
Misscall tidak terjawab untuk Candi Songo, Papa menghubungi Raka karena sudah berada didataran rendah signal ponselnya kembali penuh. Raka menjawabnya ketika baru saja mengantar Shesa di hotel. Dirinya mengatakan jika kurang setuju untuk mendirikan wisata kekinian itu.
Raka mengatakan jika ingin meraup keuntungan saja, memang sebaiknya membuat bisnis semacam itu. Tetapi, dirinya memberikan keraguan pada pembicaraan itu. Papa bertanya apa yang membuat Raka sedikit ragu dan kecewa.
“Pah, jika Raka boleh memberikan ide. Aku lebih suka jika lokasi itu dijadikan lahan parkir.”
“Lahan parkir untuk apa Raka?”
“Yah, Raka lebih berminat untuk konservasi bangunan bersejarah yang ada disebelah utara Pah,”
“Maksudmu Candi yang ada Sembilan itu?”
“Iya Pah, aku merasa miris ketika wisata kekinian lebih digemari dan mereka berbondong-bondong membayar mahal hanya untuk tiket masuk dan 1x foto saja. Sedangkan ada bangunan bersejarah yang terlantar dan rusak, terlebih tiket masuknya hanya 10.000 saja bahkan kurang dari itu.”
“Lalu apa rencanamu,”
“Raka belum pernah membangun bisnis Pah, jadi mohon maaf jika ide ini kurang pengetahuan. Tetapi kendala orang-orang tidak bisa kesana, salah satunya adalah lahan parkir. Dan candi-candinya sudah banyak yang rusak.”
“Lalu?”
“Raka berencana kita bikin lahan parkir dilokasi itu dan kursi gantung seperti ditempat wisata snow board di Jepang yang bisa langsung menuju ke candi songo. Jadi orang-orang bisa langsung parkir, mau berjalan kaki atau bisa menaiki kursi gantung sekaligus bisa melihat candi hingga sembilan. Raka juga mau kita bekerja sama dengan
pemerintah daerah untuk melakukan konservasi candi-candi dan pemandian air panas yang sudah terbengkalai,”
“Kita sebagai pebisnis akan diuntungkan dengan lahan parkir dan kursi gantung itu dan juga bisa berpartisipasi untuk menyelamatkan bangunan bersejarah, bagaimana Pah.”
“Idemu bagus juga, Papa coba bicarakan dengan rekan bisnis dan investor dulu. Mungkin Papa juga memerlukan bantuan kenalan di kementerian,”
“Baik Pah kalau begitu,”
“Kerja bagus Raka,”
‘Raka tersenyum bahagia’
***
Aku kembali ke hotel untuk melihat keadaannya. Memarkirkan mobil didepan resort, mungkin dirinya sudah berada dikamar untuk beristirahat. Ketika kubuka kamar itu, Dara tidak ada disana. Mencoba menghubunginya namun terdengar ponselnya yang tertinggal dikamar. ‘Kenapa dirinya sering meninggalkan ponsel’
Ragu untuk menghubungi Eza, ada perasaan segan dan sedikit tidak nyaman karena kejadian tadi pagi. Aku akan mencarinya di restoran, mungkin akan menemukannya disana. Ketika membuka pintu kamar Dara sudah berada bersama Eza yang sedang mengantarnya sampai depan pintu.
‘Mereka terlihat sangat gembira, tergambar jelas senyumannya sumringah membalas tawa Eza’
“D-dari mana saja?” ucapku terbata.
Mereka saling memandang, Dara seperti enggan menjawab.
“Kami habis makan malam … Dara sangat kelaparan,” ucap Eza santai.
“Oh….” ucapku canggung. ‘Ini kan masih sore, dasar perut karet’
“Dara, aku ke kamar dulu ya. Jangan lupa nanti malam,” ucap Eza seraya memberinya kode tentang suatu janji. ‘Membuatku penasaran saja’
‘Dara hanya mengangguk dan tersenyum kecil’
Lalu masuk kedalam kamar dan pergi mandi untuk bersiap-siap. Sedangkan aku semakin bingung dengan situasi ini. Aku seperti badut tidak berguna yang hanya bisa melihat mereka beraksi dalam panggung sirkus.
***
Setelah keluar dari kamar mandi, Dara sudah bersiap seperti ingin pergi ke suatu tempat. Dengan memakai pakaian kasual dengan bawahan jeans dan rambut digerai, dirinya terlihat cantik dan natural. Tanpa ucapan apapun, Dara melengos saja tanpa kata apalagi memberitahu tujuannya.
“Mau kema….” ucapanku terpotong, dirinya sudah menutup pintu itu.
Ada panggilan Shesa beberapa kali diponsel. Dirinya mengajakku untuk ke kota Semarang, mencicipi kuliner malam hari.
Menjemputnya di hotel, aku melihat Dara masuk kedalam mobil Eza. Membuat hatiku gusar dan ingin sekali melempar sesuatu. Aku tidak suka melihat mereka begitu akrab, sungguh. Aku yakin ini bukan sesuatu perasaan suka tetapi karena Dara milikku. Dara istriku, apa kata orang jika melihat istriku berjalan dengan laki-laki lain.
Sebelum memasuki hotel Shesa sudah menungguku di depan lobi. Sembari melambaikan tangannya dari kejauhan.
Dengan senyum sumringah dirinya memang tidak sabar untuk bertemu denganku. Langsung masuk kedalam ketika mobilnya berhenti tepat didepannya.
“Kenapa tidak menungguku didalam?”
“Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu,”
Shesa menarik baju depanku dan menciumku dengan penuh kehangatan. Aku menyukai kejutan itu, sungguh. Dirinya sungguh ingin memenangkan pertempuran dan sangat agresif untuk menyerang duluan. Aku melihatnya memang dirinya sangat cantik dan paham cara berdandan. Tidak seperti Dara yang hanya sederhana merias wajahnya.
“Kenapa melamun, kamu tidak suka jika aku menciummu?”
“Tidak, aku sangat suka … kejutan ini,” ucapku memberinya penghargaan.
“Kalau begitu aku akan melakukannya sesering mungkin … hehehe,”
“Hahaha, aku akan menunggumu melakukan itu,”
“Kamu jahat Raka, kenapa kamu yang tidak melakukannya,”
“Baiklah, aku akan melakukannya sekarang.”
“Jangan kamu sedang menyetir,”
“Aku akan menepi,”
“Raka jangan becanda … sebaiknya kita segera ke kota, Simpang lima. Aku ingin mencoba nasi kucing, nasi liwet dan lumpia,”
“Ok sayangku….”
“Shesa, tunggu. Sebaiknya kita mencoba kuliner yang lain saja, nanti kesini lagi.”
“Kenapa, perutku sudah lapar,” sembari menoleh kearah pelanggan yang sedang makan.
Shesa menyadari ada Dara dan Eza disana.
“Aku ingin makan sekarang,” ucapnya sembari mencari posisi duduk. Sepertinya ucapanku tidak dianggap dan dirinya tidak mau kalah dari Dara.
Aku mencoba mengalah dan mengikuti keinginannya. Dara akhirnya menyadari suaraku dan terlihat biasanya.
Shesa melahap semuanya sedangkan aku tidak napsu karena situasi ini, kenapa kita bertemu lagi.
Mereka selesai lebih dulu, Shesa ikut keluar dan menahan Dara untuk pergi.
“Tunggu, sepertinya kalian sangat cocok. Kenapa kita tidak double date saja, bagaimana?” ucap Shesa pada Dara.
‘Aku kesal dengan sikap kekanak-kanakan Shesa’
“Shesa, apa yang kamu lakukan, aku tidak suaka sikapmu ini,”
“Baiklah….” ucap Dara tiba-tiba.
“Aku setuju kita pergi bersama saja dan lakukan double date,” sambungnya lagi.
“Apa?” ucapku terkejut.
“Yes,” ujar Shesa senang. Sembari mengalungkan tangannya dilenganku seakan tidak mau lepas.
Begitu juga dengan Eza yang meraih jemari Dara dan menuntunnya menyebrang. ‘Hatiku terasa panas’
Berjalan kaki sembari menyusuri jalan pandanaran dengan lampu kota yang menyala indah. Jalanan yang ramai dengan penjajak lumpia dan jambu merah besar. Aku tidak menyangka jalanan ini semakin malam semakin ramai. Dulu Papa pernah mengajakku kesini waktu SMA, makan di restoran bandeng Juwana, lantai atas. Aku sangat suka dengan nasi goreng bandengnya. Rasanya juara dan karena tidak ada di Jakarta.
Dara memesan lumpia untuk dibungkus sebagai cemilan tengah malam dan memakannya langsung, mereka mencoba satu buah lumpia untuk dimakan bersama. Aku melihat Eza berusaha membagi dua lumpia besar itu yang masih panas. Dara memakannya dan terlihat menyukainya. Sedangkan Shesa merasa aneh dengan makanan yang baru dicicipinya itu.
“Bau sekali, aku tidak suka,” tukasnya dengan wajah mengernyit aneh.
“Haha … karena didalamnya rebung, katanya mau cobain makanan khas,” ujarku yang ikut memakan lumpia yang enak itu.
Lalu, mereka naik ke mobil odong-odong yang berhiaskan penuh lampu warna-warni. Aku dan Shesa berada
dibelakangnya mengikuti dengan mobil yang mirip. Mengitari taman simpang lima yang indah dan asri ini. Tidak disangka Semarang sudah sangat berubah, berkembang pesat.
Shesa minta berhenti karena tidak menyukainya, dirinya minta berjalan di taman saja dan duduk di sana. Sedangkan Dara dan Eza semakin jauh dari jangkauan.
“Apa kita cobain nasi kucing disana?” ucapku sembari menunjuk penjajak nasi kucing yang berjejeran dalam satu jalan.
“Baiklah, tapi tuntun yah. Aku salah memakai sepatu tinggi ini, kakiku sangat lelah.”
“Iya sayang,” sembari menuntunya pelan-pelan.
Tiba-tiba Shesa mengalungkan tangannya ke pundakku dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan. Memandangku dengan senyumannya dan meciumku dengan penuh gejolak yang ada ditubuhnya. Aku menghentikannya, meskipun tidak ada orang lain yang melihat dan hanya mobil-mobil yang lalu lalang, tapi di sini masih menjunjung tinggi adat ketimuran.
“Shesa, jangan nanti dilihat orang,” ucapku padanya.
“Tiinnn … tiiinnn,” bunyi klakson mobil yang lewat. Seseorang membuka jendela dan meneriakkan sesuatu, “ ini endonesia sembarang!”
‘Kami tersipu malu’
Dara berada disana. Melihat semuanya.
Tubuhnya bergontai gemetar merasakan syok yang sangat memukulnya. Matanya redup kehilangan sinar cahaya malam itu. Dipenuhi kaca-kaca bening tetesan airmata yang tertahan untuk mengalir.
Namun, jatuh juga airmata itu karena wajahnya yang tertunduk. ‘Aku menyesal Dara telah melihatnya’
“Eza maukah kamu mengantarku pulang?” ucapnya pelan menahan genderang didalam dada.
Eza hanya menganggukkan kepala dan merangkulnya dengan hati-hati.
“Sayang, mereka sudah mau pulang?” ucap Shesa padaku.
“I-iya sebaiknya kita juga pulang,” balasku.
Ketika didalam mobil, aku menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memikirkan wajah sedih Dara. Aku berusaha tetap tersenyum didepan Shesa, meskipun sebenarnya dada ini juga merasakan gemuruh yang akan segera meledak. Berkali-kali telah membuatnya menangis. Padahal, ini seharusnya bulan madu kami.
“Sayang, kenapa kamu tidak menginap saja di hotel, bersamaku.” ucapnya malu-malu.
“Tidak Shesa, kita belum menikah, aku tidak mau melakukan itu sebelum menikah.” Ucapku.
“Jadi, kamu akan menceraikannya dan menikahiku? Kapan?” sambungnya lagi.
“Aku tidak tahu Shesa, tolong jangan bahas itu dulu,”
“Baiklah, tapi temani aku hingga aku tidur yah,”
“Tidak bisa sayang, besok pagi-pagi harus menemui rekan bisnis Papa.” alibiku untuk menyudahinya malam ini.
“Baiklah, lagipula aku sudah bertemu denganmu, meskipun belum puas,” memberikan ekspresi cemberut.
Aku heran kenapa Shesa menjadi gadis manja seperti ini, dirinya sangat berbeda dengan Shesa yang kukenal. Apakah aku sama sekali tidak mengenal sifat yang sesungguhnya.
***
Berikan like, vote, boom and comment buat penulis ya )