduk agar tangan Kiara lebih mudah menjangkau wajahnya.


"Hari ini dijemput Mang Jaja seperti biasanya?" tanya Axel, bertepatan dengan suara bel pulang berdering keras.


"Iya. Kenapa?"


"Untuk sementara ini sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Senin depan ada pertandingan persahabatan dengan SMA Flamboyan 3. Jadi kami harus latihan setiap hari."


"Iya, aku mengerti. Tidak masalah. Bukankah sebelum menjadi kekasihmu aku juga selalu diantar jemput oleh Mang Jaja?" Kiara tersenyum manis, walaupun sebetulnya ada sedikit rasa kecewa juga menyerang hatinya.


"Maaf ya, sayang" Axel menggenggam jemari kedua tangan Kiara dengan lembut.


"Pertandingannya akan diadakan dimana?"


"Di sekolah kita."


"Kau harus giat berlatih, Kapten. Agar bisa membawa timmu ke titik kemenangan."


"Pasti. Pasti kami akan menang."


"Kau harus tetap terlihat paling keren diantara yang lain."


"Kenapa begitu?"


"Karena kau adalah kekasihku."


"Hahaha ... baiklah, aku akan menang dan tetap keren untukmu, sayang."


Axel menatap geli ke arah kekasihnya.


"Hah ... lelahnya." Tiba-tiba saja Dirga sudah berdiri di depan keduanya dengan nafasnya yang masih naik turun.


Tangan kanan Dirga terulur, meraih botol sisa air mineral di ujung bangku tempat Axel dan Kiara tengah duduk santai.


"Apa kalian melihat Ane?" tanya Dirga setelah meminum air mineral hingga tandas.


"Entahlah, aku tak melihatnya," jawab Kiara.


"Aku juga," sambung Axel.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya," pamit Kiara. "Kasihan Mang Jaja kalau menunggu terlalu lama."


"Ok," jawab Axel. "Hati-hati ya, sayang."


"Tentu."


Kiara segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu gerbang sekolah.


"Tumben Mang Jaja terlambat datang," gumam Kiara sembari berjalan pelan ke tempat dimana Mang Jaja biasa memarkir mobilnya. "Tidak biasanya."


Tiba-tiba saja sebuah mobil sport putih berhenti tepat di hadapan Kiara.


"Dia ...," gumam Kiara begitu pemilik mobil tersebut turun. "Kenapa Om ada di sini?"


"Karena Jaja tidak bisa menjemputmu," jawab Derri singkat.


"Memangnya Mang Jaja kenapa?"


"Arisan."


"Mang Jaja arisan?" Kiara melongo tak percaya.


"Jaja mengantar Mama Mike untuk arisan bersama teman-temannya."


"Dan kenapa harus Om yang menjemputku?" tanya Kiara, lebih mirip sebagai gumaman.


"Karena hanya akulah yang mau berepot-repot untuk menjemputmu," sahut Derri sekenanya.


Saat melihat kedatangan Marta dari arah halaman sekolah, Kiara segera melangkah masuk ke dalam mobil. Begitu juga halnya dengan Derri, tanpa banyak kata ia segera masuk dan langsung memacu mobil untuk pergi meninggalkan area sekolah. Kedua orang itu memang sama-sama sedang malas berurusan dengan Marta.


Beberapa saat setelah mobil jauh meninggalkan SMA Kusuma 1, Derri menoleh ke arah Kiara. Ia baru menyadarai bahwa semenjak mobil bertolak Kiara hanya duduk diam di sisinya. Gadis yang biasanya selalu mengomel dan mengaja mengajak Derri perang emosi itu, kali ini tak sepatah kata pun keluar dari bibir mungilnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Derri sedikit ragu.


"Axel tidak bisa mengantarku pulang, tapi sekarang aku malah diantar oleh laki-laki lain."


Kiara berucap pelan dengan pandangan lurus menatap hiruk-pikuk jalanan di hadapannya. Sementara Derri berganti diam tak berminat untuk menjawab.


Sesaat kemudian Kiara menoleh ke arah Derri, menatap laki-laki yang tengah fokus dengan roda setir di kedua tangan.


"Apa aku salah? Apa ini bisa disebut selingkuh?"


BERSAMBUNG ...