
"Hallo, selamat pagi, Tante Eva. Tumben pagi-pagi menelepon," sapa Andre.
"Tante hanya ingin tahu kabar anak bengal itu. Sudah lama dia tidak mengunjungi Tante ke rumah. Telepon pun juga tidak diangkat." Terdengar suara renyah dari seberang.
"Dia baik-baik saja. Sekarang dia masih tidur, Tante," sahut Andre sambil menyamai langkah laki-laki sebaya di sebelahnya.
"Apa dia tidak ke kantor?" Tanya Eva. "Apa dia sedang tidur dengan wanita?" tanyanya lagi.
"Tidak, Tante," jawab Andre. "Sudah lama dia tidak melakukannya. Setiap wanita yang datang selalu ditolak."
"Kenapa? Apa dia sudah tidak normal lagi?"
Andre mati-matian menahan tawa demi mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar. Beberapa saat kemudian ia berdehem, untuk menormalkan suara yang pastinya aneh dan kurang sopan karena dibarengi tawa tertahan.
"Entahlah, Tante," jawab Andre akhirnya, setelah mampu menormalkan nada bicaranya. "Tapi yang jelas saya masih mendapatinya menjadi sedikit tak waras karena merasa terabaikan oleh Kiki."
"Kiki?" tanya Eva tak mengerti.
"Kiara."
"Jadi sekarang dia sudah mulai bisa menerima perjodohan ini?"
"Sepertinya begitu," jawab Andre sambil menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar Derri.
"Begitukah? Ya sudah, katakan padaku kalau ada masalah apapun ya, Ndre."
"Baik, Tante."
"Oh, ya. Tante membuat kue. Nanti biar diantar ojol ke situ."
"Iya, terimakasih banyak, Tante," ucap Andre.
Sambungan telpon pun dimatikan, menyisakan Candra yang hanya diam menatap bingung pada Andre yang masih tersenyum geli sendiri.
"Masuklah, aku akan bersiap-siap dulu sebentar," pamit Andre yang masih mengenakan baju rumahan.
"Tok ... tok ... tok!" Candra mengetuk pintu setelah Andre pergi.
Dibukanya pintu di depannya itu karena belum juga ada sahutan setelah diketuk ulang beberapa kali.
Diedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Kosong," gumamnya sambil melangkah masuk.
"Kau sedang apa?" Derri keluar dari walk ini closet sambil mengeringkan rambut dengan handuk putih. Didapatinya Candra tengah membolak balik bantal dan selimut di atas tempat tidur.
"Siapa tahu aku akan mendapat hadiah kejutan seperti biasanya."
"Tidak akan," sahut Derri santai. "Kau tidak akan menemukan apa-apa," lanjutnya dengan seringaian di sudut bibirnya.
"Kenapa? Apa kau sudah berubah menjadi laki-laki yang rajin beres-beres kamar?"
"Bukan," jawab Derri sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Aku sudah lama tidak melakukannya."
"Benarakah?" Ekspresi terkejut terlihat jelas pada wajah Candra, seolah tidak percaya dengan pendengarannya. "Kenapa?" lanjutnya sambil mendekat. "Apa kau sudah tidak mampu lagi?" bisisiknya tepat di telinga Derri.
"Hah, sialan kau ini!" sergah Derri sewot. "Bicara sembarangan," lanjutnya sambil melangkah mendekati lemari baju.
"Lantas kenapa?" tanya Andra pura-pura bodoh.
"Entahlah. Aku sudah tidak melakukannya lagi sejak Kiki datang kemari."
"Apa? Kau menjadikan Kiki sebagai pengganti mereka?" Terkejut, bingung, dan heran bercampur menjadi satu dalam benak Candra.
"Tentu saja tidak!" sanggah Derri cepat.
"Jika tidak, lalu bagaimana penjelasanmu?"
Derri duduk di tepian tempat tidur. "Entah kenapa ... aku tidak lagi tertarik dengan mereka," lanjutnya santai.
"Kau tidak sedang ingin menyampaikan bahwa kau sudah mengalami penyimpangan, bukan?"
"Brengsek kau ini!" umpat Derri sambil melempar buku di atas nakas yang bisa ia raih. Sedangkan Candra hanya tertawa terbahak-bahak dibuatnya.
"Aku selalu naik jika dekat dengannya. Tapi dengan wanita lain ... seperti tidak ada nafsu saja," papar Derri.
"Hahaha...!" Candra kembali terbahak-bahak. "Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai."
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada," jawab Candra santai.
"Tapi sedang apa kau disini?" tanya Derri sambil mengenakan kemeja mint yang diambilnya dari lemari. "Kau merindukanku?"
"Najis!" umpat Candra. "Aku akan bertemu dengan Erik. Aku harus mendengar dengan telingaku sendiri tentang keseriusannya dengan Sukma."
"Baguslah, lebih cepat lebih baik," sahut Derri. "Bagaimana kabar Rena?"
"Dia hamil lagi untuk yang kedua kali. Sudah satu bulan." Andra tersenyum menerawang. Tampak sorot bahagia dari kedua matanya. "Kau kapan?" tanya Candra kemudian.
"Aku? Tentu saja nanti Kiki yang hamil, bukan aku." Derri mematut dirinya di depan cermin.
"Maksudku kapan kau akan menghamilinya," ralat Candra.
"Sedang aku usahakan," jawab Derri dengan seringai mesum.
"Masih kau usahakan untuk membuatnya hamil?"
"Usaha untuk membuatnya menjadi istriku," ralat Derri.
"Jangan bilang kau belum pernah menyentuhnya," ucap Candra dengan tawa tertahan.
"Pergilah kau dari sini!" teriak Derri kesal sambil melempar handuk yang tadi dikenakannya.
"Buahahahaha ...!" tawa kencang pun pecah dari mulut Candra. "Harimau kehilangan taringnya," ledek Candra. "Atau jangan-jangan memang sudah kehilangan kej*nt*n*nnya? Hahahaha ...!"
Candra tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Derri bergegas pergi dari kamarnya dengan wajah merah padam, menahan malu dan kesal.
___
.
"Untuk apa Om menjemputku? Aku sudah berjanji akan jalan dengan Suzi seusai kuliah." Kiara berjalan melewati Derri.
"Kemana?" Derri balik bertanya.
"Jalan-jalan."
"Iya, jalan-jalan kemana?" Derri mengikuti langkah cuek Kiara.
"Ke toko buku."
"Ya sudah, ayo kita ke toko buku," sahut Derri santai sambil berjalan mendahului Kiara.
"Suzi masih ada kuliah."
"Pukul berapa ia selesai?"
Kiara melirik jam tangan di pergelangan kirinya.
"Sebentar lagi selesai."
"Ya sudah, kita tunggu saja disini." Derri menggamit tangan Kiara kemudian menariknya ke bangku kecil di taman depan kelas.
"Terserah Om saja," akhirnya Kiara menyerah.
Derri memandang gadis yang tengah sibuk berkutat dengan ponsel di sebelahnya itu.
"Seperti biasa, cantik dan menggemaskan," gumam Derri dalam hati.
Kiara bukan tidak menyadari tatapan mematikan dari laki-laki tampan itu. Namun, ia sengaja pura-pura tidak tahu dan semakin menyibukkan dirinya dengan gawai pipih di kedua tangannya.
"Jaga matanya ya, Om," ucap Kiara akhirnya karena sudah tidak tahan lagi dengan debaran jantung yang semakin tidak jelas irama degupannya.
"Mau gue kecup kedua mata lo yang bikin gue empot-empotan gini? Gue sih mau banget!" tariak Kiara dalam hati.
"Jadi begitu? Kau ada main dengan laki-laki lain di belakangku?" Pertanyaan Derri berhasil mengembalikan pikiran Kiara yang sudah sempat melayang tidak jelas.
"Maksud Om?" tanya Kiara dengan ekspresi bingung.
"Laki-laki tadi."
"Oh ... Itu namanya Adit."
"Calon."
"Calon?" Derri membeo.
"Iya." Kiara menjawab santai. "Tadi Adit sedang menyatakan perasaannya padaku. Belum sempat kujawab, Om keburu datang," lanjutnya dengan wajah pura-pura kecewa.
"Begitu ya?" Muncul seringai jahil di bibir Derri. "Memangnya apa jawabanmu?"
"Entahlah, aku belum memikirkannya," jawab Kiara.
"Jangan disepelekan. Harus kau pikir matang-matang sebelum memutuskan," ucap Derri sok menasehati.
"Mungkin akan kuterima," jawab Kiara asal.
"Eh, jangan," sahut Derri cepat.
"Kenapa?" tanya Kiara bingung.
"Bukannya kenapa-kenapa," tukas Derri. "Seperti yang kubilang tadi, kau harus betul-betul memikirkannya sebelum memberi jawaban."
"Owh ... memang sudah kupikirkan, Om." Kiara menjawab santai sambil membetulkan tali sepatunya yang lepas.
"Hei, kau kan sudah memiliki aku," tukas Derri cepat.
"Memangnya Om ini siapa?"
"Calon suamimu."
"Baru calon, Om," sanggah Kiara.
"Lantas?"
"Belum suami, jadi masih bisa jalan dengan yang lain."
"Mana boleh, kan sudah ada calonnya," tukas Derri. "Bukankah kau pernah mengatakan seperti itu?"
"Cuma calon kan, Om?" tukas Kiara. "Bisa saja batal. Belum tentu jadi juga, kan?" papar Kiara cuek.
"Sialan! Malah aku yang jadi korban kejahilannya," geram Derri dalam hati. "Berani sekali dia!" rutuknya lagi masih dalam hati dengan tatapan kesal ke arah Kiara.
"Kenapa menatapku seperti itu? Cemburu kah Om Derri padaku?" tanya Kiara dalam hati.
"Hai," sapa Suzi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan pasangan yang sedang adu mulut itu. "Sepertinya sedang seru nih."
"Ini, Si Kiki mau pacaran dengan Adit, medit, demit atau siapa tadi namanya?" sahut Derri.
"Si ganteng Adit," ralat Kiara.
"Wah, boleh juga tuh." Suzi menimpali dengan senyum menggoda. "Masih kece aja nih anak, baru beberapa minggu kuliah sudah langsung punya fans yang ngajakin pacaran," lanjutnya. "Terima saja, Ra. Lumayan, bisa antar jemput kemana-mana."
"Kalau hanya sekedar antar jemput aku pun bisa," potong Derri cepat.
"Tapi menani tidak bisa kan, Om? Ke mall misalnya."
"Bisa. Aku bahkan bisa memberikan kartu kredit unlimited." Derri menjawab sombong.
"Bukan uangnya, Om. Tapi me-ne-ma-ni." Suzi sengaja memberi penekanan pada kata terakhir. "Om tidak mungkin mau menemani keluar masuk outlet-outlet di mall kan? Kalau si Adit mah sudah pasti mau." Suzi sengaja semakin memperkeruh suasana.
Derri kembali teringat saat jalan-jalan ke mall bersama Kiara beberapa waktu lalu. Acara menemani Kiara waktu itu berakhir dengan kedua kaki Derri pegal-pegal dan nyeri yang baru sembuh setelah lewat tiga hari.
"Kalian membendingkan aku dengan remaja ingusan? Sialan!" rutuk Derri dalan hati.
"Dasar abege!" umpat Derri dengan wajah kesal.
"Hah, dasar om-om!" balas Kiara.
"Ya sudah, kita jalan yuk," ajak Suzi menengahi pertengkaran keduanya.
Ketiganya pun segera melangkah menuju mobil Derri yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdebat tadi.
Tak lama kemudian mobil melaju pelan menembus karamaian jalan pada jam istirahat makan siang.
"Bukannya tadi sudah kubilang tidak usah menjemput? Kenapa tidak didengar sih? Aku kan malu dilihat teman-teman, ketahuan jalan sama om-om." Kiara kembali bersungut-sungut di dalam mobil.
Derri hanya menanggapi ocehan gadis itu dengan senyuman menawan seperti biasanya, meskipun masih terselip sedikit rasa kesal di hati. Sebaliknya, Kiara justru sibuk mecekal hatinya yang kebat-kebit tidak karuan hanya karena mendapat lemparan senyuman itu.
"Jalan?" Suzi membeo. "Memangnya kalian jalan bareng ya?" lanjut Suzi. "Kencan begitu maksudnya?"
"Tidak!" Kiara menyangkal. "Bagaimana mungkin?"
"Lah, tadi kamu sendiri yang bilang takut ketahuan jalan sama om-om--."
Ucapan Suzi terpotong saat dirasakannya sakit pada jemarinya akibat remasan tangan Kiara.
"Dikira. Maksudku takut dikira jalan sama om-om," ralat Kiara gugup.
Sementara Derri hanya mengulum senyum menyimak percakapan dua remaja cantik di dalam mobilnya itu. "Kiki, kenapa harus bicara seperti itu disaat aku yakin cintamu hanya untukku?" ucap Derri dalam hati. "Kau ini benar-benar gadis yang lucu."
"Tidak adakah salah satu diantara kalian yang bisa duduk di depan?" tanya Derri kemudian setelah merasa jenuh di tengah perjalanan.
"Tidak!" Kedua gadis itu menjawab serempak.
"Memangnya aku ini supir?" protes Derri.
"Siapa tadi yang bilang siap antar jemput jadi supir?" tukas Kiara dengan suara pelan.
Mobil pun terus melaju tenang membelah jalan protokol yang semakin panas terkena terik sorot matahari.
___
.
"Ya sudah, Om. Kita berdua jalan dulu," pamit Kiara.
"Iya. Teleponlah aku jika ada sesuatu." Derri berpesan. "Aku menunggu kalian di sini."
"Beres, Om," jawab Suzi meyakinkan.
"Mari, Om Candra," pamit Kiara pada Candra yang dibarengi senyuman manis.
Dua gadis remaja itu pun segera keluar dari kafe, menuju outlet-outlet yang tersebar di dalam mall itu.
"Jadi dia gadis yang dijodohkan denganmu itu, heh?" tanya Candra sambil menyeruput kopi hitam di hadapannya.
"Iya."
"Gadis yang menarik."
"Memang."
"Sorot matanya ...." Ucapan Andra tertahan jeda sesaat. "Sepertinya dia memang tulus padamu."
"Sejak kapan kau mengerti tentang bahasa sorot mata?" tukas Derri dengan senyum sangsi.
"Sejak aku menginginkan Rena."
Derri menghela nafas panjang lalu dibuangnya perlahan.
"Aku tahu dia mencintaiku. Tapi entah mengapa belakangan ini dia bersikap lain."
"Seperti tidak lagi mencintaimu?" tanya Candra setelah meyeruput kopinya.
"Bukan. Dia seperti ... jual mahal padaku."
Candra tertawa kecil. "Dan celakanya saat ini justru kau mulai menyukainya."
Derri hanya mengulum senyum mendengar pendapat Candra yang dirasanya benar itu.
"Iya, Ndra. Sepertinya aku memang mulai jatuh cinta padanya."
"Dan aku yakin perjalananmu akan berakhir pada gadis ini, dude."
"Mungkin saja," jawab Derri santai.
"Semoga saja semuanya berjalan lancar, tanpa kau harus menerima karma terlebih dahulu."
"Hah, kau ini. Doa'a macam apa itu."
_______________________
BERSAMBUNG ...