
Dara ragu untuk menghubungi Raka, meskipun nomer Dara sudah ganti untuk menghindarinya, nomer Raka masih tersimpan sampai sekarang. Bumi sejak tadi hanya melihat pada Dara yang memandangi ponselnya dengan beberapa nomer itu.
“Mah … kalau kamu cedih, kita enggak usah belangkat,” ujar Bumi belakangan. Dara berhenti melamun. Memandang wajah Bumi yang ikut terbawa perasaan. Dara tidak mau mengecewakan Bumi, lagipula dirinya sudah berjanji.
Janji harus ditepati.
“Ayo kita pergi, naik bus ya … karena mobilnya dipakai tante Wini ke kampus,” ucap Dara.
“Bumi senang naik bus … Bumi enggak suka tasi,” keluhnya sembari menggeleng.
“Taksi … bukan tasi,” koreksi Dara. Lalu, Bumi menggenggam tangan Dara sembari berkata, “legoh….” Membuat Dara tersenyum lebar.
Di dalam bus Dara mengatakan sesuatu pada Bumi untuk mengingatkannya.
“Bumi, apa kamu ingat … waktu pergi ke pasar malam,”
“Oh … Bumi ingat. Bumi mau boneka desondesip (Shaun The Sheep)!” tuturnya mengingat kala itu sangat menginginkan boneka itu, setelah menonton tayangannya di televisi.
“Iya … ternyata malam itu tukang bonekanya tidak berjualan, lalu kamu menangis. Kenapa?”
“Soalnya, Bumi suka desondesip. Bumi mau sekali son de sip,” ucapnya merengut mengingat kala itu.
“Mama, cuma mau mengingatkan … jika hari ini ternyata kita enggak bertemu dengan Papa, kamu jangan bersedih seperti waktu itu ya … janji?”
“Calanya gimana cupaya Bumi enggak nangis mah, Bumi enggak tahu. Ailmatanya kelual cendili.” keluh Bumi berpikir keras.
“Hahaha … baiklah, Mama pikir kamu akan mengerti.” ucap Dara. Sembari membelainya rambut Bumi dengan lembut.
***
Setelah menyelesaikan tiga kilometer rute jogingnya, mengambil air putih dingin dari lemari pendingin untuk menurunkan suhu tubuhnya. Tegukan demi tegukan air sejuk itu membuat tubuhnya kembali segar dan bersemangat. Irama pernapasan perlahan kembali normal, hanya tersisa lelah dan keringat yang terus mengucur dari tubuhnya.
Raka segera mandi setelah beristirahat sebentar untuk membuat suhu tubuhnya kembali normal. Sedangkan Dara dan Bumi sudah berada di depan pintu rumahnya.
“Ini rumah Papa, Mah?” tanya Bumi.
“Hmm … ini rumahnya,” jawab Dara. Tiba-tiba teringat semua kenangan dirumah ini. Tidak ada yang berubah sedikitpun.
“Bumi mau rumah yang besar juga, boyeh Mah?” tutur Bumi.
“Nanti, kita akan membeli rumah besar untuk … kita, oke!”
“Oke!”
Di depan pintu masuknya, Dara melihat mobil Raka yang terparkir di garasi. Mungkin dirinya masih tidur, jantungnya berdebar terasa mengilu. Mengalirkan aliran listrik ke seluruh tubuhnya, rasanya ingin berbalik pulang, namun tidak ingin membuat Bumi kecewa. Tiba-tiba, Bumi memencet bel rumahnya.
“Deg … deg … deg”
Jantungnya terasa semakin ingin melompat keluar. Namun, tidak ada respon dari dalam. Bumi terus menerus memencet bel itu. Wajahnya mulai cemberut, ingin menangis. Dara menghentikan tangannya agar tidak memencet bel lagi.
“Cukup, Bumi … itu enggak sopan,”
Dara tahu ekspresi wajah itu, Bumi akan menangis. Kerinduannya terhadap Raka tidak terbendung lagi. Segera Dara menggenggam tangan Bumi dan berlalu pergi.
Tiba-tiba, pintu itu dibuka. Raka keluar hanya dengan memakai jubah handuknya yang menutupi tubuh atletisnya. Sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Bumi berbalik menoleh ke belakang. Senyumnya mengembang, melepas genggaman Dara dan berlari kencang kearah Raka.
Memeluknya dengan erat. Sontak Raka awalnya terkejut, namun dirinya sangat bahagia bisa melihat Bumi dan juga Dara. Kunjungan minggu pagi yang benar-benar mengejutkan.
“Hei … Bumi! Ini benar kamu?” ucap Raka tertawa bahagia. Memastikan jika anak yang memeluknya adalah Bumi.
Bumi mengangguk-angguk seraya menyakinkan kalau itu memang dirinya.
Mata Raka dan Dara saling memandang, kerinduan yang terselubung di hati masing-masing. Entah sampai kapan, mereka bisa menyembunyikannya.
Raka mengajak mereka masuk kedalam. Meminta mereka untuk duduk sementara dirinya memakai pakaian. Namun, Bumi meminta untuk ikut dengannya ke kamar. Bumi sangat penasaran ingin melihat kamar Raka.
“Bumi … itu enggak sopan,” ujar Dara melarangnya.
“Ah … enggak apa-apa, ayo Bumi ikut denganku,” ucap Raka membolehkan Bumi ke kamarnya.
Bumi langsung naik ke ranjang Raka dan melihat sekeliling, sementara Raka mengambil pakaiannya di dalam lemari.
“Oiya … kamu tahu baru kali ini, aku mendengar seseorang bernama Bumi. Namanya bagus, siapa yang memberikan nama itu?” tanya Raka.
“Mama … aku juga senang namaku,” ucap Bumi sembari melompat-lompat di ranjang. Raka tersenyum melihatnya.
“Kasul ini sangat besar, empuk!” ucapnya kesenangan.
“Namamu hanya Bumi?” sementara mengancingkan pakaiannya.
Bumi menggeleng-gelengkan kepala.
“Laka Bumi,” ucap Bumi kurang jelas karena lompatannya.
“Apa?” tanya Raka sekali lagi.
“Namaku, LakaBumi….”
Bumi Mangut-mangut.
Apakah Bumi anakku?
Raka mencoba menerawang ingatannya ke masa lalu, ketika Dara meninggalkan rumah. Mereka sudah melakukannya.
“Bumi, kamu tahu berapa umurmu?”
“Sebental lagi tiga tahun, aku mau kado bus yang besaaaalll!”
Tiga tahun? Persis.
***
Lalu mereka bergegas turun ke bawa menemui Dara yang sedang duduk di kursinya. Duduk dikursi biasanya menempati, tempat duduk dimeja makan itu.
“Jadi, kita mau kemana hari ini?” tanya Raka kepada Bumi.
“Maaf, kami enggak akan lama di sini. Hanya menepati janjiku pada Bumi.” ujar Dara menjelaskan.
“Bagaimana jika kita tanya Bumi, mau kemana?” ucap Raka.
“Bumi mau ke mol makan belgel….” jawab Bumi tersipu malu mengucapkannya.
“Bumi, kamu sudah berjanji … kita enggak lama di sini,” ucap Dara mengingatkannya. Bumi merengut tidak suka.
“Ayolah, Dara. Hanya hari ini, aku janji akan mengantar kalian pulang sebelum malam. Bagaimana?” ucap Raka memohon. Dara melihat wajah Bumi yang ikutan memohon. Mereka berkonspirasi untuk menentangnya dengan wajah yang menggemaskan.
“Baiklah … janji enggak sampai malam, karena kamu baru sembuh.” sambung Dara.
Raka dan Bumi manggut-manggut seperti anak kembar.
***
Raka mengajaknya ke pusat perbelanjaan terbesar yang ada di Jakarta. Mengajaknya makan burger yang diinginkan Bumi. Burger terbesar dan kentang terpanjang yang pernah dilihatnya. Setelah makan Bumi dimanjakan dengan membelikannya mainan. Dara melarang Bumi untuk menerimanya, namun Raka tidak peduli, membelikan yang diinginkan Bumi.
“Hanya sekali ini, aku janji.” ucap Raka.
Setelah selesai berbelanja mainan, Raka juga membelikannya pakaian. Seakan ingin menebus semua waktu agar tidak terbuang sia-sia. Bumi terlihat gembira, senyumnya melebar dengan menggandeng Raka sepanjang jalan.
Raka mengajak Bumi bermain ke dalam arena permainan anak-anak, namun kakinya terhenti. Bumi tidak menginginkannya, belum pernah dirinya bermain di tempat seperti itu dengan banyak anak-anak yang tidak dikenalnya.
“Aku takut, aku tidak mau,” keluh Bumi ketika melihat anak-anak sedang melompat, berlari, memanjat, berseluncur. Raka membelai rambutnya seakan mengatakan, “Enggak apa-apa, mungkin lain waktu,”
Lalu, Bumi melihat gula kapas kesukaannya dengan ukuran 5x kepalanya dan berkarakter. Bumi penasaran cara membuatnya dan mendekati penjual gula kapas yang sedang membuat sebuah karakter. Tiba-tiba, Bumi berlari mendekap Dara dan berucap, “kalau aku sudah besal, aku mau jadi penjual gula kapas. Boleh Mah?”
“Boleh, apapun yang kamu suka,” tutur Dara sembari tersenyum. Raka juga membelai rambutnya setiap kali Bumi bertingkah menggemaskan dan lucu.
Bumi tidak menginginkan gula kapas berkarakter itu, katanya kasihan nanti wajahnya menjadi rusak.
“Aku mau es krim, Mah minta uang?” ucap Bumi sembari menyodorkan tangannya meminta. Dara memberikannya uang, ketika ingin menemaninya ke stand penjual es krim. Raka mencegahnya dan mengajak Dara duduk di sekitar tempat itu sembari mengawasinya dari kejauhan.
“Biarkan Bumi membelinya,”
“Kenapa?” tanya Dara.
“Supaya lebih berani,” ucap Raka. Tangannya memangku dagunya sembari tersungging melihat Bumi yang tidak habisnya membuatnya tersenyum.
Seperti ini pemikiran seorang Ayah mengajarkan anaknya tentang keberanian.
“Rasanya, hari ini adalah hari tersedihku,”
“Maaf, aku sudah mengganggu waktu liburmu.” ucap Dara menyesal.
“Bukan, bukan itu … aku hanya akan merasa sangat sedih karena ini adalah hari terakhirku bermain dengan Bumi,”
“Kenapa begitu?” tanya Dara spontan.
“Bukannya … kamu mengajak Bumi agar aku enggak mengganggu kalian lagi?”
“Sebenarnya, setelah aku mengusirmu tempo hari. Bumi sakit, panas tinggi dan mengingau ingin bertemu denganmu. Setelah sembuh, Bumi menagih janji, aku hanya berusaha menepati janjiku padanya ….”
“Kenapa kamu enggak bilang kalau Bumi sakit, aku bisa menemuinya,”
“Aku … aku hanya bingung dan … entahlah ….”
Bumi datang berlari kecil dengan membawa es krim yang berhasil dibelinya. Dengan wajah bangga dirinya mendapatkan es krim yang diinginkannya.
“Jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan mencariku. Aku bersungguh-sungguh!” ucap Raka menyakinkannya.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian, komen yang banyak ya )