
Pagi itu, Raka sudah sampai di kantornya yang baru sengaja ingin melakukan ritual pertama kalinya. Raka memiliki kebiasaan untuk memandang view dari tempatnya bekerja. Dengan begitu dirinya merasa lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Tiba-tiba, Shesa datang ke kantor yang pintunya tidak tertutup rapat. Dengan gaya berjalannya yang anggun, sosok wanita yang pernah disukai Raka pada masa lalu.
Sekarang terlihat biasa saja.
“Tok … tok … tok” suara ketukan itu membuyarkan ritual paginya.
Raka tidak terkejut sama sekali, karena kebiasaan Shesa yang suka datang tiba-tiba. Raka melihat kearahnya, sedangkan Shesa mendekatinya perlahan dan menaruh tas itu di sofa sembari duduk. Raka hanya mengikutinya keinginannya. Seakan ingin mengatakan sesuatu.
“Akhir-akhir ini kamu menghindariku, kenapa?” keluh Shesa. Matanya menatap syahdu, seakan memohon untuk kelembutan hati Raka.
“Bukannya, sejak….” ucapan Raka terpotong. Shesa tidak mau mendengar kelanjutannya.
“Aku tidak mau mendengar alasanmu … yang aku tahu orangtua kita ingin segera kita menikah dan aku sangat mencintaimu,” terang Shesa meyakinkan.
“Shesa, kamu tidak perlu memaksakan kehendak seperti ini. Aku tidak ingin menyakiti seseorang lagi….”
“Apa? lagi … jadi selama ini kamu masih memikirkan gadis kampungan itu!” Shesa merasa geram dan langsung berdiri. Raka kesal karena Shesa mulai berubah dan menunjukkan sikap aslinya, wanita angkuh.
Shesa keluar dari ruangan itu dengan amarah.
“Shesa, tunggu.”
***
“Deeeerrtt … deeerrrtt”
“Makan siang bareng,” pesan singkat Eza.
Eza mengajak Raka ke sebuah restoran di pusat kota, restoran Eza yang bekerjasama dengan rekan bisnis barunya. Restoran yang lebih mewah dengan standar internasional untuk kalangan atas. Berbeda dengan restoran-restoran miliknya sebelumnya, yang tersebar hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Kali ini hanya untuk kalangan terbatas.
“Wow!” sanjung Raka terpukau dengan restoran baru milik Eza.
“Bagaimana?” tanya Eza.
“Konsepnya berubah? Katanya mau bikin restoran yang bisa dinikmati semua orang?” tanya Raka penasaran. Eza hanya tersenyum sembari menepuk pundaknya.
“Pengen jugalah punya restoran satu yang seperti ini, hehehe….” terang Eza dengan celoteh santainya.
Setelah makan siang, mereka berkendara kembali. Berencana untuk mengantar Raka ke kantor, sedangkan Eza harus bertemu dengan rekan bisnis lainnya. Tiba-tiba, mobil itu berhenti di depan minimarket. Eza ingin membeli sebotol minuman isotonik untuk menyegarkan tenggorokannya.
“Sebentar ya, haus.” Keluh Eza sembari keluar dari mobilnya. Raka melihat sekeliling yang tidak asing dipandangannya. Ketika melihat kearah kanan, ada sebuah ruko bertuliskan Kopi Bumi yang pernah dilihatnya tempo hari.
Raka keluar memandang dari kejauhan bangunan yang membuatnya tertarik. Tiba-tiba, seseorang mengalihkan pikirannya. Ada yang menarik-narik celana panjangnya. Raka terkejut seorang anak kecil sedang mendongak dengan wajah lugunya. Raka tersenyum dan melihat sekeliling, mencari orangtuanya.
“Mama, mana?” tanya Raka sembari mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi anak itu. Anak kecil itu menunjuk pada ruko yang ada di seberang jalan.
“Disana?” ucap Raka memastikan. Tangan mungil itu menggenggam erat tangan Raka sembari menunjuk terus kearah ruko.
Seseorang datang dari dalam minimarket dan menggendong anak kecil itu.
“Bumi, kamu koq ada di sini. Ayah antar pulang yah!” ucap pemilik minimarket bernama Johan.
“Papa … Papa,” ucap Bumi pelan sembari menunjuk pada Raka.
“Ayo, kita pulang,” ucap Johan sembari menyebrang jalan. Bumi melambaikan tangan pada Raka dengan wajah lugunya.
Raka tersenyum simpul dibuatnya, hingga Eza akhirnya selesai membeli minuman yang diinginkannya. “Raka, ayo!” ajak Eza.
Anak yang menggemaskan.
“Anak kecil tadi manggil aku, Papa … hehe” jawab Raka yang tidak bisa berhenti tersenyum.
Eza hanya senang melihat sahabatnya itu terlihat bahagia.
***
Dari dalam minimarket, Wini yang sejak tadi bersembunyi disana untuk menghindari bertemu dengan Raka yang dikenalinya dari kejauhan. Wini bingung karena Bumi keluar tanpa sepengetahuannya yang sedang membelikannya susu dan gula kapas. Wini merasa jika dirinya keluar, Kak Dara akan lebih marah padanya. Selama ini Kak Dara selalu menghindar dan ingin melupakan masa lalunya.
“Syukurlah, ada Kak Johan,” batin Wini merasa lega.
***
Ketika kedai sudah tutup,
“Aduuh … sakit Kak! Ampun….” ucap Wini yang mengaduh kesakitan karena pukulan Dara ke bahunya. Wini merasa menyesal karena kurang waspada menjaga Bumi.
“Kakak sudah bilang, jangan sering-sering membelikannya gula lapas. Disana berbahaya harus menyebrang jalan. Bagaimana kalau ada yang menculik Bumi atau ada mobil yang menabraknya!” bentak Dara melampiaskan kemarahannya. Sembari melayangkan pukulan ke bahu Wini.
Mendadak Dara tersungkur di lantai, mulai menangis. Hatinya merasa sangat khawatir karena tidak bisa menjaga Bumi dengan baik. Harus bekerja hingga Bumi sering ditinggal.
“Kak, Wini sudah minta maaf. Wini salah, kenapa Kakak nangis?” tanya Wini merasa bersalah.
“Kakak kesal dan takut, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Bumi,” ungkap Dara, tangisannya semakin kencang. Wini memeluk Kak Dara yang menyadari kekalutan hatinya.
“Wini akan jaga Bumi lebih hati-hati Kak, tenang yah!” tutur Wini mencoba menenangkan Dara.
Wini tidak memberitahukan kejadian tadi siang, tentang Bumi yang bertemu dengan Raka. Dirinya tidak ingin menambah beban Kak Dara yang sudah bersusah payah hingga seperti sekarang. Wini berjanji dalam hatinya untuk membuat Kakaknya bangga. Menyelesaikan kuliahnya dengan nilai terbaik.
***
Menaruh jas di kursi meja makan, melonggarkan dasi sembari melihat kearah tempat duduk yang biasa Dara tempati. Sembari menyeruput mi instannya dengan lahap. Tidak disangka kehadirannya yang sebentar membuat Raka tidak bisa melupakannya.
Membuka kamarnya, terlihat kosong. Namun, aroma wewangian yang sering dipakai Dara membuatnya semakin rindu. Kamar ini akan selalu menjadi miliknya, tidak akan ada yang bisa merubahnya.
Menaiki tangga satu persatu semakin berat langkahku untuk keatas. Bukan karena lelah, tetapi kenangan terindah yang ada di sana membuatku enggan untuk cepat-cepat. Sulit rasanya, jika merindukan seseorang tetapi tidak ada dipelukan. Keresahan ini sungguh menyiksa malam-malam kesepian dan kesendirian.
Melangkah tetapi enggan. Merasa tetapi tiada.. Kekasih tersayang. Kapan kamu pulang?
Merebahkan tubuh yang lelah, menoleh ke samping melihat senyumnya malam itu, menciumnya dan memeluknya. Bagaimana Raka bisa melupakan semua kenangan indah itu dan melewatkan hari tanpa sentuhannya.
Aku menyesal telah melakukan itu, sekarang aku harus menanggung siksaannya. Menginginkannya … hanya menginginkannya.
Hingga kegelapan merengkuh lelah, menampis semua rindu, semua keinginan. Hari demi hari dilalui bertahan dengan kenangan. Hingga sirna dengan waktu atau tenggelam bersama waktu. Hanya menunggu, hingga semua terjawab. Perasaan cinta yang punah sementara hingga muncul pada pagi harinya.
Rembulan, mengapa cepat tenggelam.
Mentari, aku tidak suka kamu lagi.
Hanya kamu yang membuatku menderita begini, mengingatnya kembali.
Pergi, pergi … untuk apa kehangatanmu, hanya mengingatkanku padanya.
***
Langsung pencet Like, Vote, Rate 5, tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )