
Dara perlahan berjalan mundur dan berbalik arah. Tujuannya untuk menemui Raka mungkin sudah terlambat. Dara berlari kencang hingga terjatuh di atas pasir dan terluka akibat membentur karang kecil. Kakinya terasa nyeri sebelum akhirnya sampai ke penginapan. Membasuh luka itu dengan air hingga darahnya bersih.
Mengambil kotak obat yang di bawanya dari rumah.
Tiba-tiba Raka yang sedang mengantar Bumi pulang, dengan cepat menghampiri Dara yang terluka. Sembari berjongkok Raka melihat lukanya.
“Kenapa? Kamu jatuh?” tanya Raka lembut. Mengambil obat di atas ranjang itu dan mengolesinya di atas luka. Dara mengais perih dan merasa baikan ketika Raka meniup luka itu.
Dara memandangi wajah Raka yang tidak dikenalinya. Kulitnya berubah sedikit menghitam, begitu juga dengan kulit wajahnya. Tubuhnya lebih terlihat kurus dan kekar, mungkin karena sering menyelam selama di sini.
“Nanti juga sembuh,” ucap Raka setelah menyelesaikan merawat lukanya.
Raka menoleh pada Dara, seketika dirinya membuang muka. Malu tertangkap sedang memandanginya.
“Makan yuk?” tanyanya.
Kenapa Raka tidak bertanya kenapa aku di sini. Kenapa justru mengajakku makan?
“Bumi mau, Pah … Bumi sudah lapar sejak tadi!” Bumi bereaksi kegirangan.
“Ayo … tapi … kamu harus ganti bajumu yang basah dulu,” tutur Raka. Sembari meminta Bumi menuntunnya ke dalam penyimpanan pakaiannya.
“Jangan … biar Mama saja,” teriak Dara. Pipinya memerah, hampir saja Raka melihat semua pakaian dalamnya. Baju Bumi dan Dara yang tersimpan dalam koper yang sama.
“Kenapa kamu cuma bawa satu koper?” tanya Raka.
“Kami hanya beberapa hari ini, enggak akan lama,” balas Dara.
“Ok!” imbuhnya.
Ok? Hanya Ok? Harusnya kamu mengeluh, kenapa hanya sebentar di sini bukan cuma … Ok. batin Dara.
Dara memberikan pakaian bersih Bumi, Raka menggantikan pakaiannya yang basah setelah berenang tadi. Dara merasa senang melihat pemandangan itu, baru kali ini dirinya merasakan kedekatan Bumi dan Raka. “ Ternyata perutmu endut juga … pasti kamu jago makan ya?” celoteh Raka.
“Iya dong … kaya Mama … hihihi ….” timpal Bumi meledek. Mereka berbisik-bisik sesuatu yang tidak kuketahui.
Tadinya aku suka melihat mereka dekat, sekarang aku kesal karena kedekatan itu. Mereka sangat kompak menyelaku.Sembari cemberut.
“Legoh!” ucap Bumi.
“Ok … legoh!” tiru Raka.
“Kalian duluan saja … aku mau ganti baju dulu,”
Raka dan Bumi menunggu di luar.
“Apa-apaan sih mereka kompak banget kaya anak kembar,” gumannya. Mengeluarkan pakaian yang ada di koper, tiba-tiba ada sesuatu yang merayap perlahan di pakaiannya. Dara sudah setengah telanjang.
“Aaaaaa …!” teriaknya.
Raka terlanjur masuk ke dalam dan melihatnya setengah telanjang. Dara semakin berteriak.
“Kenapa masuk?” sembari menutupi bagian atas tubuhnya seadanya.
“Kenapa teriak? Bikin kaget aja!”
“Itu ….” Dara menunjuk pada serangga di atas pakaiannya.
Raka mencari serangga itu.
“Oh itu Tonggeret serangga vampir!” sembari mencubitnya dengan jari.
“Vampir, kenapa di pegang? Kalau hisap darah gimana?” raung Dara ketakutan.
“Mah, Pah … ayo, Bumi sudah lapal nih,” rajuk Bumi di luar.
“Iyaaa!” ucap mereka berbarengan.
Dara menyuruhnya untuk membuang jauh-jauh serangga itu dan keluar dari sini.
***
Menikmati makan malam di dalam restoran resort, Dara memilih di dalam karena merasa kurang enak badan. Sejak beberapa hari yang lalu tubuhnya belum benar-benar sembuh dan harus terkena angin laut, membuatnya terasa mual dan pusing.
“Jadi vampil yang ada di kamal Mama, enggak hisap dalah?” sembari melahap makan malamnya.
“Bumi enggak mau Pah,” ucapnya enggan merasakan.
“Hehehe ….”
Raka memperhatikan Dara yang terlihat kurang napsu dengan makanannya.
“Dara, apa makanannya enggak cocok?”
“Enggak … ini sangat enak, cuma kayanya aku masuk angin.”
Tiba-tiba Abelia datang menyapa Raka. Dengan atasan yang memperlihatkan bahunya yang indah, belahan payudaranya dan celana pendek yang trendy.
“Halo, Raka ….” sembari memberinya kecupan mesra di pipi. Lalu membisikinya sesuatu.
Wanita cantik yang tadi membawakan minuman untuk Raka.
“Hai, Abelia … oke,” balas bisikan itu.
Setelah makan malam selesai, Raka mengantar Dara dan Bumi kembali ke cottege. Berjalan di atas pasir putih, mereka berdua mengapit tangan Bumi dikedua sisinya. Bumi terlihat sumringah, tawanya melebar ketika bisa berayun di antara keduanya yang menahan berat tubuhnya.
“Pah … mainlah denganku,”
“Hmm … besok pagi saja yah … Papa harus menemui seseorang,”
Bumi menurut.
Raka akan menemui wanita itu sepertinya. Seandainya aku bisa menahannya agar tidak menemuinya.
Bumi dengan cepat tertidur pulas, dimanapun dirinya berada selalu bisa langsung tertidur. Dara merasakan tubuhnya kini demam, untuk saja membawa obat-obatan. Semenjak memiliki anak, Dara selalu membawa perbekalan yang lengkap, seperti Tim SAR yang siap sedia dalam segala situasi. Setelah menenggak satu sachet tolak angin, rasanya ingin segera tidur. Apapun sakitnya minumnya tolak angin.
Sembari menunggu obat itu bereaksi mendinginkan area kebakaran di dalam tubuhnya, Dara membuka pintu yang langsung berhadapan dengan air laut. Saat itu air mulai pasang hingga naik ke permukaan, Dara bisa menyapu tangannya merasakan dinginnya ombak. Kedua kakinya yang diturunkan ke bawah agar bisa terbilas ombak juga. Tiba-tiba Dara teringat oleh mimpinya, rasanya seperti pernah ke tempat ini.
Dari arah belakang, Raka membawakan selimut dan membalut tubuh Dara. Dirinya terkejut yang sudah berada di dalam rengkuhannya.
De Ja Vu
“Kamu bilang apa?” ucap Raka di telinganya.
“Sepertinya aku pernah memimpikan ini,” balas Dara. Jantungnya mulai berdegup kencang hingga sulit menelan liurnya sendiri.
“Ini bukan mimpi, tapi kenyataan.” tutur Raka yang memeluknya dari belakang sangat erat.
“Deg … deg … deg”
“Raka apa yang kamu lakukan?”
“Kumohon, sebentar saja … aku akan melepasnya sebentar lagi,”
Pelukannya membuatku merasakannya lagi, bergejolak. Hanya dirinya yang bisa membuatku seperti itu. Rasanya belum pernah ada laki-laki yang membuatku begini, merasakan getaran hingga terbang ke awang-awang, aku menginginkannya lagi dan lagi.
“Kamu enggak jadi bertemu dengan wanita itu?”
“Sudah, barusan!”
Apa?
“Lalu, kenapa kamu sekarang beralih padaku?” Dara merasa gusar. Dipikirnya dirinya hanya pelampiasan saja.
“Koq kamu marah? Baiklah sudah cukup pelukannya.” ucap Raka sedikit kesal.
Dara meninggalkan Raka tanpa ucapan apa-apa.
“Tunggu! … apa kamu cemburu pada Abelia?” tanya Raka.
Dara sambil lalu, tidak menganggap pertanyaannya itu. Dirinya terlanjur kesal begitu juga dengan Raka.
Kenapa sulit sekali membuatmu mengatakan perasaan yang sesungguhnya. keluh Raka. Apakah aku harus bersimpuh dan mengatakan jika aku mencintaimu dengan lantang, hingga semua orang mendengar. Jika itu yang kamu inginkan aku akan melakukannya Dara. Aku akan melakukannya!
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )