I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 41



Suara keras menggedor-gedor pintu rumah Raka, hingga berkali-kali meneriakkan namanya. Namun tidak ada respon sekalipun dari dalam rumah. Membuat panik dan khawatir semua orang yang sejak tadi berusaha masuk. Kedua orangtua Raka dan beberapa tetangga sudah berusaha mengitari rumah, mencari jendela dan celah lainnya. Namun semua tertutup rapat.


Seseorang menyarankan untuk melepas engsel rumah ketimbang mendobraknya, karena tidak ada yang memiliki alat pendobrak dan sanggup melakukannya.


“Dor … dor … dor!”


“Raka, buka pintunya … Raka!” ucap seseorang yang berada di luar. Sembari menggedor-gedor pintu dengan keras. Setelah tidak ada respon dari dalam, beberapa orang memaksa membuka engsel pintu rumahnya agar bisa masuk.


Mendapati Raka yang terkujur lemah di lantai, berusaha membuatnya sadar. Raka tetap tidak bangun hingga beberapa orang mengangkatnya ke dalam mobil dan membawanya kerumah sakit.


Dalam perjalanan orangtua Raka sangat mengkhawatirkan keadaan puteranya itu. Begitu banyak pertanyaan dalam pikiran mereka. Raka tidak pernah sedangkal ini, apa yang membuatnya mengambil keputusan seceroboh itu. Minum-minuman hingga mabuk dan terluka.


Kenapa Raka bisa mabuk, belum pernah melihatnya seperti ini.


***


“Raka, akan baik-baik saja hanya perlu istirahat beberapa hari untuk benturan di kepalanya,” ucap seorang Dokter. Bu Mesya merasa lega setelah mendengar keterangan dokter, Raka akan segera pulih, itu yang terpenting.


Hari sudah mulai petang, Raka akhirnya tersadar dengan memegangi kepalanya yang terasa nyeri.


“Aachh … ini mana ini?” keluhnya merasa bingung. Ingatannya mulai bermunculan dengan cepat, dan teringat jika dirinya jatuh setelah meminum red wine setengah botol.


Raka menarik selang infusnya dengan paksa dan menuruni ranjangnya. Dirinya tidak ingin berlama-lama di sana, hatinya merasa memberontak ingin menemuinya. Menghindari perawat dan dokter, Raka berhasil keluar dari sana. Menaiki taksi yang melintas menuju kedai kopi bumi.


Tanpa sadar Raka sudah berdiri di depan ruko, kedai yang sudah sepi dari pengunjung. Pintu dibukanya, menghadirkan suara khas gemerincing.


“Maaf, kami sudah tu….” ucapan Dara terpotong. Dirinya tidak bisa berpura-pura tidak terkejut, jantungnya berdebar dengan cepat hingga tidak ada kata-kata yang terucap.


“Maaf … aku hanya ingin melihatmu,” ucap Raka yang langsung meninggalkan kedai itu. Perasaannya berkecamuk, sulit untuk menggambarkannya.


Dara mengejar Raka yang meninggalkan kedai dengan tanda tanya besar.


“Kamu … mau secangkir kopi?” tutur Dara menghentikan langkahnya. Raka yang masih


mengenakan pakaian rumah sakit dan perban dikepalanya.


“Bisakah kamu membayarkan uang taksi … aku tidak membawa uang,” ucap Raka dengan wajah tidak bersalah.


Dara tersenyum aneh.


Setelah itu, Raka masuk ke dalam kedai dan melihat sekeliling ruangan 8 x 8 cm. Ketika Dara sudah membuatkan secangkir kopi, mereka akhirnya bertatapan setelah berpisah cukup lama. Sembari meneguk kopi panas itu, Raka merasakan kenikmatan. Terutama karena di depannya ditemani oleh perempuan yang dicintainya.


“Jadi, perban apa itu?” tanya Dara penasaran.


“Aah … ini hanya luka kecil, enggak masalah.” terang Raka yang meneguk kopinya berulang kali.


“Lalu….”


“Kopi ini enak sekali,” timpal Raka mengalihkan. Dirinya belum siap dengan pertanyaan kenapa aku di sini. Mencuri-curi pandang, semakin lama membuat situasi menjadi canggung.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Dara. Raka tersedak kopi, spontan Dara menepuk-nepuk punggungnya. Kenapa aku melakukan ini, dasar tanganku selalu bereaksi cepat.


Raka tersenyum.


“Bagaimana denganmu, Dara?”


“Aku baik-baik saja, yah … kamu lihat sendiri.”


Tiba-tiba ada yang membuka pintu dengan kencang, Bumi berlari dari luar ke dalam kedai dengan cepat. Sembari tertawa menghindari dan bersembunyi dari Wini.


“Mah … jangan bilang aku di cini yah,” ucap Bumi dengan wajahnya yang imut. Sembari bersembunyi dibelakang tubuh Raka.


Raka tertawa lebar melihat Bumi. Merasakan tangan kecilnya yang menyentuh belakang pinggangnya, sangat menyenangkan. Detak jantungnya yang berdetak kecil, terasa cepat karena habis berlari seperti menyatu dengan irama jantung Raka.


Tiba-tiba suara gemerincing itu kembali berbunyi. Wini masuk kedalam kedai mencari Bumi.


“Bumi … dimana ka….?” ucapan Wini terhenti setelah melihat Raka duduk disana.


“Wini … kenapa berhenti? Kamu culang” keluh Bumi sembari menolak pinggang. Mulutnya mencibir, semakin membuat Raka tertawa melihat tingkahnya.


“Bumi, panggil tante Wini, bukan hanya nama….” Dara mengoreksi Bumi.


“Om siapa? Papaku yah?” ucap Bumi lugu.


Apa, kenapa Bumi bisa berkata begitu. Dara terkejut. Raka tersenyum ketika Bumi bertanya.


“Kenapa kepalanya ada pembalut?” tanya Bumi lagi.


Sontak semua tertawa mendengarnya, begitu juga dengan Bumi. Seakan menyadari jika ucapannya ada yang salah. Dara menutupi mulutnya tidak tahan dengan kelucuan Bumi, sedangkan Raka juga merasa geli. Sembari memegangi perbannya yang hilang seketika rasa sakitnya.


***


Kopi dicangkir itu habis, tersisa butiran halus ampas kopi di dasarnya. Seperti rinduku yang tersisa untuknya.


“Baiklah, sudah malam aku akan pulang, terima kasih kopinya,” ucap Raka.


Mengantar Raka hingga ke ujung jalan, sebuah taksi yang dipesan sudah datang. Aku sangat senang malam ini, setelah melihatnya.


“Dadah, Papa!” ucap Bumi lugu. Raka tersenyum lebar mendengarnya. Sudah tiga kali Bumi memanggilnya Papa.


“Dadah, Bumi … sampai jumpa,” ucap Raka sembari membelai kepalanya.


Setelah melihat taksi itu yang menghilang di kejauhan, mereka segera naik keatas bangunan.


“Sepertinya, Bumi sudah tahu siapa Ayahnya,” sindir Wini berbisik pada Dara.


***


Sampai di rumah, orangtua Raka sudah berada di sana menunggunya pulang.


“Raka, apa yang kamu lakukan? Kamu kabur dari rumah sakit. Jantung Mama hampir copot!” ungkap Mama naik tekanan darahnya.


“Kamu enggak apa-apa, Raka?” tanya Papanya.


Pintu rumah yang terlihat sudah terpasang kembali dan ponsel yang tertinggal di dalam jasnya terus berdering.


“Aku baik-baik saja, Mah, Pah. Bahkan lebih baik,” sembari tersenyum.


“Ada apa, Raka. Sepertinya kamu akhir-akhir ini, ada yang aneh?” tanya Mama penasaran.


Setelah itu, Raka menceritakan jika dirinya menemui Dara dan menceritakan anak kecil bernama Bumi. Wajahnya terlihat bahagia ketika menceritakan tingkah lucu anak itu. Raka menggambarkan kedai kopi milik Dara yang dibangunnya sendiri. Terkesan rasa bangga ketika Raka mengucapkannya. Orangtua Raka terlihat saling merangkul dan terharu melihat pancaran kebahagiaan dari wajah puteranya.


Hingga membuat keduanya menangis terharu, karena tidak bisa melihat puteranya bersama


orang yang dicintainya.


“Jadi, Dara sudah menikah?” tanya Mama spontan.


Raka tertunduk dan menggeleng-geleng ragu.


“Jadi, kamu enggak tahu jika Dara sudah menikah atau bagaimana?” tanya Mama mencecarnya.


Jika memang Dara sudah menikah, aku akan ikut bahagia melihatnya.


“Raka enggak tahu Mah, Raka hanya merasa bahagia, jika memang Dara sudah menikah lagi.”


Aku harus memastikan, apakah Dara sudah menikah atau belum. Batin Mama penasaran.


Bu Mesya berkutat dengan pemikirannya sendiri untuk membuat putera kesayangannya mendapatkan kembali kebahagiaannya.


***


Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )