I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 45



Pagi-pagi sekali Bumi sedang memainkan traktornya di depan kedai yang masih tutup. Dara masih bersiap-siap untuk mandi sedangkan Wini masih berkutat dengan bab skripsinya. Hari yang sangat sibuk untuk menyongsong hari, hingga karyawan kedai itu belum juga datang. Tiba-tiba sebuah mobil sedan yang sedang tadi berada di sana, memperhatikan Bumi berhenti di depannya.


Bumi menyadari ketika seseorang turun dari mobil itu dan membawakannya sesuatu. Bumi tertarik dengannya hingga melupakan traktor miliknya. Mendekatinya tanpa berpikir, hanya merasa sangat tertarik dengan penawaran orang itu. Membelainya sembari memberinya sesuatu yang disukainya.


Hingga Bumi berhasil dirayunya untuk masuk ke dalam mobil.


***


Dara yang sudah selesai mandi menuruni tangga itu menuju kedai, mendapati traktor milik Bumi tanpa dirinya di sana. Berkeliling di sekitarnya, menatap ke dalam kedai hingga sudut-sudut jalan yang terbentang. Tidak ada sosok Bumi dimana-mana. Terlihat Ayah Johan yang sedang membersihkan kaca minimarketnya di seberang jalan. Dara berteriak memanggilnya, bertanya apakah Bumi ada di sana. Jawabannya nihil.


Perasaan Dara mulai tidak enak, memikirkan hal terburuk yang terjadi pada Bumi. Dara mulai panik seluruh tubuhnya bereaksi, degup jantungnya tidak terkendali, hingga oksigen tersendat memasuki otaknya.


“Wini … Wini, Bumi hilang!” ujar Dara panik.


“Bagaimana bisa?” ucap Wini sembari meninggalkan tugasnya yang belum selesai.


Wini bangkit dengan cepat turun kebawah mencari keponakannya itu di beberapa tempat. Ayah Johan membantu mencarinya. Lintang yang baru dsaja atang juga ikut mencari keberadaan Bumi yang raib.


“Bumi … Bumi!” meneriakkan namanya beberapa kali.


Tidak ada jawaban.


Semua bermunculan seperti semut yang mengerubungi gula, mencari Bumi dimana.


***


“Derrrttt … derrrttt”


“Halo ….” ucap Raka yang sudah berada di kantor.


Terkejut ketika Dara memberitahunya jika Bumi menghilang. Suara Dara terdengar panik dan ketakutan. Bahkan pengucapannya tersendat-sendat semua perasaan yang bercampur aduk.


“Kamu tenang yah, aku akan kesana,” ucap Raka.


Raka segera meninggalkan kantornya, hanya satu orang yang dimintai pertolongan yaitu Eza.


Sesampainya di depan kedai Dara menceritakan singkat kejadiannya. Raka mengajak Dara untuk melapor pada polisi. Dara menyetujuinya. Namun, dalam perjalanan telepon Raka berdering dari Mama.


“Mah ... nanti kutelepon lagi ….” Raka berniat menutup teleponnya, tetapi sesuatu menahannya. Ucapan Mama yang membuatnya terperanjat. Raka tiba-tiba memanuver kearah berlawanan hingga membuat Dara terpelanting.


“Ada apa?” tanya Dara terkejut. Masih berpegangan kuat pada handel di atas kepalanya.


“Nanti saja kujelaskan!” timpal Raka. Memaksa mobilnya melaju dengan kencang. Wajah Raka lebih tegang dari sebelumnya bahkan terlihat marah.


Ini kan arah kerumah Mama?


Mobil itu langsung masuk kepekarangan rumah orangtuanya. Raka langsung keluar seakan ingin segera melampiaskan yang terpendam sejak tadi.


“Raka, ada apa sebenarnya?” tanya Dara sekali lagi. Sembari menutup pintu mobil dan mengejar Raka dari belakang.


***


Ketika sudah hampir meledak Raka kembali mengurungkan niat karena melihat Bumi yang sedang bermain dengan orangtuanya. Menarik rambutnya, sembari menyapunya kebelakang hingga memegang punuknya yang menegang. Raka berbalik melihat Dara yang akhirnya muncul.


“Bumi!” teriak Dara seketika. Bumi segera berlari kearahnya ketika melihat Dara.


“Mama … koq lama sih jemputnya?” sembari memeluknya erat. Tangisan Dara hampir menetes namun melihat Bumi baik-baik saja gelombang jantung yang mengalami fluktuasi barusan kembali tenang.


“Ayo Bumi, kita pulang.” ucap Dara mengajak Bumi.


“Mama keterlaluan! Tahu Mah rasanya aku hampir mati ketika Bumi hilang, dan sekarang Mama enggak merasa bersalah untuk mengajak Bumi menginap di sini?” sentak Dara tidak tahan lagi.


“Mama tadi melihatnya sendirian di depan kedai … tadinya Mama juga enggak mau mengajaknya pergi, tapi … Bumi sangat menggemaskan!” timpalnya.


“Mama kenapa mengusik hidupku yang sudah tenang, aku tidak pernah mengganggu hidup kalian … jadi tolong jangan bikin aku naik pitam!” gertak Dara menahan emosinya. Nada suaranya meninggi hingga membuat Bumi hampir menangis.


“Bagaimana jika Bumi adalah anak Raka, berarti Bumi adalah cucuku! Hah … nanti kita tunggu saja hasilnya dalam minggu ini.” Mama terpancing emosi.


“Apa … jadi kalian bersekongkol untuk mengambil Bumi dariku? Mengambil DNA-nya tanpa sepengetahuanku?”


“Dara, aku tidak tahu … Mah sudah cukup! Tolong jangan campuri masalah ini.” Raka kembali emosi.


Dara beranjak pergi dari rumah itu.Raka mengejarnya.


“Cukup! Aku menyesal bertemu denganmu lagi ….” Ucapan Dara yang ketus membuat Raka berhenti melangkah. Raka merasa dilemma, di satu sisi dirinya tidak ingin membuat Dara semakin menjauh, di sisi lain Raka ingin menjelaskan semuanya.


Raka tidak ingin kembali kerumah itu dan langsun masuk ke dalam mobilnya. Mama menghampirinya untuk menahannya pergi.


“Raka, tunggu!”


“Mah, apa belum puas Mama menghancurkan hidupku?” geramnya Raka. Hingga membuat Mama menyadari posisinya yang sudah melakukan kesalahan. Niat baiknya untuk membuat Raka bahagia justru bertambah runyam.


***


“Dara, masuklah kasihan Bumi mataharinya sangat panas,” rayu Raka mengikutinya dengan mobil.


Hingga diujung jalan, Dara memberhentikan taksi.


“Bumi enggak suka tasi!” Bumi memberontak hingga masuk ke dalam mobilnya.


Akhirnya Dara bersedia masuk ke dalam mobil itu karena Bumi. Sepanjang jalan Dara menangis tidak hentinya, Raka hanya membiarkannya menumpahkan seluruh emosinya. Raka juga merasakan bagaimana panik dan kuatirnya kehilangan Bumi tadi pagi. Apalagi Dara adalah Ibunya yang melahirkan dan membesarkannya. Wajar jika reaksinya marah, begitu juga dengan Raka.


Aku menangis karena marah pada diriku sendiri yang tidak becus menjaga Bumi. Aku sudah kehilangan Bumi tadi


pagi, bagaimana jika yang menculiknya benar-benar penjahat. Mungkin aku tidak akan sanggup menghadapinya, lebih baik mati saja ketimbang kehilangan Bumi.


“Mungkin memang aku bukan Ibu yang baik untuk Bumi,” lirih Dara.


“Apa, kenapa kamu bisa mengucapkan itu?”


“Baiklah, Raka. Jika kamu mau Bumi menjadi milikmu, berikan aku waktu untuk bersamanya setelah itu aku akan berikan Bumi. Tapi, tolong jangan pernah menggangguku lagi!” gertak Dara frustrasi.


“Aku tidak ingin memisahkanmu dengan Bumi, Dara. Tolong jangan seperti ini!”


“Aku sudah muak, Raka! Semua orang seakan ingin mengambil Bumi karena aku tidak becus menjadi Ibunya. Baiklah, akan kuserahkan saja. Memang Bumi lebih layak jika tinggal bersama orang kaya seperti kalian ketimbang Ibu nya yang miskin dan tidak memiliki kelebihan apa-apa.”


Mobilnya berhenti di depan kedai, Dara dan Bumi meninggalkan Raka dengan kemarahan yang masih menyala. Sedangkan Bumi, terlihat ingin menangis karena bingung tidak mengerti apa yang terjadi.


Saat ini rasanya aku ingin memelukmu Dara, membiarkanmu menangis dalam kehangatanku. Aku ingin mengatakan jika kamu adalah wanita terhebat yang pernah kutemui, belum pernah ada yang kubanggakan selain dirimu. Bagaimana kamu bisa merasakan hal sebaliknya, disaat semua pencapaianmu hingga saat ini. Mendirikan usaha dan mengurus Bumi sendirian. Bagaimana kamu tidak bisa melihat itu, Dara.


Aku akan mendukung, segala keputusanmu untuk bahagia.


“Aku akan pergi dan menjauh, aku tidak akan mengganggu kalian lagi, aku janji.” Pesan singkat Raka untuk Dara. Raka hanya tidak ingin Dara pergi lebih jauh lagi dan tidak bisa dilihatnya. Biarlah Raka yang menjauh dan sesekali melihat mereka berdua dikejauhan. Asalkan kalian bahagia.


***


Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )