I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 6. Kerapuhan yang Tersembunyi



Pagi yang cerah, disempurnakan dengan kicau burung yang bernyanyi merdu memenuhi panggilan alam. Mentari menebarkan sinar hangatnya menyelimuti seluruh wajah jagat raya. Ini adalah kesempurnaan yang benar-benar sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Namun tak demikian halnya dengan Derri. Laki-laki yang telah berpenampilan rapi dengan setelan jas navy sejak pagi itu tak memiliki waktu untuk menikmati keindahan-keindahan alam ini karena harus segera bersiap pergi ke kantor.


"Kudengar kau akan segera menikah."


Tiba-tiba seorang wanita menerobos masuk ke dalam rumah. Menghampiri Derri dan Andre yang tengah menikmati sesi sarapan pagi dengan tenang.


"Kau sudah tahu?" Derri mendongak, melempar senyum ke arah wanita itu. "Hah, kenapa kabar begitu cepat menyebar?"


"Jadi benar? Kenapa begitu tiba-tiba?" Bukan menjawab, wanita itu justru lanjut bertanya seraya mengambil duduk tepat di sebelah Derri. "Apa salah satu teman kencanmu hamil? Dia minta tanggung jawabmu?"


Tanpa permisi wanita itu meminum jus jeruk dari gelas Derri hingga tandas.


"Hah, kenapa bicaramu begitu berterus terang? Tak bisa kah kau menggunakan kosakata yang lebih halus?" protes Derri sebelum kembali menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut.


"Kata-kata halus untuk laki-laki brengsek macam dirimu? Tentu saja semua kosakata denotatif tidak akan pernah pantas bagimu."


Derri mendengus kesal. Sementara Andre terus menikmati sarapannya dalam diam.


"Hei, sopanlah sedikit bila kau bicara padaku. Walau bagaimana pun aku ini tetap kakakmu, Lana," hardik Derri tak terima.


"Ya, sayang sekali kau adalah kakakku," keluh Lana pasrah.


Lana menatap tajam ke arah Derri. Lima detik kemudian sebuah senyuman terukir di bibir tipisnya. Tanpa memberi aba-aba, langsung dipeluknya laki-laki yang masih sibuk dengan sendok dan garpu itu dari samping dengan sangat erat.


"Selamat ya, Kakakku tersayang. Akhirnya ... kau menikah juga. Kupikir kau tidak akan menikah selamanya," bisik Lana tepat di telinga Derri.


"Ucapan selamat tidak akan berkesan tanpa adanya hadiah atau kado," seloroh Derri tanpa minat.


"Jadi, siapa wanita sial yang mau menerimamu sebagai suaminya?" tanya Lana tanpa berminat untuk menanggapi selorohan kakak laki-lakinya itu.


"Apa maksudmu? Justru aku lah yang sial dalam perjodohan ini!"


"Perjodohan? Jadi kalian dijodohkan?" tanya Lana tak percaya. "Hahahahaha .... Ya Tuhan, semoga bumi tetap setia pada porosnya."


Lana tertawa terbahak-bahak tak berkesudahan. Bahkan hingga keluar titik-titik air dari kedua matanya.


"Hei, apa maksudmu?"


"Hahahaha ...! Apa si harimau jantan ini sudah tak perkasa lagi, sampai-sampai mencari pasangan pun ia tak mampu, hingga membutuhkan bantuan orang lain untuk mencarikan jodoh?"


"Hei, jaga bicaramu. Kau bisa melukai harga dirinya." Akhirnya Andre turut bersuara juga, yang justru membuat tawa Lana semakin pecah.


Derri dan Andre, bahkan keduanya sampai terheran-heran dengan sikap Lana pagi ini. Sebab setahu mereka Lana bukanlah sosok yang ekspresif. Di adalah wanita yang tidak banyak berbicara, apa lagi mengumbar tawa.


"Sudah ... sudah, sekarang katakan siapa wanita itu," kata Lana setelah berhasil menghentikan tawanya.


"Bukan wanita," sahut Derri akhirnya, setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.


"Hah? Lalu?" sahut Lana dengan tatapan jijik ke arah Derri.


"Hei, apa yang kau pikirkan? Kau tahu bagaimana aku!" seru Derri merasa tak nyaman.


"Tapi tadi kau bilang bukan wanita." Lana membela diri sendiri.


"Remaja," ralat Derri tanpa minat.


"Remaja?"


"Abege."


"Abege?"


"Anak SMA."


"SMA?!"


"Hei, berhentilah membeo! Kau membuatku merasa terhina!" hardik Derri kesal.


"Hahahaha ...." Tawa Lana kembali berderai.


Andre yang telah menyelesaikan sarapan paginya, lebih memilih untuk berdiri dan segera pergi meninggalkan kedua kakak beradik yang masih heboh di meja makan itu.


___


.


Pukul sebelas malam, Derri baru pulang dari tempatnya bekerja. Ia terpaksa harus lembur hingga larut malam mengingat ada beberapa hal mendesak yang harus diselesaikannya untuk kepentingan meeting besok pagi.


Dengan langkah pelan Derri berjalan melewati lorong menuju kamarnya yang terletak di sudut ruangan. Tepat di depan pintu kamar, dihentikan langkahnya. Diurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar, kemudian berbalik menatap pemandangan malam dari teras kecil yang terletak tepat di depan pintu kamarnya. Entah mengapa ia ingin sekali menikmati gelap dunia ditemani sapuan angin malam ini.


Kedua tangan Derri sedang menyalakan sebatang rokok saat gawai pintarnya di dalam saku celana meraung-raung. Tangan kanan laki-laki bermata sipit itu bergerak meraih ponsel dari saku celana, sementara sebatang rokok terjepit di antara jari tengah dan telunjuk kiri.


"Ya," sapa Derri begitu panggilan terhubung.


" ... "


"Sayang sekali Liza, sudah ada wanita yang menemaniku malam ini."


" ... "


"Oh, Inggrid. Maaf."


" ... "


"Ah iya, Isabelle. Maksudku Isabelle, iya."


" ... "


"Tentu saja, Isabelle."


" ... "


Panggilan pun dimatikan. Dimasukkannya kembali gawai pintar itu ke dalam saku celana. Dihisapnya rokok di tangan kiri dalam-dalam sebelum menanggalkannya di antara kedua bibir. Dua tangannya bergerak, melepaskan jas navy dari tubuh tegapnya hingga hanya menyisakan kemeja putih yang kemudian digulung lengannya hingga sebatas siku.


Entah mengapa saat ini laki-laki beparas Asiatis itu ingin bersantai menghirup udara malam, menikmati keheningan jagat raya bersama kepulan asap rokok dari hidung dan mulutnya.


"Lelah?" Tiba-tiba saja Andre sudah berdiri di samping Derri dengan dua cangkir kopi hitam.


"Hanya perlu sedikit angin segar saja." Derri menerima satu cangkir kopi yang disodorkan oleh Andre.


"Sudah beres. Tak akan ada masalah untuk meeting besok pagi. Aku bahkan telah memaksa Brenda lembur hingga jam sembilan malam untuk hal itu."


"Kasihan sekali dia," komentar Andre.


Derri menoleh ke arah Andre sebelum berucap, "Setara dengan gajinya."


Andre tak lagi menanggapi. Laki-laki yang telah mengganti setelan kerja dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan itu lebih memilih diam. Menikmati kopi hitamnya dan udara malam yang telah terkena polusi akibat hembusan kepulan asap dari hidung dan mulut Derri.


"Kenapa dia tampak begitu benci padamu?" Tiba-tiba Andre angkat bicara setelah hampir sepuluh menit keduanya diam tak saling bicara.


"Ceritanya panjang," sahut Derri setelah menyesap kopi yang tadi Andre berikan. "Kau masih ingat uang yang kuminta padamu saat berada di Bali?"


Andre mengangguk mengiyakan, kemudian meletakkan cangkir kopi di atas meja saat Derri mulai bercerita.


"Waktu masuk ke kamar hotel setelah selesai meeting kutemukan dia sudah tertidur pulas di dalam kamarku. Awalnya kupikir dia adalah wanita malam yang Hans sediakan untukku."


Derri tersenyum mengingat sepenggal kisahnya dua minggu yang lalu.


"Malam itu dia mengenakan dress warna biru laut. Tampak sangat cantik dan begitu polos."


Derri menghela nafas sejenak, kemudian meletakkan cangkir kopinya di sebelah milik Andre. Sementara Andre hanya diam menyimak.


"Uang yang kau siapkan itu kutinggalkan padanya, meskipun aku sama sekali tak menyentuhnya."


Derri kembali menghentikan ceritanya. Dihisapnya sebatang rokok kuat-kuat sebelum membuang puntungnya dan mengepulkan asapnya ke udara bebas.


"Tapi sepertinya dia hanya salah masuk kamar. Hal itu baru kuketahui dua hari kemudian saat dia datang ke kantor dan melabrakku habis-habisan di sana." Derri tersenyum geli mengingat peristiwa yang baru dialaminya dua minggu yang lalu itu.


Sementara Andre tersenyum simpul saat teringat bahwa ia memang pernah melihat remaja cantik itu di lantai teratas gedung kantornya. Saat hendak menemui Derri di dalam ruangan, secara kebetulan tirai pada jendela kaca ruangan Derri tengah terbuka. Kemudian tanpa sengaja ia melihat adegan seorang remaja perempuan yang melempar sebuah sepatu ke arah Derri. Lebih serunya lagi, lemparan itu tepat mengenai bagian pelipis laki-laki berkulit putih itu.


"Lalu bagaimana?" Andre bertanya setelah berhasil menyembunyikan senyumnya.


"Bagaimana apanya?"


"Perjodohan itu," jawab Andre. "Kau menyetujuinya?"


"Yang benar saja," jawab Derri. "Apa di dunia ini sudah tidak ada perempuan lain hingga aku harus menikah dengan gadis abege seumuran dia?"


"Siapa tahu dia itu memang jodohmu," timpal Andre tanpa menoleh. "Jodoh yang dikirimkan Tuhan untukmu di waktu yang tepat."


"Ayolah, aku tidak harus merawat dan mendidik gadis ingusan agar menjadi dewasa, bukan?" sanggah Derri merasa konyol. "Sementara di luar sana begitu banyak wanita dan gadis matang yang begitu menarik dan sempurna."


Andre menoleh, kemudian tersenyum simpul ke arah Derri.


"Dan mereka belum tentu gadis baik-baik." Andre menyambung ucapan Derri.


"Terserah apa katamu. Tapi aku tidak akan mungkin menyetujui perjodohan ini," ucap Derri santai. "Mengencani anak bau kencur bukanlah tantangan bagiku. Apa lagi menikahinya. Itu adalah satu hal yang benar-benar tidak akan pernah ada dalam rencana hidupku."


"Tapi sepertinya gadis abege itu telah masuk ke dalam kehidupanmu, bahkan hatimu."


"Non sense," sahut Derri. "Aku bahkan bisa mendepak dan melupakannya mulai saat ini juga."


"Aku rasa itu tidak akan mudah bagimu," ucap Andre tenang. "Kau bahkan bisa tahu jika arah pertanyaanku tadi adalah mengenai gadis itu tanpa aku harus repot-repot menyebut namanya," kejar Andre tak mau menyerah.


Derri menoleh, kemudian tersenyum sekilas menanggapi ucapan Andre barusan.


"Terserah kau saja," ucap Derri akhirnya. "Aku akan memberikanmu cuti satu hari jika memang kau merasa perlu mengunjungi tempat ibadah untuk memanjatkan do'a."


"Aku tak perlu turun tangan," sergah Andre dengan senyum misterius di bibir. "Kedua nyonya besar itu saja sudah cukup."


"Hei, kenapa aku jadi merasa kau mendukung perjodohanku ini?" Kedua mata Derri mendelik curiga.


"Tidak juga," tukas Andre santai. "Aku hanya ingin kau berhenti bermain-main dengan para wanita dan mulai menata hidupmu."


Derri menoleh, memandang Andre yang juga tengah menghadap ke arahnya.


"Hidup seperti apa yang kau maksud?" tanya Derri dengan wajah serius. "Aku telah memiliki segalanya. Keluarga yang sangat menyayangi dan kusayangi. Harta ... bahkan uang yang kumiliki saat ini tidak akan habis hingga generasi berikutnya."


"Wanita," tukas Andre.


"Wanita?" Derri menanggapi ucapan Andre dengan pertanyaan, kemudian menyeringai meremehkan. "Di luar sana ada banyak wanita, juga gadis yang bersedia menjadi bagian dari diriku yang bahkan aku tak perlu repot-repot membuat komitmen dengan mereka. Mereka semua dengan senang hati datang padaku kapanpun aku menginginkannya." Derri tersenyum jumawa, kemudian menepuk pundak Andre seraya berkata, "Kau tak perlu khawatir mengenai hal itu, Andre."


"Sedangkan hidup tidak hanya butuh keluarga besar, harta, ataupun teman tidur saja," sergah Andre. "Dan kau tahu betul akan hal itu."


Derri terdiam mendengar ucapan Andre. Dia paham betul ke mana arah pembicaraan laki-laki yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung itu. Namun sepertinya terlalu arogan baginya untuk membenarkan kata-kata yang ke luar dari mulut tangan kanan setianya itu.


Andre menghela nafas sejenak, meraih cangkir kopi lalu menyesapnya penuh kenikmatan.


"Berdamailah dengan hatimu, Derri. Relakan ... lepaskan hatimu yang telah kau penjara dan kau sakiti sekian lama untuknya. Dia sudah memiliki kehidupan sendiri."


"Kau salah," sanggah Derri. "Dia sudah lama pergi dari hatiku. Aku sudah melupakannya," lanjutnya dengan tatapan menerawang lurus ke depan.


"Jika memang begitu, maka bukalah hatimu. Kau berhak untuk mencintai dan dicintai."


Derri terdiam selama beberapa detik, kemudian mengusap kasar wajah tegasnya.


"Berhentilah bicara seperti itu," ucap Derri kemudian. "Aku merasa kau seperti seseorang yang sedang menasehati mantan terindah," lanjutnya sembari meringis jijik. "Benar-benar menjijikkan."


"Mungkin saja," sahut Andre. "Mungkin aku sudah mulai bosan melihat gaya hidupmu yang seperti ini."


"Hei, apa-apaan kau ini?" Derri mendelik kesal. "Jangan lupa, gajimu ditransfer langsung dari nomor rekeningku."


"Semoga saja anak SMA itu bisa mengubah hidupmu menjadi lebih baik," sahut Andre tanpa menghiraukan ancaman konyol yang keluar dari mulut saudara sekaligus atasannya itu.


"Kau tahu betul seperti apa seleraku." Derri bergumam pelan.


"Sedangkan wanita yang kau anggap sesuai seleramu saat ini telah meninggalkanmu dua belas tahun yang lalu."


Derri melirik tajam ke arah Andre yang justru sibuk mengamati cangkir kopi di tangan kanannya. Sengaja mengacuhkan tatapan dari dua netra hitam itu.


Derri pun berbalik, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar, meninggalkan Andre sendiri tanpa kata. Sementara Andre lebih memilih tetap berdiam diri di tempatnya. Menikmati sisa kopi dalam cangkirnya di teras depan kamar Derri sembari memantau keadaan di sekitar pekarangan rumah mewah itu.


Satu jam kemudian Andre melangkah pelan menghampiri pintu kamar Derri yang kebetulan masih sedikit terbuka. Dari tempatnya berdiri tampak sesosok laki-laki bertubuh tegap yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidur masih dengan kemeja putih dan celana bahan melekat pada tubuh lelahnya.


"Aku tahu kau hanya berpura-pura kuat dan tegar, Derri. Kenyataan sebenarnya kau begitu rapuh. Aku tahu kau lelah dengan semua ini," gumam Andre lirih pada dirinya sendiri. "Kau memutuskan untuk terjun ke dalam buaian gemerlap dunia malam dan menyiksa dirimu sendiri hanya karena ingin melampiaskan rasa sakit hatimu. Kau rusak hidup dan masa depanmu ... dan kau sebut itu sebagai bersenang-senang. Tapi hidupmu tak boleh berhenti di titik ini saja. Kau harus bangun dan berjuang untuk meneruskan hidupmu."


Andre terdiam beberapa saat, kemudian menghela nafas lelah sebelum menutup pintu kamar Derri rapat-rapat. Dilangkahkan kakinya meninggalkan kamar di ujung lorong itu dalam ketenangan.


BERSAMBUNG ...