
Kiara Pov
Tepat pukul lima sore mobil melewati pintu gerbang dan memasuki halaman rumah. Tubuhku terasa lelah sekali setelah beraktifitas sepanjang hari. Ingin segera merebahkan badan pada kasur empuk di dalam kamar, bersama bantal dan guling kesayangan.
Come to mama, my pillow ...!
Setelah mobil terparkir dengan rapi, aku segera turun dan bergegas melangkah tanpa menoleh pada laki-laki yang masih duduk di balik kemudi. Memang kusengaja untuk tidak mengucapkan apa-apa, bahkan sekedar ucapan terimakasih sekali pun sama sekali tidak keluar dari mulutku. Memangnya siapa juga yang memintanya menjemputku dari sekolah. Sudahlah, tugasmu sudah selesai dan segera lah pergi dari sini.
Saat tengah melangkah, kedua telingaku menangkap suara seseorang menutup pintu mobil. Tak lama kemudian disusul dengan suara kaki yang beralaskan sepatu pantofel melangkah mendekat.
Hei, seharusnya yang terdengar adalah suara mesin mobil menjauh. Kenapa justru malah langkah kaki?
Kubalikkan badanku untuk memastikan apa yang telah terjadi. Benar saja, laki-laki itu sedang berjalan mengekor di belakangku. Ya Tuhan, memangnya siapa juga yang mengajaknya masuk ke dalam rumah? Benar-benar tidak tahu diri.
"Hei, Om! Kenapa kau ikut turun?" Sengaja kubuat ekspresi dan intonasi sesinis mungkin.
"Aku turun bukan untukmu." Laki-laki itu menjawab dengan senyum terulas di bibir, membuatnya terlihat semakin tampan.
Ya Tuhan, kenapa dia begitu sok kecakepan. Apa dia pikir aku akan terhanyut dengan senyum noraknya itu? Hello ...! Aku bukan gadis gampangan ya, saudara-saudara! Tapi ... dia memang tampan sih.
"Aku ada perlu dengan Tante Mike."
Laki-laki itu kembali bersuara. Tangan kanannya bergerak memasukkan ponsel pintar yang kutahu harganya puluhan juta itu ke dalam saku celana Sementara kedua kakinya tetap terayun tegas melewatiku.
"Sepertinya kau senang dengan perjodohan ini," sindirku pedas masih dari tempat di mana dia melewatiku beberapa detik yang lalu.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. "Kau pikir aku tertarik padamu?" Dia menoleh ke arahku, kemudian perlahan berjalan mendekat.
Kulihat dia memandang malas pada wajahku. Memang itu lah yang dirasakannya, atau kah hanya sekedar berpura-pura? Entahlah. Aku justru berharap dia benar-benar tak menyukaiku, bahkan sangat membenciku agar perjodohaanku dengannya dibatalkan saja.
Di luar dugaan, tanpa aba-aba tangan kirinya menarik lenganku dalam sekali hentakan. Aku yang tanpa persiapan menerima perlakuannya itu pun langsung tersentak. Tubuhku limbung, hingga tanpa sengaja ambruk ke dada laki-laki bertubuh tegap itu.
Apakah baru saja aku mengatakan bahwa tubuh laki-laki itu tegap? Ingin sekali kukatakan bahwa baru saja aku berbohong. Tapi ... well, memang begitulah adanya. Jadi, lebih baik lupakan saja pujian yang sempat kupikirkan barusan.
Hentakan tangannya terasa begitu kuat. Hampir saja aku jatuh, namun ternyata laki-laki itu tidak membiarkannya terjadi. Dia langsung memeluk pinggangku dengan tangan kirinya dan segera merapatkan tubuhku pada tubuhnya sendiri. Syukurlah, aku selamat.
Jika aku sampai terjatuh, entah sebesar apa rasa malu yang harus kutanggung. Itu lah sisi baiknya. Sedangkan sisi buruknya ... aku terkesiap dan terbengong oleh sikapnya itu. Memalukan! Benar-benar memalukan, karena situasi ini terjadi selama beberapa menit. Aku terbengong menatap wajahnya lekat-lekat, yang membuatku hilang kesadaran selama beberapa saat. Bahkan untuk sekedar mengucapkan kata terimakasih pun aku tak sanggup.
Hei, haruskah aku berterimakasih? Bukankah ini namanya pelecehan? Dia telah dengan lancangnya memeluk pinggangku. Memangnya dia itu siapa? Dia bukan siapa-siapaku! Tapi jika tanpa pelukannya seperti ini, sudah pasti aku terjatuh juga sih.
Entah mengapa aku merasa deru nafasku memburu dan jantung pun berdetak lebih kencang, hingga tak sanggup bagiku untuk terus memandang wajahnya itu. Apa-apaan ini? Tuhan, baru sekali ini aku berada pada jarak begitu dekat dengan seorang laki-laki.
Aku masih belum bisa menguasi diri ketika tiba-tiba tangan kanannya mencengkeram rahangku. Tidak terlalu kuat, namun cukup untuk membuatku terpaksa mendongakkan wajah ke arahnya seperti yang dia maksud.
Tatapan mata kami saling beradu. Hingga akhirnya, "Kau pikir dirimu begitu menarik?" Dia berbisik tepat di depan wajahku yang masih mendongak. "Di luar sana terlalu banyak gadis yang bersedia menghangatkan ranjangku. Tentunya mereka jauh lebih cantik dan lebih menarik daripadamu," bisiknya lagi penuh penekanan.
Aku kembali terdiam syok mendengar ucapannya barusan. Apa-apaan itu? Dia dengan bangganya memamerkan hal serendah itu padaku? Hah, dasar penjahat! Dunia sungguh terbalik!
Dalam keadaanku yang masih belum stabil, entah bagaimana mulanya, tangan kanan laki-laki itu telah berada di belakang tengkukku, sementara tangan kirinya tetap memeluk pinggangku dengan lebih erat. Tiba-tiba saja aku merasa sesuatu yang kenyal menyentuh bibirku. Sontak aku berusaha melepaskan diri.
"Ciuman pertamaku ...!"
Secara reflek kakiku mundur beberapa langkah. Apa-apaan ini? Ciuman pertama yang kujaga selama ini ... yang akan kupersembahkan bagi suamiku kelak .... Berani sekali dia mengambilnya!
"Apa yang kau lakukan?!"
Kedua mataku menatap nyalang ke arah laki-laki brengsek itu. Ya Tuhan, bagaimana bisa Mama dan Papa menjodohkanku dengan pria brengsek seperti ini?
Aku semakin kesal saat melihat dia justru tersenyum. Tak ada sedikitpun rasa bersalah terlukis di wajahnya.
"Jadi itu tadi ciuman pertamamu?" Laki-laki itu menyeringai menyebalkan. "Ah, ya. Bisa kulihat. Kau begitu kaku." Dia berjalan mendekatiku. "Hanya ciuman sekilas saja kau sudah begitu heboh."
"Hei, jaga ucapanmu!" Aku benar-benar kesal dan benci padanya. "Aku menjaganya untuk suamiku kelak. Bukan untuk laki-laki kurang ajar semacam kau!"
"Hei, Nona ...." Ia berdiri tanpa jarak tepat di hadapanku, hingga aku dapat melihat jelas jakun di lehernya yang terpampang tepat di depan kedua mataku. Dengan kedua tangan di dalam saku celana dan tubuh sedikit menunduk, ia berbisik di telinga kiri. "Mulai sekarang bersikap sopan lah sedikit padaku. Atau kau akan mendapat hukuman yang lebih dari itu."
Dikecupnya pipi kiriku sekilas dan meninggalkan bekas basah di sana.
"Wah, kalian baru pulang?" Tiba-tiba saja terdengar suara. Serentak aku dan laki-laki itu menoleh ke arah asal suara. Mama telah berdiri di ambang pintu untuk menyambut kedatanganku.
"Maaf, Ma. Kiara pulang terlambat." Suaraku benar-benar terdengar canggung dan gugup. Bagaimana jika Mama melihat adegan tadi? Aku malu. Benar-benar malu. Ini semua gara-gara si om-om menyebalkan itu. "Tadi Kiara harus ...." Ucapanku terputus oleh suara Mama yang sama sekali tidak menggubrisku.
"Ayo cepatlah masuk." Mama menggamit lengan kanan laki-laki itu dan segera menariknya masuk ke dalam rumah meninggalkanku terbengong di teras. Well, ternyata Mama menyambut kedatangan laki-laki menyebalkan itu, bukan aku.
"Kenapa Mama tidak memarahiku karena pulang terlambat?" tanyaku sambil mengekor di belakang mereka. "Tidak biasanya."
"Marah? Kenapa harus marah jika kau bersama Derri?" Mama berjalan pelan beriringan dengan laki-laki itu.
"Apa maksud Mama?"
"Bahkan kalau kau diantar pulang minggu depan pun, Mama tidak masalah." Keduanya pun duduk di ruang tengah. "Asal kau bersama Derri." Ok fix, Mama mulai membuatku kesal.
"Hah, Mama benar-benar konyol," sungutku sambil naik ke lantai atas.
"Bukan konyol, tapi percaya sepenuhnya!" Mama berteriak dari lantai bawah.
"Percaya? Mama percaya pada buaya darat macam dia?" dengusku seraya menghentikan langkah di tengah tangga.
"Hei, dia punya nama. Sopanlah sedikit!" Mama menghardikku tepat saat Mbak Iyem datang dengan dua cangkir teh manis.
"Oh iya, maaf, Om Derri," seruku dengan tatapan kesal pada mereka berdua kemudian segera melanjutkan naik ke lantai dua, menuju peraduan ternyamanku.
"Hah, kau ini. Lihat saja, tidak lama lagi kau akan memanggil Derri dengan sebutan sayang!" Mama masih terus menggodaku.
Kuhentikan kaki tepat di depan pintu kamar kemudian menoleh menatap tajam laki-laki yang tengah melayangkan senyum ke arahku dari lantai bawah itu. "Jangan mimpi!" teriakku padanya sambil menghentakkan kaki kemudian segera masuk ke dalam kamar.
Kulemparkan tasku ke atas kasur, kemudian kulemparkan juga sepatuku ke sembarang arah.
Ciuman pertamaku. Kenapa harus dia yang mengambilnya?!
Kuusap bibirku dengan kasar.
Hah, om-om sialan itu. Awas ya nanti, akan kubalas kau!
"Drrrt ... drrrt ... drrrt ...!" terdengar suara ponsel bergetar. Kuraih ponsel yang masih tersimpan di kantong baju dan segera kugeser ikon telpon waran hijau pada layar.
"Hai, sayang," sapa Axel yang tampak macho dengan tatanan rambut diglitter.
"Hai," jawabku sambil menelungkupkan dada di atas bantal.
"Kenapa masih pakai seragam sekolah? Belum mandi, ya?"
Ah, laki-laki ini memang selalu lembut dan penuh perhatian padaku.
"Belum."
"Kenapa lesu? Ada masalah?"
"Apa karena kau begitu merindukanku?"
"Axel, apa-apaan kau ini. Tadi kan kita barusan ketemu di sekolah."
"Ya siapa tahu saja kau sudah merindukanku lagi. Jika iya, maka aku akan datang ke rumahmu malam ini."
"Benarkah? Boleh, boleh, boleh!" Aku yakin pasti Axel melihat antusiasme di wajahku.
"Ya sudah, aku siap-siap dulu. Sebentar lagi aku ke rumahmu."
"Ok."
Panggilan video call berakhir. Entah mengapa mood-ku yang tadi sempat turun drastis kini mendadak kembali dalam mode on. Aku pun segera melesat ke dalam kamar mandi. Bernyanyi-nyanyi sebentar, dan mandi bebek sebentar.
Kalian tahu yang kumaksud dengan mandi bebek, bukan? Jika tidak, mungkin kalian bisa tanya ke mbah google. Ok, skip.
Kukenakan dress selutut warna violet dengan aksen renda di kedua bahu dan di ujung bawah dress. Sengaja kupilih memang. Menurut Axel aku terlihat makin cantik bila memakai dress itu.
Kusematkan jepit rambut bentuk pita warna pink di sisi kiri kepalaku untuk menahan agar poni nakalku bisa sedikit menurut, tidak kelayapan kemana-mana.
Bedak warna natural menjadi pilihanku kali ini. Sangat tipis, hingga tampak betul-betul natural. Terakhir, kupoleskan lipbalm rasa cherry ke bibirku agar tampak lebih segar dan tidak pucat.
Lebih dari lima belas menit aku mematut diri di depan kaca. Hingga terdengar suara bel dari pintu pagar depan.
Itu pasti Axel! Aku pun bergegas keluar dari kamar dan segera turun ke bawah.
___
.
"Hah, kau ini. Lihat saja, tidak lama lagi kau akan memanggil Derri dengan sebutan sayang," seru Mike sambil melemparkan kedipan mata genit pada putri bungsunya, sengaja menggoda.
Kiara menghentikan kakinya tepat di depan pintu kamar kemudian menoleh menatap ke arah Derri yang tengah memandangnya dengan senyum manis di bibir.
"Jangan mimpi!" teriak gadis berambut sepuggung itu sambil menghentakkan kaki kemudian segera masuk ke dalam kamar. Mike dan Derri pun tertawa geli menghadapi sikap gadis manis itu.
"Yang sabar, ya. Om Keanu terlalu memanjakannya. Jadi seperti itu deh sekarang." Mike menjelaskan sambil membuka beberapa toples cemilan di meja. "Apa lagi kedua kakaknya ... adiknya minta apapun langsung dikasih. Jika mendengar adiknya menangis sedikit saja mereka berdua langsung panik. Mungkin karena jarak usia Kiara dengan kakak-kakaknya terlalu jauh, jadi mereka terus saja menganggap Kiara ini bayi mungil yang harus disayang dan dimanjakan."
"Sudahlah, Tante. Tidak apa-apa. Aku bukanlah remaja kemarin sore yang akan menelan mentah-mentah apa yang didengar dan dilihat."
"Syukurlah kalau begitu." Mike tersenyum lega. "Kemarin Tante datang ke rumahmu. Eva bilang kau sedang di kantor."
"Iya, Tante. Belakangan ini aku memang lumayan sibuk."
"Hei, mulai sekarang jangan panggil tante. Tapi panggil mama. Ok?"
"Ok, Mama."
"Bagus."
Obrolan pun terpaksa terhenti ketika terdengar suara bel berbunyi. Iyem tampak tergopoh-gopoh berjalan menuju pintu pagar, karena Mang Ipul yang biasa membukakan pintu gerbang tengah izin pulang kampung. Beberapa menit kemudian Iyem kembali masuk ke dalam.
"Siapa, Yem?" tanya Mike.
"Teman Non Kiara, Nyah."
"Ya sudah, buatkan minum dan sekalian panggilkan Kiara," perintah Mike.
"Axel ya, Mbak?" tanya Kiara yang tiba-tiba sudah berdiri di ujung bawah tangga.
"Iya, Non."
Kiara bergegas melangkah ke ruang tamu untuk menemui tamunya.
"Siapa itu Axel, Ma?" tanya Derri setelah Kiara menghilang di balik pintu.
"Pacar Kiara," jawab Mike tak nyaman. Merasa bersalah pada pemuda di hadapannya.
"Owh ...." Derri menjawab pelan. "Ya sudah, aku pamit pulang saja kalau begitu, Ma."
"Hei, kenapa buru-buru? Apa kau tidak ingin mengurus mereka berdua dulu?" cegah Mike.
"Sudahlah, Ma. Biarkan Kiara menikmati masa remajanya. Toh akhirnya nanti Kiara akan menjadi milikku juga." Derri menjawab santai.
"Owh ... kau begitu dewasa Derri. Kau membuat Mama auto melting."
"Auto melting?" Derri membeo ucapan Mike.
"Iya. Saat menonton drakor, Kiara selalu berkomentar begitu jika Lee Min Ho mengucapkan kata-kata indah atau kata-kata romantis."
Derri menanggapi keterangan Mike itu hanya dengan senyuman simpul.
"Hei, apa kau tidak ingin sekedar mengusir Axel? Supaya mereka berdua sadar jika sudah tidak saatnya lagi berikrar tentang cinta mereka."
"Mama ingin aku melakukannya?" tanya Derri saat Iyem baru saja selesai menyuguhkan teh dan cemilan di ruang tamu.
"Iya." Mike menjawab penuh semangat.
"Hah, tak kusangka, aku akan memiliki mertua yang begitu jahat," gumam Derri pelan.
"Hei, bicara apa kau?" hardik Mike tak suka.
"Hahaha ... bercanda, Ma. Hanya bercanda. Baik, Mama lihatlah." Derri berdiri merapikan jasnya sejenak kemudian melenggang pelan menuju ruang tamu.
"Hei, sayang," sapa Derri pada Kiara yang tengah duduk berseberangan dengan Axel. Tidak lupa dilemparkannya juga senyum menawan yang selalu ia tebarkan di hadapan para gadis-gadis cantik. "Kau sudah selesai?" tanyanya sambil duduk merapat.
Kiara tak menjawab, hanya terbengong diam mendapati Derri yang begitu percaya diri ikut nimbrung di tengah dirinya dengan Axel.
"Eh, ada tamu rupanya," ucap Derri "Temannya Kiara, ya? Kenalkan, namaku Derri," sapa Derri sambil mengulurkan tangan.
"Axel," sahut Axel sopan seraya menyambut uluran tangan di depannya.
"Sudah malam, aku pulang dulu, ya," pamit Derri pada Kiara. "Jangan lupa dengan acara kita besok. Aku akan menjemputmu pukul sembilan."
Derri berpesan sambil mengecup kedua pipi gadis itu, plus ciuman sekilas di bibir.
"Nanti aku akan meneleponmu begitu sampai di rumah. Ah, aku pasti akan sangat merindukanmu, walapun baru saja menghabiskan sore ini denganmu," lanjut Derri sambil mengacak puncak kepala Kiara.
"Aku duluan ya, Axel." Derri melemparkan senyum hangat pada Axel, kemudian bangkit dan segera berjalan ke luar menuju mobilnya. Tidak berapa lama terdengar suara mesin mobil dinyalakan, kemudian mobil itu pun segera melesat meninggalkan halaman rumah yang luas itu.
Sementara di balik pintu ruang tengah, "Huh, dasar om-om licik!" Mike mencebik mengumpati calon menantunya. "Pandai sekali dia melempar bola." Mike segera berlalu ke dalam kamar setelah didengarnya sura gaduh seperti orang bertengkar dari ruang tamu.
BERSAMBUNG ....