
Angin bertiup semilir. Wangi bunga yang bermekaran menambah suasana menjadi terasa semerbak dan sejuk secara bersamaan. Membuat siapa saja ingin berlama-lama berada di antara hamparan bunga-bunga itu.
Namun, ternyata tidak begitu halnya dengan Kiara dan Lion yang tengah duduk saling berhadapan di bawah atap gazebo siang itu. Keduanya tengah tersiksa oleh rasa gerah dan tegang luar biasa.
Wajah Kiara tertunduk, tak tahu harus bersikap bagaimana. Sesaat kemudian, kepala gadis bermata sipit itu kembali terdongak, ketika menyadari bahwa ia harus bisa menatap lawan bicaranya. Namun, ternyata itu adalah usaha yang sia-sia.
"Jadi apa jawabanmu, Kiara?" Lion mulai tak sabar.
Kiara menatap sekilas ke arah wajah Lion, sebelum akhirnya mengurai genggaman kokoh laki-laki itu pada jemari kedua tangannya dengan canggung dan berat.
"Aku ... maaf, Kak." Ucapan Kiara terputus. Ternyata bukan hal yang mudah untuk menolak sosok yang pernah menghiasi angan di masa lalu dan masa sekarang.
"Apa maksudmu?" tanya Lion sembari berusaha menangkap kedua netra Kiara yang sedikit tertunduk.
Kiara kembali mendongak, mengusap wajahnya perlahan, kemudian menatap ke sembarang arah tanpa bicara.
"Kenapa kau tampak ragu disaat aku yakin kau pernah memiliki perasaan padaku?" Suara Lion kembali terdengar.
"Apa?" Perlahan Kiara menoleh. "Dari mana Kakak tahu?" Dua mata sipit itu menatap tajam ke arah lawan bicara.
"Suzi," jawab Lion canggung. "Ia pernah mengatakannya padaku," lanjutnya penuh rasa bersalah.
Mendengar jawaban Lion, gadis berambut sepunggung itu terdiam, kemudian perlahan mendongakkan kepala menatap langit-langit gazebo. Untuk beberapa saat kedua mata sipit itu tertutup.
"Sekarang aku merasa sangat malu di hadapanmu, Kak," gumam Kiara masih dengan wajah mendongak ke atas.
"Kenapa harus seperti itu?"
"Aku pernah menyukaimu secara sepihak," gumam Kiara pelan. "Dan kau bersikap biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa, sedangkan kau tahu betul aku menyukaimu." Kedua netra hitam Kiara kini menatap dua bola mata di hadapannya.
"Tapi sekarang ...." Lion kembali meraih kedua tangan Kiara. "Aku menyukaimu," lanjut Lion. "Maaf ... maafkan aku yang terlalu lama menyadari perasaanku padamu."
"Tapi aku sudah tak memiliki rasa itu lagi, Kak," sahut Kiara. Diurainya kembali genggaman tangan laki-laki di hadapannya itu.
"Apa maksudmu, Ra?"
"Aku tak lagi memiliki rasa yang sama."
"Kalau begitu biarkan aku mengejarmu."
"Jangan."
"Kenapa?"
"Aku ... sebenarnya aku telah dijodohkan, Kak." Suara Kiara terdengar berat.
"Apa? Dijodohkan? Kau bercanda, bukan?"
"Tidak, aku serius."
"Sebenarnya zaman apa sekarang ini? Masih ada saja yang namanya perjodohan?" gumam Lion kesal sendiri.
"Maka dari itu ... lupakan perasaanmu padaku, Kak. Aku akan menganggap hari ini tak pernah terjadi."
"Itu bukan masalah bagiku, Ra. Kita akan melaluinya bersama. Aku akan memperjuangkanmu," ucap Lion tulus. "Menjalani pernikahan tanpa cinta itu sulit, Ra."
"Tapi aku mencintainya, Kak," sanggah Kiara cepat.
"Apa?"
"Ya, aku mencintai laki-laki yang dijodohkan denganku itu."
Lion terdiam, kemudian menghela nafas kasar.
"Bagaimana dengannya? Apakah dia mencintaimu juga? Ataukah hanya cinta sepihak?"
"Aku tak tahu."
"Lebih baik dicintai, Ra. Dari pada mencintai ...," ucap Lion dengan tatapan.tak lepas dari gadis di hadapannya. "Cintaku padamu sungguh tulus. Aku ingin serius denganmu."
"Aku yakin dia tak akan keberatan untuk belajar mencintaiku."
Derri berdiri terpaku, merekam semua dengan kedua mata dan telinga dari tempat ia bersembunyi. Perlahan sebuah senyum kepuasan terbit di antara kedua bibir, diwarnai semburat kemerahan di wajahnya.
"Kau yakin, Ra?" Lion kembali meraih kedua tangan Kiara. "Aku akan sangat senang jika---."
Ucapan Lion terhenti saat ia merasa semburan air mengarah padanya.
"Hei ... hei ... hei, apa-apaan ini?" teriak Lion. Sementara Kiara telah berdiri dan melangkah menjauh.
"Aish, maaf," ucap Derri dengan selang air di tangan kanan dan cangkir kopi di tangan kiri.
"Apa-apaan ini?!" hardik Lion kesal.
"Aku lihat tanaman di sini sedikit layu. Mungkin kekurangan air," sahut Derri tenang sembari berjalan mendekat. "Aku hanya ingin membantu," lanjutnya. "Tak kusangka justru malah membuat kacau seperti ini. Maaf."
"Om Derri, apa-apaan ini?" Kiara melangkah mendekati Derri yang tengah menyesap kopi susunya.
"Maaf, aku tak sengaja," sahut Derri santai.
"Tapi Om sudah mengacaukan semua ini."
"Maaf ...." Diletakkan cangkir kopinya di lantai gazebo.
"Lihat, Om. Kak Lion jadi basah seperti itu." Kiara masih tampak kesal.
"Kemarin kau muncul dan mengganggu kami berdua. Lalu sekarang pun kau kembali muncul dan sengaja menciptakan kekacauana ini," seru Lion yang juga tampsk kesal.
"Ah, kau terlalu sentimentil. Ini semua hanya kebetulan saja," sahut Derri.
"Katakan apa maumu sebenarnya?" ucap Lion yang mulai tak sabar dengan kelakuan Derri.
"Mauku?" Tangan kanan Derri bergerak menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Jauhi dia. Jangan pernah muncul di hadapannya lagi."
Kiara menoleh, menatap bingung pada laki-laki berusia tiga puluh tahun itu.
"Memangnya kau ini siapa? Berani sekali memerintahku seperti itu."
"Aku? Apa Kiki tak mengatakannya padamu?"
"Kiki?" Lion balik bertanya dengan ekspresi wajah bingung.
"Kiki. Itu adalah panggilan sayangku untuknya. Hehehe ...," ucap Derri yang kemudian diakhiri dengan cengiran songong.
"Apa hubungan kalian berdua sebenarnya?"
"Aku adalah calon suami Kiki."
"Apa?"
"Iya."
"Kau .... Bukankah kau ini adalah putra dari Tuan Ha Won yang berhasil merintis perusahaan sendiri tanpa campur tangan dari ayahnya?"
"Wow, aku tak menyangka bahwa ternyata aku seterkenal itu."
"Jika benar seharusnya kau adalah seniorku," gumam Lion.
"Jadi mulai sekarang kau harus menaruh hormat padaku," sahut Derri.
"Artinya usiamu dengan Kiara terpaut sangat jauh."
Lion diam tak menjawab. Diliriknya Kiara yang juga hanya diam memandang tak berkedip ke arah Derri.
"Aku pamit, Ra. Aku pulang dulu."
"Ah, iya." Kiara tersentak. "Hati-hati, Kak Lion. Maaf atas kekacauan yang terjadi."
"Kenapa kau harus minta maaf? Dia yang mengacaukan semua ini," bisik Derri tak terima.
Lion segera beranjak dari tempatnya berdiri menuju mobil yang terparkir di halaman depan, lalu buru-buru pergi meninggalkan rumah Kiara. Sementara dari balik jendela kaca dapur tampak Mike yang tengah tersenyum puas melihat adegan live yang baru saja disaksikannya.
___
.
Derri POV
"Hoam..."
Pukul sembilan tepat, aku masih menguap lebar. Kedua kelopak mataku masih terasa begitu lengket dan sangat sulit dibuka. Bagaimana tidak, jika pukul lima pagi aku baru bisa memejamkan mata. Dua malam berturut-turut, ketika fajar mulai menyingsing, justru mataku baru bisa larut dalam peraduan.
Entah mengapa tiga hari belakangan ini aku merasa dunia begitu indah. Segala sesuatu di sekelilingku tampak lebih bersinar dan cerah ceria. Bahkan kedua sudut bibirku selalu ingin melengkung ke atas.
Meskipun kurang tidur malam, kujalani hariku dengan semangat yang berbeda dari hari biasanya. Begitu bersemangat. Bahkan mereka bilang auraku belakangan begitu positif dan menawan. Aneh bukan?
Saat kutatap pantulan wajah di cermin, senyum hangat tampak mewarnai wajah tampanku ini. Asal kalian tahu, hal itu berlangsung sepanjang hari. Hatiku seperti sedang berbunga-bunga. Entah apa yang salah dengan diriku.
Aku sempat berfikir untuk mengunjungi Romi, sahabat dekatku yang seorang dokter itu. Kalau-kalau ada sesuatu yang salah dengan kesehatan organ tubuhku. Namun, kuurungkan niatku itu saat terlintas dalam benakku, jangan-jangan yang perlu kukunjungi bukan Romi, tapi Eliza, psikolog cantik yang buka praktek di belakang jalan protokol.
Hah, persetan dengan kesehatanku. Yang penting hari ini aku merasa sangat bahagia. Bukankah itu bagus?
Ah, tapi sepertinya aku memang harus membuat jadwal konsultasi dengan Eliza. Aku yakin semua akan menjadi lebih jernih. Aish! Lupakan Eliza, lupakan juga yang lain. Aku khawatir jika setelah konsultasi dengan salah satu dari mereka maka justru kebahagiaanku ini akan terganggu, atau bahkan sirna.
Karena jam tidur yang kacau, hampir semua jadwalku selama tiga hari ini berantakan. Aku bahkan terlambat datang ke kantor, satu hal yang tak pernah kulakukan selama ini.
Hari ini selepas jam makan siang aku baru sampai di kantor. Kulihat Brenda sedang terpekur sibuk dengan tugasnya sebagai sekretaris pribadiku di dalam ruangan berdinding kaca itu. Sepertinya gadis itu telah meyadari kedatanganku karena tiba-tiba saja ia berdiri sambil mengangguk disertai senyum ramah seperti biasanya menyambut kedatanganku setiap pagi.
Kulangkahkan kakiku dengan ringan ke dalam ruangan Brenda.
"Ada sesuatu yang ingin kau laporkan padaku, Brenda?"
"Ada, Pak."
"Ikut ke ruanganku sekarang."
"Baik, Pak."
Hah, gadis ini benar-benar patuh padaku. Selama bekerja di perusahaanku ini, ia selalu melakukan apapun yang kuperintahkan. Jika aku bukan bosnya, apakah dia juga akan melakukan hal yang sama? Dasar bodoh, sudah pasti jawabnya tidak.
Brenda mengekor masuk ke dalam ruanganku tanpa suara. Satu keahlian yang tak juga kupahami bagaimana dia bisa melakukannya. Mungkin seharusnya dia bekerja sebagai mata-mata atau penguntit saja, bukan sebagai sekretaris pribadi seperti sekarang ini.
"Sebanyak ini, Brenda?" mataku membulat melihat tumpukan berkas yang diletakkan Brenda di atas meja.
"Sayangnya, iya, Pak." Brenda menjawab dengan mengulum senyum. "Semuanya membutuhkan tanda tangan Anda."
Hah, sial! Apakah aku harus kembali mengkambinghitamkan jadwal tidurku yang kacau itu?
"Lalu apa yang ingin kau laporkan padaku?"
"Sekretaris Pak Ega menelepon, menanyakan tentang kepastian konsep pesta tutup tahun yang akan kita pilih." Sekretarisku yang satu ini, selain sedap dipandang, juga pandai, cekatan, kreatif, to the point dan pandai mengambil inisiatif yang terbaik untuk perusahaan. Beruntung sekali aku mendapatkannya di antara ribuan wanita cantik dengan otak kosong yang ingin menjadi sekretaris pribadiku.
"Sepertinya kita harus mengadakan pertemuan dengan Pak Ega lagi, Pak. Masih ada beberapa hal yang perlu kita bahas."
"Segera kau jadwalkan saja. Lebih cepat lebih baik," sahutku masih dengan tangan sibuk membubuhkan tandatangan. "Ada yang lain?"
"Tidak, Pak."
"Kau boleh kembali ke mejamu."
"Baik, Pak."
"Ah, satu lagi. Tolong antarkan kapucino ke ruanganku."
"Baik, Pak."
Brenda segera keluar, sedangkan aku kembali berkutat dengan tumpukan berkas-berkas yang harus selesai hari ini juga. Hah, benar-benar melelahkan.
Tepat pukul dua siang kulangkahkan kaki keluar dari dalam ruang kerja.
"Anda mau keluar, Pak?"
Astagah ... gadis ini benar-benar membuatku terkejut. Bagaimana bisa tiba-tiba saja dia muncul dari balik pintu? Meskipun itu adalah pintu ruangannya sendiri, tapi setidaknya dia harus mengingat agar tak mengejutkanku seperti ini. Tapi ya sudah lah, kali ini aku akan memaafkannya karena aku memang sedang bahagia. Bahagia karena apa? Entahlah, aku sendiri juga tak mengerti.
"Iya." Akhirnya kkujawab pertanyaan Brenda dengan ulasan senyum yang lebih ramah dari biasanya. "Katakan pada Nino, nanti kita ketemu di luar saja. Selebihnya, kosongkan schadule-ku hari ini. Untuk berkas-berkas yang memerlukan tanda tanganku, kau serahkan pada Andre."
"Baik, Pak."
"Jangan lupa, siapkan juga berkas-berkas yang kuminta tadi, berikan pada Andre."
"Tentu," jawab Brenda patuh. "Apakah ada kabar baik yang Bapak terima?"
"Apa maksudmu?"
"Saya perhatikan belakangan ini bapak tampak sedang berbahagia. Apakah ada kabar baik yang bisa Bapak bagi dengan saya?"
Tak bisa kutahan senyum yang akhirnya merekah di bibirku mendengar pertanyaan sekretaris cantikku ini.
"Apakah tentang Nona Kiara?"
Kiara? Benarkah? Benarkah semua ini karena Kiara?
"Kau memahamiku dengan baik." Kujawab pertanyaannya sambil mengulum senyum. "Aku pergi dulu," pamitku kemudian.
"Iya, Pak. Semoga hari Bapak menyenangkan."
Brenda melepas kepergianku dengan gelengan kepala dibarengi senyuman geli. Hei, apa maksud dari senyum dan gelengannya itu?
Tepat pukul tiga sore aku tiba di pelataran kampus Kiara. Kuparkir mobilku dan segera melenggang menuju taman kampus. Entah mengapa, sudah sejak tiga hari yang lalu aku selalu memikirkan gadis wonder women ini. Seperti ingin selalu bersama dan dekat dengannya.
Kemarin kucoba menahan keinginanku itu, yang akhirnya berujung dengan tidak konsentrasi bekerja dan tidak bisa tidur hingga pagi menjelang. Hah, sungguh menyiksa.
Hari ini aku putuskan harus menemuinya. Atau hari-hariku akan semakin berantakan dibuatnya. Sungguh sangat menyebalkan!
Kucoba untuk duduk tenang pada sebuah bangku di sudut taman kampus. Salah satu spot yang sengaja kupilih. Menurutku dari tempat ini nanti aku akan leluasa melihat Kiara keluar dari dalam kelas setelah jam kuliahnya usai.
Benar saja, tidak berapa lama ekor mata elangku ini menangkap keberadaan Kiara yang tengah duduk di samping pintu kelas bersama seorang laki-laki.
Apa? Seorang laki-laki? Hah, biarkan saja. Toh dia tidak lebih tampan dariku.
Kucoba mempertajam indera pendengaran. Namun, tak ada satu pun suara yang bisa kutangkap dari percakapan mereka berdua. Entah apa yang mereka bicarakan. Terserah saja, aku akan menunggu di sini.
Kutunggu beberapa saat, tidak juga Kiara beranjak dari tempat ia duduk. Sebenarnya apa yang mereka berdua bicarakan? Rasa penasaran ini terasa sungguh sangat menyiksa. Aku harus segera menghampiri kedua orang menyebalkan itu. Tapi ... untuk apa? Lebih baik aku tetap di sini saja.
Tidak berapa lama, laki-laki itu tampak mengulurkan tangan dan menyodorkan sesuatu pada Kiara. Apa itu?
Bunga? What the f*ck! Sialan, apa-apaan ini?!
Jiwa kelelakianku mulai kesal dibuatnya. Pelanggaran! Benar-benar pelanggaran fatal. Awas saja, kalian berdua pasti akan mati di tanganku.
BERSAMBUNG ...