I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 44



Setelah Bumi kelelahan dan tidur di jok belakang dengan sabuk pengaman yang melindunginya. Raka menepati janjinya mengantarkan mereka pulang sebelum malam. Sesampainya di depan ruko, Dara dan Raka terkesan canggung. Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut mereka, hanya saling memandang dan menunggu.


“Baiklah, terima kasih sudah membuat Bumi senang hari ini,” ucap Dara berpamitan.


“Aku yang berterima kasih, bisa melihat Bumi yang menggemaskan,” balasnya sembari menoleh ke Bumi yang menjatuhkan kepalanya ke samping sandaran.


“Oiya, boleh aku meminta nomer teleponmu, Dara? … tapi jika kamu keberatan ….” ucap Raka ragu. Dara memberikan nomer kontaknya.


Lalu, Raka menggendong Bumi keluar mobil sedangkan Dara membawa banyak belanjaan yang dibelikannya. Dara berjalan di depan menuntun Raka mengikutinya.


Menaiki tangga yang cukup tinggi itu. Membuka pintu dan membaringkan Bumi ke ranjang yang tertidur pulas.


“Papa jangan pelgi, tinggallah di sini ….” Bumi mengingau. Ucapannya terdengar jelas. Tiba-tiba Raka menarik tangan Dara agar lebih dekat dengannya.


“Dara, katakanlah siapa Ayah Bumi?” tanya Raka berbisik. Memandangnya sedekat ini setelah tiga tahun lamanya.


Dara terkejut dan tidak bisa menjawab pertanyaannya. Jantungnya berdebar merasakannya lagi berada didekatnya.


“Dara ….” sambung Raka lagi.


“Nama anak itu, Rakabumi, nama aku dan arti dari namamu, aku ingat … Basundara berarti Bumi, itu artinya Bumi adalah ….”


“Sebaiknya kamu pulang Raka, kamu sudah melebihi batas,” ucap Dara.


“Apa?”


“Yah … kamu dengar aku. Sebaiknya kamu pergi dan jangan melebihi batas. Hari ini aku menemuimu karena Bumi, jadi jangan merasa kamu memiliki hak atasnya.” sentak Dara tegas.


Raka meninggalkan tempat itu dengan hati yang kecewa.


***


Raka merasa sangat kecewa dengan jawaban Dara, tetapi Raka tidak menyalahkannya. Dirinya berpikir jika apa yang dialami Dara pasti sangat sulit, harus bekerja dan mengurus Bumi. Raka hanya akan mundur beberapa langkah untuk memberi Dara ruang dan udara untuk bernapas, mungkin aku terlalu terburu-buru melangkah. Kali ini dirinya tidak boleh mengambil keputusan yang salah, jika tidak akan kehilangan Dara untuk selamanya.


“Rakabumi, aku suka nama itu.” ucapnya sembari mengemudi dalam perjalanan pulang.


Ketika sampai di rumah, hatinya semakin merindukan kehadiran Dara dan Bumi. Seandainya mereka di sini menemani hari-hari yang sepi. Rumah ini menjadi terlalu besar untuknya. Aku tertawa. Aneh memang, sebelumnya Raka baik-baik saja tinggal di rumah yang besar dan sendirian, tetapi setelah ada Dara rumah itu menjadi kehilangan keceriaan. Entah kenapa bisa begitu.


Terlebih sudah ada kehadiran Bumi, semakin membuatnya bersemangat melewati hari demi hari. Raka mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat.


“Aku sudah di rumah, istirahat ya, kecupan untuk Bumi,” tulis Raka di dalam pesan itu.


Dara yang membacanya terkejut melihat perubahan sikap Raka. Dara pikir dirinya akan sangat marah setelah mendengar jawaban ketus yang seakan mengusirnya dari hidupnya. Dara sangat senang membaca pesan singkat itu. Membuatnya merasa tenang dan tidak memikirkan jika sudah melukai hatinya.


Terima kasih sudah menjadi seseorang yang pengertian dan membuat Bumi senang hari ini.


Dara tertidur pulas setelah seharian berjalan-jalan. Rasanya lebih melelahkan ketimbang mengurus kedai.


***


Siang itu terjadi sesuatu antara Didi dan Lena hingga mereka seakan membicarakan hal yang serius di depan kedai. Kebetulan saat itu keadaan sepi, namun tetap menyita perhatian Dara dan Lintang. Didi menyatakan perasaannya kepada Lena. Namun, Lena menolaknya karena bukan impiannya menjadi kekasih seorang barista


kedai kecil. Lena menginginkan seorang pengusaha perusahaan besar seperti dalam drama-drama korea.


“Ada apa dengan mereka berdua?” tanya Lintang penasaran. Dara menoleh kearah keduanya.


“Mereka sedang tidak bertengkar kan?” keluh Dara semakin mendekati jendela. Lintang menarik tubuh Dara agar menjauh. Jangan sampai mereka melihat kita sedang mengawasi.


“Sepertinya, mereka tidak bertengkar, mungkin Didi menyatakan perasaannya pada Lena ….” ucap Lintang asal.


Dara terkejut,”Ah … yang benar saja? Dari mana kamu tahu kalau Didi suka pada Lena?” tanya Dara penasaran.


“Tahulah … Didi itu pendiam tapi tidak pandai menyembunyikan perasaan. Memangnya kamu tidak lihat keseharian mereka, makan berdua, pulang berdua, kemana-mana berdua ….”


“Lena juga suka?”


“Lena itu kebanyakan nonton drama korea, mana mungkin seorang pengusaha sekonyong-konyong melamarnya, mustahil!”


“Tapi, enggak mustahil juga sih … buktinya aku koq yah bisa dilamar pengusaha meskipun hanya sesaat ….” Wajah Dara tersenyum sinis, masih merasa heran kenapa ini bisa terjadi pada dirinya.


“Sudahlah … enggak perlu dipikirkan, yang penting sekarang ada Bumi, bisnis berjalan lancar … yakan?” sahut Lintang sembari menggodanya dengan senggolan bahu.


Dara tersenyum membalasnya.


“Di tolak,” sahut Lintang berbisik pada Dara.


“Ssstttt ….” balas Dara.


***


Bumi datang sembari membawa mainan traktor yang dibelikan Raka tempo hari. Sembari memeluknya kemana-mana, Bumi menanyakan sesuatu yang sangat penting untuknya.


“Mah, ulang tahunku belapa hali lagi sih?” tanya Bumi. Sembari menaruh traktor itu di lantai dan duduk bersandar pada meja barista. Dara menengok Bumi yang tiba-tiba menghilang, ternyata berada di balik meja itusedang memainkan traktornya.


“Bumi, kalau ulang tahunmu tidak perlu dirayakan, enggak apa-apa kan?” ujar Dara sembari menyiapkan kopi-kopi yang digiling halus.


“Apa itu dirayakan?” tanya Bumi lagi.


“Kenapa kita enggak sekali ini merayakan ulang tahunnya disini … kecil-kecilan ada kue ulang tahun dan tiup lilin,” ujar Lintang pada Dara.


“Nanti jadi kebiasaan untuknya, pemborosan.”


“Iya itu bolos namanya Lintaaaang ….” ucap Bumi sok tua.


“Hahaha … pintar kamu Bumi.” timpal Lintang.


“Bumi, panggil tante Lintang dong … koq nama terus,”


“Aku capek mah … kalau panjang-panjang,”


“Hmm ….” keluh Dara menghela napas. Menambah kadar kesabarannya untuk menghadapi Bumi yang semakin pintar membuat alasan.


“Aku mau bus besal!” ucap Bumi sembari berdiri dan duduk di pojok tempat hukuman. Sekarang sudut itu menjadi tempat bermain favoritnya.


***


Di The Blue Orchid mereka bertemu kembali, Bu Mika memberikan kabar gembira kalau akhirnya Cinta positif hamil. Pernikahan yang memasuki tahun ke 6 itu akhirnya memberikan kabar gembira untuk seluruh keluarga.


“Syukurlah Bu Mika, ini berita baik lagi … setelah semuanya kedapatan cucu mungkin kegiatan makan siang kita akan semakin jarang saja ya ... hihihi,” ujar Bu Shinta.


“Deeuuh … Bu Shinta sekarang yang punya cucu jadi sibuk nih … ngurusin cucu hihihi ….” sindir Bu Jihan.


“Iya … habis Claudia itu masih sibuk dengan vlog-nya, tahu enggak sekarang subscribernya sudah 15 juta karena bayinya itu sering dijadikan konten. Mereka menyebutnya bayi youtube hihi.”


Semuanya tertawa terkecuali Bu Mesya yang sedang merenungkan sesuatu.


“Bu Mesya kenapa sih dari tadi seperti kurang bersemangat?” tanya Bu Mika penasaran.


“Ahh … enggak apa-apa Bu hanya sedang memikirkan sesuatu,” jawabnya.


“Cerita dong Bu, kita kan sudah seperti saudara sendiri. Mungkin kita bisa bantu ….” sambung Bu Mika lagi.


“Ahh … aku sedang bingung, Raka bercerita bertemu dengan Dara,”


“Dara, mantan istrinya?” tutur Bu Shinta mengingat.


Bu Mesya mengangguk-angguk.


“Lalu, Bu Mesya?” tanya Bu Jihan penasaran.


“Dara memiliki anak, tapi koq aku punya perasaan yang aneh terhadap anak itu, bagaimana ya cara mengungkapkannya. Ada perasaan yang bagaimana ya … ahh aku juga bingung, mungkin kita bicarakan yang lain saja Ibu-ibu.”


“Jangan-jangan itu anaknya Raka, maksud Bu Mesya?” tuduh Bu Shinta menebak.


“Tes DNA saja Bu Mesya, biar enggak penasaran lagi!” celotehnya lagi.


“Setuju!” timpal Bu Jihan.


"Memang semudah itu ya, tes DNA?" tanya Bu Mika penasaran.


Bu Mesya menggeleng-geleng ragu, semua ide itu sebenarnya sudah dipikirkannya tetapi kekhawatirannya akan membuat Raka kecewa lagi.


***


Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )