I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 8. Bertemu Lion



"Om sering makan di sini?" tanya Kiara di sela kunyahannya.


"Tidak juga," jawab Derri tanpa mengalihkan pandangan dari menu yang tengah dinikmatinya. "Hanya beberapa kali, karena restoran ini jauh dari kantor. Rasanya malas saja jika harus jauh-jauh sampai sini hanya demi urusan perut."


"Pasti dengan salah satu teman kencan Om kan?"


Seketika aktivitas Derri terhenti setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil gadis di hadapannya itu. Hanya selama lima detik, kemudian dia mendongak dan melempar senyum jumawa ke arah Kiara.


Saat sedang asyik menyantap makanannya tiba-tiba ponsel Kiara berbunyi, sebagai tanda bahwa ada panggilan masuk.


"Ah, dari Axel," ucap Kiara setelah memerikasa ponselnya. "Tunggu sebentar ya, Om."


"Ya. Jangan lupa katakan bahwa kau sedang makan bersamaku."


"Om cari mati, ya?" hardik Kiara sambil beranjak menjauh.


Saat Kiara tengah sibuk mengangkat telepon dari kekasihnya, Derri pun menghentikan aktivitas makannya. Tiba-tiba saja ia teringat pada Stella. Biasanya ia selalu menikmati sajian di restoran ini bersama Stella. Hanya dengan Stella. Ia tahu bahwa gadis itu sangat menyukai masakan Cina. Sementara Kiara adalah wanita kedua yang telah diajaknya makan di restoran ini.


Setelah beberapa saat terdiam, ia pun mengambil ponsel dari dalam saku celana. Dicarinya satu nama dari daftar kontak. Sesaat ia pun kembali terdiam, sebelum akhirnya mengurungkan niatnya untuk menelepon, dan hanya mengirimkan sebuah pesan.


[Derri: Kapan kau pulang? 14.37] √√.


Pesan terkirim dengan tanda dua checklist hitam.


Iseng-iseng Derri melihat story pada profil Stella. Tampak beberapa foto terlampir di sana. Foto pertama adalah gambar Stella dan dirinya yang saling berangkulan sembari mengumbar tawa lebar. Tampak begitu bahagia berdua.


Foto kedua ialah gambar Stella bersama ayah tercintanya. Terlihat jelas kerinduan di sana. Ya, mereka memang telah lama tak bertemu. Yang ketiga adalah video dirinya yang tengah menikmati makan siang bersama teman-teman yang selama ini sangat dirindukannya.


"Sepertinya dia memang sangat menikmati liburannya kali ini," gumam Derri.


Tiba-tiba saja ponsel Derri berdering. Nama Stella tertera sebagai pemanggil.


"Ya, Stel," sapa Derri begitu panggilan terhubung.


"Kau merindukanku?" terdengar intonasi bahagia di seberang sana.


"Kau pergi terlalu lama," timpal Derri.


"Memang sengaja, agar kau menyadari betapa berharganya diriku.


"Dan sialnya rencanamu itu berjalan mulus."


"Jadi kau benar-benar merindukanku? Baiklah, besok pagi akan akan kembali dengan penerbangan pertama."


"Memang sudah seharusnya," timpal Derri singkat.


"Kau ingin kubawakan oleh-oleh apa?"


"Tidak perlu. Kau kembali kemari lengkap dengan semua konyol dan manjamu saja, itu sudah cukup bagiku."


"Baiklah, sesuai permintaanmu, aku akan membawa segenap cintaku padamu."


"Hahaha ...."


"Kau sedang di mana?"


"Aku sedang makan di restoran langganan kita."


"Tanpaku? Hah, pasti dengan perempuan lain. Mengakulah!"


"Iya."


"Apa?! Kau mulai berani menghianatiku? Baiklah, mulai malam ini jangan coba-coba kau menyentuhku! Kau tidur di luar!"


Panggilan pun terputus sepihak dari ujung telepon tanpa adanya pemberitahuan, apa lagi ucapan-ucapan manis dan romantis.


Sementara Derri hanya menggeleng sembari tersenyum geli dengan kekonyolan Stella barusan.


"Masakannya enak, Om."


Tiba-tiba suara Kiara terdengar kembali. Ternyata gadis itu telah selesai bertelepon dan kembali duduk di hadapan Derri.


"Lain kali aku harus mengajak Axel ke sini." Kiara kembali bersuara.


"Anak ingusan itu ... kenapa kau memacarinya? Apa karena wajahnya?" Tangan Derri nergerak kembali menelusupkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Sebut saja wajahnya tampan," sergah Kiara cepat.


Derri diam tak menyahut, pura-pura sibuk dengan aktivitas makannya.


"Kenapa sulit sekali bagi Om untuk mengakui bahwa Axel itu tampan?" gerutu Kiara kesal.


"Hanya pria tidak normal yang mengatakan laki-laki lain itu tampan," sahut Derri santai. "Dan sayangnya aku bukanlah salah satu dari mereka."


"Tapi bukankah Om bisa mengatakan ...."


"Kiara ...!"


Ucapan Kiara terpotong saat terdengar suara seseorang meneriakkan namanya.


"Kiara ...!"


Suara itu kembali terdengar. Derri dan Kiara, keduanya serempak menoleh ke asal suara.


"Kak Lion ...!" seru Kiara antusias.


"Wah, ternyata benar kau." Lion berjalan mendekat.


"Sedang apa Kakak di sini?" Setahu Kiara rumah Lion sangat jauh dari area restoran tempat di mana ia dan Derri tengah menikmati makan siangnya saat ini.


"Tadi aku sedang menunggu teman di dekat-dekat sini. Kemudian aku lapar dan memutuskan untuk mencoba masakan di restoran ini."


"Apakah teman Kakak


belum datang? Kakak bisa bergabung bersama kami di sini."


"Kau bersama seseorang?"


Lion menoleh ke arah Derri, kemudian melempar senyum dan mengulurkan tangan kanannya dengan ramah.


"Hai, kenalkan namaku Lion. Kau ini ...," ucap Lion menggantung.


Derri menyambut uluran tangan Lion sembari melempar senyum hangat.


"Derri. Namaku Derri. Aku adalah calon ...."


"Ayo Kak Lion, cepat duduk di sini." Kiara sengaja memotong ucapan Derri dan mempersilahkan Lion untuk duduk di sebelahnya. Sementara Derri hanya tersenyum kecil ke arah gadis itu.


"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Lion setelah duduk di samping Kiara.


"Iya, Kak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Saat itu, setelah aku mengantarkanmu pulang, aku terus memikirkanmu. Aku begitu mencemaskanmu."


"Benarkah?"


"Iya, karena keadaanmu saat itu sungguh memprihatinkan. Aku mencoba meneleponmu, tapi tak pernah bisa."


"Terimakasih telah mencemaskanku, Kak Lion. Maaf, ponselku hilang saat liburan ke Bali bersama teman-teman dulu itu."


"Pantas saja tidak bisa dihubungi," gumam Lion. "Ya sudah, kau masukkan nomormu yang baru di ponselku."


Lion menyodorkan ponselnya pada Kiara.


"Kalian teman dekat?" Tiba-tiba Derri turut bicara.


"Ah, maaf, aku tak bermaksud mengabaikanmu," sahut Lion dengan senyum ramahnya. "Kiara adalah teman sekolah adikku. Dulu dia sering main dan menginap di rumah kami."


"Pantas saja kalian terlihat begitu akrab."


Kiara menyerahkan ponsel milik Lion tepat disaat benda itu berdering. Lion pun buru-buru mengangkat panggilan itu.


"Halo," sapa Lion begitu tersambung.


"Aku sudah sampai."


"Ah, iya. Aku sudah melihatmu."


"Baiklah, kau saja yang kemari."


Lion bangkit dari posisinya, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Sepertinya temanku sudah datang. Maaf, aku harus pergi," pamit Lion.


"Iya, Kak. Tidak apa-apa," balas Kiara.


"Kau bisa mengajaknya bergabung di meja kami saja." Derri menawarkan.


"Terimakasih, tapi ada beberapa hal yang harus kami bicarakan," tolak Lion halus. "Senang berkenalan denganmu."


"Aku juga."


"Tatapanmu .... Caramu menatap mengingatkanku pada seseorang."


Keduanya pun tergelak geli ala pria. Diikuti tawa Kiara yang tak paham betul apa maksud dari percakapan kedua laki-laki di hadapannya itu.


"Memangnya seperti apa hubungan kalian?" tanya Derri setelah Lion duduk di meja paling ujung bersama temannya. "Sepertinya bukan sekedar kakak dengan teman adik perempuannya."


"Jangan sok tahu." Kiara mendengus pelan.


"Aku memang selalu tahu."


"Dia sangat khawatir karena pernah menemukanku dalam keadaan kacau di tepi jalan," tutur Kiara. "Benar-benar kacau."


Ingatan Kiara melayang ke masa dua minggu yang lalu, saat ia pulang dari kantor Derri. Setelah puas memaki-maki dan menyerang laki-laki bermata sipit itu, ia segera bergegas pulang.


Saat itu Kiara berjalan gontai menyusuri trotoar yang panas oleh terik matahari. Beberapa helai rambut yang diekor kuda menjuntai terlepas dari ikatan. Dalam hati ia merutuki kekonyolannya.


"Kenapa harus ada aksi lempar sepatu segala sih!" rutuknya sambil menatap ke arah telapak kakinya, hanya sebelah saja yang beralas.


Dihentikan langkahnya sejenak untuk mengatur nafas yang semakin berat. Lelah, haus, lapar, tanpa uang dan tanpa ponsel. Kombinasi rasa yang menyempurnakan kesialannya saat ini.


"Kiara ...!" Terdengar seseorang memanggil namanya. Dengan malas didongakkan wajahnya ke arah lapisan aspal yang masih sangat ramai oleh para pengguna jalan.


"Kak Lion." Kiara menyebut nama orang tersebut dengan mata berbinar. Laki-laki itu segera menghampiri Kiara setelah menepikan mobilnya.


"Kok disini sih? Sedang apa?" tanya Lion.


"Sedang makan." Kiara menjawab asal. "Sudah tahu sedang mengendurkan kaki karena lelah, masih bertanya juga," sungut Kiara yang disambut dengan tawa renyah laki-laki yang turut jongkok di sampingnya itu.


"Tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini. Tempat ini kan lumayan jauh dari area rumahmu," ucap Lion. "Makanya tadi sempat ragu, apalagi penampilanmu terlihat sangat kacau seperti ini."


Kiara segera memperhatikan penampilannya dari pantulan body mobil Lion yang terparkir di depannya. Kaos ping lengan pendek berpotongan kerah V yang sudah basah oleh peluh, dipadu celana jeans panjang warna hitam dan sepatu kets hanya sebelah. Ditambah dengan wajah kucel dan rambut ekor kuda yang berantakan, tampak seperti sudah satu minggu tidak tersentuh sisir. Memang benar, dia sekarang tampak seperti gelandangan saja.


"Tapi setelah dekat ternyata benar-benar kamu." Ucapan Lion kembali membuyarkan lamunannya.


"Anterin pulang yuk," rengek Kiara sedikit manja.


"Tentu." Lion menjawab cepat. "Masih bisa jalan sendiri ke mobil, kan? Atau perlu kugendong?"


"Bisa sendiri. Asal di dalam mobil ada minuman dan makanan yang siap santap."


"Lapar?" tanya Lion penuh perhatian yang hanya dijawab dengan anggukan kecil gadis cantik itu. "Ya sudah, kita makan dulu. Baru kemudian aku mengantarmu pulang."


Kiara mengiyakan dengan senyum manis terulas di bibir.


Lion adalah kakak dari teman sekelasnya, Suzi. Katanya sih sedang menyelesaikan skripsi, makanya lebih sering main dari pada ke kampus.


Tampan, pintar, ramah dan supel, membuat dia menjadi idaman para wanita. Tidak terkecuali Kiara. Pernah suatu saat Lion menyatakan perasaannya pada Kiara. Pucuk dicinta ulam pun tiba, siapa sih yang bisa menolak pesona laki-laki setampan itu? Namun Kiara harus bisa, karena sekarang ia telah memiliki Axel di hatinya.


Axel adalah sosok laki-laki yang lembut, sabar dan pengertian. Sebenarnya sudah sejak awal kelas satu dulu dia mencoba mendekati Kiara. Namun ternyata memang bukan hal yang mudah baginya untuk menakhlukkan hati dara satu ini. Memang bukan primadona di sekolah, tetapi lumayan banyak juga saingan yang harus Axel singkirkan.


Mudah saja bagi Kiara untuk menerima cinta Lion dan meninggalkan Axel. Namun itu bukan sifat Kiara. Karena telah begitu banyak cerita pahit dan manis yang dilaluinya bersama Axel dalam satu tahun menjalin hubungan ini. Dan itu semua tidak sebanding dengan ketertarikan sesaatnya pada Lion.


"Sepertinya dia menyukaimu." Kalimat pendek yang meluncur dari mulut Derri berhasil mengembalikan kesadaran Kiara.


Gadis berambut sepunggung itu tersentak dari lamunan, membuatnya menjadi gugup saat menanggapi ucapan Derri.


"Ap-apa? Tadi Om bilang apa?"


"Aku bilang ... laki-laki itu menyukaimu."


"Ah, mana mungkin, Om?" Ucapan Kiara terdengar canggung disertai dengan wajah bersemu merah. "Om jangan mengada-ada. Bagaimana mungkin Kak Lion menyukai gadis SMA sepertiku."


"Biasanya aku tidak pernah salah dalam membaca perasaan seseorang."


Wajah Kiara semakin berona mendengar ucapan Derri.


"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa jadi kemerahan? Hei, jangan bilang kau sebenarnya menyukainya," tembak Derri tepat sasaran.


"Jangan bicara sembarangan, Om!" hardik Kiara. "Mana mungkin aku menyukai Kak Lion!"


"Dan mana mungkin aku salah," sanggah Derri tak mau kalah. "Lagi pula tadi aku tidak menyebut namanya, kenapa kau langsung berasumsi padanya?"


Seketika wajah Kiara menjadi aemakin merah karena menahan kesal dan malu secara bersamaan.


"Apa-apan sih Om ini! Sudah, diamlah, nanti Kak Lion bisa dengar!" hardik Kiara sambil melirik ke arah meja Lion di sudut ruangan.


"Hahaha ... dasar abege!" Derri membetulkan letak duduknya. "Bagaimana jika bocah ingusan itu sampai tahu?"


"Apa maksud Om?"


"Si Axel itu. Jika dia tahu bahwa hatimu telah bercabang pada laki-laki lain, kira-kira apa yang akan terjadi pada hatinya?"


"Om jangan main-main ya."


"Apa aku terlihat seperti sedang main-main?"


"Baiklah, sekarang katakan berapa mau Om!"


"Uang? Ya Tuhan, aku memiliki bertumpuk-tumpuk uang di rumahku. Aku tak butuh uang jajanmu yang tak seberapa itu."


Derri tersenyum puas. Sepertinya ia sangat menikmati wajah kesal sekaligus memelas milik Kiara.


"Lalu ... baiklah, apa yang Om inginkan? Aku akan melakukan apa pun."


"Ya Tuhan, kau justru tampak cantik saat sedang menunjukkan kelemahanmu seperti ini."


"Sudah, jangan bertele-tele dengan merayuku seperti ini. Cepat katakan apa mau Om!"


"Aku serius memujimu, bukan sedang merayu."


Kiara diam tak menyahut. Namun wajah cantiknya memgambarkan rasa malu dan kesal yang teramat sangat.


"Hei, ayolah ... aku bukan tipe laki-laki yang senang memanfaatkan kelemahan seseorang."


Derri kembali bicara sebab Kiara tak juga bersuara.


"Nikmati saja hubunganmu dengan bocah ingusan itu, aku tak akan mengganggu. Semakin dekat dan erat, maka akan semakin baik."


___


.


Derri dan Kiara segera turun setelah mobil terparkir dengan rapi di halaman rumah. Mereka berjalan beriringan ke dalam rumah sambil bersendau gurau.


Saat melewati pintu ruang tengah tiba-tiba Derri mengaduh sambil menahan sakit.


"Ini dia yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga!" seru Tante Mike sambil menjewer telinga kiri Derri.


"Aduh,aduduh ...! Tolong lepaskan, Mama. Sakit." Derri menyipitkan matanya menahan sakit.


"Lebih sakit mana, hati Mama atau telinga, mata, dan mulutmu yang tidak disekolahkan ini!" bentak Mike dengan posisi jari-jari kanan masih di telinga kiri Derri.


Sementar Kiara hanya diam memperhatikan drama di hadapannya itu tanpa berkomentar.


"Apa maksud, Mama?" tanya Derri


"Mama menjodohkanmu dengan Kiara, bukan berarti kau boleh memperlakukan Kiara seenak perutmu saja!"


"Aku tidak paham, Ma. To the point saja."


"Siapa yang menyuruhmu mencium Kiara? Main sosor saja!" Tante Mike melepas tangannya dari telinga Derri.


"Itu ... itu ...," Derri bingung harus menjawab apa. "Ah tante, wajar jika aku menciumnya. Bukankah dia itu calon istriku?"


"Baru calon. Papa Keanu dulu juga sering mencium Mama sebelum menikah. Tapi tidak main sosor saja seperti kelakuanmu itu!"


Kiara menggeleng-gelengkan kepala melihat adegan dramatis di hadapannya itu. "Ibu dan anak sama saja," gumamnya malas lalu segera naik ke kamarnya di lantai dua.


"Iya, Mama. Maafkan aku. Tidak akan aku ulangi."


"Awas ya kalau sampai macam-macam dengan Kiara. Akan Mama tumbuk kau menjadi perkedel!"


"Iya, Mama, sementara ini aku tidak akan berbuat macam-macam. Hanya satu macam saja."


"Apa itu?"


"Memeluk Kiara."


"Hei, dasar calon menantu kurang ajar!" seru Mike sambil mengulurkan tangan kanannya hendak kembali menkewer telinga Derri.


"Ampun, Mama, ampun. Hanya bercanda." teriak Derri sambil lari ke lantai atas.


"Hei, awas kamu ya. Mau kemana?" teriak mama.


"Ke kamar Kiara, Ma."


"Mau apa?"


"Mencium Kiara."


"Klothak!" tiba-tiba sandal bakiak Mike sudah mendarat tepat di kening Derri.


BERSAMBUNG ...