
Jika kamu benar-benar mencintai seseorang, katakanlah saat itu juga. Jika tidak kamu akan kehilangan momen dan dirinya.
Apa yang kamu pikirkan Dara, kenapa kamu masih saja membohongi perasaanmu. Kenapa kamu tidak berlari saja padaku dan mengatakan jika perasaanmu masih sama untukku. Aku hanya menginginkan pernyataan cinta itu. Apakah itu berlebihan.
Pagi harinya, Dara terlambat bangun matahari sudah menyongsong sejak tadi. Itu karena tubuhnya memaksanya untuk istirahat. Kubiarkan dirinya tidur lebih lama agar ketika bangun lebih segar dan merasa baikan.
Seharusnya aku sudah mengajakmu untuk mengeksplore tempat yang sangat indah ini. Aku ingin mengenalkanmu cara menyelam bersama Bumi. Ada perairan di desa Arborek yang memiliki 75% biota laut di dunia, menyelam bersama pari manta berpasangan, kuda laut Pygmy berwarna merah, memberi makan hiu Wobbegong, bintang laut berwarna orange, terumbu karang berwarna-warni dan penduduknya yang sangat ramah, mereka akan menyambut kita. Lalu, aku akan mengajakmu ke Misool laguna yang berbentuk hati jika dilihat dari atas, kamu akan sangat terpukau. Aku yakin!
Aku juga akan mengajakmu berenang di Laguna yang berbentuk bintang. Mungkin Bumi akan kutitipkan pada seseorang, karena aku hanya ingin berdua saja denganmu di tempat itu. Mengarungi dalamnya hati dan menyatakan perasaanku yang sebenarnya. Lalu, berjemur di atas pasir timbul, dimana permukaan pasir yang putih akan muncul ketika air sedang surut. Mungkin aku akan mencumbumu disana. Impianku.
Sejak tadi bermain dengan Bumi membuat istana pasir yang megah. Aku membuatkannya rumah yang besar yang bisa ditinggali bersama. Bumi menginginkan rumah besar untuk dirinya, Dara, Wini, aku dan seluruh pengawai kedai kopi. Bumi memiliki hati yang baik, seperti Ibunya.
“Mama … kenapa belum bangun?” tanya Bumi.
“Biarkan Mama tidur sebentar lagi, supaya lekas sembuh,”
“Mama sakit karena kangen Papa,”
“Benarkah?”
“Iya … Mama tidul sambil nangis, di tangannya ada foto berdua dengan Papa,”
Foto berdua? Aku ingat … ketika bulan madu ke Semarang di kota lama. Dara masih menyimpannya.
“Kamu sering melihat foto itu?”
Bumi mengangguk-angguk.
Pantas saja waktu itu Bumi mengenaliku sebagai Papanya, karena sering melihat foto itu.
***
Kemudian, setelah bosan bermain pasir Bumi merasa lapar.
“Pah … kapan Mama bangun? Bumi lapar,” ujarnya sembari meringkuk memegangi perutnya.
“Kamu kan baru saja sarapan … sudah lapar lagi?”
“Aku kan mau tambah tinggi … kaya Papa,” ujarnya sembari melompat.
“Hahaha … baiklah, ayo kita bangunkan Mamamu.” Menggandeng tangan Bumi ke dalam cottege.
Dara terlihat masih terbaring di tempat tidur, Aku melihat Dara mengingau. Memeriksa dahinya ternyata tubuhnya sangat panas. Aku mencoba menghubungi pihak resort untuk mendatangkan seorang dokter ke sini.
“Bumi, bisa kamu menjaga Mama sebentar,”
Bumi mengangguk-angguk setuju, mengambil selimut dan membalurkannya ke seluruh tubuh.
Hari semakin gelap, aku menjaga Dara yang masih saja lemas dan tidak bisa bangun. Demamnya masih tinggi meskipun dokter sudah menyuntikkan obat dan memasang infus. Jika besok tidak kunjung sembuh, Dara harus dirujuk ke rumah sakit.
“Dara bangunlah, kamu harus makan sesuatu agar cepat pulih,” ucapku berbisik. Tiba-tiba matanya terbuka meskipun sangat lemah. Airmatanya mengalir karena suhu tubuhnya sangat tinggi. Dara ingin duduk tetapi aku tidak membolehkannya.
“Tetap … berbaring saja,” perintahku.
Dara melihat sekeliling, “Bumi mana?” tanyanya pelan. Dalam keadaan sakit parah, masih saja mengkhawatirkan selain dirinya.
“Tenang saja … tuh … Bumi sedang tidur pulas di extra bed,”
“Kenapa Bumi tidur di sana?”
“Dokter menyarankan untuk memisahkan tempat tidur kalian, anak kecil cenderung mudah terkena virus dari orang yang sedang sakit.”
Dara berbaring kembali, tubuhnya terlihat lemah, wajahnya merah kehitaman, menggigil kedinginan dan seluruh tulangnya mengilu.
“Dara, makan ya … atau minum?”
Dara mengangguk-angguk.
“Apa Bumi sudah makan?” tanya Dara dengan napas tersengal-sengal.
“Bumi makan seafood hari ini, kepiting, lobster, udang semuanya dilahapnya,”
Dara tertawa kecil.
“Kenapa tertawa?”
Dara tersenyum sembari menggeleng. Mungkin dirinya merasa takjub dengan Bumi yang sering membuatnya tersenyum. Tiba-tiba airmatanya mengalir, namun kali ini bukan karena demam. Ada sesuatu yang tertahan dan akhirnya keluar.
Aku mengelap airmatanya yang jatuh, hanya itu yang bisa kulakukan.
Dara menceritakan ketika mengetahui kalau dirinya sedang hamil, perasaannya sangat bahagia. “Aku ingin segera mengabarimu tentang kehamilanku, tetapi aku takut pandanganmu karena kita sudah berpisah. Proses perceraian yang sangat cepat.” Tutur Dara menerawang ingatannya.
Dara juga mengatakan hingga usia kandungannya 5 bulan, dirinya hanya menginginkan gula-gula kapas dan es krim. Hanya kedua makanan itu yang tidak dimuntahkan kembali. Dara sempat khawatir jika janinnya tumbuh kekurangan gizi, tetapi, dokter menganjurkan untuk tetap memakan es krim.
“Hingga kini Bumi masih saja menyukai keduanya, terutama gula kapas. Tapi aku sering melarangnya memakan itu … hihi,” tutur Dara.
“Terima kasih sudah membesarkan Bumi dengan baik,” ucapku tulus.
Dara memandangku ketika mengucapkan itu. Sembari berkata, “Benarkah aku Ibu yang baik?”
Dan aku tersenyum menyakinkannya. Jemarinya menyentuh kerutan di dahiku, membelainya seakan ingin menghilangkannya. Aku tertawa kecil, apapun yang dilakukannya sering membuatku terpesona. Bahkan, ketika jarinya menyisiri kumis tipis di atas bibirku yang sudah dua hari ini belum dicukur.
“Sudah lama, aku tidak menyentuh wajah ini,” ucapnya lembut.
“Memang kapan terakhir kali?” tanyaku penasaran.
“Waktu pertama kali kita melakukannya, setelahnya kamu tertidur sangat pulas. Sedangkan aku enggak bisa menutup mata karena itu pengalaman pertamaku.”
“Dan malam itu adalah pertama kalinya kamu menyatakan cinta padaku. Aku sangat bahagia!”
“Sampai saat ini, aku masih mencintaimu Raka ….” Napasnya tersengal-sengal dan masih berupaya untuk menyatakan cinta padaku. Aku langsung memeluknya dengan erat sembari membisikkan, “Kamu satu-satunya wanita dalam hidupku.”
Tiba-tiba Dara terbatuk dan mengeluh pusingnya semakin kuat. Aku menyuruhnya untuk melanjutkan tidur. Aku akan menjagamu.
“Jangan memikirkan soal apapun, kamu harus sembuh, Dara.” Sembari menyeka keringat di wajahnya.
***
Keesokan paginya, aku terbangun yang masih memeluk tubuh Dara. Aku merasakan demamnya sudah turun. Wajahnya sudah tidak kemerahan meskipun terlihat pucat sekarang. Dara terbangun dengan senyuman, tubuhnya seperti habis di charging oleh batere berisi penuh.
“Hai,” ucapku tersenyum.
“Hai ….” Balasnya tersenyum.
Aku mendekatinya dan mencumbunya dengan lembut. Setidaknya setengah impianku tercapai dan rasanya sangat menakjubkan. Tidak ada hal lain yang seindah ini akan terjadi di surga dunia ini selain menyatakan cinta pada seseorang yang sangat aku cintai.
“Kalian sedang apa? Pacalan ya? ….” Bumi sedang memangku dagunya dengan kedua tangannya. Sedang melihat kemesraan itu.
Sontak aku dan Dara tersipu malu.
“Sini, Bumi ….” Sembari memanggilnya dengan lambaian ajakan bergabung.
Bumi melompat ke tengah-tengah kami dan berpelukan bersama. Kruntelan Time.
“Apa itu kluntelan?” tanya Bumi.
“Ya kaya gini … berpelukan!” ujarku.
***
Pencet Like, Rate 5, Vote, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )