I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 19. Kuterima dengan Lapang Dada



"Aku pernah mendengar pepatah mengatakan cinta bisa datang karena terbiasa," ucap Dirga datar dengan menghadap ke sisi lain.


"Tapi yang kau lihat tidak seperti yang kau pikir," tukas Kiara cepat.


Dirga menoleh ke arah Kiara. Dengan tatapan dingin, dilucutinya penampilan Kiara dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Saat itu, barulah Kiara menyadari bahwa saat ini ia benar-benar dalam posisi tampak seperti seekor domba yang mengkhianati kawanannya demi mengelabuhi seekor serigala untuk keselamatan dan kesenangan dirinya sendiri. Ya, bagi kebanyakan orang, piyama bermotif Mickey Mouse yang dikenakannya untuk datang ke restoran saat ini menunjukkan betapa dekat dan intim hubungannya dengan laki-laki yang tengah berdiri di sampingnya itu.


"Kita bahkan tak bisa menentukan kapan, di mana, dan pada siapa sayap cinta akan hinggap. Aku pun tahu itu." Dirga kembali berucap.


Tatapan dingin laki-laki bertubuh tinggi tegap itu berhenti pada wajah Kiara.


"Harus ada yang salah ketika kita mencari mana yang benar." Dirga beralih menatap ke arah Derri. "Tak peduli siapa yang salah, siapa yang benar. Tak peduli siapa yang setia dan siapa yang berkhianat ... aku akan terus berada di sisi Axel."


Tanpa aba-aba, Dirga langsung berbalik dan pergi setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Kami duluan, ya ...," pamit Ane canggung.


"Ya, hati-hati," jawab Derri dengan senyum ramah.


Gadis manis itu pun membalas dengan senyum canggung yang tampak jelas dipaksakan, kemudian segera beranjak menyusul langkah lebar Dirga.


Seperginya Dirga dan Ane, Kiara kembali terduduk lesu pada tempatnya. Tangannya terkulai lemas di atas kedua paha. Sementara Derri hanya diam tak bersuara, memperhatikan wajah penuh rasa bersalah milik Kiara.


"Kau sudah selesai makan? Ayo kita pulang," ucap Derri tiba-tiba.


Kiara sedikit terkejut dengan suara Derri. Namun ia segera berdiri, mengikuti langkah Derri dengan kedua bola matanya.


"Entah terbuat dari apa hatinya? Seharusnya dia merasa tak nyaman dengan situasi yang baru saja terjadi tadi," gumam Kiara sembari bangkit, lalu beranjak mengikuti langkah pelan Derri ke tempat parkir.


"Tentang perjodohan ini ... bagaimana menurut Om?" Akhirnya Kiara angkat bicara setelah keduanya terdiam dalam waktu cukup lama di dalam mobil yang tengah merayap pelan di tengah keramaian malam.


"Wanita dijodohkan dengan pria," sahut Derri santai. "Bukankah memang begitu seharusnya?" lanjutnya.


Kiara menoleh, memutar kedua bola matanya jengah ke arah Derri yang juga menoleh sembari tetap mengemudikan mobil.


"Kita tak saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Tak ada cinta di antara kita. Aku memiliki kekasih ... dan Om memiliki teman kencan," ucap Kiara pelan dengan tatapan galau ke arah jalanan yang mereka lalui. "Apakah itu tak apa-apa?"


"Aku? Bagiku itu bukan masalah, selama itu juga bukan masalah bagimu." Arah pandangan Derri telah kembali lurus ke depan.


"Apa Om tidak memiliki seseorang yang Om cintai? Seseorang yang harus Om bahagiakan dengan perjuangan dan kesetiaan Om?"


Derri menoleh ke arah Kiara, kemudian salah satu ujung bibirnya terangkat ke atas, membentuk sebuah senyum kecut yang menyedihkan.


"Tidak ada," jawab Derri akhirnya. "Tidak akan ada wanita yang bersedih dengan pernikahan kita nanti. Tak ada wanita yang mengharapkan kesetiaanku."


Mendengar ucapan Derri, Kiara menoleh, "Sepertinya Om pernah mengalami masa yang sulit," pancing Kiara.


Derri tersenyum ke arah Kiara. Benar-benar senyum yang dipaksakan.


"Tidak sesulit yang kau bayangkan," sahut Derri berusaha mencairkan suasana hatinya sendiri. "Tentang perjodohan itu ... kita tidak perlu meneruskan jika kau tidak menginginkannya. Kau hanya cukup mengatakan tidak pada mereka dan semuanya berakhir. Kau bisa mulai menjalani hari-harimu bersama remaja yang lain tanpa gangguan dariku," papar Derri dengan kedua tangan berada pada roda kemudi.


Kiara menatap sesaat ke arah Derri. Ada sedikit rasa kecewa di hati Kiara. Ternyata laki-laki itu tak ingin berbagi kisah dengannya. Calon suaminya itu tetap lebih memilih untuk memendam kesakitannya sendirian.


"Bagaimana dengan Om?" tanya Kiara akhirnya.


"Aku? Tentu saja tidak akan ada yang berubah dariku. Bekerja, berkencan, bersenang-senang, tetap tampan, dan tetap mejadi pusat perhatian para kaum hawa seperti biasanya .... Apa lagi?" Derri berucap dengan sesantai mungkin, bagai tanpa beban.


"Ya Tuhan, apa Om tidak menyadari bahwa Om ini sudah tua dan akan semakin tua?" tukas Kiara dengan ekspresi wajah menunjukkan rasa kasihan, namun juga merendahkan.


"Hei, apa maksudmu?" hardik Derri tak terima. "Meskipun aku jauh lebih tua dari padamu, tapi nyatanya banyak remaja seusiamu yang jatuh hati padaku," lanjut Derri dengan senyum culas di bibir.


Ya, diakui atau tidak, hingga saat ini sosok keturunan Korea di sampingnya ini memang menjadi trending topic di sekolahnya semenjak pertama kali laki-laki itu datang ke sekolah untuk menjemput dirinya untuk pertama kali.


"Dan bukan tidak mungkin kau pun juga akan begitu," ucap Derri lagi dengan gaya jumawa dan songongnya.


"In your dream!" seru Kiara dibarengi tatapan tajam.


"Hahaha ... berani taruhan?" tantang Derri.


"Bagaimana dengan Mama Eva dan Papa Ha Won?" Kiara berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Tentu saja itu lah yang mereka harapkan. Sama seperti Mama Mike."


"Maksudku bagaimana jika kita memutuskan untuk tidak meneruskan perjodohan ini?" ralat Kiara dengan ekspresi kesal karena Derri tidak tanggap dengan apa yang dimaksudnya.


Derri terdiam mendengar pertanyaan Kiara. Kedua tangannya bergerak memutar roda setir ke arah kiri, hingga mobil menepi di pinggir jalan sepi, kemudian benar-benar berhenti. Setelah mematikan mesin dan melepas sabuk pengaman, ditariknya nafas dalam-dalam kemudian dibuangnya dengan kasar.


"Dalam hal ini sebenarnya Mama adalah orang yang paling senang," ucap Derri akhirnya. "Begitu besar keinginan Mama untuk melihat aku berkeluarga dan berbahagia dengan kehidupanku yang baru."


"Begitu kah? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di masa lalu Om," pancing Kiara.


Derri menoleh. Sesaat tampak terlihat rasa sakit tersirat di kedua netra hitamnya.


"Aku akan melakukan apa pun untuk membuat Mama bahagia," sahut Derri tanpa mengindahkan ucapan Kiara.


"Jadi jika kita menikah ... maka itu karena Mama Eva yang menginginkannya?" tanya Kiara lebih seperti gumam. "Bukan karena cinta Om?"


"Maafkan aku," ucap Derri pelan.


Entah mengapa Kiara merasa ada hal tak semestinya yang terjadi pada hatinya ... dan itu bukanlah sesuatu yang baik. Mendengar ucapan singkat Derri, ia merasa lega mendapati bahwa laki-laki itu tidak akan bersedih karena dirinya yang lebih memilih untuk setia kepada Axel. Namun, di sudut lain, hati Kiara terasa bagai tertusuk jarum. Ada sakit juga perih di sana.


"Dan bukankah kau memiliki Axel?" ucap Derri tiba-tiba. "Dia memiliki cinta untukmu. Aku tidak akan melarangmu untuk tetap mencintainya," lanjutnya. "Maksudku jika nanti kita menikah," tambahnya.


Bukan hanya tertusuk jarum, kini hati Kiara terasa bagai ditusuk-tusuk ribuan jarum berkarat. Sisi hatinya tak terima jika Derri bisa membiarkannya bersama laki-laki lain saat nanti mereka telah terikat dalam jalinan tali perkawinan.


"Bukankah itu adil bagimu?" tanya Derri kemudian setelah menunggu Kiara yang tak juga bersuara. "Namun, jika kau tak menginginkan perjodohan ini, maka putuskanlah secepatnya. Kita akan menyampaikan sejujurnya pada mereka."


Kiara tetap bergeming. Tak satu patah kata pun meluncur dari bibir mungilnya dan tak sedikitpun ia beringsut dari posisi duduknya.


Namun, tiba-tiba tanpa diharapkan dua butir bening menetes dari kedua mata gadis bermata sipit itu. Entah mengapa. Yang jelas, saat ini Kiara merasa begitu sesak di dalam hatinya.


"Hei, kau menangis?" Derri menunjukkan wajah cemasnya, walau sesaat.


Kedua tangan kokoh itu segera terulur, kemudian merengkuh bahu mungil Kiara ke dalam dekapan hangatnya.


"Aku tak tahu mengapa kau menangis. Tapi yang jelas, apa pun keputusanmu ... aku dapat menerimanya," ucap Derri sembari membelai lembut kepala Kiara yang tersandar di bahu kokohnya.


"Dengan lapang dada?" tanya Kiara masih pada posisi yang sama.


"Ya. Dengan lapang dada," jawab Derri sembari menghapus air mata di kedua pipi Kiara.


"Om ...," panggil Kiara lirih setelah terdiam cukup lama, menikmati belaian lembut tangan Derri.


"Jika aku mencintai laki-laki lain selain Axel ... menurut Om bagaimana?"


"Bukan masalah besar," jawab Derri santai.


"Apa?" Kepala Kiara bergerak di dada bidang Derri. Ia pun mendongak, memandang tak habis mengerti ke arah wajah Derri yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Ya. Itu bukan masalah besar. Kau masih muda. Masih ada kemungkinan berakhir dengan Axel dan menjalin hubungan baru dengan laki-laki lain."


"Kenapa Om tidak menyalahkanku?" Wajah Kiara menunjukkan rasa keheranan.


"Menyalahkanmu? Menyalahkan karena kau menduakan hatimu dengan laki-laki lain?" Derri balik bertanya. "Yang benar saja."


"Baiklah, anggap aku seperti itu," putus Kiara kemudian. "Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?"


"Jalani saja hubunganmu dengan keduanya. Segera pastikan siapa yang lebih membuatmu nyaman."


"Kenapa Om tidak menyuruhku meninggalkan Axel dan menjalin hubungan dengan laki-laki lain itu saja?" tanya Kiara, yang lebih pas jika disebut sebagai protes.


"Karena aku tak tahu seberapa tulus dia padamu," jawab Derri tenang. "Dengar, kau masih sangat muda. Jalanmu masih sangat panjang. Ada banyak hal yang harus kau raih dan kau wujudkan. Jadi jangan terlalu terburu-buru untuk membuat komitmen dengan laki-laki, apa lagi menikah."


Kiara terdiam mencerna ucapan Derri. Sesaat kemudian kembali ditelusupkan wajahnya ke dalam dekapan dada bidang Derri dengan senyum puas tersembul di bibir. Tanpa ragu diulurkan kedua tangannya, menelusup ke dalam jas Derri yang tak terkancing. Dipeluknya pinggang laki-laki tampan itu dengan sangat erat.


Derri terkesiap sesaat saat mendapat perlakuan tak biasa dari Kiara. Namun, sesaat kemudian sebuah senyuman terbit di antara kedua bibirnya. Senyum penuh pengertian yang ditujukan pada gadis dalam dekapannya itu.


Tiba-tiba saja ponsel di atas dashboard berbunyi. Derri mengulurkan sebelah tangannya untuk memeriksa layar ponselnya, sementara tangan yang lain tetap dalam posisi mendekap tubuh Kiara.


"Siapa?" tanya Kiara sembari beringsut dari dekapan Derri.


"Lana," jawab Derri singkat sembari menarik bahu Kiara agar kembali pada posisi semula.


Kiara lebih memilih diam dan kembali pada posisi nyaman yang hampir saja ditinggalkannya beberapa detik yang lalu.


"Ya, Lana." Derri mengangkat teleponnya.


" ... "


"Katakan pada Andre, semua baik-baik saja."


" ... "


"Sepertinya aku tidak akan pulang malam ini."


" ... "


"Ya, tentu."


Derri mematikan sambungan teleponnya kemudian mengembalikan ponsel ke atas dashboard mobil.


"Salah satu teman kencan Om?" tanya Kiara setelah benar-benar tak bisa menahan rasa penasarannya. Perlahan ditegakkan kepalanya yang semula bersandar pada dada Derri.


"Lana ... dia adalah wanita yang unik dan menarik," sahut Derri dengan senyum di bibir. "Wanita tangguh yang mandiri dan selalu bisa kuandalkan dalam situasi apapun."


Entah berasal dari mana, tiba-tiba saja rasa kesal merambati benak Kiara.


"Sepertinya dia meninggalkan bekas yang begitu mendalam di hati Om. Kurasa dia lebih dari sekedar seorang teman kencan," tebak Kiara sembari berusaha menyembunyikan wajah kesalnya.


"Suatu saat aku akan mengenalkannya padamu," ucap Derri dengan senyum di bibir.


"Apa?" tanya Kiara dengan wajah terkejut. "Tidak perlu."


"Kenapa?"


"Karena aku tak begitu tertarik dengan kehidupan pribadi Om," jawab Kiara mantap.


"Ya sudah, terserah kau aja," sahut Derri santai.


"Berkenalan dengan salah satu teman kencannya? Yang benar saja," gumam Kiara dalam hati.


"Apakah besok kau ada acara?" tanya Derri tiba-tiba.


"Tidak, Om."


"Baiklah, mari kita hanging out malam ini."


"Apa?" tanya Kiara tak mengerti.


"Ayolah, aku tidak mungkin menemanimu tidur di rumahmu yang hanya ada kau dan aku saja itu, bukan? Apa lagi di rumahku, malah semakin tidak mungkin."


"Lalu apakah tempat ini Om anggap sebagai tempat yang memungkinkan bagi kita untuk menghabiskan malam ini?"


"Hehehe ...." Derri meringis memamerkan deretan giginya sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Dasar mesum!" hardik Kiara.


"Astagah ... orang tua macam apa yang mempercayakan anak gadisnya pada seorang laki-laki dewasa seperti ini?" gumam Derri tak habis pikir.


"Sudahlah, tak perlu terlalu dipikirkan, Om. Mamaku hanyalah seorang nenek sihir," sahut Kiara sekenanya.


"Apa?" tanya Derri dengan wajah tol*l tak percaya.


"Ayolah, aku hanya bercanda."


"Tapi kurasa kau ada benarnya juga. Entah kenapa aku selalu saja menuruti semua kata-kata Mama Mike. Mungkin dia memang telah memantera-manteraiku."


"Apa?" Berbalik Kiara yang bertanya dengan wajah tak percaya. "Yang benar saja." Kiara mendengus tanpa minat ke arah Derri.


"Tok ...! Tok ...! Tok ...!" Tiba-tiba saja terdengar suara jendela mobil yang diketuk dari luar.


Serempak Derri dan Kiara menoleh ke arah asal suara. Tampak seorang laki-laki tengah berdiri tepat di sisi pintu mobil dengan tubuh membungkuk dan wajah tepat di depan pintu jendela.


"Tok ...! Tok ...! Tok ...!" Jendela mobil kembali diketuk.


Dengan terpaksa Derri menurunkan kaca jendela mobil. Tampak dua orang petugas patroli tengah berdiri dengan gagah di hadapannya.


"Apa yang sedang kalian lakukan di tepi jalanan sepi seperti ini?" tanya petugas dengan name tag Jarot itu.


"Kalian ini pasangan mesum, ya?" Petugas yang satunya turut angkat bicara.


"Apa???" sahut Derri dan Kiara serempak dengan kedua bola mata melotot sempurna.


BERSAMBUNG ...