I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 20



Hari ini akhirnya datang juga, aku berada dikamar Raka yang sudah tidak digunakan lagi. Foto-foto kenangan masa kecilnya dan buku-buku yang tertata rapih menjadi koleksinya. Aku


melihat beberapa album kenangan yang berada disalah satu rak itu. Penasaran, ingin melihat seperti apa Raka diwaktu aku belum mengenalnya. Seseorang yang akan kunikahi hari ini.


Calon mertuaku memutuskan untuk menggelar pesta pernikahan dirumah ini, dikediaman yang megah ini. Tempat calon suamiku dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Aku bisa merasakan kehangatan dari orangtuanya yang sebentar lagi juga menjadi orangtuaku. Dan aku berharap keluargaku juga bisa menghadiri hari terpenting dalam hidupku. ‘Seandainya saja Ibu, Adik dan Kakak bisa datang’, aku akan sangat bersyukur.


“Apa? Gaun mempelai wanita belum selesai?. Jangan main-main yah, hari ini adalah harinya!” Mama yang sedikit syok dan meninggi


tensinya mendengar gaun yang akan digunakan Dara belum siap.


“Bagaimana ini?” Mama yang kebingungan dan memegang kepalanya.


“Ada apa Mah?” Papa yang ikut mempertanyakan.


“Gaun Dara Pah, mereka bilang belum siap. Mama sudah curiga karena seharusnya gaun itu sudah selesai dua hari yang lalu,”


“Mama juga sih waktunya mepet seperti ini gaunnya harus khusus, bisa kan gaun yang sudah jadi saja.”


“Mama kan mau Dara tampil istimewa dihari pernikahannya Pah,”


Mama menghampiriku disana yang masih asyik melihat seluruh isi kamar Raka.


“Dara, Mama mau minta maaf, bagaimana ini,”


“Ada apa Mah, katakan saja.”


“Gaun, gaunmu belum siap,”


“Apa?”


“Tapi tenang yah, Mama akan mengusahakan sesuatu,” jawab Mama yang terburu-buru meninggalkannya.


“Mah, tunggu … Dara punya ide,” sahutku yang mencoba menghentikan kekalutannya.


***


Pukul 09.00 pagi


Semua tamu undangan, keluarga besar hingga penghulu sudah hadir disana. Semua mata menanti kehadiran kedua mempelai. Raka menuruni tangga dengan setelan jas berwarna putih dengan dasi kupu-kupu yang menawan. Melihat kearah kerumunan dan menyapa sanak saudara yang sudah hadir dan tidak sengaja


melihat seseorang diantaranya, yaitu Shesa bersama dengan Ibunya turut hadir.


Raka tetap berjalan dan disambut oleh orangtuanya yang mendampinginya untuk duduk dikursi pelaminan.


“Papa bangga padamu Nak, semoga kalian berbahagia selamanya,” Papa yang mulai terharu melihat anaknya akan segera menikah.


“Jangan nangis sekarang Pah,” seru Mama yang juga hampir tumpah karena terharu.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya mempelai wanita muncul dari balik kamar Raka. Dara dengan gaun putih mini dan kelambu senada


yang menutupi wajahnya dan balutan rambut yang menawan. Menyihir semua yang hadir untuk melihatnya. Dara terlihat sangat anggun dan cantik meskipun hanyamemakai gaun sederhana.


‘Ia sangat cantik, aku tidak percaya’ seru Raka dalam hati.


Raka bangun dari lamunannya dan segera menyambutnya diujung anak tangga, seperti dalam dongeng-dongeng kerajaan. "Pangeran menyambut puteri Cinderela" Tidak ada yang menyangka Raka akan terkesima dan berbuat baik seperti itu. Membuat orangtuanya pecah dalam larutan airmata kebahagiaan. Para tamu undangan bertepuk tangan seraya ikut merasakan kebahagiaan kedua mempelai.


“Mereka pasangan yang serasi,” sahut mereka.


Ketika Dara dan Raka berdampingan menuju pelaminan, dirinya mencari sosok yang dinantinya, yaitu keluarganya. Tetapi harapannya


sia-sia tidak ada satupun yang dikenalnya dari kampung hadir untuknya. ‘Dara merasa sedih’


“Kamu sudah siap Dara menjadi istriku?” tanya Raka yang memandang wajahnya.


‘Dara hanya menganggukkan kepala’


Di depan penghulu mereka berdua mengingat janji untuk saling mencintai, setia dan menghormati hingga maut memisahkan.


Di tengah-tengah keharuan itu, Dara akhirnya melihat sosok yang ditunggu-tunggunya hadir juga sejak tadi. Airmatanya mengalir deras merasa bahagia, lengkap sudah hari istimewa ini


dengan kehadiranmu Ibu. Ibu datang dan Wini dengan gaun yang sangat cantik, pemberian Mama mertuaku. Seragam mereka sama, sangat kompak. 'Aku sangat menyukainya'


“Ibu....” mataku tertuju padanya dengan penuh rasa terima kasih.


***


Setelah mereka sah menjadi suami dan istri. Ibu tidak ada lagi disana. Dara mencarinya


hingga keluar. Ibu dan adik yang hampir saja melewati pagar tinggi rumah ini.


“Ibu, Wini tunggu! Kalian mau kemana?” sembari berlari dengan sepatu hak tinggi itu.


“Dara kenapa kamu keluar, masuklah. Disana tempatmu berada, biar Ibu dan adik kembali ke kampung,” tukas Ibu.


“Kalian pasti belum makan, kita makan dulu nanti aku akan mengantar Ibu pulang, yah?” merayunya untuk tetap tinggal.


“Tidak Dara. Maaf Ibu tidak nyaman, disini bukan tempat Ibu. Biarkan kami kembali ke


kampung.”


“Ibu kenapa bicara begitu? Semua orang disini menerimaku dan keluargaku,”


“Ibu tahu mertuamu orang yang baik, hanya saja Ibu merasa tidak nyaman. Jangan paksa


Ibu lagi yah,”


“Baiklah Ibu kalau begitu, aku akan menyuruh supir untuk mengantar Ibu,”


“Tidak Dara. Ibu tidak mau merepotkan. Sebaiknya kamu kembali kesana, pasti mereka mencarimu.”


kujawab....” airmataku hampir jatuh.


“Anggap saja kami tidak ada, yang terpenting, kamu akan mengirim uang setiap bulannya untuk hidup kami di kampung dan sekolah Wini, yah. Jadi menantu dan istri yang baik agar disayang.” ucap Ibu yang meninggalkan begitu saja.


“Ibu … Wini... tega sekali kalian....” airmata mengalir sekali lagi dengan goresan yang menyayat hati.


***


Aku kembali kedalam yang masih menyisakan isak dinapas. Menghapus derainya agar tidak tampak dari rautku.


‘Ingin sekali berlari kepelukan suamiku, dimanakah Ia?’


Aku mencarinya kemana-mana dan tidak menemukan Raka. Hingga akhirnya melihatnya


sedang berbicara dengan Shesa. Aku melihat tatapan yang tidak biasa padanya, memandang wajah wanita yang sedang bicara didepannya. Matanya berbinar seakan bereaksi dalam setiap suara dan senyuman dari wanita itu. ‘Hati ini terasa semakin teriris’


‘Ada apa denganku, apakah hati ini merasa cemburu?’


Aku hanya membiarkan mereka berbicara dan melepaskan rasa ingin tahunya bersama


luka terbuka yang tidak nampak ini.


 ***


Melihatnya diantara kerumunan, ingin rasanya merengkuhnya kedalam pelukan. Entah apa yang merasuki pikiran, aku masih saja memikirkan Shesa dan bukan Dara yang sudah kunikahi. Aku menyadari dirinya yang perlahan mendekati, aku sengaja membiarkan diriku terlepas dari kerumunan para tamu. Mata kami saling memandang sejak tadi dan aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.


“Hai, Raka. Selamat yah….”


“Selamat juga yah sebentar lagi, kamu akan segera menikah,” balasku.


“Aku telah membatalkan rencana pernikahan,”


“Apa? Kenapa….?”


“Karena aku masih mencintaimu,”


“Kenapa baru kamu katakan sekarang Shesa, kamu sudah gila.”


“Aku sudah berusaha untuk mengatakannya waktu mengunjungimu dikantor, tapi kamu sangat marah padaku,”


“Ah … sudahlah ini, sudah sangat terlambat.” ucapku tertunduk dihadapannya.


“Aku hanya ingin bertanya, apakah kamu benar-benar mencintainya?”


Aku terkejut dengan pertanyaannya dan ingin rasanya aku meneriakkan jika aku masih


sangat mencintamu “Shesa”. Aku memandang wajahnya dan tidak bisa lagi membohongi perasaanku sendiri.


“Maaf, pertanyaan ini agak konyol,” tubuhnya segera berbalik.


Kusudahi segala kebohongan ini.


“Tidak Shesa, kamu benar. Aku belum bisa melupakanmu.”


Aku melihat matanya yang meredup mulai bercahaya kembali. Senyumnya mengembang


dengan sempurna, mengingatkan kenangan kami dimasa indah dulu.


“Itu sudah cukup untukku,” sahut Shesa yang tersenyum bahagia.


“Maksudmu?”


“Aku tidak peduli dengan pernikahan ini. Aku akan tetap mencintaimu Raka dan tidak


akan melepaskanmu”


“Shesa?….” wanita ini sangat mencintaiku.


Mataku dan matanya seakan mengikat janji yang lebih kuat ketimbang janji pernikahan


yang barusan saja kuucapkan didepan penghulu. Aku tahu jika aku telah berjanji kepada Tuhan untuk selalu menjaga dan menghormati Dara sebagai istriku, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi. Apalagi aku tidak pernah mencintai Dara sejak awal.


Pancaran cinta itu terpaksa terputus karena dari arah belakang teman baikku datang untuk


mengucapkan selamat. Shesa terpaksa menjauh karena takut tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


“Hei … kamu disini, mana istrimu Dara?” ucap Eza


Shesa segera meninggalkan kami.


“A-ah … mungkin didalam bersama keluargaku.” aku tidak bisa melepaskan pandanganku padanya.


“Say … bagaimana akhirnya kamu menikahi salah satu pegawaiku, lalu rencananya kalian


bulan madu kemana? Apa aku harus memberikan cuti panjang untuk Dara … heh?”


“Enggak perlu bro! kayanya enggak ada bulan madu deh,”


“Loh-loh-loh ... koq pengantin baru enggak pengen bulan madu. Aneh deh kamu.”


Semuanya menjadi samar dan abu-abu, aku tidak bisa fokus dengan pernikahan ini lagi. Sejak Shesa menyatakan ketulusannya padaku. Ini benar-benar mengacaukan hatiku dan merusak semua rencana. Meskipun, sebenarnya rencana untuk menikah dengan Dara memang hanya untuk mengalihkan perhatianku.


"Haloo ... jangan bilang wanita yang barusan pergi adalah Shesa?" Eza mencurigai sesuatu.


"Jangan nyakitin gadis lugu ... kamu sudah menikahinya, ingat." ucap Eza yang segera tahu apa yang terjadi.