
Tok…tok…tokk
“Ibu aku pulang,” ucapku sembari mengetuk pintu.
Ada yang membuka pintu dengan cepat.
“Dara kenapa kamu pulang,…?” tukas Ibu berkata secepat itu.
Wajahnya berubah memerah mendengar kepulangan anaknnya yang tidak diharapkan.
Ibu terkejut melihatku bersama dengan seorang pria. Ibu salah tingkah dan mempersilahkan untuk masuk kedalam rumah yang sempit dan sederhana.
Kami duduk berdampingan diatas sofa reot ini, sedangkan Ibu hanya mengambilkan segelas air teh dari dalam teko.
“Ibu tidak usah repot-repot, aku hanya sebentar,” ucapku sangat gugup.
“Kenapa kamu sangat tidak sopan didepan tamu Dara, seharusnya kamu membantu Ibu menyiapkan sesuatu,” balas Ibu yang sedikit kesal.
“Maaf Ibu ... tapi,” perlahan berdiri.
“Sudah-sudah, duduk saja. Maaf Ibu tidak punya apa-apa untuk disiapkan, karena sudah sebulan ini anak perempuan Ibu dikota tidak mengirimkan apa-apa, justru membuat Ibu malu dengan pemberitaan ditelevisi.”
Berbicara namun wajahnya membuang kearah lain, seperti tidak ingin melihatku.
“Semua tetangga membicarakanmu,”
“Ibu, aku tidak seperti itu.” ucapku menahan marah sambil mengepalkan kedua tangan.
“Untung saja Ibu tidak punya televisi karena kamu lihat sendiri, semua barang disini habis diambil kakakmu dan dijualnya,” wajahnya berubah sedih.
Entahlah apa yang ingin ditunjukkannya didepan tamu. Sebelumnya marah dan sekarang bersedih. Ibu benar-benar berhasil membuatku malu didepannya.
“Seharusnya kamu menjadi anak baik dan bekerja saja, jangan membuat ulah,”
“Aku tidak seperti itu Ibu.” ucapku lagi yang semakin emosi.
“Dan kenapa kamu mengecewakan Ibu, Dara. Seharusnya kamu bisa membantu Ibu,” sembari memukul-mukul dengan tangisannya yang pecah.
“Aku bukan seperti itu Ibu, kenapa Ibu tidak percaya padaku?” tukasku yang tidak tahan lagi.
“Sudahlah jangan berbohong, Ibu sudah lelah,”
“Aku juga sudah lelah Ibu, aku hanya ingin pulang.” tangisanku ikut terlerai.
“Untuk apa kamu pulang, tidak ada yang tersisa disini setelah Ayahmu meninggal,” semakin histeris melampiaskan emosinya.
Tiba-tiba Raka mengucapkan sesuatu yang sejak tadi hanya berada diposisi yang membuatnya bingung dan canggung.
“Ibu, maaf jika situasinya tidak tepat. Perkenalkan saya Raka dan kedatanganku kesini untuk meminta restumu menikahi Dara. Aku akan
menanggung seluruh biaya kebutuhan Ibu dan adiknya sekolah,”
Ibu segera menghapus airmatanya dan seakan tidak percaya dengan ucapannya barusan.
“Benarkah kau akan … siapa tadi namamu?”
“Raka”
“Jadi kau akan menikahi Dara dan menanggung semua biaya hidup kami?”
“Jika saya menikahi Dara itu sudah menjadi tanggung jawab saya untuk membantu keluarga,”
“Kenapa kau seperti itu?” ucapku kepada Raka.
‘Raka menatapku dengan lembut, dan menyapu tangannya padaku’
“Baiklah Ibu merestui kalian, mungkin memang niat kalian untuk datang kesini,”
“Ibu kenapa semudah itu memberikan restumu? Hanya demi uang? Aku sulit percaya dengan sikapmu.”
Aku berlari keluar meninggalkannya, tidak tahan lagi dengan sikapnya yang tidak peduli perasaanku.
“Dara tunggu....”
Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya, seperti sesuatu yang tidak berharga yang dijual kepada seseorang yang ingin membeli dengan iming-iming uang yang banyak. Aku tidak tahu lagi harus malu atau marah.
“Dara, menikahlah. Ibu akan merestui kalian dan maaf Ibu tidak bisa datang ke acara pernikahan kalian karena Ibu sibuk mengurus adikmu disini.…”berteriak seakan bisa didengar olehku.
“Sudah kuduga Ibu tidak peduli padaku, Ibu hanya menginginkan uang,” kemarahan itu memuncak.
Aku berlari sekencangnya, meninggalkan Ibu disana tanpa salam perpisahan. Aku tidak ingin melihat kebelakang, semuanya hanya membuatku semakin bersedih.
“Kak Dara,” seseorang memanggil masih berpakaian seragam.
‘Namun, aku tidak menggubrisnya’
***
“Kakak siapanya Kak Dara?” gadis berseragam itu bertanya.
Raka akhirnya menghentikan pengejarannya karena teralihkan oleh kehadirannya. Sambil mengatur napas panjang, ‘kencang juga larinya’.
“Kamu siapa?” Raka yang terengah-engah.
“Aku adiknya, namaku Aswini tapi biasa dipanggil Wini,”
“Hai Wini, aku Raka calon kakak iparmu. Oiya kira-kira kakakmu lari kemana yah?”
‘Wini terkejut dengan Raka yang mengatakan bahwa ia calon kakak iparnya’
“Benarkah kak Raka akan menikahi kak Dara?”
“Iya jika aku bisa menemukannya, kamu mau membantuku?”
Aswini seperti berpikir dan mengingat-ingat kebiasaan kak Dara dahulu.
“Hmm, biasanya kakak kalau sedang bosan atau bersedihpergi ke lumbung padi,”
“Lumbung padi? Dimana itu?”
“Itu rumah penyimpanan padi yang baru dipanen, namanya lumbung. Bentuknya seperti rumah kayu didekat sawah,”
“Baiklah aku akan kesana.”
"Hati-hati...." ucap Wini sembari berteriak.
Raka mencari Dara disekitar persawahan. Melihatnya dari mata memandang terdapat sebuah rumah yang tinggi terbuat dari kayu dan
beratapkan jerami-jerami padi yang mengering. Raka kelelahan karena cukup jauh perjalanan ini dan dirinya harus menyeberangi sebuah parit besar yang memisahkan antara jalanan dengan persawahan.
“Sebaiknya kau benar ada dilumbung, Dara.” ucap Raka yang berharap Dara memang ada disana.
Hari sudah semakin sore dan burung-burung menghinggapi padi yang sudah mulai berisi. Langkah kaki Raka membuat burung-burung itu beterbangan menjauh.
“Dara, apa kau didalam?” ucapnya memanggil.
‘Tidak ada jawaban’
Raka memutuskan untuk masuk kedalam lumbung itu. Terdengar suara tangisan dibalik sebuah mesin penggiling padi.
“Dara?”
“Aku sudah katakan bagaimana keluargaku dan kau tetap memaksa untuk datang kesini,”
Raka mendekat tetapi tidak terlalu dekat. Membiarkannyadengan jarak, Raka tidak ingin Dara gusar dan pergi lagi lebih jauh.
“Oh tadi aku bertemu dengan gadis berseragam dan ia sangat manis,”
“Wini? Kau bertemu dengannya?”
“Iya, tadi Wini memanggilmu tetapi kau terus saja berlari.”
“Aku tidak mendengar panggilannya,”
“Tadi Wini juga yang memberitahuku kalau ini tempat favoritmu, jika sedang sedih karena patah hati atau.…”
“Wini benar berkata seperti itu?”
“Tidak, aku mengarangnya hahaha … aku yakin kau belum pernah pacaran,”
“Sok tahu.”
Lalu, terdengar lebih sunyi dan hanya tangisan yang berangsur berhenti. Tertinggal noda tangisan itu diwajahnya. Diusapnya perlahan dan menengadahkan kepala diatas jerami sambil melihat langit dari celah kayu diatasnya.
“Jadi apa yang istimewa dengan tempat ini?”
“Tidak ada.”
“Lalu kenapa kau sering kesini?”
“Karena disini aku menghabiskan masa kecil, bermain disawah bersama Wini dan Kak Aria. Bapak seorang petani, lumbung ini dibangun
oleh Bapak dan teman-teman sesama petani. Kami pernah hidup enak, memiliki sepetak ladang padi disebelah sana,” sembari menunjukkan letaknya.
“Apa yang terjadi?”
“Bapak sakit, hari itu setelah hujan turun deras Bapak kembali ke sawah karena tidak ingin padinya terendam air. Parit saat itu tidak
setinggi sekarang. Beberapa orang yang akan membantu Bapak datang terlambat, lalu setelah kembali dari sawah Bapak menggigil terserang flu,”
“Bapak tidak mau dibawa ke dokter, katanya hanya flu karena kehujanan,”
“Demam tinggi menyerang hingga tiga hari Bapak kesulitan untuk membuang air kecil,”
“Bapak mengaduh kesakitan hingga akhirnya dibawa kerumah sakit sudah terlambat. Bapak harus melakukan cuci darah.”
“Bapak terkena Leptospirosis, sejenis virus dari kencing tikus.”
“Kebiasaan petani yang tidak pernah menggunakan sepatu boot dan hanya beralaskan kaki.”
“Lalu?”
“Lalu penyakitnya sudah menyerang hingga ginjal dan hati, sawah Bapak sudah dijual untuk biaya cuci darah. Tetapi tak lama Bapak justru meninggal.”
“Kak Aria putus sekolah dan bergaul dengan geng motor dikampung.”
“Ketika aku lulus sekolah menengah atas, Ibu tidak memiliki uang lagi semua perhiasaan dan simpanannya habis. Ditambah Kak Aria
sering merongrong untuk memodifikasi motornya.”
“Lalu ada tetangga yang menawari untuk mencari peruntungan ke kota, Ibu dengan cepat menyuruhku ikut. Sempat tinggal dirumah
majikannya tetapi hanya selama satu bulan aku harus mencari pekerjaan dan pergi dari rumah itu,”
“Hingga akhirnya aku bertemu dengan Pak Boman.”
“Kau sangat kuat Dara, aku salut padamu,”
“Kau bangga dengan kemalanganku?”
“Kau anak baik, itu sudah cukup untuk meringankan beban dunia.”
“Hahaha, kau lucu Raka,”
“Hahaha, oiya aku penasaran dengan nama-nama kalian itu apa ada artinya?”
“Kau orang pertama yang bertanya?”
“Loh, kenapa? Apa disini nama itu umum?”
“Ya kira-kira begitu. Basundara artinya bumi dan Aswini artinya langit, sedangkan Aria mungkin bangsawan atau seseorang yang kuat,”
“Benarkah? Nama-nama yang indah. Aku yakin Bapakmu seorang yang hebat,”
“Tentu saja, aku sangat merindukannya.”
“Baiklah, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Aku ingin menemui Wini lalu kembali ke rumah, ah … maksudku ke kota yak ke kota.”
“Kau boleh menyebutnya rumah jika kau mau,” sembari tersenyum padaku.
Hatiku mendera kehangatan seketika. Raka sering mengucapkan hal-hal sepele namun tidak bagiku. Ucapannya membuatku menaruh perasaan suka padanya.
‘Dara tersenyum mendengarnya’
Berbincang sebentar dengan Wini untuk menanyakan kabarnya dan memberinya salam perpisahan. Aku akan kembali ke kota dan
berjanji akan mengunjunginya lebih sering. Lalu kami berpelukan karena sudah terlalu lama menahan rindu. Wini kesepian tanpa ada saudara perempuan satu-satunya dirumah itu. Tetapi melihat keadaan masing-masing yang baik-baik
saja, kami bisa bernapas lega. Aku yakin semuanya akan berjalan lebih baik kedepannya.
“Belajar yang giat dan hati-hati selalu yah,” ucapku berpesan pada Wini.
“Iya kak, jangan lupa sering telepon atau pulang. Biar Wini tidak sepi disini.”