
Sambil bernyanyi riang, Kiara mematut diri di depan cermin. Dress overal warna dark brown dipadu dengan inner ketat warna putih membalut rapi bagian tubuhnya. Rambut lurusnya diikat ke belakang dengan poni menjuntai tipis di kedua sisi. Kakinya terbalut sempurna dengan sepatu boot warna cokelat, senada dengan slingbag cokelat muda yang menggelayut di bahu kiri. Sentuhan lipstik warna baby pink pada bibir tipisnya semakin memberikan kesan fresh pada wajah cantik gadis remaja itu.
Perlu kalian ketahui, outfitnya kali ini adalah pemberian dari Derri. Laki-laki itu sendiri yang memilih dan membelikan untuk Kiara saat liburan di Jogja hampir dua minggu yang lalu.
"Hanya dengan memakai baju pemberiannya saja jantungku bisa menggila, apa lagi kalau dipeluk olehnya," ucap Kiara pada dirinya sendiri. "Bisa-bisa otakku yang jadi gila," imbuh Kiara sambil senyum-senyum sendiri.
"Hei, Kiki," ucap Kiara pada pantulan wajahnya di permukaan cermin. "Sepertinya kamu memang sudah tergila-gila padanya ... dan memang hampir gila," lanjutnya kemudian cekikikan sendiri di depan cermin.
Setelah puas menatap kecantikannya yang paripurna, Kiara bergegas turun dari kamar langsung menuju dapur, dimana mamanya tengah asyik bereksperimen dengan terigu, susu, keju, fermipan, soda kue, choco chip, dan bahan-bahan lainnya.
"Mana, Ma?" tanya Kiara sambil mengulurkan tangannya membuka kotak kardus merah di atas meja. "Wah, sepertinya enak." Kiara kembali mengulurkan tangannya hendak mencolek taburan coklat di atas black forest buatan Mike, mamanya.
"Hei, apa-apaan sih, Ra," cegah Mike tiba-tiba. "Itu nanti yang bakal kamu antar ke Mama Eva," lanjutnya.
"Owh, ya maaf." Kiara mengedarkan pandangan ke seluruh permukaan meja. Tidak ditemukannya kue selain yang di dalam kotak kardus merah tadi. Ia pun beralih mendekati mamanya yang berdiri di depan oven. "Terus yang mana yang boleh dimakan?"
"Ini, baru saja masuk oven."
"Lah, masih lama dong," sungut Kiara kesal.
"Sudah, cepat sana buruan diantar. Nanti Derri keburu berangkat ke kantor, Kiara malah tidak bisa bertemu," bujuk Mama pada anak bungsunya.
"Hallah, pengalihan!" sungut Kiara lagi. "Ya sudah, cabut dulu ya, Ma," pamit Kiara sambil menyambar kunci mobil di meja.
"Hati-hati," pesan Mama masih sambil sibuk menuangkan selai kacang buatan sendiri ke dalam toples.
Kiara menenteng paperbag besar di tangan kiri sambil berlenggang menghampiri mobil yang terparkir rapi di halaman rumah.
"Jangan lupa, bilang pada Mama Eva!" teriak Mike dari ambang pintu depan. "Besok biar Mama saja yang jemput kesana!"
"Iya, Ma!" Kiara menjawab juga dengan teriakan sambil menutup pintu mobil. Beberapa detik kemudian mobil bergerak keluar melewati pintu gerbang, bergabung dengan mobil yang lain di sepanjang jalan raya.
___
.
Andre berdiri tenang menatap pemandangan sekitar. Dari balkon lantai dua tempatnya berdiri sekarang ia dapat dengan leluasa memandang seluruh penjuru pekarangan samping dan depan rumah. Bahkan situasi di pintu gerbang dan jalan raya depan rumah pun bisa terpantau dengan jelas dari tempat ia berdiri.
Pandangan matanya menangkap sebuah mobil asing yang berhenti di depan pintu gerbang. Tampak wajah Kiara menyembul dari balik jendela pintu mobil.
"Apa-apaan sih, aku ini calon isttinya Om Derri. Masa tidak boleh masuk?!" Terdengar samar-samar oleh Andre, suara Kiara yang tengah marah-marah. Penjaga keamanan kepercayaannya memang sedang menjalankan tugas yang ia berikan, menghadang jalan siapapun yang tak berkepentingan agar tidak dapat masuk.
"Maaf, tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam," ucap laki-laki itu tegas. "Silahkan Anda pergi, Nona," lanjutnya lagi.
Andre segera merogoh ponselnya dari dalam saku celana. Hanya dalam hitungan detik, panggilnnya mendapat jawaban.
"Biarkan dia masuk." Hanya satu kalimat pendek yang diucapkannya, kemudian segera dimatikannya sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari seberang sambungan.
Andre segera beranjak dari tempatnya, turun menuju kamar Derri dan mengetuk pintu pelan.
"Ada tamu VVIP," bisik Andre.
Sementara itu di halaman depan tampak Kiara turun perlahan dari mobil. Dipandangnya pantulan wajah pada kaca spion untuk memastikan kesempurnaan penampilannya. Tiba-tiba pandangannya teralih pada seorang wanita yang keluar dari dalam rumah.
Wanita berbalut minidress merah hampir sepangkal paha itu berjalan santai sambil mengusap bahu mulusnya yang terekspos. Tanpa pemperdulikan keberadaan Kiara, ia berjalan masuk ke dalam taksi yang terparkir di sudut halaman. Beberapa detik kemudian melesat pergi dengan kecepatan sedang.
"Siapa itu?" gumam Kiara pelan menatap kepergian wanita berbaju minimalis itu. "Saudara Om Derri kah?" gumamnya lagi. "Tapi mengapa dandanannya seperti itu?"
Kiara mulai melangkahkan kakinya perlahan memasuki bangunan rumah yang baru pertama kali didatanginya ini. Tangan kirinya memegang erat paperbag warna pink berukuran sedang.
"Selamat siang, Om," sapa Kiara ramah. "Aku ingin bertemu dengan Om Derri. Apakah dia ada?"
"Dia ada di kamarnya," jawab laki-laki yang dipanggil Om itu. "Ujung lorong itu," tunjuknya dengan tangan kiri.
"Baik. Terimakasih." Kiara beranjak sambil mengerutkan keningnya sesaat. Seperti mengingat-ngingat sesuatu.
Tiba-tiba ia berbalik menatap laki-laki yang masih berdiri di tempatnya semula. "Maaf, apakah Anda ini Om Andre?"
Andre terkesiap sesaat. "Bagaimana dia tahu?" Namun diurungkan niatnya untuk menanyakan hal itu.
"Betul," jawab Andre singkat.
"Salam kenal, Om. Namaku Kiara." Kiara mendekat perlahan kemudian mengulurkan tangan kanan yang disambut dengan jabatan kuat dari Andre.
"Senang berkenalan denganmu," ucap Andre ramah. "Segeralah masuk," lanjutnya lagi sambil melirik ke arah kamar Derri kemudian segera berlalu pergi.
Kiara segera melangkahkan kakinya setelah Andre menghilang di balik pintu. Tepat di depan pintu kamar Derri, Kiara berdiri beberapa saat untuk memutuskan apakah ia yakin akan masuk ke dalam pintu keramat itu atau tidak.
"Tok ... tok ... tok!" Akhirnya Kiara memiliki keberanian untuk mengetuk pintu setelah beberapa lama berusaha menata degup jantung yang mulai tidak beraturan.
"Tok ... tok ... tok!" Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Tok ... tok ... tok!" Hingga ketukan ketiga pun masih belum ada sahutan dari dalam kamar.
Kiara mengambil keputusan untuk memberanikan diri membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci.
"Sepi," gumam Kiara sambil celingak-celinguk mencari sosok sang pemilik kamar.
Disaat bersamaan Derri muncul dari balik pintu kamar mandi dangan topless dan selembar handuk putih melilit di pinggangnya.
"Huwaaa...!" teriak Kiara histeris sambil menutup matanya spontan dengan kedua telapak tangan, kemudian berbalik membelakangi Derri.
Derri yang sempat berjengit akibat teriakan kencang Kiara hanya mengulum senyum setelah memahami situasi yang tengah terjadi. Dihampirinya gadis itu dengan langkah perlahan.
"Hei, kau kenapa?" tanya Derri pura-pura bingung setelah berdiri tepat di belakang Kiara.
Aroma sabun yang segar menguar hingga menusuk hidung Kiara, sebagai bukti bahwa sang pemilik kamar itu baru saja selesai mandi. Celakanya, aroma dari tubuh Derri itu justru membuat jantung Kiara berdegup semakin kencang.
"Cepatlah kau pakai bajumu!" perintah Kiara yang mulai dapat mengendalikan diri.
"Kenapa memangnya?" Derri sengaja mengikis jarak yang hanya beberapa centi itu hingga dada toplessnya menyentuh lengan Kiara.
"Aku ... aku alergi," jawab Kiara sedikit terbata akibat gugup, sambil sedikit beringsut meghindari sentuhan kulit Derri.
"Alergi?"
"Iya, badanku gatal-gatal jika melihat orang gila tidak mengenakan baju." Kiara menjawab sekenanya.
"Begitu kah?"
"Mengertilah," ucap Kiara memohon masih dengan rona merah di wajahnya.
"Baiklah, tunggulah sebentar." Akhirnya Derri mengalah dan segera melangkah menuju lemari pakaiannya. "Sudah. Berbaliklah." Ucap Derri kemudian setelah mengenakan kaos oranye dan celana hitam selutut.
Kiara berbalik perlahan kemudian diturunkannya kedua tangan yang menutupi penglihatan mata. Dengan malu-malu dipandangnya wajah Derri yang tengah terdiam menatap ke arahnya.
"Sial, kenapa hari ini kau terlihat begitu menggemaskan!" rutuk Derri pelan tanpa berkedip.
"Barusan Om bicara apa?"
"Ah, tidak." Derri tergagap. "Hanya saja ... bajumu. Baju itu pas sekali di tubuhmu. Bagus," puji Derri yang segera dapat menguasai diri.
Kiara diam terpaku di tempatnya, sementara Derri berjalan perlahan mendekat.
"Kau cantik sekali." Diusapnya pipi halus gadis remaja itu dengan lembut. Derri terkesiap sejenak, bagai ada sengatan halus yang menjalari hati saat tangan kokohnya menyentuh kulit halus gadis manis di hadapannya itu.
Kiara terhenyak, cukup terkejut dengan perlakuan Derri barusan. Entah bagaimana, tiba-tiba saja Kiara merasa ratusan kupu-kupu warna warni bagai beterbangan di perutnya.
Keheningan terjelma diantara mereka. Keduanya dihanyutkan dengan perasaan dan pikiran masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian, "Apa ini?"
Derri memungut paperbag yang tergeletak di sebelah kaki Kiara, kemudian membukanya.
"Kue?" tanya Derri sambil memandang ke arah Kiara. "Kau yang membuatnya?" tanyanya lagi sambil berjalan ke arah sofa dengan membwa kue di tangan kiri.
Kiara diam tidak menjawab, hanya kakinya saja yang benjalan mengikuti langkah kaki laki-laki di dalam kamar itu.
"Rasanya enak," puji Derri sambil menjilat ibu jarinya yang terkena krim toping kue. "Seperti rasa kue di perempatan depan," lanjutnya lagi.
"Aku memang membelinya di toko kue dekat perempatan depan. Hehehe ...," sahut Kiara sambil nyengir.
"Hah, kupikir kau sendiri yang membuatnya."
"Setidaknya hargailah niat baikku yang telah bersusah payah membawakanmu kue, Om." Kiara menyahut dengan ekspresi cemberut.
"Kau merajuk?" Derri menunjukkan ekspresi bingung. "Hah, sungguh tidak cocok sekali dengan wajahmu itu," lanjutnya sambil mengoleskan krim kue ke pipi Kiara.
"Om Derri! Apa-apan sih?" sentak Kiara dengan suara naik dua oktaf. Dibalasnya laki-laki yang tengah tertawa lebar itu dengan perlakuan yang sama, hingga wajah keduanya sama-sama belepotan krim kue.
"Hei, aku tidak sengaja," kilah Derri dengan kedua pipi kotor oleh hasil karya Kiara.
"Owh, jadi tadi tidak sengaja? Baiklah, aku minta maaf telah membuat wajahmu kotor," sahut Kiara dengan wajah menyesal. "Ini, aku suapi ya, Om." Kiara mengambil potongan kue dan bersiap menyuapkannya pada Derri. "Sebagai permintaan maafku."
Derri tersenyum menyambut suapan kue dari Kiara. Namun ternyata, "Kiki ...!" Suara Derri naik lima oktaf dengan krim kue memenuhi bibir dan belepotan ke pipi hingga hidungnya. "Awas kau ya," ancamnya sambil mengejar Kiara yang telah terlebih dahulu berlari ke seberang meja.
"Hahaha ...." Kiara tertawa mengejek sambil terus berlari menghindari kejaran Derri.
Di balik pintu kamar, Andre berdiri dengan senyum samar di bibir, hampir tak terlihat. "Kau bahkan mulai menjelma menjadi anak-anak," gumamnya kemudian segera berlalu, kembali naik ke lantai dua.
"Ampun, Om. Ampun," rengek Kiara dengan wajah memelas dan tersiksa menahan tawa. Derri menguncinya dari belakang sambil menggelitik pinggang Kiara tanpa ampun.
"Sudah, Om. Sudah, ampun," rengek Kiara lagi dengan wajah penuh krim kue.
"Itu hukuman karena kau berani menjahiliku," sahut Derri sambil menghentikan gelitikannya, namun masih mengunci tubuh Kiara dibawah kendalinya. "Sekarang, minta maaf padaku," perintah Derri.
"Tidak akan," sahut Kiara cepat.
"Baiklah." Derri bersiap menggelitik pinggang Kiara lagi.
"Oke, oke. Aku minta maaf." Kiara berujar cepat.
"Bukan seperti itu caranya meminta maaf, cantik," sahut Derri. "Meminta maaflah dengan benar," perintah Derri. "Dan sungguh-sungguh."
"Maaf, Om. Aku minta maaf, aku hanya bercanda," ucap Kiara setelah mati-matian berusaha menekan egonya.
"Good girl."
"Sekarang, cepat lepaskan."
"Memohonlah."
"Memohon?"
"Atau aku tidak akan melepaskanmu."
"Aku mohon, Om. Lepaskan aku, aku masih SMP." ucap Kiara dengan mimik muka dibuat setakut dan sesedih mungkin.
"Buahahaha ...!" tawa lebar Derri pecah begitu saja mendengar kalimat yang diucapkan Kiara.
"Apanya yang lucu?" gumam Kiara pelan sambil terbengong memandang Derri yang tertawa terpingkal-pingkal.
"Hah, kau memang benar-benar menggemaskan," ucap Derri sambil menjentik ujung hidung Kiara, setelah tawanya mereda. Diraihnya selembar tisu di atas meja. Dengan lembut dibersihkannya krim kue yang mengotori wajah Kiara. Sementara Kiara hanya diam terpaku menikmati ribuan kupu-kupu yang kembali terbang di perutnya.
"Kau bahkan tetap terlihat cantik tanpa make up," puji Derri tulus setelah selesai dengan kotoran di wajah Kiara. Tak terhitung lagi kini berapa banyak kupu-kupu yang beterbangan menari-nari hanya karena kalimat sederhana yang meluncur dari mulut Derri.
Derri bangkit dari duduknya, kemudian segera berjalan masuk ke kamar mandi. Tidak sampai lima menit, dia telah keluar dengan wajah bersih dan segar seperti sedia kala. Sementara Kiara masih sibuk mengemas dan membersihkan sisa-sisa pertempuran kuenya dengan Derri beberapa saat yang lalu.
"Sekarang katakan padaku, ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Derri sambil meraih ponselnya diatas nakas.
"Tidak ada," jawab Kiara singkat.
"Tidak ada?" Derri membeo, bingung. "Lantas?"
"Mama menyuruhku mengantar kue untuk Mama Eva. Tapi kata Mama Eva kau tinggal terpisah, tidak bersama beliau. Makanya aku datang kemari."
"Dasar gadis bodoh, katakan saja kau merindukanku, aku akan datang ke rumahmu." Derri menyahut sambil mengulum senyum di bibirnya.
"Rindu?"
"Iya. Apa lagi?"
"Bagaimana bisa Om menuduhku seperti itu?"
"Bukan menuduh, tapi begitulah kenyataannya," tukas Derri cepat. "Jika Mamamu menyuruh mengantar kue untuk Mamaku, lantas untuk apa kau datang kemari, jika bukan karena ingin bertemu denganku?" lanjutnya dengan seringai mengejek.
"Tidak, aku hanya ... ah, kau menyebalkan!" Kiara kembali merajuk.
"Katakan, kau sengaja datang kesini karena merindukanku bukan?" kejar Derri sambil berjalan mendekat. "Aku akan sangat senang jika itu iya," lanjut Derri tulus.
Kiara menoleh, memandang laki-laki yang telah membuat dunianya jungkir balik itu.
"Apa maksud perkataannya tadi?" tanya Kiara dalam hati masih memandang Derri dengan intens. Tanpa sengaja matanya menangkap luka sayat di pangkal bawah lehernya.
"Hei, luka apa itu?" seru Kiara tiba-tiba. Tanpa sadar kakinya telah berjalan mendekat.
BERSAMBUNG ...
________________________________