I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 22. Kepergian Stella



"Ya. Kau benar, Brenda. Erik harus sudah menerima emailnya sebelum jam makan siang."


"Baik, Pak."


Derri bangkit dari kursi kebesarannya. Berjalan pelan menuju sofa di sudut ruangan dengan map merah di tangan kiri dan bolpoint di tangan kanan.


"Pastikan kita mendapat balasan email hari ini juga."


"Baik, Pak."


"Kurasa hanya itu saja." Derri menghenyakkan pantatnya di sofa, tepat di sebelah Lana. "Kau boleh kembali ke ruanganmu."


"Baik, Pak. Saya permisi," pamit Brenda sopan.


Derri mengangguk kemudian mulai fokus dengan map merah berisi berkas print out yang baru saja diberikan oleh Brenda.


"Kau tidak ingin pergi?" tanya Derri tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang tengah ia pelajari.


"Sebentar lagi," jawab Lana dengan tatapan tetap ke arah majalan mode yang dibawakan oleh Andre beberapa waktu yang lalu.


"Apakah tidak ada pekerjaan yang harus kau selesaikan di butik?"


"Kau mengusirku?" Lana menoleh kemudian menatap tajam ke arah Derri.


"Kau sedang datang bulan?" Derri menoleh kemudian melempar senyum pada wanita berambut sebahu itu.


"Apa maksudmu?"


"Kau jutek sekali," jawab Derri. "Dan sangat sensitif," tambahnya. "Atau jangan-jangan kau sedang hamil muda?"


"Hei, jaga ucapanmu!" hardik Lana galak. "Kau ini memang kakakku, tapi bukan berarti kau boleh tidak sopan padaku."


"Ya Tuhan, aku hanya bertanya ... dimana tidak sopannya?" gumam Derri serba salah.


Pandangan Derri beralih pada Andre yang sedari tadi hanya diam, sibuk memeriksa email yang masuk ke dalam ponsel pintarnya.


"Apa kau benar-benar belum menyentuhnya, Andre?"


Andre mendongak, melancarkan tatapan tajam ke arah bos yang kini ia yakini tak berakhlak itu. Sementara yang ditatap hanya pura-pura tak tahu dan lebih memilih untuk melanjutkan kesibukannya.


Akhirnya ketiga orang di dalam ruangan itu terdiam dengan kesibukan masing-masing, hingga tiba-tiba ponsel Derri yang tergeletak di atas meja kerja meraung-raung pertanda ada panggilan masuk.


Derri bangkit dari posisi duduk. Dihampirinya benda tipis yang terus berbunyi itu masih dengan berkas dan bolpoint di kedua tangan.


"Kiara ...," gumam Derri pelan.


Laki-laki bersetelan jas putih itu menggeser ikon gagang telepon hijau pada layar tanpa mengambil ponsel dari posisinya di atas meja. Tak lupa disentuhnya juga fitur load spiker.


"Iya, Ki. Ada apa?" sapa Derri sembari menyandarkan pantatnya di tepian meja kerja.


"Om sibuk hari ini?"


"Lumayan. Tapi aku akan meluangkan waktu jika itu untukmu."


"Bagaimana jika kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Om."


"Dimana?"


"Candy Vanilla Fruity. Bagaimana?"


"Candy Vanilla Fruity? Tempat apa itu? Dimana?"


"Di depan Luwak Coffee Shop, Om."


"Bukankah itu kedai es krim?"


"Iya, Om."


"Baiklah, apa pun untukmu. Kita bertemu satu jam lagi."


"Ok, Om. Aku tidak akan terlambat."


"Iya, sampai jumpa nanti."


Derri meletakkan berkas yang tengah dipegangnya ke atas meja. Dihelanya nafas dalam-dalam kemudian kembali dihembuskan dengan kasar. Seperti berusaha untuk mengeluarkan semua kemelut di dalam hati dan pikirannya bersama hembusan nafas itu.


"Kenapa?" tanya Lana. Wanita bertubuh semampai itu menduga ada yang tak beres dengan kakak laki-lakinya itu.


"Ternyata tidak semudah yang kukira," sahut Derri. Dibuang pandangannya ke sembarang arah. "Berkencan di kedai es krim? Ya Tuhan, apakah tidak ada tempat yang lebih kekanak-kanakan lainnya lagi?"


"Ya sudah, kau berkencan saja denganku dan lupakan dia," sahut Lana santai. Tangan kanannya bergerak membalik halaman berikutnya dari majalah yang tengah ia baca.


Mendengar kalimat itu, Andre langsung melirik tajam ke arah Lana, kemudian menatap jengah ke arah bosnya yang hanya membalas dengan lirikan sekilas tanpa perduli apa maksud dari tatapan itu.


Belum sempat beranjak dari tempatnya duduk, ponsel Derri kembali berdering. Kepala laki-laki berparas Asia itu bergerak pelan, menoleh untuk memeriksa layar benda persegi itu, lagi-lagi tanpa menyentuhnya. Tampak nama Stella sebagai pemanggil tertera jelas di sana.


"Stella ...," gumam Derri pelan.


"Salahkah jika kukatakan kau begitu beruntung, di kelilingi oleh banyak wanita cantik di sekitarmu?" komentar Lana begitu mendengar gumaman kakaknya.


"Demi Tuhan, aku tak pernah memintanya," sahut Derri. "Lalat-lalat itu ... aku sama sekali tak menginginkannya."


"Kecuali aku tentunya," sahut Lana sembari menutup majalan di atas pangkuan kedua pahanya. "Cepat angkatlah, telingaku terganggu dengan ringtoon berisikmu itu."


Tanpa mendebat, Derri segera mengaktifkan mode load speaker untuk percakapannya dengan Stella.


"Ya, Stella ...," sapa Derri.


"Aku ingin bertemu denganmu, Derri."


"Apakah ada sesuatu yang mendesak dan harus kita bicarakan saat ini juga?


"Sekarang juga."


"Sepenting itu kah?"


"Sangat penting. Bagaimana jika aku ke kantormu sekarang?"


"Ah, tidak. Kita bertemu di luar saja. Kebetulan ada sesuatu yang harus kubereskan di luar pekerjaan."


"Baiklah. Dimana?"


"Candy Vanilla Fruity."


"Apa?"


"Candy Vanilla Fruity."


"Kau serius ingin bernostalgia dengan masa pubermu?"


"Sudah kukatakan bukan ... ada sesuatu yang harus kukerjakan di sana."


"Ok. Terserah kau saja."


"Baiklah, kita bertemu lima belas menit lagi."


"Ok. Sampai bertemu nanti. Bye."


"Bye."


Panggilan terputus, menyisakan Derri yang terdiam dengan wajah bingung.


"Ada apa?" Andre angkat bicara.


"Stella ... tidak biasanya dia seperti ini. Panggilan ini terlalu singkat dan terburu-buru. Biasanya dia betah berjam-jam di pesawat telepon bersamaku. Aku khawatir dia berada dalam bahaya."


"Apa maksudmu?" Lana memutar kedua bola matanya jengah.


"Mungkin dia meneleponku di bawah todongan senjata api oleh penjahat. Jadi.harus cepat-cepat.


"Sinting," gerutu Lana pada ucapan absurd kakaknya. Dialihkan pandangannya pada Andre. "Aku pergi."


"Aku ikut denganmu," seru Andre sembari bangkit dari duduknya, kemudian buru-buru mengikuti langkah lebar Lana.


Lima belas menit kemudian, Derri tiba di Candy Vanilla Fruity. Disapukan pandangan ke seluruh ruangan. Dua netra hitamnya menemukan keberadaan Stella tak jauh dari pintu masuk. Dengan langkah lebar segera dihampirinya gadis itu. Tak lupa seulas senyum manis tersungging di bibir.


"Menunggu lama?" sapa Derri yang langsung mengambil duduk di hadapan Stella.


"Tepat sepuluh menit dari terakhir kali aku mendengar suaramu tadi," jawab Stella setelah memeriksa jarum jam di pergelangan tangannya.


"Jadi kurasa aku tak perlu meminta maaf," sahut Derri.


"Tidak buruk juga," ucap Stella setelah menyuap satu sendok kecil es krim vanilla ke dalam mulut.


"Apanya?"


"Seleramu," jawab Stella. "Tadinya aku berfikir tentang apa yang salah dengan dirimu yang tiba-tiba saja lebih menyukai kedai es krim dari pada kedai kopi. Tapi ternya es krim di tempat ini memang benar-benar enak."


Tangan kanan Derri terulur. Diambilnya sendok dari tangan Stella, kemudian dicicipinya es krim milik gadis itu dalam satu suapan. Kepalanya manggut-manggut mengiyakan pendapat Stella sambil menikmati es krim yang benar-benar lumer di lidah. Sesaat kemudian tangan Derri kembali terulur. Disendoknya satu sendokan es krim dengan tangan kanan.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku kali ini?" tanya Derri sembari menyuapkan es krim pada Stella.


"Tidak ada. Aku hanya merindukanmu."


"Tapi kali ini kau terkesan memaksaku untuk bertemu." Derri kembali menyuapkan es krim ke dalam mulut Stella. "Ditambah lagi kau membawa koper sebesar ini? Apakah ada masalah?"


"Aish, baiklah." Akhirnya Stella menyerah. "Papa memaksaku untuk pulang hari ini juga."


"Begitu kah? Apakah terjadi sesuatu di rumahmu?" tanya Derri cemas. Wajahnya menunjukkan rasa khawatir yang kentara. "Hingga kau harus membawa semua barang-barangmu?"


"Ayah menjodohkanku dengan putra rekan bisnisnya."


"Apa?" tanya Derri dengan ekspresi tak percaya.


"Aku akan terbang hari ini juga."


"Harus hari ini juga?"


"Papa telah mengatur makan malam kedua keluarga untuk nanti malam."


"Dan kapan kau akan kembali?"


"Aku yakin ... aku tak akan kembali."


"Kenapa?"


"Tak ada lagi yang harus kukejar di sini. Tak ada yang harus kuperjuangkan lagi di sini."


"Apa maksudmu?"


"Kau adalah alasanku tetap bertahan di sini, Derri."


"Kau yang menolakku," sahut Derri sendu.


"Kau katakan padaku bahwa kau tak akan pernah bisa melupakan dia," tukas Stella cepat. "Dia akan selalu menjadi cintamu."


Ucapan Stella terhenti. Ditariknya nafas dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan namun jelas terlihat terasa berat sebelum kembali berucap.


"Kau tanyakan padaku apakah aku tidak apa-apa jika menjadi yang kedua."


"Lalu kau memutuskan untuk menolakku." Derri melanjutkan ucapan Stella dengan suara bergetar.


"Kau pikir memangnya wanita mana yang bisa berada pada posisi seperti itu?"


"Maaf, maafkan aku Stella ...."


"Andai kata maaf bisa menghapus perasaanku padamu, Derri," gumam Stella lirih.


"Apakah ... kau sudah tahu siapa dia?" Derri berusaha memecah rasa tertekan yang mendadak tercipta.


"Aku bahkan sudah mengenalnya. Kami pernah satu kelas saat di SMA."


"Jadi kau menyukainya?"


"Kau bahkan tahu untuk siapa hati ini kujaga," jawab Stella dengan pandangan sendu ke arah Derri.


Derri terdiam, tak tahu harus berkata apa. Begitu juga halnya dengan Stella. Gadis itu mencoba mengumpulkan keyakinannya untuk kembali ke pelukan ayahnya hari ini juga.


"Bolehkah sekali lagi aku mengakui perasaanku padamu?" Tiba-tiba saja suara Stella memecah kesunyian di antara keduanya.


"Tidak, Stella ...."


"Kurasa ini adalah kesempatan terakhirku sebelum aku pergi selama-lamanya dari sekelilingmu."


"Jangan lakukan itu."


"Masih ingatkah pertama kali kita bertemu?" Stella tak menggubris ucapan Derri. "Mungkin lima atau enam tahun yang lalu. Waktu kau menolongku dari kekejaman para begal di malam itu."


Derri terdiam, tak mampu lagi mencegah keinginan gadis di hadapannya itu.


"Ya Tuhan, kau tahu bagaimana takutnya aku waktu itu? Aku bahkan sudah berfikir bahwa nyawaku akan berakhir malam itu juga, seperti yang sering diberitakan dalam televisi bahwa kawanan begal itu sering kali membunuh korbannya."


Perlahan sebuah binar cerah merayapi kedua netra bening gadis itu.


"Lalu tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan kau dengan beraninya menghadapi mereka yang berjumlah empat orang itu."


"Kau berlebihan," sahut Derri dengan wajah tersipu malu. "Andre yang menghabisi mereka, bukan aku."


"Sejak saat itu ... entah kenapa wajahmu selalu membayangi pikiranku. Aku mulai mencari tahu semua hal tentang dirimu. Aku sempat kecewa saat mengetahui bagaimana kau menjalani keseharian hidupmu ... dengan kehidupan malam dan gaya hidup bebas. Tapi entah mengapa aku tetap ingin selalu dekat denganmu. Aku bahkan merengek pada ayahku agar memperbolehkanku melanjutkan studi S2 di kota ini agar bisa selalu dekat denganmu."


Tangan Stella bergerak kembali menyuap sesendok es krim ke dalam mulutnya sendiri.


"Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa itu adalah benih-benih cinta yang akhirnya tumbuh semakin subur meskipun tanpa kau siram dan kau pupuk, Derri."


Satu lembar tisu berpindah dari kotaknya ke dalam genggaman tangan kiri Stella.


"Kau tahu betapa hancurnya hatiku saat mengetahui bahwa kau telah memiliki seseorang yang sangat kau cintai? Walau dia telah memberikan kenangan begitu buruk dalam ingatanmu, walaupun dia telah menggoreskan luka yang begitu dalam di hatimu ... dia tetap satu-satunya wanita yang ada di hatimu. Freya ...."


Derri tersentak saat mendengar wanita cantik itu menyebut nama yang sangat tak asing dalam ingatannya.


"Bagaimana kau tahu nama itu?" tanya Derri dengan kedua mata terbelalak tak percaya.


"Dan lebih terluka lagi saat aku menyadari bahwa kehidupan liarmu itu adalah cara pengalihan dan pelampiasan atas kehancuran hatimu. Dibalik kesuksesan yang sangat gemilang itu ternyata tersimpan luka yang sangat mendalam."


"Stella, hentikan ...," mohon Derri lirih.


"Derri, sampai hari ini perasaan itu tak pernah berubah. Aku masih tetap mencintaimu. Tak bisakah sedikit saja kau memberikan ruang di hatimu itu untukku?"


"Stella, kumohon ...."


"Kurasa jawabannya adalah tidak," ucap Stella sembari memeriksa jarum jam di pergelangan tangannya. "Baiklah, aku harus segera pergi. Aku tak mau ketinggalan pesawat. Kini tak ada lagi alasan bagiku untuk tetap berada di seputarmu, Derri."


Perlahan Stella bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Derri. Laki-laki berparas tampan itu melangkah pelan memutari meja agar dapat berdiri tepat di hadapan Stella.


"Harus seperti ini kah cara kita berpisah?" Derri memandang wajah Stella tanpa berkedip.


"Aku harus pergi, Derri."


Derri mengayukan kakinya satu langkah ke depan. Dikecupnya kening gadis bertubuh semampai itu dengan lembut.


"Stella, maafkan aku yang telah melukai perasaanmu. Aku tahu enam tahun mengenalku adalah hal tak mudah bagimu."


Seketika dua butir bening jatuh membasahi kedua pipi mulus gadis dalam pandangan Derri itu. Butiran yang semenjak tadi telah berusaha ditahannya agar tak jatuh dan pecah. Namun, ternyata usahanya sia-sia. Berakhir dengan koyaknya pertahanan gadis itu hingga menghadirkan aliran bening di kedua pipi.


"Aku berharap banyak pada laki-laki pilihan ayahmu itu. Semoga dia bisa mencurahkan segala cinta untuk membahagiakanmu."


"Tahan aku. Cegah aku. Maka aku akan melanjutkan perjuanganku untuk mengejarmu," ucap Stella penuh harap, kemudian perlahan melangkahkan kaki meninggalkan Derri yang hanya bergeming di tempatnya.


Stella terus melangkah pelan menuju pintu keluar dengan koper besar ia seret lemah dengan tangan kiri.


Sesaat kemudian Derri bangkit dari duduknya, kemudian menoleh ke belakang bertepatan dengan Stella yang tengah berjalan pelan melewati pintu. Saat itu juga kedua netra Derri menangkap keberadaan Kiara yang berdiri terpaku dengan tatapan tajam mengarah padanya.


BERSAMBUNG ...