I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 37



Sejak semalam Bumi menangis, berguling-guling di atas tempat tidurnya. Hingga Dara harus meninggalkan kedai dan menyerahkan pada Lintang yang dipercayanya menangani urusan kopi. Sedangkan Wini harus pergi ke kampus untuk menyerahkan bab 5 skripsinya. Bumi merasakan sakit di giginya, memasukkan jemarinya karena


tidak tahan.


“Kak, maaf … aku harus ke kampus, sudah janjian sama dosen pembimbing,” ucap Wini merasa tidak enak meninggalkan Bumi yang kesakitan.


“Iya sana, cepat. Kakak akan bawa Bumi ke dokter,” balas Kakak sembari menemani Bumi yang sedang uring-uringan.


Tangisannya semakin kencang ketika Wini keluar dari pintu. Bumi sangat dekat dengan tantenya itu. Dara menyiapkan keperluan Bumi dalam sebuah tas, sebelum pergi ke dokter.


“Baiklah, Bumi … ayo kita ke dokter.” tutur Dara sembari menggendongnya.


Bumi tidak menyukai taksi, entah kenapa, selalu saja menangis jika naik mobil berwarna biru itu. Akhirnya ke dokter dengan bus, tangisannya berhenti setelah berdiri di dekat jendela sembari melihat ke jalanan. Bumi menjungkit-jungkit ketika melihat truk, mobil dan bus lain. Melambaikan tangan dan tersenyum, seakan kendaraan beroda empat itu memiliki wajah yang lucu.


Sepertinya gigi Bumi sudah tidak sakit.


Sesampainya di RS, Dara dan Bumi harus menunggu antrian yang cukup panjang.


***


Sementara itu, Bu Mesya dan Bu Mika juga sedang berada di RS yang sama untuk menengok Claudia, anaknya Bu Shinta yang baru saja melahirkan. Seorang anak perempuan yang sangat cantik seperti Ayah dan Ibunya.


“Selamat ya Claudia, Bu Shinta, … cantik sekali!” ujar Bu Mesya sembari melihat bayi yang masih merah itu. Begitu juga Bu Mika yang juga mengidam-idamkan cucu perempuan.


“Loh, tante Jihan mana?” tanya Claudia sembari membenarkan posisi duduknya yang serba salah. Setelah melahirkan itu posisi duduk memang tidak nyaman untuk sementara waktu.


“Bu Jihan mungkin besok baru kesini, karena kan hari ini ulang tahun Reyhan. Tante juga habis dari sini mau langsung kesana.” timpal Bu Mesya.


Tiba-tiba, Ashraf suami Claudia datang dengan tergesa-gesa ingin segera melihat anak perempuanya yang baru saja lahir kemarin. Dari tempat syutingnya yang berada di luar kota, Ashraf saat ini sangat menyayangi keluarga kecilnya itu. Semenjak Claudia menjadi seorang bloger dan youtuber terkenal. Dengan suara emasnya yang


sering mengcover lagu-lagu artis ternama, banyak fans dan sesama youtuber mengajak Claudia colab alias kolaborasi.


Claudia sudah memiliki 10 juta subscriber yang membuat Ashraf takut kehilangan dirinya.


“Halo, puteri kecilku….” ucap Ashraf yang langsung melihat bayi mungil dalam box dan selimut berwarna pink. Mencium kening Claudia seraya membisikkan ucapan terima kasih. Sudah lama Bu Mesya dan Bu Mika tidak merasa terenyuh seperti ini, rasanya gembira sekali melihat kebahagiaan mereka.


Setelah itu, Bu Mesya dan Bu Mika menuju kediaman Bu Jihan karena di undang ke pesta ulang tahun puteranya yang ke 3 tahun.


“Bu Mesya, saya duluan ya, kita ketemu disana” ujar Bu Mika yang supirnya sudah lebih dulu menjemputnya di lobi. Sedangkan Bu Mesya belum juga dijemput.


“Kemana sih si Anto,” keluh Bu Mesya sembari menelepon ponselnya. Anto menjawab sedang berada di toilet karena perutnya bermasalah. Akhirnya Bu Mesya terpaksa menunggu disebuah minimarket di area rumah sakit. Sembari duduk disana dan memberi pesan singkat pada Bu Mika kalau dirinya sedikit terlambat.


Tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang menginginkan gula-gula kapas. Anak kecil itu merengek-rengek sembari menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


“Baiklah, Bumi. Mama akan membelikanmu gula kapas, tapi boleh dimakan setelah gusimu tidak bengkak lagi. Dan nurut sama dokter ya harus rajin sikat gigi,” ucap Dara pada Bumi sembari mengambil satu kemasan gula kapas.


“Iya, Mah. Bumi mau nuyut sama doktel,” ucap Bumi. Merasa senang bisa memegang gula kapas itu dalam genggamannya.


Dokter bilang gula kapas kadar glukosanya lebih rendah daripada permen. Sebaiknya mulai hari ini aku bisa


merasa lega, karena Bumi menyukainya.


Bu Mesya melihat anak kecil itu yang lewat di depannya. Terhalang oleh dinding kaca minimarket. Wajah yang mengingatkan dirinya sewaktu Raka kecil. Bu Mesya tersenyum, karena sudah lama menginginkan seorang cucu yang lucu. Sepintas melihat wajah Ibunya yang sedang menggandeng anak kecil itu.


Dara, wanita itu seperti dirinya.


Bu Mesya melihat mereka yang semakin menjauh dari sana hingga naik keatas bus yang melaju sedang. Di dalam mobil Bu Mesya memikirkan tentang penglihatannya tadi. Wajahnya terpatri dalam ingatannya, ada perasaan penasaran dalam hatinya. Benarkah itu Dara dan siapa anak kecil yang digandengnya.


Mungkin saja Dara sudah menikahi pria lain.


“Bu, sudah sampai,” tutur Anto memberitahukan jika sudah sampai di kediaman Bu Jihan. Pesta ulang tahun yang meriah. Reyhan, singkatan dari Revan dan Jihan menjadi anak kesayangan yang selalu dimanja dan dituruti keinginannya.


***


Mungkin aku terlalu lelah dan memang berharap segera memiliki cucu.


Mengusap wajah dengan kapas pembersih hingga bersih, bersiap-siap untuk mandi. Pak Santosa, suaminya merasa istrinya itu bersikap aneh.


“Mah, ada apa?” sembari membaca buku motivasi kegemarannya. Bu Mesya hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari mengangkat kedua bahunya. Semuanya baik-baik saja.


“Ada apa, katakanlah,” tanya suaminya lagi memastikan.


Bu Mesya menjelaskan apa yang dilihatnya sekilas ketika di rumah sakit tadi pagi. Keresahan hatinya mengingat Dara.


“Mungkin kamu salah lihat, Mah. Kalaupun benar itu Dara dan juga anaknya, sudah sewajarnya kan. Raka dan Dara sudah bercerai, bukannya itu yang kamu inginkan,” sindir suaminya itu.


“Jadi, Papa menyalahkan Mama karena memaksa mereka untuk bercerai?”


“Sudahlah Mah, semua sudah terjadi, buat apa membahasnya. Tidak mungkinkan bisa mengulang waktu?” sembari menutup buku dan masuk kedalam selimut.


“Pah, kenapa kamu enggak pernah mengutarakan pikiranmu sih. Kalau Mama salah ya bilang saja,” protes Mama sedikit kecewa.


“Loh koq jadi Papa yang disalahkan, Papa terlanjur sayang sama Dara, itu saja.”


“Mama juga Pah, kenapa dulu Mama sangat marah padanya. Padahal mungkin Dara terpaksa bekerja di tempat seperti itu,” raung Mama. Menyesali sikapnya di masa lalu. Bu Mesya mulai menitikkan airmata, merasa sedih.


“Sudahlah, Mah. Kita doakan saja, semoga Dara bahagia, begitu juga dengan Raka,”


Sembari menghapus airmatanya. Bu Mesya penasaran dengan pemikiran suaminya.


“Oiya Pah, kenapa sampai sekarang Raka cuek banget sama Shesa yah, … jawab loh Pah, Mama enggak mau jawaban yang lempeng-lempeng saja.” ujar Bu Mesya penasaran.


“Menurut Papa?" berlagak terkejut.


“Iya … cepetan dong Pah. Masa menurut Anto sih!” sedikti kesal.


“Menurut Papa, Raka masih mencintai Dara….” celoteh Papa. Sembari mengelus dagunya bahpemikir.


“Serius Pah?” sembari ikut berpikir.


“Atau … Raka benar-benar menyukai sahabatnya itu….” Celoteh Papa. Sembari menarik selimut menutupi hingga kepala. Bersembunyi dari reaksi istrinya yang mungkin akan segera memukulnya.


“Papa! Awas yah … amit-amit Papa, ya ampun kalau becanda kelewatan. Papa!” gerutu Bu Mesya yang mulai memprotes ucapan suaminya. Bertubi-tubi serangan kelitikan memenuhi tubuhnya, membuat suaminya mengerang kegelian.


“Ampun Mah, ampun!” ucap Pak Santosa mengibarkan bendera putih.


***


“Bumi, tidurlah….” ucap Dara sembari memupuk-mupuk bahu Bumi. Namun, Bumi seakan masih ingin memandang wajah Ibunya, tidak ingin terlelap.


“Ada apa, Bumi?” tanya Dara membelai rambutnya yang lembut.


“Bumi lihat Papa,” ucap Bumi membisiki telinganya. Lalu Bumi pergi tidur.


Apa?


Mungkinkah Bumi merindukan sosok Ayah yang tidak dimilikinya. Apakah kasih sayang yang kucurahkan untuknya cukup memenuhi kebutuhannya. Aku takut, Bumi akan tumbuh menjadi anak yang kurang kasih sayang. Aku takut, itu semua karena keegoisanku menjadi seorang Ibu. Menyembunyikan kehadirannya, apakah itu adil untuk Bumi.


“Maafkan Mama, Bumi.” Raung Dara sembari mengecup pipi Bumi yang sedang tertidur. Airmatanya menetes sekali lagi, memikirkan masa depan Bumi yang berada di tangannya. Beban yang sangat berat untuk single parent sepertinya, yang harus bekerja dan membesarkan anak sendirian.


***


Jangan lupa pencet Like, Vote, Rate 5, tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )