
Setelah puluhan purnama, akhirnya kami bisa berkumpul semua seperti ini. Meskipun awalnya aku sangat kesal pada Kak Aria, namun sepertinya ada perubahan dalam dirinya sedikit lebih baik. Terlebih dirinya ingin membuka usaha yang mungkin saja akan mengubah perekonomian keluarga ini.
Sehingga, jika aku bercerai dengan Raka, Ibu dan Wini tidak bergantung sepenuhnya padaku. Ada Kak Aria yang bisa membantu. Hari sudah pagi, aku belum sempat bertanya soal kedatangan Raka ke sini. Namun, persoalan itu akan kuhindari setelah sarapan bersama ini selesai.
Aku dan Wini membantu Ibu di dapur, sedangkan Kak Aria membantu membersihkan rumah dan membuang barang-barang rongsokan. Raka ikut mengangkat-angkat barang dan membuangnya keluar. Baru kali ini aku melihatnya penuh debu dan berkeringat.
“Sarapan sudah siap,” ucap Wini berteriak. Suaranya memanggil Raka dan Kak Aria yang berada di luar.
Meja berbentuk persegi panjang yang sebenarnya hanya muat untuk empat orang, harus menambah satu bangku plastik untuk Raka. Di atas meja sudah tersedia masakan sederhana yang begitu menggugah. Tumis kangkung, balado telor ceplok dan nasi hangat. Ditambah dengan teh manis hangat, tidak lupa sekaleng kerupuk bawang.
Keriangan rumah ini kembali, berada di atas satu meja benar-benar berbeda. Aku teringat ketika makan malam bersama Mama dan Papa, membuatkan mi instan kesukaanku. Hatiku teriris kembali mengenangnya, karena sebentar lagi harus berpisah dengan Raka. Memang hanya sebentar menjadi bagian keluarga itu, namun hatiku sudah terbeli oleh kehangatan dan kasih sayang Mama dan Papa.
Mengusap sedikit, airmata yang hampir menetes. Aku ikut tertawa dengan obrolan yang sedang tadi tidak kuhiraukan. Bersandiwara seakan hati ini baik-baik saja, nyatanya tidak. Namun, aku harus segera melupakannya. Memang inilah takdir hidupku.
***
Di tengah-tengah hamparan sawah yang mulai penuh dengan bibit padi. Berada di gubuk ini untuk pertama kali dengannya. Membisu memikirkan memulai kata dari mana. Aku takut berharap lagi, kuatir hati ini bertambah perih. Sudah kuputuskan, aku tidak mau lagi bersandiwara dalam pernikahan ini.
“Dara, sebenarnya ada yang ingin kukatakan sejak kemarin….” ucapannya kupotong.
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu, sebenarnya selama ini aku hanya memanfaatkan kebaikanmu.”
“Apa?”
“Ya, pernikahan ini hanya sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ekonomi keluargaku.”
“Dara, jangan bohong … malam itu … kita,”
“Apa kamu tidak tahu, jika aku gadis pemandu karaoke. Aku sangat berpengalaman menjerat pria, hehehe….”
“Dara, jangan main-main, aku tahu kamu tidak pandai berbohong,”
“Gadis lugu lebih berbahaya ketimbang gadis nakal, Raka. Akulah gadis lugu itu.”
“Aku tidak percaya, kamu pasti mengatakan ini karena ucapan Mama kan?”
“Tidak Raka, ucapan Mamamu hanya menyadarkanku di mana seharusnya posisiku berada. Seharusnya aku tidak mempermainkanmu sampai sejauh ini,”
“Dara! Aku tidak peduli, aku….”
“Maaf Raka, itu kebenarannya. Aku hanya tidak ingin lagi melukai semuanya. Sandiwara ini harus berakhir sampai di sini.”
“Aku ingin bercerai darimu … sejak awal aku melakukannya dengan niat yang salah, terlebih tidak ada perasaan di antara kita.” Dirinya masih tidak menerima keputusanku untuk bercerai, namun ketika aku bertanya, “kenapa?”, Raka tidak bisa menjawabnya. Hatinya memang ada keraguan.
Aku akan bertahan tanpa tangisan.
***
“Bagaimana dengan malam itu ? Apakah tidak ada artinya bagimu?” ungkapnya tiba-tiba. Aku tersudut dengan pertanyaan yang mendadak. Aku memejamkan mata, pura-pura tidur untuk menghindari pertanyaan yang sulit itu.
“Jika benar-benar apa yang kita lakukan malam itu hanya sandiwara. Kamu seorang pembohong ulung.” ungkapnya dengan kemarahan.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke dalam mengunci pintu kamar. Tangisan yang tadi kutahan akhirnya terlepas tanpa bendungan. Menutupinya dengan bantal agar suaranya tidak terdengar. Memeluknya sekuat tenaga, ingin rasanya berteriak.
Akhirnya berteriak meski teredam bantal kapas, namun hati yang telah terkoyak ini tetap tidak mereda. Seakan terkikis dari dalam, seperti emas yang diberi tetesan asam klorida, akan meleleh juga.
Pagi buta, aku memutuskan untuk meninggalkan rumah ini, aku sudah menuliskan surat dengan tandatangan bermaterai. Jika aku menggugat cerai atas pernikahan ini dan bersedia menandatangani berkas, biarlah Raka yang mengurus semuanya.
“Aku mohon Raka, uruslah perceraian kita, mudahkanlah urusan ini agar semuanya cepat selesai.” terangku dalam surat itu.
Aku juga meminta maaf jika tidak bisa berpamitan secara langsung pada orangtuanya, karena tidak sanggup membawa diri yang hina ini. Aku tidak sanggup menatap mata mereka dan memohon ampun karena tidak berkata sejujurnya. Mungkin suatu hari nanti, jika kita bertemu lagi dengan keadaanku yang sudah lebih beruntung. Aku akan mengucapkan “maaf”
Jika dirinya membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di rumah. Tidak ada jejak satu pun yang akan mengingatkan keberadaanku. Semakin sedikit kenangan , semakin cepat melupakan. Aku berharap kita tidak saling membenci, karena kebencian berasal dari rasa cinta yang besar. Kita hanya tidak menyukai untuk sementara waktu dan akan hilang dengan cepat perasaan itu.
Langkah pertamaku berada di luar pintu rumah ini dengan gantungan kunci rumah yang diberikan Raka untukku. Kenangan terakhir untukku untuk mengingatnya. Seorang pria yang menyelamatkanku dan membawaku kerumah ini. Untuk pertama kalinya aku merasakan aman dan kehangatan.
Pria asing yang membawaku kerumahnya
Jika teringat malam itu, aku sungguh bersyukur. Diantara orang-orang yang sering kutemui, masih ada pria baik sepertinya. Tuhan, jagalah Raka untukku. Sembari menengadah ke langit-langit, aku mengucapkan doa dengan
sungguh-sungguh. Menutup pintu itu untuk terakhir kali.
Aku berjalan dengan bawaan, langkah yang semakin menjauh dari rumah. Aku berbohong pernah berkata jika, “itu
bukan rumahku,” padahal semenjak menginjakkan kaki disana, untuk pertama kalinya aku merasakan kenyamanan. Rumah yang hangat untuk jiwa kesepian.
Ketika datang aku hanya membawa tas jinjing besar lusuh dan butut, sekarang aku pergi membawa koper dengan roda. Bahkan isinya lebih banyak daripada sebelumnya. Mungkinkah, sebuah kehidupan seperti tas jinjing dan sebuah koper. Aku lebih memilih tas jinjing ketika Raka membawaku pulang, ketimbang koper yang menuntutku pergi.
Dikehidupan sebelumnya aku tidak pernah berpikir untuk menetap, namun perasaanku berubah setelah mengenalnya. Tidak ada ucapan yang lebih baik, selain ucapan “Ayo pulang”.
Jika ada pria baik yang mengajakmu “pulang”, berjanjilah pada dirimu sendiri untuk menjaga hatimu sebelum semuanya berada dalam pernikahan. Karena pernikahan seperti lingkaran cincin di jari manis ketika mengucap janji sehidup semati. Tidak akan pernah putus dan tidak akan pernah ingkar. [Author, Semarang]
***
Berikan cinta dengan cara pencet like, vote, rate 5, tambahkan ke favorit kamu dan komen yang banyak ya )