
Flashback
Derri dan Freya berjalan pelan menyusuri gang sempit menuju Kos Tisanda yang terletak tak jauh dari SMA Flamboyan 13.
"Terimakasih, Ewon," ucap Freya saat langkah keduanya berhenti tepat di depan pintu pagar Kos Tisanda.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya," jawab Freya. "Malam ini kau telah bersusah payah dan menghamburkan banyak uang hanya untuk merayakan kelulusanku menempuh ujian SMPTN."
"Kau senang?" tanya Derri dengan senyum bahagia.
"Ya. Tapi seharusnya akulah yang mentraktirmu, bukan sebaliknya."
"Tak masalah. Aku senang melakukannya," sahut Derri masih dengan senyum di bibir.
"Kau tak ingin masuk dulu? Kita bisa mengobrol sebentar di teras."
"Kurasa ... tidak perlu. Hari sudah malam, tidak sepantasnya aku bertamu di jam-jam seperti ini," tolak Derri.
"Ya sudah," ucap Freya. Ada gurat kecewa terlukis di wajah ayunya.
"Iya," sahut Derri canggung.
"Hati-hati."
"Aku pergi."
"Baiklah."
"Dagh ...!" Derri berbalik lalu melangkah pergi sembari melambaikan tangan kanan.
"Ewon, tunggu!" teriak Freya tiba-tiba.
Seketika langkah kaki Derri terhenti. "Ada apa?"
"Kau akan langsung pulang?" Tanya Freya.
Derri memandang bingung ke arah Freya.
"Mmm ... maksudku apakah kau tak akan pergi ke tempat lain setelah dari sini?"
"Apa?" tanya Derri semakin bingung.
"Maksudku ... ini masih terlalu sore untuk meninggalkanku sendirian di sini. Bahkan beberapa temanku masih mengobrol dengan kekasihnya di teras kamar."
"Lalu?"
"Kau tidak ingin mampir dulu sebentar?" tanya Freya canggung. "Ah, sial. Bukankah tadi kau sudah menolak tawaranku untuk tetap di sini?"
Derri tersenyum kemudian kembali melangkah mendekat ke arah Freya.
"Aku cukup tahu diri, Freya. Aku tahu ini adalah malam Minggu. Kupikir mungkin kekasihmu akan datang malam ini. Jadi sebaiknya aku pergi saja."
"Aku tak punya kekasih," sahut Freya cepat.
"Bukan berarti aku harus tetap di sini bukan? Aku yakin malam ini akan ada laki-laki yang datang ke sini," papar Derri. "Arifin," lanjutnya. "Dia tak pernah menyerah untuk mendapatkanmu."
"Bagaimana kau tahu?"
"Tentu saja aku tahu," sahut Derri. "Dan aku cukup sadar diri bahwa aku kalah segala-galanya dibanding dia."
"Apa maksudmu?"
"Dia lebih tampan, pintar, dan royal. Dia adalah bintang di SMA Flamboyan 13. Sedangkan aku ... aku hanyalah tukang tawuran yang gemar berkelahi. Jadi kau tidak akan mungkin menyukaiku."
"Bagaimana jika aku memang menyukaimu?"
"Apa?" Kening Derri terkernyit.
Sementara wajah Freya tertunduk menahan gejolak gelisah dan rasa malunya.
"Iya. Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu." Akhirnya Freya memberanikan diri menyatakan perasaannya.
"Apa maksudmu?"
"Saat itu kita masih sama-sama siswa baru di sekolah kita masing-masing. Waktu itu aku datang terlambat ke sekolah. Semua peralatan keperluan MOS-ku jatuh berantakan tepat di depan pintu gerbang sekolahmu karena aku terburu-buru dan takut mendapat hukuman dari kakak pembina MOS. Apa kau mengingatnya?"
"Tiga tahun yang lalu? Maaf, aku tak ingat."
"Saat itu kau baru tiba di depan sekolah. Kau turun dari motor, lalu membantuku memungut dan merapikan semua barang-barang bawaanku. Namun, tanpa menjawab ucapan terimakasih dariku kau pergi begitu saja masuk ke dalam area sekolahmu. Lalu saat pulang sekolah baru kutahu dari Arif bahwa kau pun mendapat hukuman dari panitia MOS di sekolahmu karena datang terlambat. Kau terlambat karena harus membantuku."
"Ah, waktu itu? Ya, aku ingat sekarang," ucap Derri sambil melepas resleting jaketnya. "Kau gadis berkuncir enam dengan pita warna-warni itu?" lanjut Derri.
"Sejujurnya saat itu aku mulai tertarik padamu. Tapi aku tak punya keberanian untuk mendekati, apa lagi mengungkapkan perasaanku padamu."
"Jadi kau ...."
"Iya," sahut Freya di tengah debaran jantung yang tiba-tiba saja semakin kencang. "Mmm .... Ah, kenapa mendadak situasi ini menjadi begitu canggung dan menyebalkan?!"
"Freya ... maaf."
"Tidak apa-apa. Jangan merasa tidak nyaman. Aku bisa mengerti jika kau tidak tertarik padaku," sahut Freya cepat.
"Tidak seharusnya kau mengungkapkan perasaanmu ini padaku."
"Iya, aku tahu. Aku memang tidak pantas. Aku berhayal terlalu tinggi." Freya menundukkan wajah. Menyembunyikan kekecewaan yang ia yakin tergambar jelas di raut wajahnya.
"Freya ... aku ...."
"Sudahlah, aku tak apa-apa." Wajah Freya tertunduk semakin dalam.
"Tidak. Seharusnya akulah yang menyatakan perasaan sukaku padamu. Tapi ternyata aku terlalu pengecut untuk mengakuinya."
"Apa?"
"Ya, aku menyukaimu, Freya," sahut Derri cepat. "Aku mendekatimu tanpa memiliki keberanian untuk menyatakan perasaanku padamu."
"Jadi kau ...."
"Freya, maukah kau menjadi kekasihku?" lanjut Derri dengan degup jantung yang luar biasa kencang."
Flashback off.
___
.
"Bagaimana jika aku memang menyukaimu?"
Kalimat itu terus saja terngiang di telinga Derri. Kalimat yang sama dengan dua suara berbeda, milik Kiara dan Freya saling silih berganti.
"Kiki ... apa yang harus kulakukan?" gumam Derri setelah menghembuskan asap rokok ke luar jendela apartemen Lana.
Saat bersamaan ekor mata laki-laki bersetelan kasual itu menangkap kehadiran Andre.
"Derri ...," panggil Andre pelan.
Derri menoleh tanpa berbalik. Dari ekor mata sipitnya terlihat wajah cemas sekaligus sedih milik Andre.
"Aku baik-baik saja," ucap Derri pelan. "Pergilah."
Dengan langkah pelan Andre berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di samping Derri. Tangan kanannya merogoh sesuatu dari dalam saku celana. Sebungkus rokok filter kini telah beralih tempat dari saku celana ke tangan laki-laki berkulit gelap itu. Turut dinyalakannya sebatang rokok, lalu dihisapnya pelan-pelan racikan nikotin itu dengan nikmat.
"Dua belas tahun lebih," gumam Andre tepat di samping Derri. "Banyak hal terjadi. Banyak hal berlalu. Banyak hal berganti. Banyak hal berubah," lanjutnya. "Tapi tidak denganmu."
Derri menoleh tanpa menimpali. Lalu kembali diacuhkannya laki-laki berpostur tinggi dan tegap di sampingnya itu.
"Kau masih sama menyedihkannya seperti dulu," ucap Andre lagi. "Kau masih memikirkannya?" tanyanya kemudian.
"Dan kau tak suka itu." Bukan jawaban, namun sebuah tuduhan yang Andre dapat.
"Cinta ... aku tak bisa memilih pada siapa panah cinta itu akan tertancap."
"Dan kau tak bisa memilih untuk mencabut panah cinta itu meski kau sendirilah yang akhirnya berdarah-darah," timpal Andre dengan seringai sinis di bibir.
"Kenangan indahku dengannya ... aku tak pernah bisa melupakannya." Derri kembali menghembuskan kepulan asap rokok ke udara bebas, kemudian membuang puntungnya ke luar jendela.
"Namun, kau dengan mudahnya melupakan kenangan pahit kalian." Andre terus berusaha menyudutkan Derri. "Kau ini sangat menyedihkan, Derri."
"Terserah apa katamu saja."
"Dasar bodoh. Kau menunggu kehadirannya dalam kesia-siaan," ucap Andre sinis. "Dan jika dia datang, bisakah kau melupakan kesakitan macam apa yang telah kau rasakan karenanya?"
"Aku tak tahu." Derri menarik nafas panjang, kemudian membuangnya dengan kasar.
"Karena aku yakin kau tidak akan pernah bisa mengabaikan kesalahan fatal yang pernah diperbuatnya."
"Aku ingin melupakannya, tapi tak bisa. Aku ingin menghapus semua tentangnya, tapi tak bisa."
"Semua tentangnya memang bukan untuk dilupakan ataupun dihapus. Apakah aku harus memberikan nasehat padamu agar menjadikan itu sebagai pengalaman berharga yang bisa menuntunmu untuk mendapatkan yang lebih baik?"
"Kau benar, Andre. Sejujurnya aku tak pernah merasa senang, bahagia, apalagi puas saat bersama wanita-wanita itu. Aku selalu merasa ada kehampaan di dalam hatiku meski aku telah berusaha untuk menikmati hidupku. Aku lelah dengan semua ini. Katakan, apa yang harus kulakukan?"
"Kau lihat gadis itu? Aku bisa memastikan gadis itu telah terpikat olehmu."
"Aku tahu."
"Cintanya begitu polos dan tulus."
"Ya, tapi aku tak ingin menjalin kasih dengannya."
"Kenapa?"
"Sakit itu ... rasa sakit itu ... aku tak mau terulang kembali, Andre. Karena rasanya benar-benar sakit."
"Aku tak bisa menjanjikannya. Aku bahkan yakin gadis dari keluarga Syarif itu bisa membuatmu lebih hancur dari pada sekarang."
"Aku pun juga tak ingin dia jatuh hati padaku."
"Tapi saat ini hal itu sudah terjadi padanya. Dia telah jatuh cinta padamu."
"Justru itulah yang kutakutkan. Aku tak ingin dia kecewa dan patah hati karena aku tak yakin bisa memberikan cintaku seutuhnya."
"Tak perlu. Kau tak perlu mencintainya. Buka hatimu saja. Kurasa itu sudah cukup," sahut Andre cepat. "Dengan begitu kau akan segera menyadari bahwa kau sebenarnya telah jatuh dalam pesona gadis itu juga."
"Hei, makanan sudah siap," teriak Lana yang tiba-tiba saja sudah berdiri tak jauh dari mereka berdua. "Ayo cepat turun."
___
.
Mobil sport putih berhenti di halaman sebuah rumah mewah dengan taman bunga kecil di sisi kiri. Pemiliknya mematikan mesin mobil setelah memarkirkan pada posisi yang semestinya.
Derri, pemilik mobil itu, segera beringsut untuk membuka pintu mobil.
"Om ...," panggil Kiara pelan tepat saat tangan Derri menyentuh pintu mobil.
Seketika gerakan Derri terhenti.
"Ya?" Diurungkan niatnya, kemudian kembali duduk pada posisi semula.
"Maaf ...," ucap Kiara dengan wajah sendu penuh penyesalan.
"Maaf? Atas apa?" tanya Derri tak mengerti.
"Aku ... tadi aku telah membuat Om marah."
"Marah? Aku tidak marah."
"Tapi Om mendiamkanku selama kita makan malam bersama Lana dan Om Andre."
"Bukankah kita tidak boleh berbicara sambil makan? Itu kudapatkan saat masih di taman kanak-kanak," sahut Derri yang mencoba berkelakar, tapi justru terdengar garing dalam situasi yang tak tepat itu.
"Tapi biasanya Om selalu berisik saat makan," sahut Kiara.
"Apa? Jadi begitu? Mama juga selalu bilang hal yang sama. Hah, ternyata kau begitu memahamiku!"
"Om juga terus diam selama perjalanan mengantarku pulang."
"Itu karena aku harus berkonsentrasi dengan setir. Bukankah ini malam Minggu? Jalanan selalu mendadak ramai di akhir pekan."
"Tapi biasanya Om tak pernah selengang ini."
"Benarkah?"
"Maafkan aku, Om. Mungkin ucapanku tadi telah menyinggung perasaan Om."
"Hei ...."
"Tidak, biarkan aku bicara, Om. Kebisuan ini sungguh sangat menyiksaku. Sejujurnya aku bingung, aku tak tahu di mana letak kesalahanku." Wajah Kiara tertunduk dalam. "Meski bertanya pun aku yakin Om tidak akan mau menjelaskannya padaku. Tiba-tiba saja Om mendiamkanku seperti ini. Aku sungguh minta maaf untuk semua hal yang pernah kulakukan pada Om." Gadis itu memainkan jemari-jemari kedua tangan untuk mengusir kegelisahan dan kegugupan yang dirasakannya saat ini. "Jika Om keberatan dengan perjodohan ini, jika Om tak nyaman dengan keberadaanku, aku akan menjauh setelah satu kata maaf dari Om. Aku janji," lanjutnya cepat dalam satu tarikan nafas.
"Kiki ...." Derri menatap Kiara dengan penuh rasa bersalah. "Tidak, Ki. Akulah yang seharusnya minta maaf padamu. Maafkan aku yang telah membuatmu merasa tak nyaman malam ini," ucap Derri pelan.
Kiara diam tak menjawab. Begitu juga Derri, ia tak lagi bersuara. Keduanya tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Gadis itu sedang sibuk menata hatinya. Ia harus mempersiapkan segala kemungkinan yang akan Derri ucapkan padanya malam itu.
"Katakanlah sesuatu, Om," ucap Kiara akhirnya.
"Kau yakin?" Perlahan tangan Derri terulur. Diraihnya jemari kedua tangan Kiara. "Aku takut apa yang kuucapkan akan menyakiti hati dan perasaanmu," lanjutnya.
Ya, memang tidak sedikit wanita yang berakhir dengan sakit hati dan keterpurukan setelah memutuskan untuk jatuh cinta pada laki-laki bermata sipit itu.
"Aku ... sejujurnya aku tengah bingung dengan perasaanku sendiri. Aku merasa nyaman denganmu. Aku selalu menikmati setiap kebersamaan kita. Tapi jika menyebut itu sebagai cinta ... sepertinya ini terlalu terburu-buru. Aku tak ingin menyakitimu sebab cintaku tak setulus dan sebesar yang kau pikir. Aku takut tak bisa membalas cinta dan perasaan tulusmu itu. Jika kita memutuskan untuk bersama ... aku tak yakin apakah aku bisa menghapus jejak-jejak Freya dalam hubungan kita atau tidak. Oh Kiki ... andai aku bisa mengucapkan semua kalimat ini di hadapanmu," ucap Derri dalam hati.
"Aku yakin, Om," ucap Kiara.
Derri menghela nafas berat kemudian menatap netra bening di hadapannya itu dalam-dalam.
"Begini ... aku merasa kau adalah gadis yang sangat menarik. Sejujurnya aku nyaman denganmu. Aku menikmati setiap kebersamaan kita," ucap Derri. "Dan terkadang aku kesal jika harus berpisah setelah mengantarmu pulang. Seperti saat ini," lanjutnya. "Konyol bukan?"
Derri tersenyum. Dieratkannya genggaman pada kedua tangan halus itu.
"Aku ingin ... aku ingin kita berdua sama-sama membuka hati masing-masing. Kita akan mencoba untuk menerima perjodohan ini. Kau adalah calon istriku ... satu-satunya wanita di hatiku. Begitu juga sebaliknya, aku adalah calon suamimu, satu-satunya laki-laki di hatimu. Aku adalah milikmu. Aku milikmu sepenuhnya."
"Milikku sepenuhnya? Berarti aku boleh melakukan dan meminta apapun pada Om?"
"Kau boleh melakukan apapun padaku. Kau boleh meminta apapun padaku."
"Apapun?"
"Iya, apapun."
"Termasuk ... ini?" Kiara mendaratkan kecupan sekilas di bibir Derri.
Hanya sekilas. Namun, cukup membuat Derri diam terpaku, lebih tepatnya terbengong, tak menyangka akan mendapat kejutan semacam itu dari calon istrinya.
"Kau mulai nakal rupanya ya," hardik Derri dengan seringai di bibir.
"Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku serius, Om!" Kiara beralasan.
"Biasanya aku yang menciummu, kenapa kali ini jadi kau yang menciumku ...," goda Derri lagi tanpa tedeng aling-aling.
"Aku ... aku ... ya Tuhan, apa yang baru saja kulakukan? Hah, dasar bod*h. Benar-benar memalukan," rutuk Kiara pada dirinya sendiri yang justru mengundang tawa di bibir Derri.
Kiara menunduk dalam, berusaha menyembunyikan rasa malu luar biasa yang sudah pasti tergambar jelas di wajah ayunya, sambil memukuli kepala dengan tangannya sendiri.
Tangan Derri kembali terulur. Direngkuhnya tubuh mungil di hadapannya itu ke dalam pelukan.
"Kau benar-benar menggemaskan, Ki," ucap Derri di antara senyum gemasnya. Tangan kiri tetap memeluk erat tubuh gadis remaja itu, sementara tangan kanan mengusap puncak kepala sang gadis dengan penuh sayang.
BERSAMBUNG ...