I LOVE YOU, OM

I LOVE YOU, OM
Part 5. Kemarahan Axel



Kiara POV


"Silahkan diminum, mas ganteng," ucap Mbak Iyem dengan senyum malu-malunya saat menyajikan minuman dan cemilan untuk kami berdua. Tidak lama kemudian Mbak Iyem segera undur diri setelah mendapat seulas senyuman dari Axel.


"Aku tahu, kau pasti sengaja memakai baju itu untuk menyambut kedatanganku." Axel duduk tenang sambil tersenyum menggoda.


"Iya, apakah aku terlihat buruk?"


"Tidak." Dijawabnya pertanyaanku dengan cepat. "Kau tahu? Kau terlihat sangat cantik malam ini," pujinya yang tentu saja membuat hatiku berbunga-bunga hingga serasa melayang di udara.


"Benarkah?"


Sengaja kutampilkan wajah sok kalem di hadapan pacar gantengku itu. Padahal sebenarnya jantung ini tengah kebat-kebit karena pujian dari bibir tipisnya itu. Ah, Axel ... kau memang kekasih yang sempurna. Kekasih idaman para remaja. Penyayang, penyabar, penuh pengertian, dan bonusnya ... dia kaya dan sangat tampan. Hehehehe ....


"Iya, sayang."


Hatiku terasa semakin menghangat karena pujian lelaki yang telah setahun ini mengisi hari-hariku dengan penuh warna warni.


"Hei, ini kan malam minggu. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" Terdengar tiba-tiba memang, tapi kurasa itu bukan ide yang buruk.


"Memangnya kita mau kemana?"


"Kemana, ya?" Sesaat dikerutkan keningnya, tampak berfikir. "Kita pergi nonton saja, yuk," ucapnya kemudian.


"Ah, boleh-boleh."


Tentu saja aku menyahut dengan penuh antusias. Kupikir mungkin pergi nonton akan menjadi salah satu alternatif yang tepat untuk mengusir rasa kesalku setelah hampir seharian kuhabiskan dengan om-om menjengkelkan itu.


"Ya sudah, Mama mana?"


"Mama? Kita pergi bersama Mama juga?"


Axel apa-apaan sih? Kenapa malah mau mengajak Mama segala?


"Bukan. Aku ingin meminta izin untuk membawa putrinya yang cantik jelita ini jalan-jalan ke luar."


Nah loh ... tuh kan, siapa yang tidak merasa istimewa coba? Diperlakukan dengan manis oleh laki-laki sopan dan tampan macam Axel.


"Oh, ya sudah kalau begitu kau tunggu di sini dulu sebentar. Aku akan memanggil Mama," pamitku pada Axel. Namun belum sempat aku berdiri tiba-tiba terdengar suara yang belakangan sangat familiar di kedua telingaku.


"Hei, sayang ...." Om-om mesum itu menyapaku sambil melempar senyum yang entah mengapa tampak menawan di mataku. "Kau sudah selesai?" tanyanya kemudian sambil duduk merapat di sebelahku.


Selesai apa maksudnya? Entahlah, aku diam tidak menanggapi. Toh, tidak penting juga, bukan?


"Eh, ada tamu rupanya." Lagi-lagi suara om-om itu. "Temannya Kiara ya? Kenalkan, namaku Derri." Dia menyapa sambil mengulurkan tangan pada Axel.


"Axel." Axel menyambut sopan uluran tangan di depannya.


"Sudah malam, aku pulang dulu, ya." Pandangan om-om itu kembali kepadaku lagi.


Ya Tuhan, kenapa harus melapor padaku segala? Jika mau pulang, ya pulang saja sana. Semakin cepat dia pergi, maka akan semakin bagus. Aku bahkan tak perduli jika dia dirampok di tengah jalan, atau bahakn diculik sekali pun. Dasar pengganggu!


"Jangan lupa dengan acara kita besok. Aku akan menjemputmu pukul sembilan."


Suara yang benar-benar menduduki posisi new entry tetapi langsung terdengar familiar di telinga itu membuyarkan sumpah serapahku. Membuatku kembali menatap ke arah dua mata hitamnya.


Hei, tunggu dulu! Acara? Acara apa? Apakah aku punya janji dengannya? Acara apa sebenarnya? Aku masih berusaha mengingat-ingat, tapi tetap saja ... tidak merasa punya janji dengannya. Hah, terserah dia saja mau berkata apa.


Saat itu, tiba-tiba aku dikejutkan dengan gerakannya yang mengecup kedua pipiku tanpa permisi. Belum selesai dengan rasa terkejut, bibirnya telah kembali mendarat lagi, dan kali ini di bibirku. Lagi!


"Nanti aku akan meneleponmu begitu sampai di rumah." Suara laki-laki itu mengembalikan kesadaranku dari keterkejutan.


Hei, apa-apaan ini tadi? Dengan kurang ajarnya dia menciumku? Lagi? Dia menciumku lagi?


"Ah, aku pasti akan sangat merindukanmu, walapun baru saja menghabiskan sore ini denganmu." Laki-laki itu kembali bersuara sambil mengacak puncak kepalaku. Ekspresinya tampak begitu ... gemas padaku.


Dasar om-om brengsek! Apa yang dia lakukan padaku? Tiba-tiba mencium, berjanji menjemput, berjanji menelepon dan mengacak rambutku. Hah, seperti dengan kekasihnya saja. Namun tak bisa kupungkiri, sikapnya barusan telah berhasil membuatku syok, tergugu dan terbengong-bengong di tempat. Semuanya terjadi dengan begitu cepat.


"Apa-apaan ini, Ra?!" Sentakan suara keras Axel mengembalikan kesadaranku. Seketika kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Sepi, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku ... dan Axel dengan sorot mata menyala garang menatap tepat ke arahku.


"Katakan padaku! Siapa dia?" Axel bangkit dari duduknya. Emosi, itulah yang kulihat dalam sorot tajam dari kedua matanya saat ini. Sementara aku bingung harus menjawab apa.


"Dia ... dia ...." Bibirku kelu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada kekasihku yang tengah dikuasai emosi ini. Aku pun juga bingung mau memulai dari mana penjelasanku nanti.


"Kau tidak bisa bicara? Jadi benar kau selingkuh di belakangku?"


Axel kembali berbicara, mengutarakan tuduhan yang terdengar begitu kejam dan menyakitkan di telingaku. Tapi kurasa itu wajar, jika melihat bagaimana situasi saat ini.


"Tidak Axel, itu tidak benar."


"Lalu? Alasan apa yang akan kau berikan? Apakah dia sepupumu? Apakah ada sepupu yang memberi ciuman di bibir pada sepupu yang lain?"


"Tidak Axel. Bukan seperti itu." Aku mulai bingung, tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan emosi kekasih hatiku ini.


"Aku kecewa padamu, Ra!" Axel berseru kasar dengan rahang mengeras. Iapun keluar tanpa menoleh sedikitpun padaku.


"Axel, tidak Axel. Jangan pergi!" Kupercepat ayunan kakiku untuk menyamai langkahnya. "Dengarkan dulu penjelasanku. Semua tidak seperti yang kau pikir." Aku berusaha untuk menahannya sebisaku.


Axel menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mobil tanpa menoleh, apa lagi berbalik. Namun ekor matanya melirik tajam ke arahku.


"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ra. Apakah itu bukan kebenaran? Hanya pertunjukan hiburan begitu maksudmu? Kau benar-benar konyol, Kiara!"


Hah, benar-benar sarkasme yang menusuk hati. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga emosi. Aku paham itu. Ditambah lagi, Axel belum tahu bagaimana cerita sebenarnya.


"Tidak Axel, tidak. Bukan seperti itu." Kuraih kedua tangan Axel, berharap bisa menahannya di sini untuk mendengarkan penjelasanku, walau hanya beberapa saat.


"Dari tadi tidak ada satupun ucapanmu yang berupa sebuah penjelasan untukku." Dihempaskannya kedua tanganku dari tangannya. "Kau bahkan diam saja saat dia menciummu."


"Tidak Axel, jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Dia bukan siapa-siapa."


Axel sama sekali tidak menanggapi ucapanku. Ia bahkan buru-buru duduk di balik kemudi dan menyalakan mesin mobilnya. Bagaimana ini? Aku yang harus kulakukan?


Tanpa berpikir panjang aku segera memutari bagian depan mobil dan duduk di samping jok kemudi. Apa pun caranya, kesalahpahamanku dengan Axel harus selesai malam ini juga.


Mobil Axel melesat pergi dengan kecepatan tinggi. Suasana di dalam mobil menjadi hening. Hanya deru mesin mobil yang terdengar saat ini. Kulirik wajah Axel, masih tampak tegang dan amarah terbaca jelas di sana, membuatku takut untuk membuka suara.


Tiga puluh menit kemudian Axel menepikan mobilnya di pinggir jalan. Jalur yang cukup ramai meskipun bukan jalan protokol. Dimatikannya mesin mobil setelah memarkirkan mobilnya di posisi yang tepat.


Axel mengusap wajah dengan kedua tangannya, kemudian membuang nafas lelah. Dia diam tanpa kata, membuat nyaliku semakin ciut untuk angkat bicara. Sungguh suasana yang membuatku benar-benar tidak nyaman.


"Ceritakan." Axel membuka suara setelah hening cukup lama.


Kuberanikan untuk menoleh, memandang wajah milik laki-laki yang selama ini mengisi pikiran dan hari-hariku. Emosi dan ketegangan sudah sirna dari sana. Berganti dengan tatapan datar ke arahku.


"Lalu?" tanyanya datar.


"Kami dijodohkan," jawabku lirih, tak kuasa menyampaikan kalimat yang pastinya akan terasa menyakitkan bagi kami berdua.


"Dan kau menerimanya," simpul Axel masih dengan tatapan datar ke arahku.


"Tentu saja aku menolaknya," sanggahku cepat.


"Kenapa?"


"Karena kau yang kucintai, bukan dia."


Kulihat tatapan mata Axel mulai menghangat. Kuraih kedua tangannya, kugenggam erat untuk memperkuat keyakinan pada hatinya.


"Bagaimana bisa Mama menjodohkanmu dengannya? Sepertinya usianya pun juga jauh di atas kita."


"Dua belas, atau mungkin tigabelas tahun," sahutku malas.


"Bukankah Mama tahu hubungan kita?"


"Iya."


"Lalu bagaimana bisa Mama mempercayakanmu pada orang lain?"


"Dulu saat masih tinggal di Bekasi, kami bertetangga." Aku mulai bercerita. "Setiap hari Mama membawa kakak-kakakku bermain ke rumah Tante Eva. Saat itu dia masih kecil. Mama sangat menyayanginya, seperti anaknya sendiri. Mungkin karena Mama menginginkan kehadiran anak laki-laki. Begitu juga dengan kedua kakakku, mereka sangat betah bermain dengan dia. Sama seperti Mama, mereka juga memgharapkan kehadiran saudara laki-laki. Makanya Mama dan kedua kakakku sangat mendukung perjodohan ini."


"Bagaimana denganmu?"


"Kaulah laki-laki yang kucintai, Axel. Bukan dia."


"Kau akan menentang pilihan Mama?"


"Bukan menetang. Aku hanya ingin kau saja yang kucintai. Aku harap suatu saat nanti Mama bisa mengerti."


"Lalu bagaimana dengan kita sekarang?"


"Berjuang. Kita akan berjuang bersama-sama untuk mendapatkan hati Mama. Waktu kita masih panjang Axel."


"Kau tahu? Aku tadi benar-benar dibakar cemburu. Dia memperlakukanmu seenaknya sendiri. Dia bahkan berani menciummu di depan mataku."


Ingatanku kembali pada ciuman om-om mesum itu. Benar yang dikatakan Axel, aku diam saja saat dia menciumku. Diam karena aku begitu syok dan terkejut? Saking terkejutnya aku memang benar-benar hilang kesadaran waktu itu. Atau jangan-jangan aku memang menyukai ciuman itu? Eh?


"Ingin rasanya kubuat dia babak belur saat itu juga. Namun aku masih cukup waras untuk tidak membuat keributan di rumahmu dan membuat orang tuamu menilai buruk padaku."


Ucapan Axel mengembalikanku dari lamunan yang tidak jelas barusan. Bodohnya, pada saat seperti ini yang kupikirkan malah ciuman dari laki-laki mesum itu!


"Iya aku tahu, maafkan aku," sahutku.


Ya, ucapan Axel memang masuk akal. Saat ini Mama lebih memihak pada kubu om-om tak waras itu. Apa jadinya jika tadi Axel membuat keributan di rumah, meskipun bukan dia pemicunya, pasti Mama akan semakin menentang hubungan kami.


"Sudahlah, lupakan pertengkaran kita tadi." Axel mengusap punggung tanganku lembut. "Kau mau nasi goreng? Nasi goreng disini enak loh," lanjut Axel sambil menunjuk sebuah warung tenda tak jauh dari tempat kami memarkir mobil.


Axel turun dari mobil, "Tunggulah disini sebentar, aku akan memesankan untukmu. Kita makan di dalam mobil saja."


"Ok."


Syukurlah, akhirnya aku bisa menarik nafas lega. Entah apa yang akan terjadi jika Axel bukan tipikal laki-laki yang pengertian seperti itu. Mungkin kata putus sudah meluncur dari mulutnya malam ini juga.


Hah, ini semua gara-gara si Om mesum itu. Dia benar-benar telah mengacaukan semuanya. Awas saja nanti, aku pasti akan membuat perhitungan dengannya.


"Drrrtt...drrrtt...drrrtt," ponselku bergetar. Kurogoh saku dress bagian depanku. Ternyata telepon dari Mama. Kugeser ikon berupa gagang telepon hijau.


"Halo, Ma ...."


"Kiara sayang, kamu dimana? Mama mencarimu ke seluruh sudut rumah, tapi kamu tidak ada."


Kenapa suara Mama terdengar begitu biasa saja di telingaku? Seolah tidak ada beban, seperti tidak sedang kebingungan karena mencariku.


"Sudahlah, Ma. Tidak usah pura-pura tidak tahu apa-apa seperti itu. Ini semua memang rencana Mama, kan?"


"Hei, apa maksudmu? Mama tidak tahu apa-apa. Mama ini orangnya polos loh," kembali terdengar suara Mama yang entah kenapa malam ini mendadak terdengar begitu menyebalkan di telingaku. Langsung kumatikan sambungan telepon tanpa berpamitan pada Mama terlebih dahulu.


Ponselku kembali bergetar. Ada satu pesan masuk di aplikasi berlogo gagang telepon hijau.


"Kalau pulang sekalian bawakan wedang ronde buat Mama, ya. Hehehe ...," pesan dari Mama.


Segera kumasukkan kembali ponselku ke dalam saku saat kulihat Axel berjalan mendekat sambil membawa dua piring nasi goreng.


"Ini, sayang." Axel menyodorkan sepiring nasi goreng di tangan kanan sembari melempar senyum manisnya.


"Terimakasih."


"Cicipilah dulu, dijamin pasti ketagihan."


Kami segera memakannya dengan lahap. Kebetulan aku sedang lapar juga, belum makan dari sore.


Setelah selesai makan, Axel mengajakku jalan-jalan berkeliling dengan mobilnya, sekedar melepas penat. Rencana kami untuk menonton bioskop pun gagal tak terlaksana.


Tepat pukul sepuluh mobil Axel berhenti di halaman rumah. Setelah puas jalan-jalan Axel memang langsung mengantarku pulang.


Axel turun terlebih dahulu, kemudian berjalan memutari kap mesin mobil, membukakan pintu untukku.


"Kau baik-baik saja?" Axel bertanya setelah selesai membantuku ke luar dari mobilnya.


"Kau tahu? Tadi aku sempat merasa takut kehilanganmu. Benar-benar takut."


Ucapanku kali ini benar-benar tulus tak dibuat-buat. Aku memang sama sekali tak ingin berpisah dari Axel karena kami saling mencintai. Aku yakin ketulusan cinta kami mampu menghadapi aral sekuat apa pun, termasuk om-om menyebalkan itu.


Perlahan Axel meraih kedua tanganku, kemudian menggenggam lembut jari-jemariku ini.


"Selama kau masih mencintaiku, hatiku tetap milikmu. Jadi, jangan pernah berubah ya, sayang. Tetaplah mencintaiku."


Axel berbisik lembut di telingaku. Tangan kanan Axel kembali bergerak, kemudian mengusap lembut pipiku perlahan.


"Sebenarnya aku masih rindu padamu." Sengaja kuucapkan kata-kata itu untuk menahan agar Axel tidak segera pergi dari sini.


"Ya, tapi ini sudah malam, sayang. Sebaiknya kau segera masuk ke dalam rumah dan aku harus segera pulang."


Axel mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku hanya terdiam saat dia mengecup singkat bibirku. Ciuman petama dari Axel yang bukan ciuman pertamaku lagi.


BERSAMBUNG ...