
Sejak tadi pagi seluruh karyawan melihatku seperti orang yang berbeda. Katanya aku terlihat bahagia dan selalu tersenyum, bahkan ketika rapat baru kali itu pikiranku tidak fokus. Aku sangat merindukannya dan selalu memikirkannya. Semalam adalah kenangan terindah bagiku. Sekarang aku tahu jika Dara sangat mencintaiku.
Tadi siang Shesa datang ke kantor, namun aku tidak ingin menemuinya karena pekerjaan yang menumpuk. Terlebih aku sedang enggan bertemu dengannya. Dirinya hanya menitipkan sebuah proposal lamaran magang di kantor ini. Aku meneruskannya langsung ke managemen saja untuk menanganinya.
***
Hari ini aku akan pulang lebih cepat untuk menjemputnya di restoran. Tiba-tiba ponselku berdering. Mama menelepon, segera menyalakan earphone untuk menjawabnya.
“Halo, Mah,” dengan perasaan bahagia mendengar suaranya.
“Ceraikan Dara … Mama bilang ceraikan pemandu karaoke itu!” protes Mama sangat keras. Aku segera meminggirkan mobil ini mendadak. Terkejut mendengar Mama menginginkan perceraian atas pernikahan kami.
“Maksud Mama?” sergahku ingin mendengar penjelasan.
“Iya, ceraikan saja gadis penggoda suami orang itu, Mama sangat kecewa denganmu Raka. Kamu sudah mencoreng nama keluarga ini. Bagaimana jika kerabat dan teman-teman Mama sampai tahu….” ucapannya kupotong.
“Mama salah tentang Dara, dia bukan gadis seperti itu,” berusaha untuk menyakinkannya.
“Jangan membelanya Raka, Mama sudah mendengar semuanya dari istri laki-laki yang digodanya. Tadi siang wanita itu melabraknya di restoran. Mama minta….” ucap Mama terputus. Aku mematikan ponsel setelah mendengar Dara mendapat perlakukan buruk. Pasti hatinya terluka.
‘Maafkan aku Mah, hanya saja saat ini Dara lebih kuutamakan’
Segera melaju dengan menambah kecepatan. Secepat kilat melesat hingga tidak sadar Raka sampai di restoran hanya 20 menit. Raka berlari setelah memarkir mobilnya dengan asal. Melihat Eza yang hampir sampai di pintu restoran.
“Eza, di mana Dara?” tanya Raka tergesa-gesa. Napasnya masih lelah, mencegah Eza untuk masuk ke dalam. Eza menepis tangannya yang menyentuh lengan bajunya.
Dengan angkuh Eza masuk ke dalam tanpa menjawab pertanyaan Raka.
“Eza, aku bertanya padamu, di mana Dara?” bentakku. Eza hanya berdiri di sana tanpa berkata apa-apa. Menoleh padaku dengan wajahnya yang penuh kekecewaan padaku.
“Kenapa? Apa Dara istriku? Seharusnya kamu tahu di mana dirinya sekarang!” sentak Eza membalasnya
dengan kekesalan.
“Apa kamu bilang!” geramku sembari memegang kerahnya dengan kasar. Sembari menatapnya dengan tajam, namun tatapan Eza justru membuatku sadar. Kali ini aku memang bersalah.
Melepas cengkraman pada kerah yang tidak bersalah itu dan duduk di atas meja. Aku hanya berusaha untuk menenangkan diri sejenak. Eza bersandar pada meja kasir yang terbuat dari kayu, menyanggah tubuhnya yang tinggi. Sembari menghela napas dan melihat ke langit-langit. Aku melihat rasa frustrasi yang sama yang kurasakan saat ini.
“Hehehe….” aku tertawa melihatnya.
“Heh … di saat seperti ini, kamu masih bisa tertawa,” ucap Eza menyindirku.
Sembari memandang sepatuku yang berdebu, aku mengatakan sesuatu tentang yang kulihat malam ini.
“Aku tertawa karena ini sangat lucu … kenapa kita bisa menyukai orang yang sama. Belum pernah terjadi sejak kita kuliah di London, hehe.” tuturku sembari tertawa kaku.
Eza tersenyum akhirnya menyadari hal yang sama.
“Dara pulang ke kampungnya.” ucap Eza.
“Apa? kamu yakin?”
“Aku yang mengantarnya barusan ke terminal, meskipun Dara menolaknya terus menerus,” Eza tidak sanggup
melihatnya menangis sejak kejadian tadi siang. Tahujika Dara menahannya karena masih shift kerja.
“Lalu, bagaimana dengan kita? tanyaku. Tentang cinta di antara persahabatan.
“Aku hanya akan menunggunya … disini,” timpal Eza seakan mengalah.
“Baiklah, aku akan mencarinya di kampung.”
Sebelum aku meninggalkannya di sana, Eza mengatakan sesuatu.
“Tolong, jangan sakiti Dara lagi. Jika sekali lagi dirinya menangis karena dirimu, aku akan merebutnya.” gertak Eza sungguh-sungguh.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Tidak akan kubiarkan kamu mendapatkannya.
***
Pukul 01.00 dini hari, akhirnya sampai juga, seperti biasa mobilku diparkir dekat toko beras. Dan harus berjalan sekitar 10 menit. Keadaan sudah sangat sunyi dan sepi. Kutatap ponsel waktu menunjukkan sudah pagi, ragu untuk menghubunginya saat ini. Baiklah, aku jalan saja.
Ketika hampir sampai, terdengar teriakan dari dalam rumah yang terlihat masih gelap. Kuberlari mendekat, pintu rumah mélanga sedikit. “Maliiing!” teriakan kencang dari dalam. Menerobos masuk, aku mengenali suara Dara yang sedang menarik tas-nya dengan seseorang yang berusaha merebut paksa.
“Lepaskan, dasar maaaling!....” teriak Dara lagi.
Aku langsung menangkap maling itu dari belakang, memberinya cengkaraman hingga tidak bisa bergerak. Maling itu berusaha berontak dan ingin kabur, namun kekuatanku lebih kuat darinya. Tiba-tiba, lampu menyala, semua menoleh pada Ibu yang masih setengah sadar dengan jemari menempel pada fitting lampu.
“Aria….” tutur Ibu yang langsung sadar sepenuhnya setelah melihat anak tertuanya.
Aku menjadi bingung, sedangkan Dara juga baru menyadari jika maling itu adalah Kak Aria. Melepasnya perlahan, Ibu menghampiri mas Aria dan memukul-mukulnya dengan kekuatannya yang semakin lemah. Sembari menangis melampiaskan kekecewaannya.
“Kemana saja kamu, Aria. Ibu menunggumu siang dan malam. Seharusnya kamu ingat adik-adikmu … bahkan Ibu mu saja tidak dipedulikan lagi,” keluh Ibu masih memukul-mukul Aria.
Aku menoleh pada Dara dan memandangnya. Kami saling berpandangan yang sangat canggung.
“Ibu, siapa laki-laki ini?” ucap Aria mengalihkan pembicaraan. Ibu mengusap airmatanya dan mengenalkanku pada Aria.
“Ini suami Dara,” tutur Ibu sembari duduk di atas sofa bobrok itu.
“Suami? Dara sudah menikah, tanpa wali dariku,” protes Aria. Sembari menolak pinggang. Ibu kembali berdiri memukulinya akibat gaya angkuhnya itu.
“Kamu mau Ibu beri pukulan di kepala, biar dirimu sadar. Sudah tidak pernah pulang, mengirim uang saja tidak pernah, asyik saja menjual barang-barang di rumah ini.” ucap Ibu terpotong.
“Sudah bu, sudah, jangan diteruskan, aku malu.” keluh Aria menunduk di depanku.
“Huh … dasar anak tidak berguna!” keluh Ibu tidak habis rasa kesalnya.
***
Setelah kejadian itu semua terbangun dan berada diruang tamu, keluarga dan dapur yang menjadi satu. Ruangan itu memang sangat sempit hingga dengkul kami saling bersentuhan. Semuanya terdiam tanpa pembicaraan, saling memandang tanpa bicara. Bingung harus mulai dari mana.
“Oiya Bu, aku sudah mengirim uang untuk pindah kontrakan yang lebih baik, kenapa masih tinggal di rumah ini?” tanya Dara sangat penasaran. “Jangan bilang Ibu menghabiskan uangnya untuk sesuatu yang tidak penting!” tuduh Dara lagi.
“Enggak Dara, Ibu membayarkan biaya studytour Wini ke Bali, sisanya masih Ibu simpan. Sayang, kontrakan ini
masih sebulan lagi, jadi Ibu masih bisa mencari kontrakan lain dekat sini.” Jawab Ibu.
“Oh, syukurlah,” balas Dara lega.
“Jadi, kak Aria mau mencuri dariku untuk apa? buat modifikasi motoran lagi, judi balapan lagi … hah,” Dara merasa geram.
“Hehe … aku dengar kamu menikahi orang kaya, waktu si Aap datang ke bengkel tongkronganku tadi siang … jadi aku rencananya mau meminjam uang sedikit hehehe….” ujar Aria berkelit.
“Minjam … nyolong namanya!” seru Dara kesal.
“Hanya sedikit, lagipula bukan untuk judi balapan. Aku sudah lelah tidak ada hasilnya, malahan resikonya sangat besar. Aku mau buka bengkel modifikasi, barengan sama teman. Biar begini, aku ahlinya,” jawab Aria sekenanya.
“Sudahlah, Aria … Ibu sudah lelah melihat kelakukanmu itu, jangan menambah kesedihan Ibu.” ujar Ibu mengeluh.
“Tapi Bu, Wini dengar dari teman-teman di sekolah, kebanyakan dari mereka memuji motor modifikasi bikin Kak Aria. Bahkan, hampir semua teman-temanku meminta kakak untuk mempretelinya,” ujar Wini merasa bangga.
‘Aria tersenyum bangga’
“Eheem … heem! Aku bisa bantu untuk itu….” ucapku tiba-tiba. Sontak semuanya menoleh padaku, terutama Dara yang memberikan wajah geramnya karena ingin membantu keluarganya.
“Bantu apanya?” ucap semua berbarengan.
“Aku bisa bantu soal permodalan bengkel itu … tadi ada syaratnya, Kak Aria menunjukkan keahliannya di depan seseorang yang kukenal di bidang oomotif. Kalau bisa menyakinkannya, aku akan membantunya,” ungkapku. Serentak membuat mereka tersenyum bahagia. Terutama Aria yang usianya lebih muda dariku, merasa girang hingga memeluk Ibu dan Wini. Sedangkan, Dara menolaknya.
***
Berikan Cinta dengan cara pencet like, vote, rate dan tambahkan ke favorit. Jangan lupa komen yang banyak )