I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 20. Berkencan dengan Axel



"Tolong, Pak! Tolong jangan bawa kami! Kami bukan seperti yang Bapak kira! Tolong lepaskan kami!"


Tiba-tiba saja Kiara berteriak-teriak histeris. Derri terkejut, memicingkan mata, kemudian memandang bingung ke arah Kiara.


"Hei, Ki! Apa yang kau lakukan?"


"Tolong, Pak. Maafkan kami, kami tidak berbuat seperti yang Bapak sangka. Tolong lepaskan kami."


Kiara terus berteriak tak jelas sembari meronta berusaha melepas cengkeraman tangan Derri.


"Ada apa denganmu, Ki? Hei!"


"Aku mohon, Pak. Lepaskan kami!"


"Hei, Ki. Bangunlah! Kiki!"


Derri terus menepuk-nepuk pipi Kiara pelan. Namun, nihil. Usahanya tak sedikitpun membuahkan hasil. Diguncang-guncangnya bahu gadis itu dengan cukup kencang, hingga perlahan gadis itu membuka kedua mata.


"Ada apa? Dimana aku?" tanya Kiara dengan nafas memburu akibat panik dan kelelahan.


"Kau masih di sini bersamaku," jawab Derri sembari membantu Kiara menegakkan tubuhnya.


"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?" tanya Kiara masih dengan wajah kebingungan.


"Minumlah dulu." Derri menyodorkan sebotol kecil air mineral yang diambilnya dari dalam dashboard mobil. "Pelan-pelan," ucap Derri sembari membantu Kiara untuk minum.


"Terimakasih, Om."


"Seharusnya akulah yang bertanya padamu. Ada apa?"


"Entahlah," jawab Kiara dengan wajah cemas dan bingung.


"Kau bermimpi buruk?"


"Sepertinya begitu."


"Memangnya apa yang kau mimpikan?"


"Mimpi buruk. Sangat mengerikan, Om."


"Mimpi apa?"


"Sungguh mengerikan."


"Ceritakanlah."


"Aku tak yakin, Om."


"Bertemu dengan hantu?" Derri mencoba bersabar.


"Bukan."


"Betemu dengan setan?"


"Bukan."


"Bertemu dengan zombie?"


"Bukan."


"Lantas?" Derri mulai jengah dengan sikap Kiara yang menjengkelkan. "Lantas apa yang kau lihat dalam mimpimu?"


"Petugas, Om."


"Petugas?" ulang Derri.


"Patroli."


"Ada apa dengan mereka?"


"Dalam mimpiku ... kita berdua digrebeg, lalu digelandang ke kantor polisi, Om."


"Atas tuduhan apa? Minuman keras? Obat-obatan terlarang? Pencurian? Atau apa?"


"Tindakan asusila, Om."


"Asusila?" Derri membeo.


"Berbuat mesum."


"Buahahaha ...! Hahahaha ...." Seketika Derri tertawa terbahak-bahak di tempatnya. "Ya Tuhan Kiki .... Hahahaha ...! Kita lihat sekarang. Ternyata pikiranmu jauh lebih kotor dari pada aku. Hahahaha ...!"


"Hei, enak saja! Jaga bicara, Om!"


"Masih tidak mengaku? Bahkan pikiran kotormu pun sampai terbawa dalam mimpi. Hahahaha ...!"


"Aku tidak seperti itu!"


"Hahahaha ...!" Derri tertawa semakin terbahak-bahak.


"Aaaaa ...! Kenapa Om begitu menyebalkan ...!" teriak Kiara sekencang-kencangnya.


"Hei, hentikan teriakan bar-barmu itu. Kita ada di jalan," hardik Derri dengan ekspresi lucu. Mata melotot galak, namun bibirnya masih belum berhasil menghentikan tawa sama sekali.


"Menyebalkan ...!" teriak Kiara sembari memukul-mukul lengan kiri Derri.


"Auch ...! Auch ...! Hentikan, Ki!" hardik Derri kesakitan.


"Kenapa?" tanya Kiara sinis. "Tidak mungkin Om merasa kesakitan hanya dengan pukulan-pukulanku!"


"Lenganku kebas, Ki," sahut Derri. "Sampai bagian pundak ini." Tangan kanan Derri berusaha memijit lengan kirinya sendiri.


"Bagaimana bisa?" Kening Kiara berkerut heran sekaligus cemas, namun juga sangsi dengan ucapan Derri.


"Sepanjang malam kau tidur di pundakku. Aku tak bisa bergerak sama sekali."


"Benarkah?"


"Memangnya kau pikir sekarang ini pukul berapa?"


Sontak Kiara memeriksa jam analog pada layar ponselnya di atas dashboard mobil.


"Hah? Pukul enam pagi?" teriak Kiara tanpa sadar.


"Ishhh ...!" Derri meringis sembari berusaha menggerakkan lengan kirinya.


"Sakit kah, Om?" tanya Kiara spontan. "Maaf ... maaf." Tangan Kiara terulur meraih lengan Derri, kemudian memijitnya perlahan.


"Pelan-pelan, Ki."


"Kenapa Om tidak membangunkanku?"


"Tidurmu pulas sekali. Aku tak tega membangunkanmu."


"Jangan begitu, Om. Gara-gara aku, Om jadi kesakitan seperti ini," sanggah Kiara. "Dua kali aku tertidur di bahu Om. Lain kali Om harus membangunkanku."


"Lain kali jangan tertidur di bahuku lagi," ralat Derri. "Begitu seharusnya."


Mendengar ucapan Derri, Kiara sengaja menambah tekanan pijitannya.


"Aw ...! Aw ...! Sakit, Ki ...! Sakit ...! Kau ingin membunuhku, ya?"


"Makanya lain kali jangan bicara seperti itu lagi!" hardik Kiara dengan wajah kesal. "Kalau menolong itu harus ikhlas dan tidak boleh setengah-setengah!"


"Bilang saja kau merasa senang tidur di dadaku," tukas Derri sekenanya. "Hei, apa senyaman itu tidur di dada bidangku ini?" tanya Derri dengan senyum jahil.


"Jangan terlalu besar kepala," sahut Kiara cepat sembari menyudahi pijitannya.


"Hahaha ...!" Derri tergelak. Sementara Kiara tampak lucu dengan wajah cemberut yang berusaha menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.


Masih dengan sisa tawa di bibir Derri menyalakan mesin mobil, kemudian mematikan AC dan membuka kaca jendela mobil.


"Kita mau ke mana?" tanya Kiara ketus.


"Pulang. Aku akan mengantarmu pulang. Sementara aku akan bersiap-siap berangkat ke kantor."


"Ke kantor? Om akan tetap bekerja hari ini?" tanya Kiara tak percaya. "Bukankah sepanjang malam Om menjagaku? Om belum istirahat sama sekali."


"Lalu?" Kedua tangan Derri bergerak menyalakan sebatang rokok.


"Apa tidak sebaiknya Om istirahat di rumah dulu? Atau setidaknya Om bisa berangkat ke kantor agak siangan."


"Hei, kenapa kau seperhatian itu padaku?" tanya Derri dengan seringai di bibir.


"Tidak," sahut Kiara gugup. "Aku ... aku biasa saja."


"Hahaha ...!"


Jari tengah dan telunjuk kanan Derri menjepit sebatang rokok dengan fasihnya. Sementara tangan kiri menggenggam roda kemudi. Dipacunya mobil sport putih itu pelan menembus pagi yang masih terasa dingin karena mentari belum sepenuhnya muncul untuk menyinari muka bumi.


"Kita sarapan dulu ya, Ki. Aku lapar."


"Terserah Om saja."


"Kau mau makan apa?"


"Apa saja boleh. Aku bukan tipe pemilih makanan."


___


.


"Selamat ulang tahun, sayang."


Kiara tersenyum lembut sembari menyodorkan kotak biru berhias pita merah.


"Terimakasih, sayang," sahut Axel lembut dengan rona bahagia terpancar di wajah tampannya. "Hanya ucapan selamat saja? Tidak ada yang lain?"


"Ayolah, kau tahu apa yang kumaksud."


Axel sedikit menunduk, memonyongkan bibirnya. Sementara Kiara malah tersenyum geli melihat tingkah Axel. Tak urung dikecupnya juga kening kekasihnya itu dengan penuh kelembutan.


"Hanya di kening?" komentar Axel dengan wajah pura-pura kecewa. "Baiklah, sepertinya aku masih harus sedikit lebih berusaha lagi."


Kiara tergelak mendengar ucapan Axel. Entah mengapa, hal-hal kecil seperti itu pun bisa membuatnya tertawa jika itu datang dari Axel.


"Apa isinya?" tanya Axel dengan tangan kanan memegang simpulan pita pada kotak kado ulang tahun pemberian Kiara.


"Kau akan tahu setelah membukanya," jawab Kiara sembari menggenggam tangan kanan Axel untuk menahannya membuka kado itu. "Tapi sebaiknya nanti saja, kau buka saat sedang berada sendirian di kamar," lanjutnya. "Karena akan menjadi kejutan spesial untukmu."


"Begitukah?" Axel mengumbar senyum bahagia sekaligus penasaran. "Baiklah, aku akan menahannya hingga kencan kita malam ini selesai."


Tangan Axel terulur untuk membuka pintu mobil tepat di sisi kirinya.


"Silahkan, Nona cantik." Axel mempersilahkan Kiara masuk ke dalam mobil dengan gaya bangsawan.


"Terimakasih," ucap Kiara sebelum bergegas masuk.


Axel mengangguk senang sembari menutup pintu mobil. Ia pun segera berjalan memutari kap mobil untuk masuk dan duduk di kursi kemudi. Mobil pun segera melaju pelan meninggalkan pelataran rumah Kiara bergabung dengan kendaraan lain yang tengah meramaikan hiruk pikuk jalanan malam itu.


Lima belas menit kemudian mobil berhenti di area parkir sebuah rumah makan mewah di kota itu.


"Mari." Axel mengulurkan telapak tangan kanan yang disambut oleh tangan lembut Kiara.


Keduanya pun berjalan beriringan dengan tangan kanan Kiara melingkar anggun di lengan kiri Axel.


"Selamat malam, Tuan dan Nona," sapa laki-laki berseragam pelayan tepat di pintu masuk.


"Selamat malam," sahut Kiara ramah.


"Wah, pasangan Anda cantik sekali, Tuan."


Axel melempar tersenyum ke arah laki-laki dengan name tag Dino itu sambil terus melangkah masuk.


Langkah keduanya terhenti tepat di tengah-tengah ruangan, tempat di mana masih terdapat meja kosong di restoran itu.


"Axel, tempatnya mewah sekali," bisik Kiara mengagumi tempat pilihan kekasihnya.


"Kau suka?" Axel tersenyum kemudian menarik salah satu kursi untuk Kiara duduki.


"Ya, tempatnya bagus."


"Jika begitu, berarti kau harus menikmati kencan kita malam ini dengan senang hati."


Tepat setelah Axel menghenyakkan pantatnya pada kursi di hadapan Kiara, seorang pelayan datang dengan senyum ramah di bibir.


"Selamat malam, Tuan dan Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu sembari menyodorkan buku daftar menu restoran itu kepada Axel dan Kiara. "Anda mau memesan apa?"


"Kau ingin makan apa, sayang?" Axel melempar pertanyaan pelayan itu pada Kiara.


"Aku baru pertama kali kesini. Aku tidak tahu menu apa yang harus kupilih," jawab Kiara.


"Baiklah, berikan saja hidangan istimewa yang dimiliki restoran ini untuk kami," ucap Axel pada pelayan.


"Baik, Tuan dan Nona. Menu terlezat akan segera tiba di hadapan Anda," sahut pelayan sembari pamit undur diri.


Sesuai ucapan si pelayan restoran, tak butuh waktu lama, menu andalan mereka pun tersaji di hadapan Kiara dan Axel.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Axel setelah kunyahan pertama Kiara.


"Enak sekali," puji Kiara dengan kedua mata berbinar. "Benar-benar enak," lanjutnya. "Kau sering makan di sini?"


"Tidak," jawab Axel. "Hanya bila Mama datang menjengukku ke sini saja."


Kiara tak melanjutkan pertanyaannya. Dia memutuskan untuk lebih memilih topik lain sebagai bahan obrolan mereka sembari menikmati makan malam romantis itu.


"Ayo kita pergi, Andre."


Tiba-tiba saja Kiara mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Ia pun menoleh ke asal suara. Tampak Derri tengah berada di meja tak jauh dari tempat ia dan Axel berada. Sepertinya mereka telah selesai makan dan bersiap-siap untuk pergi.


"Ayo, aku tak ingin terlambat menyaksikan pertunjukan itu." Seorang wanita cantik memggelayut manja di lengan kiri Derri.


Dua orang laki-laki dan perempuan di hadapan Derri pun turut bangkit berdiri. Tanpa sengaja pandangan mata laki-laki yang Derri panggil dengan nama Andre itu bersitatap dengan kedua mata Kiara. Seketika laki-laki itu menunjukkan wajah canggung tak nyaman. Namun, segera dialihkan pandangannnya dari wajah Kiara, kemudian berjalan bersama Derri dan kedua wanita itu meninggalkan restoran.


"Seperti itu kah laki-laki yang Tante jodohkan denganmu?" Tiba-tiba saja Axel bersuara, membuat Kiara sedikit terkejut.


Gadis berambut hitam lurus itu pun tak menjawab, hanya melempar senyum saja ke arah Axel. Senyum yang tampak sangat dipaksakan.


"Lihat ini." Axel menyodorkan dua amplop hijau ke hadapan Kiara.


Kiara pun segera membuka dan mengeluarkan isi di dalam ampop itu.


"Wow ...! Tiket ... tiket," ucapan Kiara pun terputus. Ia tak kuasa menyelesaikan ucapannnya. Benar-benar tak menyangka Axel memiliki tiket pertunjukan teater musikal yang diinginkannya selama ini. "Aku telah memesannya jauh-jauh hari, tapi tak juga mendapatkannya. Tapi kau ... bagaimana bisa?"


"Entahlah."


"Entahlah?" Kiara membeo dengan wajah bingung.


"Dirga yang mendapatkannya untukku," sahut Axel.


Mendengar nama Dirga, Kiara terdiam untuk beberapa detik. Ia teringat pertemuan tak terduganya dengan Dirga saat ia tengah makan malam berdua dengan Derri kemarin malam.


"Dirga ... apakah dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Kiara ragu.


"Ya."


Kiara sesikit tersentak mendengar jawaban Axel.


"Apa itu?" Kiara kembali bertanya dengan ragu.


"Aku harus menggunakan tiket ini denganmu," sahut Axel. "Begitu dia bilang," lanjutnya. "Ayo kita segera ke sana. Gedungnya tidak jauh dari tempat ini.


"Tapi ...."


"Ayolah, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja malam ini."


"Apa makaudmu?"


"Malam ini kau benar-benar terlihat sangat cantik, sayang," jawab Axel tulus. "Aku ingin berlama-lama denganmu agar bisa terus memandang wajah cantikmu."


"Sudahlah, jangan menggombal. Ayo cepat kita pergi."


Axel tersenyum melihat rona merah di kedua pipi kekasihnya. Keduanya pun bergegas ke luar dari restoran dan segera menuju gedung pertunjukan teater.


Tiba di tempat yang dimaksud, ternyata pertunjukan telah dimulai. Keduanya langsung menelusup mencari nomor kursi sesui dengan angka yang tertulis pada tiket yang mereka miliki.


Lagi-lagi, tanpa sengaja Kiara mendapati Derri yang juga tengah menikmati pertunjukan malam itu. Wanita cantik yang tadi bergelayut manja di lengan Derri kini tampak duduk anggun di sebelah kanan laki-laki itu.


Kiara duduk diam pada tempatnya, berusaha menikmati pertunjukan teater yang tengah berlangsung, walaupun ternyata ia tak bisa benar-benar fokus dengan apa yang ditampilkan di panggung pertunjukan. Posisi duduknya yang berada di barisan belakang Derri membuat pandangannya terbagi antara panggung dan gerak-gerik laki-laki itu.


___


.


"Kau senang malam ini?" tanya Axel setelah mematikan mesin mobilnya.


"Ya, aku senang," sahut Kiara. "Kau yang berulang tahun, tapi kenapa malah aku yang dibuat bahagia?"


"Karena bahagiamu adalah bahagiaku, sayang. Aku sangat mencintaimu," ucap Axel dengan senyum tulus di bibir.


"Terimakasih Axel."


"Ya Tuhan, kau cantik sekali malam ini Kiara," puji Axel dengan tatapan gemas ke arah kekasihnya itu.


"Berhentilah memuji," tukas Kiara. "Ini hanya karena make up dan gaun yang kukenakan."


Ya, gadis itu memang tampak sangat sempurna dengan longdress berbahan brukat putih tanpa lengan yang kini sedang dikenakannnya. Salah satu gaun yang Derri belikan saat sedang liburan berdua di Jogja satu minggu yang lalu.


"Tidak Kiara, kau memang cantik," sanggah Axel. Tangan kanan remaja itu terulur mengusap lembut pipi Kiara.


Sentuhan Axel beralih ke bibir mungil Kiara.


"Sangat cantik," gumam Axel parau. Membuat Kiara hanyut dalam lembutnya sentuhan Axel.


Kiara terdiam menahan nafas saat Axel mengecup bibirnya.


"I love you," ucap Axel sembari mengusap lembut bibir merah itu dengan ibu jari.


"Sudah malam," ucap Kiara tiba-tiba. "Aku harus masuk, Axel," lanjutnya gugup.


Kiara bergegas turun tanpa menunggu Axel membukakan pintu mobil untuknya.


"Selamat malam Axel," ucap Kiara sembari melongok melalui jendela mobil.


"Iya, sayang. Aku pergi."


"Daghhh ...."


Axel membalas lambaian tangan Kiara sebelum mobilnya mengambil posisi putar balik, kemudian langsung meluncur pergi meninggalkan pelataran rumah Kiara yang mendadak terasa sepi.


Mang Jaja kembali menutup pintu gerbang setelah mobil Axel benar-benar melewati pintu setinggi dua meter itu. Sementara Kiara segera berbalik dan beranjak masuk ke dalam rumah.


Namun, tiba-tiba langkah Kiara terhenti saat dilihatnya Derri tengah berdiri tegak di belakang mobil spotnya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Laki-laki berparas Asia itu menatap lurus ke arahnya tanpa bicara.


"Om Derri ...," gumam Kiara yang tak menyangka akan kehadiran Derri di rumahnya.


Derri diam bergeming dengan tatapan semakin dingin mengarah pada gadis bergaun putih tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Apa Om melihat semuanya?" tanya Kiara dengan nada gelisah dan cemas.


BERSAMBUNG ...