
Gerak geriknya tidak tenang, wajahnya terlihat gugup dan ragu untuk melangkah ke dalam. Hingga Bumi meraih tangannya dan mengayunnya.
“Nini? Sedang apa disini?” tanya Bumi lugu. Senyum Bu Mesya melebar melihat cucunya itu datang menghampiri. Sejak dirinya membawa Bumi tes DNA, Bu Mesya belum pernah melihat Bumi lagi. Kangen sekali pada cucuku yang pintar ini.
“Nini mau bertemu Mamamu ….” jawab Bu Mesya.
“Mama lagi enggak enak badan, ayo naik keatas.” Sembari menuntunnya.
Bu Mesya merasa semakin ragu setelah mengetahui kalau Dara sedang sakit. Tetapi, tangan mungil yang menuntunnya itu membuatnya enggan untuk melepaskan.
Menaiki tangga satu persatu dengan perlahan. Bu Mesya kelelahan karena cukup tinggi anak tangga itu.
“Hati-hati, Nik … pelan-pelan saja,” saran Bumi.
Bu Mesya hanya tertawa kecil mendengar cucunya itu seperti orang dewasa.
Terdengar suara pintu yang di buka Bumi.
“Bumi, pulang ….” ucapnya pelan. Tidak ingin membangunkan Dara yang sedang nyenyak berbaring.
“Hacih … hacih, Bumi jangan keluar rumah, Mama sedang sak ….” Dara terhenyak. Gagap melihat ada Bu Mesya di hadapannya. Bumi yang kecil itu hanya bisa melihat cara keduanya saling memandang tanpa bicara.
“Ahh … sebaiknya Mama pulang saja, maaf Mama enggak tahu … kalau Dara sedang sakit,” tutur Bu Mesya canggung.
Dara bangkit dari posisinya seraya tetap ingin memperlihatkan kualitas kesopanannya bersikap pada orangtua.
“Hanya flu biasa, Mah,” ungkap Dara. Sembari mempersilahkan Mama untuk duduk di atas karpet.
“Maaf kalau ruangan ini berantakan dan sempit,” ujar Dara lagi. Dara menanyakan apakah Bu Mesya ingin minum sesuatu yang panas atau dingin. Bu Mesya berucap tidak perlu repot, hanya sebentar saja.
Tiba-tiba, Bu Mesya menarik kedua tangannya dan menatap lembut matanya. Rautnya terlihat sedih dan mulutnya bergetar. Seakan apa yang ada di hatinya sulit untuk diungkapkan.
“Sebenarnya ada apa, Mah?” tanya Dara bingung. Mama masih menggenggam erat tangan itu, wajahnya merunduk menahan sesal di hatinya.
“Mama menyesal, Dara. Selama ini Mama sudah melakukan kesalahan padamu,”
“Maksud Mama apa? Dara enggak ngerti ….”
“Mama baru tahu kalau tuduhan itu enggak bener dan selama ini kamu pasti menderita karena membawa beban fitnah itu. Tolong, maafkan Mama … Dara!”
“Dara sudah maafkan Mama sejak dulu, jadi Mama enggak perlu bersikap seperti ini,”
“Kamu memang anak baik, Dara. Mama sangat menyesal telah membuat kalian bercerai.”
Dara melepas genggaman itu seakan tidak nyaman dengan ungkapan itu. Dara tidak ingin mengungkit-ungkit masa lalu, itu membuatnya teringat kembali.
“Dara, kembalilah pada Raka ….”
“Mah … Dara sudah memaafkan semua, tapi bukan berarti Dara mau kembali bersama Raka. Semuanya sudah lewat masa-masa itu, hidup ini harus berlanjut,” timpal Dara.
“Dara, Mama mohon … Raka sangat mencintaimu, apa kamu sudah enggak cinta sama Raka?”
“Mah … Dara enggak mau memikirkan hal itu, semuanya sudah lewat.” jawab Dara hati sekeras batu.
Dengan perasaan sedih dan kecewa, keinginannya untuk menyatukan Dara dan puteranya tidak berhasil. Memang sangat kecil kemungkinan Dara untuk kembali, tidak bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya karena dipaksa memutuskan pernikahan itu. Sebelum berakhir menuruni anak tangga terakhir, Bu Mesya berbalik dan berkata.
“Raka sudah dua minggu enggak pulang, cuti panjang dari pekerjaannya. Kamu tahu kenapa Raka melakukan itu, Dara?” tanya Bu Mesya.
“Cuti panjang?” Kupikir Raka bekerja seperti biasa. Sembari menggelengkan kepala.
“Raka frustrasi karena enggak bisa bersamamu, bahkan Raka enggak peduli hasil tes DNA Bumi. Baginya yang terpenting kamu dan Bumi bahagia. Raka enggak mau membebani kamu dengan perasaannya itu … Raka sedang berjuang, setiap detiknya, menitnya … semenjak perpisahannya denganmu.” terang Bu Mesya.
Dara merasa gusar dengan ucapan Bu Mesya barusan. Hatinya berdesir dan mengilu, dengan cepat berubah menjadi kegalauan. Perkataan itu mempengaruhi pemikirannya selama ini, seperti menghancurkan pertahanan dirinya. Tembok pembatas yang dibangun untuk melindunginya dari rasa tersakiti.
Apa yang sudah diusahakannya, seketika hancur berserakan. Sebuah keputusan dari rasa sakit hati berkepanjangan yang berujung penyesalan. Aku sudah menyakitinya, rasa sakitku menyebabkan kehancuran. Sikap egoisku yang hanya memikirkan diri sendiri, karena terlalu sakit.
Tiba-tiba, bulir airmata itu menetes satu demi satu, bukan karena sakit hati. Tetapi karena terharu, hatinya yang membeku seakan mencair dan membuat jantungnya kembali berdetak. Merasakan kehangatan yang selama ini dihindarinya. Perasaan hangat yang tidak ingin dikenalnya. Hatinya mulai melunak untuk menerima kenyataan, jika Dara juga masih menyimpan perasaan untuk Raka.
“Mah … kenapa nangis?”
“Enggak apa-apa Bumi,”
“Mama sedih?”
“Bukan, ini airmata kebahagiaan,” ucap Dara sembari tersenyum
“Bumi apakah kamu tahu, kalau laki-laki yang sering kamu panggil “Papa”, dia adalah Papamu,” Dara mengangguk dan membesarkan matanya seraya ingin menyakinkan Bumi jika Raka benar Papanya.
“Benal Mah?!” tanya Bumi yang membalasnya dengan mata yang membesar pula.
“Mama jangan sedih lagi … ayo kita ketemu Papa, Mah?”
“Kamu mau?”
Bumi mengangguk-angguk.
Saat itu juga Dara mencoba menghubungi Raka, tetapi tidak diangkat. Dara ingin mengetahui keberadaannya saat ini. Beberapa waktu yang ditunggu tidak ada balasan atau telepon balik darinya. Dara tidak sabar lagi untuk menyatakan perasaannya.
Tanya pada Eza, pasti tahu Raka dimana.
***
Dua hari kemudian, Dara dan Bumi berangkat ke Sorong sebelum berakhir di tujuan akhir ke kepulauan Waisai, Raja Ampat, Papua. Tiba di Sorong, dilanjutkan menaiki kapal. Untuk pertama kalinya mereka menggunakan kapal cepat menuju ke gugusan pulau kecil-kecil itu. Selama tiga jam diterpa angin laut, Bumi awalnya sangat takut tetapi setelah melihat kawanan ikan lumba-lumba yang melakukan atraksi lompatan di udara, rasa takut itu hilang.
Bumi sangat takjub melihat dari dekat hewan cantik yang baru dilihatnya secara langsung.
“Mama lihat itu!” ucap Bumi sangat terpukau. Sedangkan Dara terkena serangan mabuk laut. Belum pernah dirinya melakukan perjalanan sejauh ini. Apalagi seperti biasanya sebelum melakukan perjalanan, Dara sudah bolak-balik ke toilet karena rasa gugupnya.
Jadi ingat waktu berbulan madu ke Semarang. Membuat hati Dara tersenyum mengingatnya.
Tiba di sebuah penginapan termewah di Raja Ampat, Meridian Adventure Marina Club & Dive Resort. Dalam pikiran Dara berapa banyak uang yang dihabiskan Eza untuk memesankan tempat penginapan mewah ini. Tiba-tiba di lobi, Dara tersipu malu begitu juga dengan Bumi yang melihat tiga orang wisatawan asing hanya memakai bikini yang terlihat semuanya.
“Mah, koq olang itu telanjang, emangnya enggak malu?” keluh Bumi lugu.
Dara memberikan hasutan agar Bumi menutup mulutnya. Untung bule-bule itu enggak paham perkataan Bumi. Dara mencoba memberikan penjelasan pada Bumi.
“Bumi, mereka itu bukan orang Indonesia, jadi kebiasaan mereka berbeda sama kita,”
“Oh … jadi olang itu biasa telanjang,”
“Ssssttt … Bumi enggak boleh bicara begitu, nanti mereka tersinggung,”
“Mama gimana sih … kalau Bumi keluar dari kamar mandi enggak pake anduk, Mama bilang … idih malu dong Bumi, halusnya meleka malu juga Mah ….”
“Ya sudah nanti Mama kasih tahu ke mereka ya kalau itu, malu ….”
“Gitu dong Mah. Halusnya meleka nulut sama kita, Mama nanti malahin meleka yah!” keluh Bumi lagi.
Setelah melakukan resevasi, mereka diantar ke sebuah cottege yang tepat berada ditepian pantai.
“Oh Tuhan, indah sekali … Bumi kamu lihat itu,” Dara menunjuk pada penginapan yang berada di atas pantai. Hamparan pasir putih, karang-karang yang indah menjadi hiasan diantara pepasiran dan deburan ombak yang mengenai kakinya.
Seketika Bumi berlari kecil dan mengeluarkan teriakan kesenangan. Menyibakkan ombak dan mengambil sebuah karang indah untuk diberikan pada Dara.
“Mama … ini buat Mama?” ucapnya tersenyum.
“Terima kasih, sayang,”
Lalu, pembawa barang itu menuntun mereka untuk menyeberangi jembatan kecil yang berada di atas pantai sebelum masuk ke dalam cottege. Pemandangan dari dalam kamar yang langsung ke lautan. Melihat birunya air laut, matahari yang bersinar cerah dan pasir putih, bagaimana bisa ada tempat seindah ini.
“Ah … maaf, apa cottege ini hanya untuk kami?”
“Iya, ini cottege private,” jawabnya.
Pasti Eza membayar sangat mahal untuk menginap di sini.
Astaga, suatu hari nanti kalau aku sudah memiliki uang yang banyak, akan mengajak keluargaku untuk melihat keindahan seperti surga ini. Dara terbawa suasana hingga dirinya terlelap di atas ranjang itu. Tiba-tiba, pendengarannya tidak lagi mendengar riangan suara Bumi berlarian. Perasaan letihnya seketika tersadar mengingat Bumi yang masih di pantai.
Dara keluar mencarinya, Bumi tidak ada dimanapun. Jangan lagi Tuhan.
“Bumi … Bumi … Bumi,” Dara berjalan sambil memanggilnya.
Berkeliling meneriakkan namanya hingga tidak sadar dirinya sudah berjalan jauh hingga berada di cottege private lainnya. Terdengar suara seperti milik Bumi, Dara berlari cepat mencari sumber suaranya.
“Bumi ….” ucap Dara.
Bumi sedang bicara dengan seseorang yang menggunakan pakaian menyelam. Mereka terlihat akrab.
“Maaf, itu anak saya ….”
Raka?
Laki-laki itu ternyata Raka yang terlihat senang bertemu dengan Bumi di tempat itu. Raka memeluknya dan memasangkan sebuah alat menyelam yang menutupi kedua matanya seperti kacamata besar. Dara mendekati mereka, namun tiba-tiba seorang wanita bule dengan bikini keluar dari cottege-nya membawa minuman untuk Raka.
Raka menggandeng tangan Bumi menghantarnya ke tepian dan menyambut minuman itu.
“Thanks Abelia,” ucapnya sembari meminumnya.