I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 47



Terasa berbeda pagi itu, mentari seperti bersembunyi di balik awan. Mendung tak berarti hujan, ragu untuk mengguyur bumi. Sebagai penghuninya merasa bimbang untuk tinggal dirumah atau melanjutkan aktivitas. Bu Mesya sedang termenung di taman belakang rumahnya. Memandangi kedalaman kolam renang yang tenang berwarna biru dasar. Pikirannya selalu memikirkan Raka yang sampai saat ini mengaku sedang liburan panjang.


Sebuah keterangan hasil tes DNA yang di genggamnya terbaca dalam kacamata hitam itu. Isinya menyatakan jika Bumi adalah anak kandung Raka. Airmatanya bergulir perlahan, sebuah kenyataan yang seharusnya membuat semua orang bahagia. Tetapi, Bu Mesya sama sekali tidak mengerti apa yang ada di pikiran Raka. Sudah dua minggu dirinya meninggalkan pekerjaan dan rumahnya.


Katakanlah pada Mama, Raka. Apa yang kamu inginkan. Apakah kamu mengetahui jika Bumi adalah anak kandungmu, kenapa tidak memberitahu Mama.


Sebuah pesan singkat dilayangkan Bu Mesya, menanyakan keadaannya. Dan memberitahukan hasil tes-nya. Raka hanya membacanya dan hanya membalas kalau dirinya baik-baik saja, jangan khawatir.


***


Meskipun tempat yang berbeda, tetapi Raka juga sedang menikmati matahari yang sama. Mencari ketenangan di tempat yang indah. Terkadang menjauh dari rutinitas adalah hal yang benar untuk dilakukan. Terutama tidak memikirkan pekerjaan saat berlibur, dan tidak memikirkan liburan saat bekerja. Semuanya fokus pada kenyataan di depan.


“Raka, accompany me scuba dive, please ….” ucap wanita bule perancis yang dikenalnya di sana. Mengajak Raka untuk menemaninya menyelam. Mereka cukup dekat dua minggu belakangan ini.


“Not now, Abelia … I’m enjoying the sun.” jawab Raka menolak ajakan wanita bule itu.


“Come on … please,” Abelia memohon. Memperlihatkan wajah yang ingin dikasihani.


“Alright … alright,” Raka tidak ingin wanita it uterus merengek dan mengikuti kemauannya.


Mereka menyelam melihat pemandangan bawah laut paling indah sedunia. Raka juga mempelajari menyelam setelah berada di surga lautan ini, sayang untuk melewatkannya. Ada satu hal yang dipelajari Raka setelah datang ke tempat ini. Karena dirinya sedang berada di sebuah pulau yang dikeliling lautan dalam.


Betapa luasnya lautan hingga tidak terlihat ujung muaranya. Betapa beratnya kesulitan, karena aku belum mengetahui apa yang ada di baliknya.


Raka tidak menyangka jika akan merasa lebih baik berada di pulau indah ini. Betapa kecilnya manusia dengan hamparan lautan yang membentang. Bagaiman dirinya memandang masalahnya menjadi sangat kecil sedangkan begitu banyak keindahan lainnya. Raka tidak akan menyerah dan terpuruk dalam masalah.


"What do you think?" tanya Abiela sembari memeluknya dari belakang. Dengan deburan ombak yang menerpa tubuhnya. Bersiap untuk menyelam ke dasarnya.


"Nothing!" jawab Raka seadanya.


***


“Halo … Bu Jihan ada apa?” tanya Bu Mesya. Nada suara Bu Jihan  terdengar panic, mengabarkan kalau Cinta masuk rumah sakit terjatuh di kamar mandi.


“Lalu, bagaimana keadaannya … dan janinnya?” sambung Bu Mesya terkejut. Sembari menutup mulutnya tidak percaya.


“Kita ketemuan di sana ya, Jeng.” ucap Bu Mesya lagi.


Bu Mesya meminta suaminya untuk menemani ke rumah sakit, namun Pak Santosa masih ada urusan dan akan menyusul ke sana. Cinta mengalami pendarahan, sedang diusahakan keduanya selamat.


“Ayo, Pak Anto lebih cepat dong!” keluh Bu Mesya ingin segera sampai dengan cepat.


“Jam segini pasti macet, Bu” sentak Pak Santosa.


“Usahakan agar sampai lebih cepat Pak Anto.” Cinta itu sudah menunggu lama agar bisa hamil. Eh … koq ada musibah seperti ini.


“Pah, cepat yah menyusul. Mama tunggu loh,” tukas Bu Mesya di telepon.


“Papa tahu, akan Papa usahakan ya,”


“Ya sudah,”


***


Sesampainya di rumah sakit semua orang sedang menunggu hasilnya. Dokter masih menangani di dalam ruang operasi. Setelah tiga jam menunggu, akhirnya dokter keluar dan menyampaikan jika keduanya selamat meskipun saat ini perlu penanganan serius. Untuk sementara pasien tidak diizinkan dikunjungi untuk mengurangi tingkat stress.


“Syukurlah, terima kasih Tuhan,” semuanya mengucap syukur. Tidak menyangka jika ini sebuah keajaiban keduanya bisa selamat.


“Keduanya selamat,” balas Rangga.


“Loh, ini Didi adiknya Rangga … wah terakhir lihat baru SMA waktu di pernikahannya Cinta sama Rangga, wah tambah ganteng ya,” ucap Bu Shinta.


“Makasih, Tante.” Ujar Didi tersenyum malu.


Tak lama Cinta yang masih menggunakan masker oksigen dalam keadaan terbius di ranjang yang dibawa keruang pemulihan.


“Kalau begitu Bu Mika, kita pamit saja yang penting keadaan Cinta sudah membaik,” tutur Bu Mesya.


“Terima kasih ya Ibu-ibu semua, sudah repot-repot datang ke sini,” raung Bu Mika yang masih tergores rasa khawatir dan ketakutan di wajahnya.


***


Ketika berjalan di lorong rumah sakit terdengar suara yang keras di dalam sebuah kamar VIP. Seseorang mengamuk hingga beberapa perawat datang ke kamar itu. Spontan pemandangan perkelahian itu terlihat langsung oleh mereka yang persis di depannya.


Rasa penasaran menyeringai ingin mengetahui apa yang terjadi.


Seorang laki-laki yang terduduk di lantai sedang dilayangkan pukulan tas Hermes dari seseorang yang terlihat murka. Sedangkan seorang perempuan menangis ketakutan di atas ranjangnya sekaligus menahan sakit efek kelahiran. Bayi di dalam kotak itu pun ikut menjerit ketakutan karena suara keras dari perempuan pemarah itu.


“Ternyata selama ini kamu menggunakan nama yang lain untuk menutupi perselingkuhanmu yah, dasar laki-laki tidak tahu diri. Laki-laki miskin yang diangkat derajatnya karena nama Papa, masih saja tidak puas mencari wanita muda lain.”


Aduh sayang tas Hermes-nya. Batin Bu Shinta.


Wanita itu beralih ke perempuan yang ditunjuk-tunjuknya sebagai selingkuhan suaminya itu. Hingga dua perawat menahan wanita itu sebelum pelakor itu terkena amukannya juga.


“Ceciliaaaa! Nama itu tidak pantas untuk perempuan hina seperti dirimu!”


“Lepaskan, biar kuberi pelajaran perempuan tidak tahu diri ini. Hanya bekerja sebagai PK bisa punya mobil mewah, rumah mewah … aku tidak terimaaa!”


“Itu semua uang Papaku yang memberinya pekerjaan sebagai pengacara, tahu!”


“Dasar kalian, pengkhianat! ….” Tidak berhenti hinaan itu. Hingga Bu Mesya menyadari kalau wanita itu adalah seseorang yang pernah datang ke restoran dan menuduh Dara sebagai selingkuhan suaminya.


Jika perempuan itu selingkuhannya, berarti Dara hanya korban fitnah. Raung Bu Mesya yang mulai menyadari kesalahannya. Bu Mesya meninggalkan teman-temannya itu yang masih asyik menonton reality show. Pihak keamanan datang dan membawa pasangan suami istri itu untuk diamankan.


“Yah … enggak seru, nanggung nih!” keluh Bu Jihan.


“Loh, Bu Mesya kemana?”


Dari arah berlawanan Pak Santosa datang menanyakan istrinya.


“Loh … Pak Santosa enggak bertemu Bu Mesya? Tadi sepertinya sudah keluar, Pak.” Jawab Bu Shinta yang bertemu di lobi.


Kemana Mesya.


***


Bu Mesya meminta Anto untuk mengantarnya ke kedai kopi bumi. Kali ini dirinya merasa harus bertemu dengan Dara untuk meluruskan penilaiannya terhadap mantan menantunya itu. Semua terjadi kesalahpahaman akibat Bu Mesya terlalu cepat menerima kabar yang tidak benar. Padahal, Dara mencoba menjelaskan bahwa dirinya bukan perempuan seperti itu.


Aku akan berlutut di depannya, jika perlu. Sampai Dara memaafkanku.


***


Mohon dukungannya, pencet like semua bab, rate 5, vote, tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak )