I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 24



Melihat sebuah jembatan putih diseberang sana, aku melihat seorang wanita cantik yang memakai gaun putih dan panjang. Dengan rambut yang menjuntai indah dan mahkota rangkaian bunga yang mengelilingi. Aku berlari memanggilnya, “Shesa”. Wanita pujaanku menoleh kearahku dan tersenyum mesra.


Tiba-tiba jembatan itu runtuh dan Shesa terjatuh kebawahnya, “Oh Tuhan Shesa….” Ucapku. Aku berlari dan berusaha meraih tangannya yang menggantung disebuah besi. Kukatakan padanya, “raih tanganku, cepat….”. Namun, jarak itu terlalu jauh. Shesa hanya berkata, “Kamu sudah berjanji untuk menikahiku….”. Genggaman tangan itu terlepas dari besinya dan Shesa terjun kedasar jurang.


“Tidak … tidak….” ucapku yang terbangun dari mimpi.


Tersadar telapak tangan Dara sudah berada diatas dadaku sejak tadi. Aku melihat kearahnya yang sedang tertidur.


Aku terkejut, Dara tahu jika aku sedang bermimpi buruk. Entah apa maksud dari mimpi itu, aku sangat tidak menyukainya. “Aku kehilangan Shesa” sembari mengusap wajah dan memegang kepala. Mimpi yang menambah kegundahan.


***


Turun dari pesawat hanya ada satu pikiranku yaitu Shesa. Aku menghubunginya selepas bermimpi buruk tentangnya. Untung saja tidak terjadi apa-apa dengannya. Shesa hanya sangat merindukanku dan ingin bertemu. Kukatakan aku sedang ke Semarang untuk membantu Papa, namun dirinya cemburu karena sebenarnya tidak ingin terganggu yang sedang berbulan madu.


Aku kesulitan membantahnya, wanita yang sedang cemburu akan sulit untuk dihadapi. Shesa ingin sekali ke Semarang, dirinya ingin sekali bertemu. Lalu, bagaimana dengan Dara yang selalu ada bersamaku. Aku tidak bisa mengabaikannya dan diam-diam bertemu Shesa. Aku sungguh bingung saat ini.


“Tidak Shesa, kita tidak bisa bertemu,”


“Kenapa, karena kalian sedang berbulan madu kan?” ucapnya cemburu.


“Tidak, aku hanya mengajaknya karena perintah Papa.” ucapku mencoba menjelaskannya.


“Aku akan datang, kita bisa bertemu di kota. Kamu bisa mencari alasan ke kota tanpanya,”


“Tidak bisa Shesa, mana mungkin aku meninggalkannya sendirian….”


Tiba-tiba, “Sayang, temani aku pijat yuk,” ucap Dara yang mendadak berada dibelakangku. Aku pikir Dara mendengarku bicara dengannya. Tetapi Dara tidak marah hanya langsung pergi ketempat spa, mungkin dirinya jengkel dengan sikapku.


***


Pukul 10.00, Dara sudah menyelesaikan pijat dan sarapannya, aku melihat dirinya sangat nyaman dan lebih bersemangat. Aku mengajaknya kesebuah lokasi dekat sini untuk bertemu dengan rekan bisnis Papa. Namun, wajahnya tidak mau melihatku mungkin masih jengkel soal tadi.


Ketika Dara menemuiku di lobi dirinya sangat cantik, aku hanya bisa menelan liur tanpa berucap apa-apa. Ekspresinya tidak senang melihatku.


Bertemu dengan rekan bisnis.


“Om Lukman, apa kabar?” ucapku.


“Raka, apa kabar. Laki-laki yang sudah menikah memang beda auranya ya hehe….” ucap Pak Lukman sembari menjabatnya.


“Ini Dara Om, istriku….” sembari memperkenalkannya.


Aku melihat wajahnya berseri-seri ketika menyebutnya ‘istriku’, mungkinkah dirinya cemburu pada Shesa. Apa mungkin Dara menyukaiku, atau karena dirinya sedang berperan menjadi istri seseorang. ‘Aku tidak tahu’.


Lalu, kami diajak kesebuah lokasi dengan lahan yang sangat luas. Om Lukman menjelaskan bahwa akan membuat wisata kekinian, seperti tempat instagramable paling keren nantinya. Dirinya juga menjelaskan sembari menunjuk lokasi yang didepan sana juga wisata kekinian.


Aku melihat memang ramai orang meskipun hari ini bukan weekend. Namun, aku penasaran dengan lokasi yang diatasnya.


“Om, disana itu lokasi apa? Sembari menunjuk ke utara,” ucapku penasaran.


“Oh, itu candi songo yang terkenal, kalau sabtu-minggu ramai, cuma tidak seramai pengunjung wisata kekinian.”


“Kenapa Om? Apa kendalanya?”


“Yah, karena tempat parkirnya kecil dan candi-candinya sudah mulai rusak.”


“Berapa tiket masuknya?”


“Tidak sampai 10.000,00,”


“Nanti, tempat kekinian kita sekali masuk berapa?” tanyaku lebih lanjut.


“Tiket masuk 25.000,00 dan setiap foto ditempat-tempat tertentu sekitar 30.000,00-40.000,00.”


“Hanya 1 kali foto segitu?” sambungku lagi.


“Ya,” Om Lukman menjawab cepat.


“Om kasih saya waktu untuk menghirup udara sebentar,” ucapku padanya.


“Oke, Om kesana dulu yah sambil ngopi.” ucap Pak Lukman.


Aku tertegun menahan perasaan kecewa. Namun, aku menahannya sekuat tenaga dan mencoba menjauh dan melihat sekeliling untuk menghirup udara. Inilah yang tidak kusuka jika membangun bisnis, semua hanya memikirkan soal keuntungan. Makanya, aku lebih suka menjadi konsultan agar lebih memikirkan kualitas bisnis yang sehat dan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan.


Dara menghampiriku dan berkata, “kenapa, ada yang kamu pikirkan? Aku juga tidak suka ide itu,” serunya. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat Eza datang, Dara terlihat sangat senang seperti ingin segera melompat padanya. ‘jadi Eza yang bisa membuatmu seceria itu’ ucapku dalam hati.


Aku menelepon Papa untuk membicarakan bisnis.


Aku bicara dengan Papa ditelepon, namun signalnya sangat jelek disini. Melihat kearah lain ternyata ada … Shesa.


“Raka, aku datang,” ucapnya tersenyum.


Situasi ini sangat membingungkan, disatu sisi aku senang melihatnya disisi lain ini tidak pantas.


“Shesa?” ucapku sangat kaget.


Dara ikut terkejut. Eza mencoba untuk mengalihkannya tetapi sulit. Aku tahu ekspresi tidak suka itu. Dirinyamenghampiriku dan berkata, “ada apa ini? Kenapa kamu mengajaknya ke sini,” ucapnya sedikit kesal.


‘Aku hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa’


“Apa? Maksudmu apa,?” ucap Dara kesal.


“Iya, kamu hanya istri untuk menyenangkan orangtuanya saja, jadi terimalah itu. Sedangkan aku wanita yang dicintainya.”


“Apa? Jadi kalian merencanakan ini semua sejak awal, hanya untuk memanfaatkanku?”


“Kamu keterlaluan Raka!”


Dara meninggalkanku dan Eza mengejarnya.


“Kamu harus sadar posisimu Dara, sejak awal pernikahan ini memang tidak didasari oleh cinta.” ucapku sangat kasar padanya. Sedetik setelah mengucapkannya aku langsung menyesal.


Dara terdiam. Tubuhnya bergetar, aku melihatnya menahan gejolak. Aku sudah menyakitinya, sangat membuatnya terluka.


“Baiklah … aku akan memegang kata-kata itu!” tukasnya sembari berjalan meninggalkanku.


Berjalan bersamanya, Shesa menggenggam erat tangan ini seakan tidak ingin lepas. Sejak tadi senyumannya mengiringi langkah kami.


“Kenapa kamu ke sini Shesa? Bukankah aku sudah bilang untuk tidak ke sini.”


“Jadi kamu tidak senang, aku ke sini. Ya sudah aku pulang saja,” ucapnya manja.


‘Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang manja’


“Koq ketawa, bukannya menahanku untuk tidak pergi, kamu jahat Raka!”


“Masalahnya, aku kesini untuk urusan bisnis lagipula ada Dara disini.”


“Jadi kamu tidak marah kalau?”


“Tidak, aku senang kamu disini hanya waktunya tidak tepat saja,”


“Ya sudah besok aku pulang, tapi kamu temani aku dulu seharian ini yah,”


“Oke sayang!” ucapku lembut padanya.


Mendadak orang ramai diatas sana seperti berhamburan, sesuatu telah terjadi disana. Aku mendekati keramaian dan melihat dari kejauhan Eza sedang menggendong Dara yang tidak sadarkan diri.


Menuruni rerumputan yang cukup licin dan terjal sembari membawanya, tiba-tiba aku hanya diam mematung. Sempat melangkah namun ada sesuatu yang membuatku tidak melanjutkannya. Eza melewatiku seakan tidak peduli lagi.


Meletakkannya diatas rumput yang datar, Eza memeriksa keadaan Dara dan memberikan napas buatan. Sedangkan aku hanya berdiri diantara kerumunan. Seperti orang lain yang tidak ada hubungannya denganku.


‘Aku suaminya, tidak berbuat apa-apa’


“Sadarlah Dara, bangunlah,” ucap Eza disampingnya sembari memberikan napas buatan.


Memberanikan diri untuk mendekatinya, aku hanya melihatnya berbuat sesuatu untuk Dara.


“Kenapa Dara, apa yang kamu lakukan?” ucapku pada Eza.


Eza hanya menatapku tajam, seakan berkata hanya itu yang bisa kamu lakukan sebagai suaminya. Menyalahkan orang lain.


“Bangunlah Dara, sadarlah.” ucap Eza berkali-kali.


Ada seseorang yang datang dan memberikan handuk yang sudah diberi air hangat. Ditempelkan handuk itu untuk memberinya uap dan Eza memberikan sekali lagi napas buatannya.


Dara terbangun dengan bernapas. Dirinya seperti menarik napas dengan kasar. Seakan berusaha mengambil seluruh oksigen untuk paru-parunya.


“Syukurlah,” ucap Eza.


‘Aku juga bersyukur, namun dalam hati’


Eza memeluknya agar Dara lebih hangat dan menggosok-gosok punggungnya.


“Mas tadi ke candi 2 yah,” ujar seorang pengunjung.


“Kalau kabut turun jangan naik mas, bisa mendapat serangan sesak napas seperti ini.” ujar pengunjung lagi.


Dara terserang sesak napas karena kabut turun.


“Aku tidak apa-apa koq, maaf sudah buat kamu kuatir, Eza.” ucapnya yang masih terbatuk.


‘Aku juga mengkuatirkanmu, Dara’


Lalu Eza membawa Dara turun dengan mobil sewaannya, meninggalkanku dan Shesa.


“Raka, ayo temani aku ke kota. Aku ingin sekali mencoba makanan khas Semarang.”


“Maaf Shesa jangan sekarang, sebaiknya aku antar kamu ke hotel.” ucapku.


Saat ini aku semakin tidak bisa berpikir jernih. Sikap Eza yang mengacuhkanku dan memberi perhatian pada Dara sangat membuat diriku terpukul. Maksudnya apa seperti itu. Apakah Eza ingin memberiku pelajaran karena sudah menyakitinya. Atau memang sejak awal Eza sudah menaruh perasaan terhadapnya.


Aku tidak bisa terima perlakukan ini. Mungkinkah ada rasanya cemburu.


***


Jangan lupa berikan cinta untuk penulis ya )