
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Candra setelah menyesap kopinya. Laki-laki berambut lebat itu mulai tampak bosan.
"Apa maksudmu?" Derri balik bertanya.
"Menemani perempuan berbelanja di mall adalah hal yang sangat menyebalkan," jawab Candra dengan wajah kesal. "Selain melelahkan juga akan memakan waktu yang sangat lama. Mereka akan memasuki setiap outlet satu-persatu tanpa lelah," lanjutnya. "Bahkan ketika mereka memakai hight heels sekalipun."
"Percayalah, akupun juga pernah mengalaminya." Derri teringat kencan pertamanya di mall bersama Kiara.
"Begitu juga dengan menunggu," ucap Candra lagi. "Menunggu mereka berbelanja seperti ini adalah satu hal yang sama menjengkelkannya."
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Kita pergi dari sini dan kembali lagi nanti malam," jawab Candra.
"Nanti malam?" Derri tertawa mendengar jawaban konyol Candra. Tapi jika dipikir-pikir saran itu memang masuk akal juga.
"Ngomong-ngomong ... apa kau masih merindukannya?" Wajah Candra berubah serius.
Mendengar pertanyaan itu, Derri bergeming selama beberapa detik. Ia tahu betul apa maksud dari pertanyaan sahabat karibnya itu.
"Entahlah," jawab Derri akhirnya. "Yang jelas aku sudah lama tak mengingatnya. Aku pun bisa menikmati tidur malamku dengan sangat nyenyak."
"Semenjak kehadiran Kiara?" tembak Candra tepat sasaran.
"Sepertinya begitu." Derri tersenyum simpul.
"Kemarin sore aku melihatnya," ucap Candra kembali dengan wajah serius.
Derri terhenyak mendengar ucapan Candra.
"Di kota ini?" tanya Derri penasaran.
"Iya," jawab Candra masih dengan wajah serius. "Tapi aku berharap itu hanyalah salah lihat," lanjutnya. "Jika Dalton berada di Jakarta, seharusnya dia pun juga begitu."
Mendengar penuturan Candra, Derri diam tak menjawab. Hanya dua netra hitamnya yang bergerak liar mengumpulkan kenangan yang sempat terlupa beberapa waktu lamanya. Mendadak ada rasa rindu juga perih yang mengganjal sudut hati laki-laki itu. Dihelanya nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya dihembuskan kembali dengan kasar. Berharap rasa perih itu akan pergi bersama setiap hembusan nafasnya.
"Apa kau juga memberitahukannya pada Andre?" Akhirnya laki-laki berparas Asiatis itu bersuara.
"Ya," jawab Candra singkat.
"Apa katanya?"
"Dia akan memastikan bahwa aku hanya salah lihat saja."
"Sudah kuduga," komentar Derri.
"Dari dulu memang dialah orang yang paling menentang hubungan kalian."
"Dan dia semakin membencinya setelah peristiwa itu." Derri menimpali ucapan Candra.
"Aku bisa merasakan apa yang Andre rasakan," sahut Candra. "Dialah yang setiap hari menatap kesakitan dan keterpurukan yang dirasakan oleh keluargamu, terutama Tante Eva," lanjutnya.
Derri diam tak menjawab. Ada rasa sakit yang selalu menikam hati saat mengenang masa-masa kelam itu.
"Sejujurnya aku banyak berharap pada Kiara." Candra kembali bersuara.
"Apa maksudmu?"
"Semoga saja kepolosan dan ketulusan cinta gadis itu bisa benar-benar menghapus dia dari hatimu."
"Entahlah," sahut Derri lirih, hampir tak terdengar.
"Aku melihatnya di apotek dekat taman kota ... jika kau ingin mencari informasi."
Derri menoleh demi mendengar kalimat yang baru saja didengarnya. Lagi-lagi laki-laki bernetra hitam itu hanya diam tanpa menyahuti.
Candra pun turut diam, lalu berdiri menjauh dengan ponsel di tangan yang terus bergetar panjang.
"Ya, sayang." Terdengar suara Candra menyapa pemanggilnya di ujung sambungan telepon.
" ... "
"Sekarang saja. Lebih cepat lebih baik. Aku sangat merindukanmu."
" ... "
"Ok."
Candra kembali mendekat sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Aku harus pergi. Sukma akan segera tiba di tempat yang kami janjikan," ucap Candra datar.
"Ya, sampaikan salamku untuknya. Katakan aku sangat merindukannya."
"Tentu. Aku pergi."
Candra menepuk pundak Derri pelan, berusaha memberikan kekuatan semangat untuk laki-laki yang telah menjaga adiknya dengan sangat baik itu. Ia memang sengaja meninggalkan Derri sendirian karena ingin memberikan waktu pada sahabat semasa STM-nya itu bersama pikirannya sendiri.
Melihat keadaan Derri sekarang, ada rasa kasihan terpancar di mata Candra. Namun, semua itu harus dilakukannya karena Andre dan dirinya telah sepakat bahwa jika Derri memilih Kiara maka ia harus bisa menghapus cintanya untuk Freya, sebab tak ada satupun alasan bagi laki-laki itu untuk menyakiti Kiara di dalam pernikahan mereka nanti.
___
.
"Akhirnya lo bisa menghirup udara bebas, choy," seru Darren malam itu. "Kudu dirayain," lanjutnya lagi.
"Udah, jangan bengong mulu," sahut Ditto sambil menyikut lengan Derri yang sedari tadi hanya terdiam. "Yang udah, biarin udahan aja. Sekarang waktunya kita menata hidup untuk menyongsong masa depan yang lebih baik," imbuhnya.
"Jiah, bahasa lo. Sok bijak bener," komentar Candra.
"Hehehe ... gue dapet nyomot dari sinetron yang diliat adek gue sore tadi." Ditto cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Freya datang membawa soft drink di tangan kanan. Disodorkannya minuman itu pada Derri, kemudian segera mengambil duduk di sebelah laki-laki bertubuh kurus itu.
"Udah, mari kita c'mon. Ayo gih kita kemana," potong Candra tidak sabar.
"Lah, kan udah gue bilang, malam ini kita rayain kebebasan Ewon," sahut Darren cepat. "Kita minum sepuasnya," lanjutnya lagi.
"Gue nggak ikutan ya, langsung pulang aja." Freya berpamitan sambil menatap Derri intens.
"Ah, lo nggak asik! Katanya lo cinta sama Ewon, masa acara buat Ewon lo malah absen," cecar Ditto.
"Gue nggak biasa minum, Dit. Takut gue," tolak Freya.
"Takut mabok?" tanya Candra. "Tenang, khusus buat lo 'ntar gue pesenin es susu putih aja," lanjutnya yang kemudian disambut dengan tawa lebar seluruh teman Derri disana, kecuali Andre yang hanya duduk terdiam.
Akhirnya gerombolan itu pun bertolak bersama-sama ke salah satu barr, tempat mereka biasa berkumpul dan party.
"Drrrt ... drrrt ... drrrt." Ponsel Derri bergetar panjang, pertanda ada panggilan masuk.
Derri memicingkan mata kemudian membukanya perlahan.
"Hanya mimpi," gumam laki-laki itu lalu kedua matanya kembali terpejam.
Derri bergumam tak jelas sambil membalikkan badan hingga berada pada posisi tengkurap. Ia pun mengulurkan tangan untuk meraih ponsel di atas nakas tanpa repot-repot membuka mata.
"Hai, Om." Terdengar sapaan dari seberang telepon begitu Derri mengusap gagang hijau di layar ponsel. "Om sudah tidur?"
Derri mendongak, kembali memicingkan mata, kemudian memaksa agar kedua kelopak matanya kembali terbuka sempurna.
"Hai, Ki," sapa Derri begitu melihat wajah ayu Kiara di layar ponsel.
"Apa Om baik-baik saja?"
"Apa maksudmu?" tanya Derri tanpa minat.
"Tadi ... sepanjang perjalanan pulang Om hanya diam saja. Apakah terjadi sesuatu?"
"Tidak ada," jawab Derri asal.
Derri mengucek mata dengan tangan kiri, sementara tangan yang lain masih memegang ponsel agar Kiara tetap bisa melihat wajahnya pada layar gawai.
"Lantas?" tanya Kiara penasaran.
"Aku hanya mengantuk saja." Derri menjawab sekenanya.
"Kukira ada sesuatu yang terjadi pada Om."
"Kau mengkhawatirkanku?"
"Ya," jawab Kiara pelan, hampir tak terdengar.
"Tidak perlu cemas." Derri berusaha tersenyum untuk menenangkan gadis di seberang sambungan. "Aku harus memusatkan perhatianku pada setir mobil. Bukankah tadi kau sedang bersamaku? Aku tak ingin kau kenapa-napa," papar Derri dengan mata terkantuk-kantuk.
"Ya sudah, kalau begitu Om lanjut tidur saja. Sepertinya Om masih mengantuk."
"Kau tidak memberiku ciuman selamat tidur?" tanya Derri.
Bukan menjawab, Kiara langsung memutuskan panggilan video call-nya setelah mendengus kesal pada laki-laki yang wajahnya memenuhi layar ponsel itu.
Sudut bibir Derri terangkat. Ia tersenyum membayangkan wajah Kiara yang sudah pasti tengah merona saat ini.
Tangan Derri terulur meletakkan ponsel di atas nakas. Ia pun segera bangkit setelah melirik jarum jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Diraihnya satu bungkus rokok sebelum kemudian berjalan pelan ke arah jendela kamar. Angin dingin langsung menyeruak masuk ke dalam kamar begitu jendela terbuka. Tampak olehnya Andre yang sedang berbicara serius dengan Chris di sudut halaman.
Kedua kaki Derri melangkah pelan meninggalkan kamar menuju tangga di teras rumah. Diayunkan kaki panjangnya untuk meniti anak tangga hingga tiba di balkon lantai dua. Dari tempatnya berdiri kini dapat terlihat dimana saja Andre menugaskan anak buahnya untuk berjaga. Ia dapat melihat keadaan sekeliling rumahnya dengan sangat jelas. Sebab itulah Andre sering kali terlihat berdiri di tempat ini.
"Ada sesuatu yang kau butuhkan?" tanya Andre yang tiba-tiba saja telah berdiri di samping Derri.
Derri menoleh kemudian melempar senyum simpul ke arah Andre.
"Tidak. Aku hanya sedang merindukan rembulan saja."
Derri menyalakan satu batang rokok lalu dihisapnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya kebali ke alam lepas. Seketika kepulan asap putih bergumpal-gumpal kecil mencemari udara sekitar.
"Baiklah jika begitu," sahut Andre sembari menyodorkan secangkir kopi hitam. "Aku akan mandi dulu," pamitnya yang kemudian berbalik dan melangkah menuju kamarnya di lantai dua.
Derri mengangguk, lalu mendongakkan wajah ke angkasa luas. Tampak jelas senyum rembulan yang tengah menatap lembut ke arahnya. Entah mengapa ia ingin menikati wajah rembulan malam ini.
"Setelah sekian lama bisa menikmati tidur nyenyakku, kini mimpi itu ... datang lagi." Derri bergumam pelan.
Derri kembali mengingat-ingat mimpinya barusan. Ia merasa itu bukanlah mimpi karena ia benar-benar pernah mengalaminya. Bahkan ia pun ingat betul apa yang terjadi setelah pesta di barr malam itu.
"Argh ...!" Derri melenguh pelan saat dirasa pusing menyerang kepalanya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Dipicingkan matanya sekejab, tak ada satu hal pun yang bisa dilihatnya dengan jelas. Kepala dan seluruh badannya terasa berat.
Dipejamkan kembali matanya, menahan serangan-serangan tidak nyaman pada kepala dan seluruh tubuh. Kelopak matanya berkedut.
"Pusing," keluh Derri tanpa suara.
Kembali dikerjabkan matanya beberapa kali. Matanya silau, kepalanya pun terasa semakin pusing mana kala sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca di sampingnya menyorot langsung ke arah kedua matanya.
Sayup-sayup kedua telinganya menangkap suara isak tangis yang begitu halus dan pelan. Dipaksanya kedua mata lelah itu untuk terbuka mencari sumber suara. Tampak seorang gadis tengah duduk meringkuk di sudut tempat tidur berbalut selimut di seluruh tubuhnya.
"Freya ...," disebutnya nama gadis itu dengan suara lirih. Matanya kembali terpejam.
Sesaat kemudian dipaksanya tubuh lemahnya untuk bangun menghampiri gadis yang disayanginya itu, walau dengan kepala yang masih terasa berat dan pusing. Namun, sedetik kemudian tubuhnya mendadak kaku, kala didapati dirinya dalam keadaan di luar akal sehat. Tubuhnya benar-benar polos tanpa sehelai benang pun.
Ditatapnya wajah Freya yang masih sesenggukan dengan tubuh tertutup rapat oleh selimut. Tanpa menyibaknya, Derri tahu betul bahwa gadis cantik itu pun juga dalam kondisi yang sama, tertutup selimut tanpa sehelai baju pun yang membalutnya.
"Apakah kita ...." Mulut Derri tercekat. Tubuhnya terpaku, tatapan matanya nanar, lidahnya kelu tak tahu harus mengucap apa.
Otaknya mulai berputar, mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Dipaksanya penyimpan memorinya itu untuk bekerja lebih keras.
Kedua mata hitam Derri terbelalak tak percaya saat kepingan-kepingan ingatan kembali tersusun. Bagai potongan film yang diatur dan diputar ulang dalam memorinya.
Perlahan diedarkannya pandangan ke seluruh ruangan. Ingin rasanya menyangkal semuanya. Namun, bayangan dan ingatan itu menunjukkan kebenaran yang tak mungkin bisa ia hindari.
Celana jeans hitam teronggok begitu saja di lantai, sedangkan kaos hitam yang dipakainya semalam entah berada di mana. Sementara dress merah milik Freya tampak tergeletak kusut di sudut tempat tidur.
Teringat jelas bagaimana semalam ia telah menghujam dan menikmati tubuh indah dihadapannya itu tanpa ampun. Bahkan tidak hanya sekali, mungkin dua atau tiga kali ia merengkuh kenikmatan dalam satu malam bersama wanita pujaan yang dicintainya itu.
Sontak rasa bersalah merayap dan menusuk jiwa serta hatinya dengan cepat. Dihampirinya wanita cantik yang kini tampak layu itu, kemudian didekapnya erat dalam rengkuhan dada bidangnya.
"Maafkan aku, Freya."
"Ewon, bagaimana jika aku hamil?" Suara lirih terdengar dari balik dekapan dada bidang Derri. Tangisan lembut gadis itu pun kembali pecah.
Sesekali pundak polos itu bergetar karena isakan tangis. Kedua tangannya mencengkeram erat tepian selimut yang masih menutupi tubuh.
Derri memeluk tubuh mungil itu semakin erat. Dikecupnya puncak kepala Freya untuk menyalurkan ketenangan pada gadis yang sangat dicintainya itu
"Aku akan bertanggung jawab, Freya," bisik Derri lemah.
"Kau ...."
Freya menatap laki-laki yang dicintainya dengan lebih seksama kemudian dibalasnya pelukan itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Iya, itu pun jika kau mau," sahut Derri lembut. "Aku yakin kau pun tahu bahwa sebenarnya aku menaruh hati padamu. Aku mencintaimu. Aku ingin menjadikanmu milikmu," lanjut Derri.
Freya semakin mempererat pelukannya.
"Namun, itu dulu ... sebelum semuanya terjadi," papar Derri sambil melepas Freya dari dekapannya.
Freya menatap bingung pada kedua manik mata Derri. Sinar bahagia dari kedua mata gadis itu kembali meredup.
"Kini aku hanya laki-laki hina yang sama sekali tidak pantas untukmu," lanjut Derri sambil menundukkan wajahnya. "Namun, perlu kau tahu ... rasa cintaku padamu tidak berubah." Dibingkainya wajah cantik di hadapannya itu dengan kedua telapak tangan. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Freya."
Freya menatap ke dalam kedua netra sehitam kelam di hadapannya. Tanpa kata.
"Jika kau meminta dan mau menerima pertanggungjawabanku, maka aku akan melakukannya dengan seluruh cinta yang kumiliki," ucap Derri tegas. "Itupun jika kau bersedia menghabiskan seluruh sisa hidupmu bersamaku ... mantan narapidana."
BERSAMBUNG ...