I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 53 My Wedding



Pertemuan adalah permulaan, perpisahan adalah pembelajaran dan kembalinya adalah keberhasilan.


Jatuh cinta bukan karena menemukan seseorang yang sempurna, melainkan melihat ketidaksempurnaan didirinya adalah kesempurnaan.


Hari ini aku menikahi seseorang asing yang mengajakku pulang, besok aku akan terbangun disisinya yang tetap asing bagiku.


Jatuh cinta berjuta kali dengan orang yang sama adalah anugerah.


Seseorang yang berani bukan karena hartanya, tetapi karena keberaniannya memutuskan untuk menikahiku.


Tidak akan pernah menemukan cinta sejati sampai kamu belajar untuk mencintai.


Aku ingin pernikahan yang indah bukan yang mewah.


Memandang pantulan wajahku dalam cermin. Wajah yang dirias kemerahan dan menonjol dari biasanya. Balutan gaun yang memanjang hingga mengekor dipenuhi Swarovski berwarna-warni membuatnya indah dan semakin berkilau. Lipatan kebaya pilihan Ibu untuk melekuk bagian pinggul hingga ke kaki yang membuatnya elegan dan tradisional.


Gabungan antara gaun yang disiapkan Mama dan kebaya pemberian Ibu membuatku bahagia di hari pernikahan ini. Pernikahan kedua yang seperti pernikahan pertama kali. Tetap saja membuatku gugup dan canggung menjadi ratu sehari.


Terakhir adalah sentuhan hairpiece aksesori yang menghiasi sanggul rambut, berbentuk bunga-bunga yang senada dengan Swarovski pada gaunku. Tertanam indah melingkar pada sisi rambut hingga menutupi pangkal sanggul.


“Kamu sudah siap Dara?” ucap Mama.


Aku mengangguk pelan.


Mama dan Ibu mengapit dikedua sisiku, melingkarkan tangannya pada lenganku. Sesekali Wini membantu untuk mengepakkan gaun yang mengekor panjang. Aku menoleh pada Wini yang terlihat sangat cantik dengan gaunnya.


"Wini, sejak tadi aku ingin mengatakan kalau ... kamu cantik sekali dengan gaun itu,"


"Terima kasih Kak, tetapi aku sudah berusaha untuk tidak tampil menyolok melebihi pengantinnya," seloroh Wini.


Aku dan Wini tertawa, cukup untuk meredakan rasa gugupku.


Tetapi rasa gugup itu kembali hadir ketika melihat para tamu undangan dan keluarga yang sudah menunggu di bawah. Sorot mata mereka yang hanya fokus pada diriku.


Berada di ambang pintu, semuanya sedang menungguku untuk turun. Aku menoleh pada keduanya dan rasanya ingin berbalik ke kamar. Tiba-tiba ada keraguan yang berkecamuk untuk mengulang lagi peristiwa ini. Bagaimana ini aku sangat takut.


“Ada apa Dara?” tanya Mama.


“Aku gugup, Mah.”


“Kalau begitu, lihat saja kearah Raka. Jangan hiraukan tamu lainnya,”


Aku mencari Raka. Kutemukan dirinya yang sedang menungguku di ujung anak tangga. Tatapannya yang lembut dan teduh, membuatku tenang. Senyumannya yang menawan, menghilangkan keraguan. Aku hanya harus fokus pada dirinya.


Menuruni anak tangga itu dengan gemulai. Raka mengatakan sesuatu dari tempatnya berdiri tanpa suara.


“Kamu sangat cantik,”


Membuatku tersipu malu.


Mama dan Ibu yang menyerahkanku kepada Raka, meraih tanganku seakan memberi signal, biarkan aku yang menjaganya mulai sekarang. Tiba di pelaminan, Pipi dan Bumi yang bergandengan tangan dengan membawa sebuah kotak cincin pernikahan. Semua orang terkesima dengan Bumi yang memakai jas senada dengan Pipi Santosa. (Sebutan lain dari Kakek)


Sangat tampan seperti Ayah dan Kakeknya.


Semuanya membicarakan Bumi yang terlihat menawan, lucu dan imut. Kecil-kecil sudah tampan.


Bumi memberikan kotak perhiasan itu kepada Papa Raka dan memberikan kecupan di pipi Mama Dara.


Akhirnya aku resmi menjadi istri Raka.


***


Rasanya canggung berdua saja di dalam kamar dengannya, meskipun sudah menjadi istrinya yang sah. Berusaha meredakan getaran yang sangat kuat di hatiku. Raka mulai mendekatiku yang sedang duduk di sisi ranjang di sebuah hotel, Aku menginap malam ini bersama dengannya untuk malam kedua kami. Sebab ini bukan benar-benar malam pertama. Tetapi rasanya seperti malam pertama, sungguhan. Bagaimana tidak, kami rujuk dan menikah lagi setelah tiga tahun berpisah.


“Kamu sudah siap Dara?”


Aku hanya mengangguk pelan.


“Penantianku selama ini akhirnya bisa bersama denganmu lagi … Dara, wanita yang sangat kucintai.”


“Aku mencintaimu, Raka ….”


“Aku lebih mencintaimu, Dara ….”


Raka menciumku lembut dan memberikan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasanya sangat berbeda waktu awal pertama, kali ini perasaan kami lebih melebur menjadi satu, tidak ada lagi keraguan di hati. Kami melakukannya karena saling mencintai, tidak ada yang bisa memisahkan.


Tiba-tiba,


“Dara kenapa susah sekali membukanya,”


“Pelan-pelan … nanti semuanya rusak.”


“Aku sudah tidak sabar, kenapa ini sangat susah.”


“Pelan-pelan bicaranya nanti kamu membangunkan semua orang ….”


TAMAT


Author mau mengucapkan terima kasih kepada sesama Author yang sudah memberikan dukungannya terus menerus pada karyaku; I Don’t Like She dan juga kepada para pembaca setia yang juga sudah membaca dan menunggu kelanjutan setiap part-nya. Semoga kalian semua suka dan terus mendukung I Don’t Like She.


Untuk sementara Author akan menamatkan ceritanya sampai di sini. Jika ingin membaca kelanjutannya mohon dukungannya terus yah, dengan memencet Like, Vote, Rate 5 dan komentar yang banyak. Boleh dengan memberikan kritik dan saran, tapi dengan bahasa yang baik ya.


Author akan memperbaiki secara bertahap.


Terima kasih )