
Akhirnya acara makan malam pun berlangsung dengan penuh kehangatan. Pada malam itu pula Keanu dan Ha Won telah mengambil kesepakatan yang telah mereka bicarakan. Meskipun belum matang betul, namun kereka menganggap ini adalah awalan yang bagus bagi kedua anak yang akan mereka jodohkan.
Malam itu, setelah keluarga Prawira bertolak dari kediaman Syarif, Mike berjalan menuju kamar diikuti Kiara yang berwajah cemberut. Apa lagi kalau bukan karena rencana perjodohannya dengan laki-laki yang tidak dikenalnya itu? Sementara anggota keluarga yang lain langsung asyik menikmati tayangan televisi di ruang tengah.
"Please deh, Ma. Kiara ini baru tujuh belas tahun. Masih SMA." Kiara menghentak-hentakkan kakinya seraya memasang wajah kesal.
"Please deh, Kiara," Mike membeo. "Tidak harus langsung menikah juga. Dijodohkan dulu ... pacaran dulu ... tunangan dulu," bujuk Mike santai. "Siapa yang menyuruh langsung menikah," tambahnya sembari mengambil setelan piyama dari dalam lemari.
"Kiara punya cita-cita, Ma," sergah Kiara cepat.
"Harus," sahut Mike santai.
"Kiara ingin kuliah," tukas Kiara yang telah mengambil duduk di bibir tempat tidur.
"Tidak masalah," sahut Mike cepat.
"Bagaimana mau kuliah kalau sudah menikah?" sanggah Kiara.
"Tetap bisa kuliah walaupun sudah menikah."
"Bagaimana bisa meraih cita-cita kalau keburu menikah, Ma?" Kiara kembali menyanggah.
"Cita-cita tetap bisa diraih walaupun sudah menikah." Mike tetap bersikukuh dengan keputusannya. "Percayalah."
"Tidak, Ma. Tidak! Kami menolak perjodohan ini! Kiara tidak mau dijodohkan, apa lagi dengan dia," protes Kiara sambil memeluk boneka Teddy kesayangannya.
"Hei, dia itu punya nama." Mike mengingatkan. "Namanya Derri. Mulai sekarang Kiara harus panggil dia kak, atau mas."
"Mas?" Kiara melotot, kemudian memutar bola matanya jengah.
"Iya," sahut Mama singkat. "Kecuali kalau Kiara mau memanggil dengan sebutan sayang."
Mendengar ucapan mamanya, spontan Kiara mencibir sembari menirukan orang yang sedang muntah.
"Kiara! Apa-apaan itu? Tidak sopan!" hardik Mike dengan kedua mata melotot tajam.
"Iya, iya ... Om Derri." Akhirnya Kiara meralat ucapan Mike dengan wajah kesalnya.
"Ya terserah lah. Yang penting Kiara panggil yang sopan," sahut Mike. "Kedua kakakmu telah menikah, tidak mungkin bukan jika mama menjodohnkan Derri dengan salah satu dari mereka?" lanjutnya. "Satu-satunya solusi adalah kau Kiara. Kau akan menikah dengan pria sukses yang berkepribadian baik seperti Kak Derri-mu itu."
Mike berjalan pelan menghampiri putri bungsunya di tepi tempat tidur.
"Ma, Kiara kan sudah punya Axel." Suara Kiara mulai melunak, berharap bisa mengetuk pintu hati mamanya untuk membatalkan rencana perjodohan konyol itu.
"Hah, siapa itu Axel, Mama juga tidak tahu," sahut Mike sekenanya.
Lah, kenapa sekarang berbalik jadi Mike yang merajuk?
"Kalau Derri, kan Mama sudah tahu bagaimana karakternya, bagaimana keluarganya. Mama sudah tahu bibit, bebet dan bobotnya." Mike kembali bersuara.
"Mama juga sudah tahu bagaimana dan siapa Axel," bela Kiara.
"Tidak sebaik Derri," tukas Mike dengan intonasi santai.
"Mama kan baru bertemu dengan dia sekali saja. Bagaimana bisa Mama menyimpulkan bahwa dia itu laki-laki baik-baik?" protes Kiara.
"Hei, siapa bilang? Mama sudah gendong dia dari kecil. Dari bayi." Mike tersenyum bangga.
"Mama, kenapa tidak memahami Kiara sih?" Kiara mulai frustasi.
"Dia tampan, mapan, baik, perhatian. Kurang apa coba?" sahut Mike tanpa memperdulikan wajah nelangsa putri bungsunya.
"Kurang muda!" jawab Kiara cepat.
"Lah, Mama dan Papa juga selisihnya banyak. Lima belas tahun. Tapi tetap mesra, romantis dan saling menyayangi. Kalau Kiara nanti paling-paling cuma selisih dua belas atau tiga belas tahun saja."
"Ih, pokoknya Kiara tidak mau!" seru Kiara
"Mama juga tidak mau sih," ucap Mike sambil melangkah menuju kamar mandi. "Tidak mau selain Derri," lanjut Mike kemudian buru-buru menutup pintu untuk mengganti kaftan birunya dengan piyama tidur, meninggalkan Kiara yang duduk kesal dengan wajah terlipat.
Sementara itu, di dalam mobil yang keluarga Prawira tumpangi, Eva tampak duduk dengan senyum sumringah di sebelah Derri. Tampak jelas bahwa kebahagiaan tengah menggelayuti hatinya.
"Bagaimana, dia cantik, bukan?" tanya Eva dengan posisi duduk rilaks di jok penumpang.
"Iya, Ma. Benar-benar cantik," sahut Derri sembari melonggarkan ikatan dasinya. "Pantas saja dulu pernah menjadi top model seperti yang Mama bilang."
"Yang Mama maksud Kiara, bukan mamanya," hardik Eva spontan dengan tangan kanan terulur menjewer telinga anak bungsunya itu. "Dasar, kurap!"
"Aduh! Mama apa-apaan ini?" protes Derri dengan sembari mengelus-elus telinga kirinya yang terasa sakit
"Makanya ... kau dewasa lah sedikit." Ha Won turut bersuara saat menoleh ke jok penumpang, kemudian tersenyum melihat kekonyolan kedua anggota keluarganya itu. "Sebentar lagi kau akan menikah. Sudah tidak sepatutnya lagi kau selengekan seperti itu. Apa lagi bermanja-manja dengan mamamu," lanjutnya dari kursi depan.
"Papamu benar." Eva ikut menambahi. "Bercerminlah pada Andre. Dia begitu dewasa, mandiri dan sopan. Tidak sepertimu yang kekanakan dan suka seenaknya sendiri."
Derri mendongak, menatap ke arah kaca depan. Tampak terpantul jelas senyum geli tercetak sempurna di bibir Andre.
Bukan hanya satu atau dua kali, tetapi memang sering kali Eva membandingkan kebengalan anak laki-lakinya itu dengan kesempurnaan yang Andre miliki.
"Malam ini kau tidur di rumah Mama, ya. Sudah lama kau tidak pulang ke rumah. Mama rindu."
Ha Won yang duduk di sebelah Andre di jok depan mengulum senyum sambil geleng-geleng mendengar ucapan istrinya.
"Dia yang menasehati agar lebih dewasa, tapi dia juga yang terlalu memanjakan anaknya," gumam Ha Won yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri dan Andre yang tengah fokus dengan roda kemudi.
Tak berapa lama, mobil pun melambat, kemudian memasuki halaman sebuah rumah mewah bernuansa klasik. Mobil berhenti di halaman rumah, tak jauh dari pintu masuk. Derri segera turun, kemudian bergegas membukakan pintu untuk Eva.
"Kau ingin makan apa? Biar Mama buatkan." Eva menggandeng tangan Derri dengan sayang, kemudian keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Tidak usah repot-repot, Ma. Aku masih kenyang."
Masih terdengar suara Derri dari tempat di mana Ha Won duduk santai bersama Andre.
"Sisanya siapa saja yang menempati, Om?" tanya Andre sembari menahan senyum geli.
"Nomor sembilan ratus sembilan puluh sembilan sampai jawara satu ditempati oleh Derri," sahut Ha Won yang disambut dengan ulasan senyum di bibir Andre. "Untung saja Derri memaksa untuk tinggal terpisah dengan kami. Jika tidak, mungkin dia akan terus diperlakukan seperti bayi oleh tantemu."
"Namanya juga anak, Om," sahut Andre. "Apa lagi anak bungsu," tambahnya.
Ya, Derri memang sengaja mengambil keputusan untuk tinggal terpisah dari kedua orang tuanya karena mulai risih dengan perhatian dan perlakuan Eva yang dirasa berlebihan. Karena begitu besarnya kasih sayang yang dimiliki, wanita berusia kepala lima itu masih sering memperlakukan anak-anaknya bagai bayi yang harus ditimang, dijaga, didekap, dan digendong setiap saat. Tanpa menyadari bahwa hal itu sudah bukan pada masanya lagi.
Awalnya Eva tidak menyetujui keputusan anak bungsunya itu. Namun dengan bantuan bujukan dan penjelasan panjang dari Ha Won, akhirnya Eva memperbolehkannya dengan syarat harus dalam pengawasan Andre.
"Ya. Padahal menurut Om, Derri sendiri sudah bisa membuktikan kesiapan dan kemampuannya bertarung dalam kehidupan nyata. Bahkan dia juga berhasil merintis usahanya sendiri, yang kini telah menjadi perusahaan sebesar itu."
"Sedewasa dan sebesar apa pun kita, memang sering kali tetap terlihat sebagai anak kecil yang butuh perlindungan dan belaian lembut di mata orang tuanya, Om." Andre memberi komentar.
"Kau benar," sahut Ha Won sambil membuka pintu mobil kemudian bergegas turun. "Ya sudah, Om masuk duluan," lanjutnya. "Apa kau masih ada perlu di luar?"
"Tidak, Om," jawab Andre singkat.
"Ya sudah, langsung masuk ke garasi saja," ucap Ha Won kemudian melangkahkan kaki menjauh, masuk ke dalam rumah meninggalkan Andre yang juga segera menggerakkan roda mobil menuju garasi.
Saat meniti anak tangga, sayup-sayup Ha Won mendengar suara Derri dari lantai dua. Laki-laki yang memasuki usia kepala enam itu pun menggeleng-gelangkan kepala dengan sudut bibir terangkat ke atas saat melihat putra bungsunya merangkul manja sembari menempelkan pipi kanannya di pipi kiri Eva.
Sebuah senyuman kembali terulas di bibir Ha Won saat kembali melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Derri masih tetap menyayangi keluarganya seperti sebelum-sebelumnya. Anak laki-lakinya itu memang tahu betul bagaimana cara memperlakukan dan membuat senang hati Eva dengan caranya sendiri.
"Ma, tentang perjodohan itu ... bagaimana kalau dibatalkan saja?" Derri mulai melancarkan aksinya.
"Tidak bisa," jawab Eva santai. "Kami sudah membuat kesepakatan sejak lama. Sekarang lah waktunya untuk melakasanakan isi dari kesepakatan itu," sahut Eva. "Apa lagi tadi papamu dan Keanu sudah membicarakan tentang pernikahan kalian, bagaimana mungkin bisa dibatalkan."
"Tentu saja bisa, Ma." Derri merajuk dengan mulut mengerucut persis anak kecil meminta jajan.
"Sebetulnya Mike memiliki tiga orang putri. Tapi dua dari mereka telah menikah, tinggal Kiara saja yang masih lajang. Makanya kami sepakat menikahkanmu dengan Kiara," ucap Eva tanpa menggubris ucapan Derri barusan. "Ide bagus, bukan?" Eva meminta pendapat Derri, walaupun yang sudah-sudah pendapat anak kesayangannya ini tidak pernah dipakai.
"Yang benar saja. Aku sama sekali tidak mengenalnya, Mama," tolak Derri cepat.
"Bisa belajar saling mengenal dulu," sahut Eva tak kalah cepat.
"Kami tidak saling mengenal, tentu saja tidak saling mencintai."
"Perlahan-lahan rasa cinta akan tumbuh di antara kalian."
"Dia itu masih kecil, Ma," ucap Derri mulai frustasi. "Umurnya saja mungkin sama dengan Siska. Padahal Siska masih sekolah."
"Tidak masalah." Eva tetap bersikeras.
"Ayolah, Mama. Jangan bercanda. Umur kami berselisih jauh. Apa yang Mama harapkan? Aku mengatakan bahwa aku mencintainya, kemudian dia menjawab 'I love you om,' begitu?"
"Ah, kau terlalu berlebihan," sergah Eva dengan senyum geli di bibir.
"Dia ...." Ucapan Derri tidak terselesaikan karena Eva buru-buru memotong.
"Ah, sudahlah, jangan terlalu banyak bicara," ucap Eva masih penuh dengan aura kegembiraan. "Cepat atau lambat kau harus menikah dengannya. Kecuali jika kau lebih menginginkan untuk menikah dengan Karmila," putus Eva tak terbantahkan. "Mau? Jika iya, maka Mama akan menelepon keluarga Karmila malam ini juga."
Eva buru-buru bangkit, berjalan menghampiri Ha Won yang telah berdiri di bingkai pintu kamar sedari tadi. Tanpa mengucap kata, keduanya pun segera pergi meninggalkan anaknya yang masih terbengong-bengong tol*l di tepi tempat tidur.
"Sial! Kenapa semua menjadi seburuk ini," umpat Derri dengan wajah nelangsa.
___
.
Derri melangkah pelan menghampiri Kiara di balkon kamarnya. Ia pun turut duduk tenang di samping Kiara yang tengah tertunduk tersipu di salah satu sudut balkon. Tangan Derri bergerak pelan, meremas pundak Kiara dengan penuh kelembutan. Wajah Kiara mendongak, menatap netra tajam yang menunduk ke arah wajahnya itu. Hanya sesaat, dan wajah cantik milik Kiara kembali tertunduk.
Perlahan tangan Derri kembali bergerak merangkul pundak Kiara dengan lembut.
"Kiara, aku ingin kau menjadi istriku," bisik Derri tepat di telinga Kiara yang tengah duduk manis di lantai balkon kamarnya.
Kiara hanya terdiam tanpa kata. Meskipun telah menyambut kehadiran Derri dengan tangan terbuka, tetapi mungkin ia memang belum siap menerima pernyataan serius secepat ini dari mulut Derri. Namun sesaat kemudian rona merah terlihat jelas di kedua pipi mulusnya.
"Aku mencintaimu." Derri kembali berbisik. "Sangat mencintaimu. Aku berjanji akan membahagiakanmu. Sambutlah cintaku, sayang. Menikahlah denganku."
Dibelainya rambut lurus gadis belia itu dengan lembut.
"Mengapa kau diam saja? Katakan sesuatu, sayang." Derri kembali bersuara.
Disentuhnya dagu gadis itu dengan jari telunjuk kanan, kemudian dijentikkannya ke atas hingga wajah gadis belia itu sedikit terdongak, agar ia bisa menikmati anugerah berupa kecantikan di depan matanya itu dengan lebih leluasa.
Kedua mata mereka pun saling bertemu. Menciptakan gelenyar aneh yang merambat pelan ke dalam hati masing-masing. Perlahan netra tajam Derri menyelam ke dalam indahnya lensa berbingkai bulu mata lentik di hadapannya itu.
"Apakah kau mencintaiku?" tanya Derri di tengah buaiannya.
Tak ayal kedua pipi gadis itu kembali merona. Netra matanya pun tampak berbinar terang. Ditambah dengan senyum manis yang terulas di bibir tipisnya, membuat gadis itu tampak semakin cantik dan menggemaskan.
"Katakan, sayang. Apakah kau mencintaiku?" Derri kembali bertanya dengan sebuah bisikan.
"Iya. I love you, Om."
Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulut gadis belia berusia 17 tahun itu. Walaupun dengan gugup, canggung, dan malu-malu melebur menjadi satu. Lega, senang dan bahagia, itulah yang mereka berdua rasakan saat itu.
Tiba-tiba, "Gubrak!"
"Aduh ...!" Derri mengaduh sambil meringis meraba pantatnya dengan mata terpejam. Dibuka matanya perlahan-lahan masih dalam posisi memeluk erat sebuah guling di lantai kamar.
"Hanya mimpi?" tanyannya pada diri sendiri dengan mata terpicing. "Sial! Dalam mimpi pun masalah ini tak mau pergi dariku," rutuk Derri dengan mata sipit masih terkantuk-kantuk. "Bahkan gadis itu dengan beraninya telah hadir di alam mimpiku. Sepertinya hari-hariku berikutnya akan kacau karenanya," sungutnya sambil kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. Memejamkan kedua mata lelahnya agar dapat kembali tertidur, mengumpulkan amunisi untuk menjalani hari esok.
"I love you, Om."
Namun sial, kalimat itu terus saja terngiang-ngiang di telinga, hingga Derri benar-benar tak dapat memejamkan matanya kembali walau hanya sekejab. Alhasil, ketika mentari muncul menyinari alam semesta, barulah kedua mata lelahnya bisa terpejam karena telah terlalu lama terjaga.
BERSAMBUNG ...