
Mengapa ucapan Eza seharian ini membuat hatiku tidak tenang. Benarkah aku harus memberitahu Raka, bagaimana jika itu menambah pelik kehidupan yang sudah berjalan tanpa kendala. Saat ini hidup kami lebih tenang dan menyenangkan.
Sembari membereskan meja dan mengelapnya sebelum mengunci pintu. Lintang menghampiri Dara yang terlihat sibuk, tetapi pikirannya seakan jauh melayang. Lintang duduk di kursi depannya, sembari duduk terbalik. Menyandarkan dagunya ke sandaran kursi.
“Kenapa setelah kedatangan pria tadi pagi, wajahmu tegang dan kaku? Apa pria itu adalah orang yang selama ini kamu hindari?” tanya Lintang penasaran.
Aku pernah menceritakan masa laluku pada Lintang, karena aku merasa dirinya paling dekat.
“Bukan, pria tadi pagi sahabatnya,” ucap Dara yang semakin kencang mengelap meja. Lintang menghentikan tangannya, “jika kamu lakukan itu, tanganmu yang akan sakit begitu juga bukan mejanya,” ucap Lintang sembari memberikan tatapan menyakinkan.
Ucapan Lintang memberikan Dara pencerahan.
“Benar, aku hanya menyakiti tanganku, sedangkan … apa Raka juga menyakiti dirinya?” ucap Dara yang terbawa perasaan.
“Jadi, ini soal Raka. Sahabatnya itu dikirim olehnya untuk membuatmu kacau seperti ini? Hah … akan kuberi pelajaran jika pria itu berani datang kesini!” gertak Lintang yang ikut terbawa emosi.
“Coba bayangkan! Selama tiga tahun hidupku baik-baik saja, sekarang aku mulai memikirkannya lagi.” Keluh Dara yang mulai tidak terkendali.
“Apa benar, selama tiga tahun ini, kamu tidak pernah memikirkannya?” timpalnya spontan.
Apa? Benar ucapannya. Setiap hari tidak hentinya aku memikirkannya.
Tubuhnya terasa lemas, terduduk dengan pasrah. Kain lap yang masih dipegangnya mulai terlerai ke lantai. Kedua tangannya mulai menutupi wajahnya yang bermuram durja. Rasanya ingin berteriak karena lelah menangis.
“Dara, jika ini menyiksamu, jujurlah pada perasaanmu,” ungkap Lintang.
“Lalu … aku harus bagaimana? Mendatanginya dan bilang jika ini anaknya. Tidak! Aku tidak mau mendengar hinaan yang merendahkan lagi.” raung Dara.
“Tapi, Raka … Ayah dari Bumi, bagaimanapun menyembunyikannya adalah perbuatan yang salah. Kalian boleh tidak bersama, tetapi Bumi berhak mendapatkan kasih sayang seorang Ayah.” ucap Lintang.
“Tidak … aku tidak sanggup melakukannya. Bagaimana jika mereka mengambilnya? Hah … karena aku miskin dan mereka ingin memberikan kehidupan yang layak untuk Bumi. Aku … takut jika itu terjadi….” Dara tersungkur ke lantai, melata dengan lemas. Kedua tangannya yang bertumpu ke lantai karena airmatanya terus berjatuhan.
“Baiklah, Dara. Aku akan mendukung segala keputusanmu. Tenanglah!” ucap Lintang sembari memeluknya. Lintang mencoba menenangkannya hingga tidak ada lagi tetesan kesedihan dari wajahnya.
***
Keesokan harinya, Eza sengaja datang ke kantor Raka. Ingin mengunjunginya karena belum melihat kantornya yang baru. Eza tahu jika sahabatnya itu selalu datang lebih awal. Sehingga kehadiran dirinya tidak akan mengganggu kesibukannya.
“Tok … tok”
Raka terkejut melihat Eza yang berdiri di ambang pintu, sembari tersenyum lebar dan menaruh tangannya di saku. Seperti pose para model kelas dunia.
“Eza!” Raka yang menghampiri dan mempersilahkannya masuk. Eza berkeliling ruangan yang luas dan megah. Sangat berbeda dengan ruangan Raka sebelumnya.
“Hmm … kenapa kamu enggak menerima tawaran Ayahmu sejak dulu, hehe….” sindir Eza sembari memberikan senyuman mengejek.
“Hahaha … jadi kamu datang kesini untuk hinaan itu. Ok … aku akan menerimanya. Bagaimana jika kita sarapan di luar?” ucap Raka bersemangat.
“Lain kali saja, aku harus mengurus bisnis pagi ini.” timpalnya dengan santai.
“Ayolah, ada apa ini … jangan membuatku penasaran!” keluh Raka.
“Aku menemui Dara di kedai itu,” tutur Eza tiba-tiba, masih menikmati tegukan pahitnya.
Apa? Dara benar di sana.
“Lalu?” sembari mengusap-usap tangannya tidak sabaran.
“Jika aku bilang, jangan temui Dara … kamu pasti tetap akan pergi kesana kan?”
“Maksudmu?”
“Ya … coba kamu berpikir di posisinya, tiga tahun kalian berpisah dan mungkin Dara sudah melupakanmu, kenapa sekarang kamu mau mengusik kehidupannya yang sudah tenang?” tanya Eza dengan wajah serius tapi santai.
“Jadi, Dara sudah punya kehidupan lain,” timpal Raka menyimpulkan sendiri.
“Kupikir, jika kamu benar-benar ingin menemuinya. Sebaiknya cari alasan yang sangat kuat, mengapa kamu menemuinya. Jika tidak ada, sebaiknya lupakan Dara!” Balas Eza.
***
Pikiranku melayang memikirkan ucapan Eza yang sepenuhnya benar. Kenapa aku penasaran untuk menemuinya, sedangkan dirinya mungkin sudah memiliki kehidupan bersama pria lain dan keluarga kecilnya. Jika aku menemuinya hanya akan membuka luka dan menambah bebannya. Aku tidak ingin membuatnya semakin sengsara, padahal belum pernah membuatnya bahagia.
Sepulang dari kantor, pukul 21.00 mobil Raka terparkir diseberang minimarket. Dari kejauhan dirinya hanya ingin melihat Dara. Mengunci kedai dan beberapa karyawannya yang berpamitan meninggalkannya sendirian. Tak lama, seseorang yang sudah dewasa, Wini adik perempuannya menggandeng seorang anak kecil. Bumi, nama anak itu seperti arti dari nama Basundara. Rasanya perih, buat pria seperti Raka yang terlambat menyadari perasaannya. Semakin perih seperti luka yang terkena tetesan air lemon, getir melihat seseorang yang dicintainya tidak bisa lagi dipeluknya.
Perasaannya seperti teriris-iris membayangkan ada pria yang lain bisa membuatnya tertawa, yang bisa memberinya perlindungan dan kehangatan. Hancur rasanya, remuk hatinya harus melupakan seseorang meskipun sudah berusaha menghilangkannya. Jika seorang pria tidak boleh menangis, maka malam itu Raka sudah melakukan dosa terbesarnya. Menangis karena cinta.
Setelah puas melihat mereka dari tempatnya berhenti, Raka akhirnya pergi.
Tiba-tiba, Dara menoleh kearah mobil yang terparkir di sana. Perasaannya mengatakan jika sejak tadi ada yang memperhatikannya. Mungkin hanya perasaanku saja.
***
Raka melaju dengan kecepatan 200 km/jam, mobilnya seakan terbang dijalanan yang sepi itu, saat ini pikirannya sangat kacau. Sesampainya dirumah Raka mengambil sebotol red wine yang sering dibelikan Eza sebagai oleh-oleh dari luar negeri. Hanya dijadikan pajangan di kitchen set, tidak pernah disentuhnya minuman itu.
Dirinya memang tidak pernah menyukai minuman beralkohol. Namun, malam itu entah apa yang merasukinya. Dituangkannya minuman itu dalam gelas kristal, diteguknya tanpa keraguan. Membiarkannya tenggelam dan melupakan pikiran yang menyakitkan. Hingga dirinya tersedak karena memaksakan meminumnya dengan cepat.
Kamu benar-benar menyedihkan Raka. Sembari melihat pantulan dirinya di gelas kristal.
Perkataannya meracau, mengejek dirinya yang sudah mulai mabuk. Hingga tubuhnya bangkit, berjalan tergopoh-gopoh. Semuanya terlihat berbayang, langkahnya seakan melayang dan akhirnya tersungkur sebelum sampai meraih tepian tangga. Kepalanya terbentur lantai cukup keras hingga membuatnya tidak sadarkan diri.
Aku ingin melupakanmu, aku ingin melupakanmu, sungguh. Keluarlah dari hatiku Dara. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )