
"Indah sekali," gumam Stella dengan mata berbinar menatap isi di dalam kotak beludru hitam mungil di tangannya.
"Kau suka?" tanya Derri dengan senyum tersungging di bibir.
"Iya, Derri. Aku suka," sahut Stella tanpa mengalihkan pandangannya.
"Berbaliklah," ucap Derri lembut sembari meraih isi dalam kotak itu. "Aku akan memakaikannya."
Stella pun menurut, berbalik hingga membelakangi Derri. Hanya dalam hitungan detik, kini seuntai kalung dengan liontin berbentuk bunga matahari telah melingkar sempurna di leher jenjang Stella.
"Selamat ulang tahun, Stella." Sebuah kecupan lembut Derri sematkan di kening gadis cantik itu.
Sesaat Stella menatap dua manik hitam di hadapannya, kemudian buru-buru menunduk, menyembunyikan rona merah yang ia yakin pasti tengah menari-nari di kedua pipi tirusnya.
"Bagaimana menurutmu?" Stella tersenyum ke arah Derri sembari memegang liontin indah itu dengan jemari kanan.
Derri tersenyum, kemudian menatap singkat kedua manik mata di hadapannya itu sebelum berucap, "Kau tampak cantik sekali dengan benda itu."
"Terimakasih, Derri," bisik Stella. "Aku benar-benar menyukainya."
"Sama-sama," sahut Derri sembari mengusap sekilas pipi kiri Stella.
"Sebenarnya aku tak yakin kau bisa memilih kalung sebagus ini untukku," ucap Stella saat Derri beringsut untuk kembali ke tempat duduknya semula.
"Itu? Hah, ternyata kau mengenalku dengan sangat baik," sahut Derri. "Aku memang meminta seseorang memilihkannya untukmu."
"Benarkah? Siapa orang itu? dia memiliki selera yang bagus." Stella mulai menyantap hidangan yang tersaji di hadapannya.
"Kiara," jawab Derri singkat.
Seketika aktifitas Stella terhenti. Perlahan diletakkan sendok dan garpu di atas piring.
"Maksudmu calon istrimu itu?" tanya Stella dengan wajah mendadak sendu.
"Iya." Derri mulai mengunyah suapan pertamanya.
"Apa dia tahu jika kau membelinya untukku?"
"Tentu saja. Dia bahkan memintaku agar mendeskrisikan tentang dirimu untuk menentukan liontin macam apa yang paling tepat untukmu."
"Oh ...," sahut Stella dingin.
"Apakah ada satu hal lain yang kau inginkan?" tanya Derri di sela kunyahannya.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan membelikannya untukmu."
"Kau pikir aku ini wanita yang materialistis?" Stella mencoba berkelakar dan menunjukkan senyum manisnya, walaupun gagal.
"Dan kau berhak untuk tenang karena aku tidak akan jatuh miskin hanya karena dimanfaatkan oleh wanita materialistis seperti dirimu." Derri tersenyum simpul.
"Permintaanku hanya satu," sahut Stella dengan tangan masih berada di kedua sisi piringnya.
"Katakan."
"Cepatlah kau menikah agar aku tak perlu terus seperti ini."
"Seperti ini apa maksudmu?"
"Aku yakin kau tahu betul dengan apa yang kumaksud."
Aktifitas Derri terhenti. Tangan kirinya pun terulur, kemudian menggenggam erat tangan kanan Stella yang masih terkulai di atas meja. Seperti menyalurkan sesuatu agar wanita itu mendapatkan spirit khusus untuk kekuatan hatinya.
"Dan kau pun tahu bahwa aku tak kan mungkin bisa jatuh cinta lagi," ucap Derri penuh rasa bersalah. "Katakan ... apa yang harus kulakukan agar kau bahagia."
Tangan kiri Stella terulur, turut menggenggam genggaman tangan Derri.
"Sepertinya musim hujan sudah mulai menyapa," ucap Stella berusaha mencairkan suasana.
Derri menoleh, mengikuti arah pandang Stella ke jalanan. Tampak hujan gerimis yang turun menyelimuti sasana malam itu.
___
Kiara duduk termenung di lantai balkon kamar. Dibiarkan rambut hitamnya terurai diterpa angin malam. Ingatannya kembali ke masa dua hari yang lalu. Saat itu, tepatnya hari Minggu, Kiara sedang berada di Kafe Biru, menunggu kedatangan ketiga sahabat kentalnya.
Hujan gerimis yang telah mengguyur bumi semenjak dua jam sebelumnya membuat Kiara harus bersabar menunggu kedatangan ketiga temannya yang mungkin sedikit terlambat. Hampir satu jam lamanya Kiara duduk diam sendirian sambil menikmati satu cup es krim favoritnya. Meski sedang gerimis sekalipun, es krim vanila tersebut tetap terasa nikmat di lidahnya.
"Suzi mana sih? Katanya sudah on the way dari tadi, kenapa masih belum datang juga."
Untuk kesekian kalinya kepala Kiara kembali menunduk, memeriksa jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Akhirnya ia pun harus kembali mencoba bersabar.
Tanpa sengaja ekor mata gadis manis itu menangkap sosok yang dikenalinya baru melewati pintu masuk kafe. Derri melangkah dengan tubuh berbalut jaket hoodie putih yang sedikit basah akibat menembus gerimis dari mobilnya yang terparkir di pelataran hingga ke dalam kafe.
"Candra ...!" Terdengar suara Derri yang sedikit berseru.
Kiara langsung menundukkan kepala, berharap agar Derri tidak melihat keberadaannya. Namun sial, laki-laki itu justru berjalan mendekat ke arahnya. Suatu kebetulan, Derri memilih duduk pada kursi tepat di belakang Kiara.
"Menunggu lama? Sorry." Derri membuka percakapan sambil membetulkan posisi duduknya.
"Tidak masalah," jawab laki-laki yang ternyata bernama Candra tersebut sambil meletakkan kembali cangkir kopinya.
"Perjalanan bisnis?" tanya Derri.
"Tidak, hanya merindukan seseorang saja."
"Sukma?"
"Iya," sahut laki-laki di hadapan Derri. "Kudengar kau akan segera menikah."
"Kata siapa?"
"Aldo."
"Hanya ... dijodohkan." Derri menjawab ragu.
"Buahahaha ... kau dijodohkan? Apa kau sudah benar-benar kehilangan kemampuan merayu wanita?" Candra tertawa terbahak-bahak di hadapan Derri.
"Memangnya wanita mana yang akan kurayu? Semua bahkan datang tanpa kuminta," sahut Derri tanpa minat.
"Termasuk wanita yang dijodohkan denganmu ini?" tanya Candra setelah tawanya mereda.
"Tidak. Dia berbeda."
Entah mengapa Kiara merasa seolah hatinya tercubit dengan lembut saat Derri memgucapkan kata-kata itu.
"Berbeda?"
"Dia bahkan menolak perjodohan ini."
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku? Entahlah. Aku hanya ingin orang tua kami bahagia."
"Begitulah kira-kira." Derri menjawab dengan senyum simpul di bibirnya.
Perlahan hati Kiara terasa menghangat mendengar penuturan laki-laki yang duduk tepat di belakangnya itu. "Aku tidak menyangka, laki-laki songong dan menyebalkan seperti dia ternyata begitu menyayangi kedua orang tuanya. Bahkan dia memikirkan orang tuaku juga," ucapnya dalam hati.
"Jika memang begitu, segera kau tandai saja dia." Terdengar suara laki-laki bernama Candra itu lagi.
"Tidak, Ndra. Kiara gadis baik-baik."
"Bagaimana jika kau terlambat? Dia terlanjur memiliki pilihan yang lain?"
"Aku akan melepaskannya. Dia berhak bahagia."
"Dan jika dia mencintaimu?"
"Maka akan kubahagiakan dia semampuku."
"Sudah dewasa rupanya sekarang. Ah, bukan dewasa lagi, tapi tua. Cepatlah menikah."
"Kita lihat saja nanti."
"Bagaimana dengan Freya?"
Hening untuk beberapa saat, wajah Derri berubah sendu. Hingga beberapa menit kemudian Derri menjawab, "Dia hanya masa lalu."
Ada rasa penasaran yang menjalar dalam pikiran Kiara saat terdengar nama Freya dalam obrolan kedua laki-laki itu. Kiara mencoba mempertajam pendengarannya. Namun ternyata Derri lebih memilih mengganti topik pembicaraan yang lain.
"Drrrt ... drrrt ... drrrt." Sebuah pesan masuk dalam aplikasi Whatsapp. Kiara segera memeriksanya.
[Suzi: Kita-kita sudah sampai di parkiran nih. Mau nongkrong di kafe dulu, atau langsung cabut saja? 11.28]
[Kiara: Kalian tunggu di mobil saja, biar aku yang ke situ. Kita langsung jalan. 11.29]
Kiara segera mengemas barang-barang, bersiap pergi setelah membayar es krim vanilanya.
Lamunan Kiara terputus saat terasa titik-titik air hujan mulai menerpa wajah ayunya. Segera masuk dan di tutupnya pintu balkon agar nantinya air hujan tidak ikut masuk ke dalam kamar karena terbawa angin.
Direbahkan tubuh mungilnya di atas kasur, "Siapa itu Freya?" gumamnya sambil menerawang memandang atap kamar yang didominasi warna pink dan putih itu. Ada hubungan apa mereka?" tanyanya lagi. "Kenapa dia menjadi masa lalu yang harus dibahas lagi oleh laki-laki bernama Candra itu?"
Kiara menyambar ponsel pintar miliknya yang tergeletak di atas nakas. "Pasti ada petunjuk," gumamnya seraya mengetikkan beberapa kata kunci. Di-skorl-nya artikel-artikel yang tertera pada layar pipih itu dengan sedikit tergesa. "Hanya ada ulasan mengenai sepak terjangnya di dunia bisnis saja." Kiara terbengong setelah menutup dinding pranala.
"Aha, akun medsos!" teriak Kiara tiba-tiba. Kiara kembali berkutat dengan ponsel. "Ini dia!" serunya lagi saat ditemukan akun yang dia maksud.
Gambar Derri yang tengah berdiri bersandar pada pintu mobil menjadi foto profil. Kemeja biru laut yang tergulung hingga siku dipadu dengan celana bahan berwarna hitam. Tidak lupa sebatang rokok terjepit diantara jari tengah dan telunjuk kirinya. "Keren," puji Kiara tanpa sadar.
Kembali di-skorl-nya wall itu ke bawah. Derri dengan balutan kaos hitam dan celana panjang levis biru duduk santai di atas mobil jeep maroon. Tidak lupa kaca mata bertengger di hidung mancung yang semakin menyempurnakan penampilannya. Hamparan sawah dan pegunungan sebagai background telah memberikan kesan tersendiri pada foto itu.
Satu lagi foto yang menyita perhatian. Tampak tiga laki-laki dengan seragam sekolah putih abu-abu tengah berangkulan. Derri di kiri, Candra di tengah, dan entah siapa satu orang laki-laki yang berdiri paling kanan. Foto yang dipost oleh Candra Pradita Danuarta dengan tag Derri Ewon Prawira dan Irgi Andika Erlangga. "Kenapa Om mesum itu bisa setampan ini?" gumam Kiara. "Dan sedikit imut," tambahnya.
Hanya itu saja yang menarik perhatian Kiara. Selebihnya hanya foto-foto pemandangan alam dan objek wisata dari berbagai sudut.
Kiara masih terus men-skorl lebih jauh. "Hah, tidak kupercaya. Akhirnya aku menjadi stalker, dan dialah satu-satunya orang yang kustalking," gumam Kiara sedikit kesal.
"Drrrt ... drrrt ... drrrt." Ponsel Kiara bergetar. Segera digesernya ikon telpon warna hijau pada layarnya.
"Hai sayang," sapa Axel dari seberang telepon. Tampak wajahnya yang tampan dengan rambut masih basah karena baru selesai keramas memenuhi layar ponsel.
"Hai," jawab Kiara masih dengan posisi rebahan di atas kasur.
"Kau belum tidur? Tadinya aku ragu untuk menelponmu, kupikir kau sudah tidur," ucap Axel sambil mengeringkan rambut dengan handuk biru di tangannya.
"Belum. Aku belum bisa tidur," sahut Kiara. "Kenapa jam segini baru mandi?" tanyanya sambil melirik jam dinding di sebelah kiri, pukul sembilan tepat.
"Baru selesai latihan basket, sayang. Waktu pertandingan sudah semakin dekat, jadi untuk sementara ini latihan dilakukan sesikit lebih lama."
"Owh iya. Semoga menang, ya, kapten basket kesayangan di hatiku."
"Iya, sayang." Axel menjawab sambil menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang memukau. "Kau sudah makan?"
"Sudah."
"Baguslah."
"Axel, aku ingin menanyakan sesuatu."
"Apa?" tanya Axel sambil menyampirkan handuk di punggung kursi, kemudian duduk fokus memperhatikan Kiara.
"Tadi siang di sekolah, apa yang kau bicarakan dengan Om Derri?" tanya Kiara ragu.
"Bukan hal penting."
"Bukan hal penting?" Kiara membeo. "Kalau bukan hal penting kenapa kau harus bersusah-susah menghampirinya? Kau pun juga membawa beberapa teman-temanmu," sanggah Kiara.
"Aku hanya memperingatkannya saja bahwa kau adalah milikku," sahut Axel ragu. Berbeda dengan Kiara yang kini wajahnya tampak bersemu merah.
Sepasang muda-mudi tersebut akhirnya menghabiskan malam ini dengan ngobrol dan bersendau gurau via video call. Hingga pukul sebelas malam Kiara harus menyudahi obrolannya karena sudah mulai mengantuk.
"Oke sayang, mimpi indah ya. Sampai bertemu besok di sekolah," ucap Axel sambil melambaikan tangannya.
___
Andre mempercepat laju mobil yang dikemudikannya, menyesuaikan dengan kecepatan motor yang mengepung dari empat sisi. Deru mesin motor terdengar meraung-raung kencang bagai kumpulan anjing yang menggonggong liar. Sungguh suasana yang menegangkan bagi kebanyakan orang. Namun sebaliknya, entah mengapa dua orang yang berada di dalam mobil itu justru duduk santai sambil menikmati alunan musik.
"Dua di depan, tiga di belakang, dua di kanan dan dua di kiri. Masing-masing motor dinaiki oleh dua orang," gumam Andre tenang. "Sepertinya mereka memang sengaja menggiring mobil kita ke jalur sepi," lanjutnya sambil membetulkan letak kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya dengan telunjuk kiri.
"Pukul berapa rapatnya dimulai?" tanya Derri yang duduk di jok sebelah kemudi.
Andre melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Kurang lebih 30 menit lagi."
"Ini proyek penting. Kita bisa terlambat jika begini terus," gumam Derri.
"Delapan belas orang, bagaimana menurutmu?" Andre meminta pertimbangan bosnya yang masih duduk tenang.
"Kita selesaikan di sini," jawab Derri tenang.
Mendengar komado dari bosnya, Andre segera tancap gas mempercepat laju mobilnya yang tentu saja diikuti oleh ke sembilan motor yang mengepungnya.
Di saat yang tepat, Andre menginjak pedal rem secara mendadak. Dengan ketrampilannya Andre membuat mobil itu berputar di tempat bagai gasing, hingga menimbulkan kepulan debu yang luar biasa.
Sekian menit kemudian mobil berhenti tepat di tengah jalan dengan posisi menyimpang. Debu-debu masih beterbangan mengaburkan pandangan mata.
"Brenda, aku akan terlambat beberapa menit. Tolong kau tangani dulu." Derri langsung memutus panggilan tanpa menunggu jawaban dari sekretaris pribadinya.
"Kita turun," ucap Derri sambil mengenakan kaca mata hitam yang diambilnya dari atas dashboard dan bergerak turun. Diedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Beberapa motor yang tadinya mengepung kini telah ambruk akibat bersitubruk dengan sisi-sisi mobil saat berputar tadi. Di kejauhan tampak tiga motor melaju semakin menjauh dengan kecepatan tinggi.
Sementara Andre melangkah menghampiri salah satu pengendara motor yang tergeletak pingsan. Sambil menempelkan ponsel di telinga kiri, dibukanya helm dan masker yang dikenakan oleh pengendara motor itu.
"Sudah ku share location. Bereskan semuanya," perintah Andre begitu panggilannya di jawab. Segera dimasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana dan bergegas menyusul bosnya yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
_____________________________
BERSAMBUNG ...