I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 22



Aku turun kebawah karena Papa dan Mama sudah menunggu sejak tadi. Terdengar cekikian yang berseri-seri dari kejauhan. Sesampainya ditengah anak tangga wajah mereka terlihat bersinar yang sedang asyik memutar video pernikahan tadi pagi. Alangkah bahagianya mereka dengan pernikahan ini.


“Pah, Mah….” ucapku.


“Loh, Dara mana?” tanya Mama sembari melihat kearah tangga.


“Dara kecapean Mah, biarkan istirahat dulu.”


“Oh begitu, ya sudah sini dekat Mama sayang.”


Tombol remote itu dipencet agar ter-pause adegan yang sedang memutar. Papa segera menghadapku dengan serius.


“Begini Raka … Papa mau tanya rencana kalian untuk berbulan madu….” ucapnya terpotong.


“Sepertinya kami tidak ada rencana Pah, Mah … karena aku banyak kerjaan dan Dara baru saja bekerja.”


“Loh, jangan begitu dong Raka. Bulan madu itu penting.” pungkas Mama.


“Nanti kalau waktunya sudah longgar … bisa diatur.”


“Koq begitu….” ucap Mama kurang setuju dengan dahi mengernyit.


Papa mencoba menengahi situasi.


“Hmm … begini Raka, sebenarnya Papa mau minta tolong sama kamu,”


“Tolong apa Pah?”


Papa mengatakan jika aku harus pergi ke Semarang untuk bertemu dengan rekan bisnis Papa disana. Namanya Pak Lukman, sekalian kami berbulan madu ucapnya. Diam-diam beliau sudah menyiapkan tiket pesawat dan resort di Susan Spa Bandungan. Sebenarnya Papa dan Mama yang akan kesana, tapi berhubung ada investor besar yang harus ditemui dalam minggu ini. Rencana itu sayang untuk dibatalkan.


“Untung ada kamu Raka … Papa minta tolong yah,” sahut Papa seakan memohon.


“Hem, oke deh Pah. Sepertinya kerjaanku bisa dihandle kantor.”


“Nah, begitu dong … itu baru anak Mama hehehe….” sahut Mama senang.


Aku beranjak dari sana untuk menghubungi Eza. Mereka kembali memutar video tadi pagi.


“Eza … kalau Dara bolos lamaan bisa enggak?”


“Bulan madu yah?”


“Enggak, bokap … minta tolong ke Semarang ketemu partner bisnisnya. Sekalian Dara aku ajak.”


“Gengsi amat sih, tinggal bilang iya … bulan madu … gitu.”


“Ehm … bisa enggak Paul!”


“Ok enggak apa-apa koq, khusus buat Dara apapun boleh hehe….”


“Beneran nih Za … enggak apa-apa?”


“Bener, aku sudah antisipasi sebelumnya, ada kasir pengganti koq. Lagipula rencananya aku juga mau ke Semarang ada perlu juga tapi belum tahu hari pastinya,”


“Oke, kalau begitu … Thanks ya”


Ketika aku berbalik dan segera naik keatas. Mama menahanku penasaran dengan sesuatu.


“Raka … Mama mau tanya, Eza itu temen kamu waktu di London kan?”


“Iya … temen terbaik Raka, kenapa Mah?”


“Dia cowok tulen kan?”


“Hahaha … ya iyalah Mah, masa cowok bohongan.”


Aku bercerita Eza itu laki-laki sungguhan bukan kaleng-kaleng. Hanya saja memang gayanya sedikit gemulai karena Eza anak bungsu dari lima bersaudara. Dan semua kakak-kakaknya perempuan. Mereka sangat dekat, mungkin itu berpengaruh padanya. Seperti jalannya dan perasaannya yang lebih sensitif ketimbang laki-laki pada umumnya.


“Oh, Mama pikir kamu terlalu dekat dengan Eza … karena naksir!”


“Astaga? Enggaklah Mah, aku sama Eza berteman sangat baik.”


“Kalau begitu Raka, Eza jangan terlalu dekat dengan Dara. Nanti bisa-bisa ditaksir lagi, Eza waktu datang ke pernikahan kamu tadi pagi. Mama perhatiin ganteng banget, badannya tinggi, rambutnya klimis dan wajahnya oriental gimanaa … gituh, Mama aja yang sudah tua begini, ser-seran.” sahut Mama terpesona.


“Ehem … ehem!” ucap Papa yang merasa cemburu.


“Haha … tuh Mah, Papa cemburu tuh Mama bilang Eza ganteng.”


“Oh Papa lebih ganteng dong buat Mama hehe….” ucap Mama merayu.


Aku meninggalkan mereka yang kembali romantis. Seakan tidak sadar jika aku sudah dewasa dan merasa risih melihat keharmonisan yang dipertunjukkan itu. Namun, hatiku ikut senang dan mengembangkan senyuman melihat mereka selalu rukun dan bahagia.


***


Terbangun diatas ranjang yang besar dan sangat empuk ini. Tercium aroma wangi seperti jeruk yang segar. Wangi parfum Raka yang menempel ditubuhku. Cepat-cepat aku terperanjat dan segera mengumpulkan roh dalam sekejap.


Mendapati tubuh ini yang hanya terbalut handuk dan selimut.


“Aahhh … tidak!” Menutupi mulut yang menganga dengan kedua telapak tangan.


Masih mengumpulkan pikiran dan mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Sepertinya aku pingsan dan kehilangan kesadaran ketika mandi tadi. Lalu, siapa yang membawaku keatas ranjang ini. Sedangkan tadi pintunya sudah kukunci. Jika itu Raka bagaimana bisa masuk kesini. Apa dirinya punya kunci duplikat atau lewat jendela.


Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu itu dan masuk. Aku kembali berpura-pura tidur dan menutupi seluruhnya dengan selimut.


Langkah kaki Raka dan


aromanya semakin dekat dan tercium, meskipun berada didalam sini. “Ah tidak …


baunya menempel ditubuhku,” kupikir Raka yang telah menggendong.


Aku tetap diam dan masih bersandiwara.


Bagaimana ini, aku sangat malu. Raka pasti sudah melihat seluruh tubuhku. Apa Mama dan Papa juga tahu jika aku pingsan. Aku tidak mau membuat mereka kuatir.


Mendadak selimut itu dirampasnya. Sontak aku terkejut.


“Ciluk … baaaa.” ucapnya sembari mendekatkan wajahnya padaku.


Pipiku merona, aku semakin malu dan berusaha menarik kembali selimut itu. Raka duduk disamping sisi ranjang, dekat dengan kakiku yang memanjang.


“Hemm….” helaan napasnya terdengar.


‘Apa yang ada dipikirannya saat ini’


“Maafkan aku Dara,” sahutnya tiba-tiba.


‘Apa? Apa maksudnya meminta maaf’


“Oiya, besok kita ke Semarang. Papa sudah menyiapkan pesawat dan resort untuk kita,”


“Apa?" sontakku terkejut dan berhadapan dengannya.


“Kenapa? Kamu mau membuat mereka kecewa?”


“Bukan, bukan itu … aku belum pernah naik pesawat,”


“Hehe … enggak apa-apa, enak koq.”


“Aku juga belum pernah jalan-jalan yang jauh,”


“Enggak apa-apa, sana siap-siap.”


“Yauda kamu keluar dulu aku mau ganti baju,”


“Kenapa aku harus keluar, barusan aku sudah lihat semuanya koq….”


“Aahhhhhhh….” aku teriak histeris mendengarnya mengatakan itu.


“Iya-iya aku pergi.” sembari keluar.


“Sebeeeel!” dengan wajah kesal dan menutupi raut ini dengan selimut.


***


 Hingga dini hari,  aku masih berkutat dengan barang bawaan untuk besok dan bolak-balik ke kamar mandi. Hati ini terasa tegang memikirkan besok naik pesawat hingga membuat perutku mulas. Sudah kelima kalinya aku kebelakang, kenapa semuanya serba dadakan sedangkan belum mempersiapkan semuanya.


“Daraaa … bisa enggak kamu enggak bolak-balik, mondar-mandir, ini sudah jam 1 pagi. Aku mau tidur Daraa!” ucapnya yang sangat kesal dengan rambut ikalnya yang menggumpal keatas.


‘Spontan aku merasa geli melihat rambutnya yang seperti gugali’


“Hihihi….” menepis tertawaan ini dengan mengulum bibirku kedalam.


Aku tidak tahan dan akhirnya tertawa kencang.


“Apa, kamu bisa tertawa disaat aku kesal, lelah dan emosi!”


“Hahaha … maaf … hehe … habis rambutmu itu lucu sekali!” membungkam mulutku dengan kedua tangan agar berhenti tertawa. Namun, tidak berhasil aku tetap tertawa.


“Dasar … awas yah, akan kuberi pelajaran,” ucapnya dan mulai mengejarku.


Aku menjauh dan berlari dari kejarannya. Memutari ranjang hingga bersembunyi dibalik rak buku. Aku berlari sekuat tenaga karena Raka benar-benar akan menangkapku.


“Ketangkap yah … coba bilang ampun dan pergi tidur,” ucapnya sembari memegang kedua tanganku.


“Bawaanku belum siap, Raka.”


‘Tangannya mulai mengelitikiku’


“Ampun Raka, ampun … capek aku capek.” ucapku yang merasa lelah dan lucu dengan rambutnya yang semakin meringkel keatas seperti eskrim diatas coffee.


“Hahaha….”


“Tertawa lagi, ya berani tertawa lagi.” sembari menggendongku dan meletakkan diatas ranjang itu. Tubuhnya ikut terjatuh diatasku tanpa sengaja.


“Glek….” aku tertegun memandangnya yang sangat dekat.


‘Kenapa Raka tidak beranjak dariku’


Hanya memandangiku sangat lama, entah apa yang ada dipikirannya. Hingga aku merasakan degup jantungku yang mulai tidak tertata. Ritme yang berantakan, seperti nada naik dan turun. Wajahku memanas hingga ketelinga. ‘Ada kebakaran, kebakaran’


“Ah … maaf,” ucapnya sembari menjauh dariku.


Raka meninggalkanku dengan perasaan semakin canggung. Seharusnya dia mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar maaf. Laki-laki macam apa yang setelah mendekap seperti itu hanya mengucapkan maaf. “Dasar,”. sembari menyunggingkan bibir atas kesudut kemiringan 45 derajat.


“Tidurlah….” sahutnya sembari menarik lengan piyamaku.


“Iya aku tidur.” sembari mengambil posisi disisinya. ‘Malam pertama yang aneh’


Sedangkan didepan pintu kamar Raka, Mama dan Papa sedang asyik.…


“Sssttt … jangan berisik Pah, qiqiqi….”


“Mereka sedang asyik sepertinya Mah….”


“Cihuy!”


....Menguping.