
"Hah, hari ini sungguh sangat melelahkan." Derri meregangkan ototnya, masih dalam posisi duduk di kursi kerja. Disesapnya secangkir kopi yang telah dingin di atas meja. "Proyek kali ini benar-benar menyita waktu dan tenagaku."
"Tinggal 10% lagi, dan semuanya beres," timpal Andre yang sedang duduk di sofa dengan pandangan tak lepas dari layar laptop di hadapannya.
Laki-laki berkulit kecokelatan itu memang sengaja membawa pekerjaannya ke ruangan Derri karena ada beberapa hal yang perlu mereka diskusikan.
"Tok ... tok ... tok." Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk," sahut Derri tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Maaf Pak, ini ada beberapa berkas yang harus Bapak tandatangani," ucap wanita itu begitu sampai di depan meja kerja Derri.
"Taruh saja di meja," perintah Derri. "Brenda, hari ini nanti adakah jadwal rapat penting yang harus kuhadiri?"
"Ada Pak. Rapat dengan Bapak Aldo dari Gemilang Group pukul dua siang, kemudian dilanjutkan pertemuan dengan Ibu Angeline dari Aurora Cosmetic pukul empat sore."
Derri mengernyitkan kening saat mendengar poin terakhir.
"Apa lagi yang akan dibahas dengan Angeline? Bukankah di pertemuan terakhir kemarin kita sudah mencapai kesepakatan?" tanya Derri pada akhirnya.
"Mereka mengganti pilihan temanya, Pak. Makanya ada banyak hal yang masih harus dibahas lagi dalam pertemuan nanti." Brenda mencoba menjelaskan.
"Mengganti tema? Sama saja mengganti seluruh konsep yang telah dibuat. Hah, harus mulai dari awal lagi," gumam Derri dengan wajah tanpa minat.
"Apakah aku harus turun tangan?" tanya Andre yang masih duduk tenang di sofa beludru coklat dalam ruangan itu.
"Tidak perlu." Derri menjawab acuh pertanyaan Andre. "Ya sudah, kau boleh kembali ke mejamu, Brenda. Jangan lupa nanti kau ikut rapat bersamaku," lanjutnya pada Brenda.
"Baik, Pak." Brenda mengangguk hormat, kemudian segera pergi meninggalkan ruang kerja atasannya.
Kedua tangan Derri bergerak, meraih tumpukan map yang ditinggalkan Brenda untuknya. Segera dibukanya halaman yang membutuhkan tanda tangan dan dibubuhkannya dengan cepat-cepat.
"Tentang perjodohan itu," sela Andre yang masih duduk di sofa sambil tetap menatap fokus pada layar laptop. "Bagaimana pendapatmu?"
"Entahlah," sahut Derri tanpa minat. "Gadis itu memang cantik. Tapi dia bukan tipeku. Kau tahu itu, bukan?" lanjutnya dengan tatapan tidak beralih sedikitpun dari layar laptop di hadapannya.
Pandangan mata Derri teralihkan ketika tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi.
"Nomor baru? Siapa?" gumamnya sambil meraih benda tipis itu kemudian segera menggeser ikon gagang telepon warna hijau yang bergerak-gerak seiring dengan nada getarnya.
"Hello, Derri's speaking," sapa Derri sambil menjepit ponselnya diantara bahu dan telinga kanan. Sedangkan kedua tangannya tetap sibuk dengan map-map yang Brenda tinggalkan.
"Halo, Derri. Ini tante Mike."
"Oh, halo, Tante. Apa kabar?" sapa Derri seperlunya.
"Baik, sayang," jawab Mike.
"Ada apa, Tante? Ada yang bisa dibantu?"
"Begini, sayang ... Kiara tadi ke sekolah tidak membawa mobil. Sedangkan supir yang biasanya menjemput baru saja meminta ijin untuk menemani istrinya yang sedang melahirkan di rumah sakit. Tante minta tolong Derri untuk menjemput Kiara, bisa kan ya?"
"Tentu saja, Tante. Pukul berapa?" sahut Derri cepat.
"Kiara ke luar kelas pukul dua." Kembali terdengar suara dari ujung telepon.
"Ok, Tante. Nanti biar saya yang jemput."
"Benarkah? Terimakasih, ya."
"Iya, sama-sama, Tante."
Derri mengakhiri panggilan telpon, kemudian dipandangnya ponsel itu sambil menggeleng pelan.
"Kenapa?" tanya Andre heran.
"Tante Mike," sahut Derri dengan tangan kanan bergerak meletakkan ponselnya pada tempat semula. "Sepertinya dia berniat sekali menjodohkanku dengan putrinya."
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Tidak ada supir yang menjemput," jawab Derri. "Alasan macam apa itu," lanjutnya sambil kembali mengetikkan sesuatu di laptopnya. "Ada ojek, taksi, bus, atau becak juga ada. Tinggal pilih. Kenapa harus memintaku menjemputnya?"
Andre hanya menanggapinya dengan gelengan disertai senyuman. Keduanya pun kembali larut dalam pekerjaan masing-masing.
"Kenapa dia tampak begitu benci padamu?" Tiba-tiba saja, satu jam kemudian Andre sudah berdiri di samping Derri dengan dua cangkir kopi hitam yang masih panas yang diantarkan oleh Mandra, seorang OB berkumis tipis dengan rambut belah tengah, beberapa menit yang lalu.
Derri menerima satu cangkir kopi yang disodorkan oleh Andre.
"Ceritanya panjang," sahut Derri setelah meletakkan kopi yang Andre berikan. "Kau masih ingat uang yang kuminta padamu saat berada di Bali?"
Andre mengangguk mengiyakan, kemudian berjalan ke sofa, tempat di mana ia sibuk dengan laptopnya beberapa saat yang lalu. Ia pun turut meletakkan cangkir kopi di atas meja saat Derri memulai ceritanya.
"Waktu selesai meeting kutemukan dia sudah tertidur pulas di dalam kamar hotelku."
Derri menghentikan aktifitasnya. Sebuah senyuman tersungging di bibir.
"Awalnya kupikir dia adalah wanita malam. Uang itu kutinggalkan padanya, meskipun aku sama sekali tak menyentuhnya."
Derri menghentikan ceritanya sejenak. Disesapnya kopi yang ditaruhnya di atas meja beberapa saat lalu.
"Tapi sepertinya dia hanya salah masuk kamar. Hal itu baru kuketahui dua hari kemudian saat dia datang ke kantor dan melabrakku habis-habisan." Derri tersenyum geli mengingat peristiwa yang baru dialaminya dua minggu yang lalu itu.
Sementara Andre tersenyum simpul saat teringat bahwa ia memang pernah melihat remaja cantik itu di lantai teratas gedung kantornya. Saat hendak menemui Derri di ruangannya, tanpa sengaja dari jendela kaca yang kebetulan tersibak tirainya, ia melihat adegan seorang remaja perempuan yang melempar sebuah sepatu ke arah Derri. Dan menariknya, lemparan itu tepat mengenai bagian pelipis orang nomor satu di kantor itu.
Sebuah adegan yang benar-benar menggelikan menurut Andre. Mana ada orang yang berani melakukan hal kurang ajar pada bosnya, kecuali jika orang itu memang ingin mati. Ah, mungkin hanya gadis dari keluarga Syarif itu saja yang berani.
"Hah, ya sudah. Rapat dengan Aldo dan Angeline nanti kau saja yang tangani," perintah Derri, membuyarkan lamunan sesaat Andre.
"Aldo tidak masalah bagiku," sahut Andre. "Tapi kalau Angeline ... sebenarnya yang dia inginkan adalah kau, bukan proyek kerja sama ini," sanggah Andre.
"Ah sudahlah, aku percayakan semua padamu," tukas Derri sambil buru-buru memakai jas hitam yang tadi tersampir di sandaran kursi.
"Kau mau kemana?" tanya Andre bingung.
"Menjemput tuan putri," jawab Derri dengan senyuman di bibir.
"Sepertinya kau bersemangat sekali," komentar Andre dengan seringai mengejek.
"Hahaha ... aku anggap ini sebagai hiburan."
___
.
Bel tanda pulang berbunyi nyaring. Beberapa detik kemudian murid-murid mulai berhamburan keluar kelas. Sebagian besar langsung menuju tempat parkir, sebagian lagi bergegas menuju jalan raya untuk menunggu jemputan atau menunggu taksi online yang telah mereka pesan, sisanya masih enggan meninggalkan sekolah dan lebih memilih untuk sekedar bercengkerama dengan teman-teman di area seputaran sekolah.
Sambil bersendau gurau Kiara berjalan perlahan beriringan dengan Suzi dan Sheila.
"Nebeng ya, Ra." Entah dari arah mana tiba-tiba Sesil sudah meyamai langkah Kiara sambil menggamit tangannya. "Mang Kosim sakit, jadi tidak bisa jemput."
"Tapi nanti kita mampir makan dulu ya. Lapar," usul Suzi sambil membetulkan letak jepit rambut frozennya di sebelah kiri.
"Asal ada yang traktir saja," sahut Kiara.
"Iya, iya. Aku yang bayar." Suzi berucap sambil memamerkan dompet pink bermotif macam-macam emotikon.
"Apaan sih?" Kiara berlari kecil mendekat, diikuti ketiga sahabatnya. Kiara segera merangsek masuk ke tengah kerumunan untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Demi Tuhan ...! Hanya cowok? Hanya demi melihat cowok saja mereka rela berdesak-desakan sampai kehilangan nafas seperti ini?" komentar Kiara setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ho'oh, cowok," sahut Suzi dengan kedua mata takjub setelah berhasil berdiri tepat di samping kanan Kiara.
"Bukan cowok, tapi om-om," ralat Kiara.
"Tapi cakep loh," timpal Sheila yang telah berada di sebelah kiri Kiara.
"Ho'oh, om-om cakep," sahut Suzi lagi. "Kalau cakep mirip Lee Min Ho gitu sih, biar kata om-om aku juga rela berdesak-desakan," lanjutnya dengan binar antusias.
Kiara hanya mendengus mendengar komentar teman-temannya itu, kemudian segera berbalik bermaksud segera meninggalkan kerumunan itu. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena ada seseorang yang mencekal pundaknya dari belakang.
"Maaf ya, girls ... saya kesini untuk menjemput gadis ini," seru seorang laki-laki sambil membalikkan badan Kiara hingga kembali menghadap ke arah semula. "Yang saya cari sudah ketemu, jadi mohon semua segera bubar, ya. Sekali lagi maaf," ucap laki-laki itu ramah sambil melemparkan senyum menawannya.
"Kamu kenal, Ra?" tanya Sesil dengan kedua mata membulat tak percaya.
"Siapa dia?" Sheila turut bertanya.
"Kenapa tidak pernah cerita sih kenal sama om-om seganteng ini?" tanya Suzi tol*l.
Sedangkan Kiara hanya terdiam cemberut di tempatnya.
"Tante Mike menyuruhku untuk menjemputmu." Lapor laki-laki itu yang ternyata adalah Derri. "Yuk, masuk ke mobil," lanjut Derri sambil menunjuk ke arah mobil sport putih yang terparkir di bawah pohon waru.
"Tidak mau." Kiara menjawab ketus. Sementara ketiga temannya segera masuk ke jok belakang mobil.
"Mau di sini sampai besok?"
Derri mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Suasana telah tampak terkendali, tak ada lagi remaja-remaja berseragam yang mengerubunginya dengan berlebihan seperti tadi. Walaupun mereka tetap memperhatikannya dari kejauhan.
"Ya sudah," ucap Derri lagi sambil melangkahkan kaki menuju mobil sport putih yang terparkir tepat di depan pintu gerbang sekolah.
Akhirnya mau tidak mau Kiara mengekor di belakang laki-laki yang telah berhasil merusak moodnya siang ini.
"Mang Jaja kemana?" tanya Kiara dengan wajah cemberut.
"Istrinya melahirkan." Derri menjawab singkat sambil kembali menutup pintu mobil, diikuti Kiara yang segera duduk di jok sebelah kemudi.
"Hai, om ganteng," sapa Suzi. "Kenalan dong. Suzi," lanjutnya sambil mencodongkan badan kemudian mengulurkan tangan kanannya.
Sesaat Derri menyipitkan matanya mendengar bagaimana gadis itu memanggilnya. Namun kemudian Derri buru-buru menengok ke belakang. "Derri," jawabnya singkat sambil melemparkan senyum ramahnya saat menjabat tangan gadis-gadis cantik di belakangnya itu.
"Omnya Kiara, ya?" tanya Sheila.
"Belum menikah, kan?" tanya Suzi antusias.
Derri kembali melirik sekilas ke arah tiga remaja yang duduk di belakang, kemudian tersenyum manis.
"Calon suaminya Kiara." Derri menjawab santai.
"What?!" sentak ketiga gadis itu bersamaan, hingga Derri dan Kiara yang duduk di jok depan berjengit kaget dibuatnya.
"Alamak, aku patah hati sebelum jatuh cinta. Hiks," ratap Suzi lebay.
"Serius, Ra?" tanya Sheila pada gadis yang duduk tak nyaman di jok depan.
"Axel dikemanain?" tanya Suzi dengan wajah masih dihiasi sisa-sisa keterkejutannya.
"Kamu punya hutang cerita pada kami, Ra," ancam Sesil.
"Tidak ada yang perlu diceritakan," sahut Kiara malas.
"Dia tidak akan mau membuka mulut. Bagaimana kalau aku saja yang bercerita?" usul Derri yang dijawab dengan anggukan serempak dari mereka bertiga. "Tapi ceritanya sambil makan saja, ya. Aku lapar."
"Siap!" jawab trio kwek-kwek itu serempak, yang kemudian disambut dengan suara mesin mobil yang menyala. Mobil yang mereka naiki pun segera melesat membelah terik matahari di jalanan beraspal.
___
.
"Oh, jadi begitu ...," koor Suzi dan Sheila yang duduk di kedua sisi Derri.
"Kalau aku sih yes, Zi. Kamu gimana?" Sheila mencolek lengan Suzi yang masih asyik memperhatikan laki-laki tampan yang duduk semeja dengan mereka itu.
"Aku sih jelas mau banget, La," jawab Suzi sedikit tergagap. "Nah loh, Ra. Sudah, terima saja." Suzi menatap Kiara yang duduk di sebelah Sesil. Dia tengah asyik mengaduk-aduk jus jeruknya dengan sedotan.
"Jarang-jarang kan ada om-om yang ganteng, keren, terus banyak duit juga kayak Om Derri. Iya kan, Sil?" ucap Suzi dengan polosnya.
"Kalian melihat dari sisi mananya?" dengus Kiara sambil cemberut.
"Apa kau lupa, seluruh teman perempuanmu tadi mengerubungiku di depan sekolah, karena mereka terpesona dengan ketampananku," tukas Derri sombong.
Kiara membuang muka jengah mendengar ucapan Derri barusan.Tiba-tiba saja ia berdiri dari duduknya kemudian segera melangkah pergi.
"Kemana, Ra?" tanya Sesil.
"Pulang!" sahut Kiara sedikit berteriak.
"Woi, tungguin dong," teriak Suzi sambil menarik tangan Derri. "Eh, maaf salah," ucap Suzi sambil melepas pegangan tangannya kemudian segera meraih tangan kedua sahabatnya dan berlari kecil mengejar Kiara menuju mobil.
Derri menatap keempat gadis belia yang mulai menjauh dari hadapannya itu. Sudut bibirnya terangkat, dan senyum simpul pun tercetak jelas di sana. Segera disusulnya gadis-gadis yang kini telah duduk nyaman di kursi masing-masing. Namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara panggilan dari ponsel.
"Halo, ada apa, Al?"
"Hei, kenapa hanya Andre saja? Kau kemana?" suara Aldo di ujung telpon.
"Aku sedang ada pekerjaan sampingan." Derri menjawab sambil berseloroh.
"Pekerjaan sampingan? Apa maksudmu?" tanya Aldo bingung.
"Menjadi pengasuh anak itik."
"Apakah kau serius kali ini?" tanya Aldo iseng.
"Setidaknya aku memiliki mainan baru."
"Hei, jangan bicara seperti itu. Atau kau akan terkena batunya." Aldo memperingatkan.
"Anak ingusan seperti dia? Yang benar saja," tukas Derri sambil melirik keempat gadis di dalam mobil. "Sudahlah, kupercayakan semuanya pada Andre. Nanti malam kita bertemu di tempat biasa."
"Ok."
Sambungan pun terputus. Derri bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
"So, girls, are you ready now?" tanya Derri sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Ofcourse, Om!" jawab ketiga gadis di jok belakang serempak.
Derri menyipitkan mata sesaat kemudian mengulum senyumnya, belum terbiasa dengan panggilan yang menurutnya lucu itu.
BERSAMBUNG ...