I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 8



Menemukannya membuat hati dan pikiranku tenang, tetapi mengetahui dirinya akan pergi lagi membuatku berpikir keras. Tapi apa dayaku, aku bukan seseorang yang berhak


mengatur hidupnya.


Aku tidak bisa mencegahnya untuk pergi dan meminta agar tinggal disini. Lagipula dia gadis baik-baik dan sedikit lugu, dan sedikit lucu, mendengarnya bicara dan meminjam sebungkus mi instan membuatku sungguh geli.


Semoga besok Dara masih disini, aku akan membantunya mencari pekerjaan dan tempat tinggal. Itu jika Dara mau dan tidak menolak bantuanku. Aku akan menghubungi beberapa teman untuk membantunya.


Jika Dara tidak keberatan, aku akan mencarikan pekerjaan disebuah restoran atau apapun itu yang penting bukan tempat hiburan. Itu akan lebih aman untuknya.


Mungkin gaji dan tipnya tidak sebesar ditempat hiburan, tapi akan ada jenjang karir jika pekerjaannya memuaskan. Semuanya berawal dari bawah dan aku yakin Dara bisamelakukannya.


***


Aku bangun pagi sekali dan memang setiap libur kusempatkan waktu untuk joging. Dengan celana dan jumper putih aku berlari sejauh tiga kilometer tanpa berhenti. Selama setengah jam aku berlari dan kembali kerumah. Rasanya haus sekali, dan seluruh tubuhku berkeringat.


Aku membuka jumper ini dan menaruhnya dipakaian kotor lalu mengambil segelas air


dari kulkas.


“Aaahhhh … bau banget!” sahutku kesal.


‘Kenapa ayam goreng ini tidak dimasukkan kedalam wadah’


Tiba-tiba Dara keluar dari kamarnya dan berteriak.


“Aaaaaahhhhh ....” dirinya berteriak terkejut sembari menutupi matanya dengan jemari.


“Aaaaaaaaaaahh ....” akupun ikut berteriak spontan dan berusaha mengambil jaket dan menutupi bagian dada.


“Kenapa? Ada apa?” tanyaku.


Aku melihatnya menutup mata dan seseorang masuk dari pintu utama. Sosok yang sangat kukenali.


“Raka?!?”


Papa dan Mama datang tiba-tiba dari pintu itu.


“Aaaaaaaaaahhhh ....” terkejut setengah mati.


Orangtuaku datang di hari sabtu dan tidak memberitahukan kedatangannya.


 


*** 


Berada diruang tengah. Situasi yang sangat aneh, menegangkan dan penuh tatapan tajam.


 


Mama bersidekap seakan bersiap untuk menyerang sedangkan Papa dengan ketenangannya membuat diriku semakin terpojok bersalah.


Aku dan Dara seperti tertangkap basah sedang melakukan perbuatan terlarang.


Memang tidak salah ketika aku hanya memakai celana joging tanpa baju dan Dara yang memakai piyamanya. Tetapi kami berada didalam satu rumah dan tidak ada ikatan pernikahan. Keluargaku termasuk kolot dalam hal ini, karena tradisi dan budi pekerti yang sangat kuat diturunkan temurun.


“Oke. Cukup, situasi yang tegang ini. Mama dan Papa ada perlu apa datang kesini?”


Dara hanya tertunduk malu.


“Loh koq malah kamu yang marah. Seharusnya Mama yang bertanya sama kamu, siapa Gadis ini?”


Aku terdiam sulit untuk menjelaskannya.


"Raka tidak marah Mah, hanya kaget ... seharusnya kalian kalau mau datang bilang dulu."


"Oh ... jadi kelakuanmu begini yah, sudah berapa banyak wanita yang kamu ajak kesini? hah ....!"


"Mama ... koq menuduh Raka seperti itu!"


"Habis kamu bikin Mama kesel ...."


“Tante, Om. Maaf saya Dara, seharusnya memang saya tidak disini dan ... ceritanya cukup panjang. Saya tidak mau merepotkan semuanya, jadi sebaiknya saya pergi saja,”


“Jangan Dara, aku mohon tinggallah beberapa hari disini.”


Mama dan Papa saling memandang seakan tidak percaya.


Ucapanku barusan seperti membuat sikap mereka berubah melembut.


“Ah, Raka … bisakah Mama bicara hanya denganmu saja,” sahut Mama yang berubah melembut.


Dara meninggalkan ruang tengah dan masuk kedalam kamar.


“Maksud Mama?” aku bingung.


“Yah, kamu meninggalkan Shesa demi kekasihmu ini kan?”


“Hah?” bingung harus menjelaskan darimana.


“Syukurlah Mama sedikit lega dan berharap kamu segera menikah dengan Dara.”


“Mah, Raka mohon jangan ter .…” kata-kataku dipotongnya.


“Raka, pilihanmu hanya dua, yaitu menikah dengan anak kenalan Mama atau menikahi gadis itu?” rautnya berubah tegas lagi.


 


“Apa, maksud Mama?” aku semakin frustrasi.


“Iya, nikahilah Dara. Jika tidak Mama tidak mau lagi menganggapmu sebagai anak,” sembari membuang muka jauh.


“Tapi Mah, ini bukan seperti yang Mama kira ... Pah tolonglah.”


Papa hanya mendengarkan Mama yang menguasai pembicaraan.


“Lalu apa? Apa kamu mau bilang jika tidak menyukai wanita?”


“Mah, Pah ....” menutupi wajah dengan penuh kebingungan.


Lalu, Dara keluar dari kamar dan sudah membawa ranselnya untuk pergi meninggalkan rumah itu sekali lagi.


“Tante, Om dan Raka. Saya minta maaf telah membuat keributan disini. Saya akan pergi sekarang juga”


Aku langsung berdiri dan mencoba menahannya.


“Dara, please. Jangan pergi, ini  bukan masalah. Aku sudah .…” sembari menghalang jalannya.


“Dara. Itu namamu kan? Apa kau mau menikah dengan Raka? Dan menerima dia apa adanya?”


“Apa? Tante salah paham. Saya bukan .…”


“Tante sama Om setuju jika kamu menikah dengan Raka, ya kan Pah,” sahut Mama yang memberikan kode kepada Papa.


 


"Dengar ... baru kali ini aku mendengar Raka sangat peduli terhadap wanita, jadi aku akan


merestui kalian berdua." sahut Mama.


 ***


 


Situasi semakin membingungkan dan tidak terkendali. Untuk sementara aku akan memberikan apa mau Mama agar dirinya tenang. Aku akan menjelaskan semuanya jika waktunya tepat. Papa memberikanku minuman dingin, segelas sirup rasa jeruk dan kue keju kesukaanku yang dibeli Mama dari toko kue langganan.


Papa menghampiriku dan mengajakku untuk bicara layaknya laki-laki dewasa.


“Kau tahu Papa menikah diusia 33 tahun dan bertemu dengan Mamamu melalui teman kenalan kakekmu”


“Iya Pah aku tahu cerita itu, Mama sering cerita ketika aku masih kecil,”


“Ketika itu usia kami terpaut sepuluh tahun. Mamamu masih kuliah dan wanita paling


 cantik yang pernah Papa temui.” tersenyum mengenang masa itu.


Aku meneguk air jeruk ini.


“Raka, Papa percaya padamu, pilihanmu. Jika Dara yang bisa membuatmu bahagia maka nikahilah, terkadang cinta itu akan datang karena terbiasa.”


Menyodorkan gelas limunnya untuk bersulang. Dan aku membalasnya tanda bersulang.


Aku terkejut dengan ucapan Papa dan memandangnya untuk mentafsirkan kata-kata itu.


“Lihat mereka terlihat begitu akrab menyiapkan sarapan, Mamamu kelihatan bahagia,”


Aku melihat mata Mama berbinar dan ketulusan Dara melayani keinginan Mama. Aku hanya tersenyum melihat keduanya. Tidak habis pikir bisa sejauh ini kejadiannya.


Apakah ini memang jalan takdirku dan harus menikahi gadis yang baru dikenal. Pernikahan itu sekali untuk seumur hidup,berharap itu terjadi juga padaku. Pernikahan yang harmonis seperti Mama dan Papa yang selalu saling menyayangi. Pernikahan yang seperti itu yang kuinginkan. Lalu, bagaimana dengannya apakah dia mau menikahi orang yang baru dikenalnya.


Sepertinya aku sudah terpengaruh ucapan Papa.


Niatku sejak awal hanya ingin menolongnya, tidak lebih. Aku hanya akan fokus pada hal itu. Lagipula Dara masih muda dan pasti ingin menikmati masanya itu. Tidak akan kubiarkan jebakan pernikahan ini hanya karena "harus". Aku akan menikah dengan seseorang yang kucintai bukan karena desakan dan apa kata orang diluar sana.