
Aku sangat lelah, marah, kecewa dan merasa terhina. Belum pernah sebelumnya diperlakukan seperti ini. Permainan apa ini, sedangkan aku hanya sebagai orang pengganti yang hanya dimasukkan untuk diselamatkan lalu dilempar ke lembah terdalam. Aku tidak menyangka Raka sekejam itu memanfaatkanku hanya untuk membuat orangtuanya bahagia. ‘Aku tidak keberatan dengan hal itu, hanya saja dengan tidak memberitahukan soal perasaannya terhadap Shesa, itu yang membuatku sangat sakit’
Sesampainya di depan resort.
“Dara, apa kamu tidak apa-apa,” tanya Eza kuatir.
“Tidak, aku baik-baik saja,” sembari mengusap airmata yang jatuh berkali-kali.
“Menangislah dipundakku jika kamu mau,” anjurnya.
“Jika, aku memerlukan pundakmu, aku akan berlari padamu,” imbuhku.
“Baiklah, aku senang dengan perkataan itu, setidaknya ada harapan untukku.” celotehnya tidak masuk akal.
“Apa maksudmu?”
“Sepertinya … aku….” ucapannya terpotong.
Ada yang membuka pintu mobil dengan paksa. Eza melepaskan kuncinya, Raka membuka pintu mobil dan menarik tanganku dengan paksa.
“Raka, tenanglah, kamu menyakitinya?” bentak Eza.
“Raka lepaskan, sakit. Kamu memegangnya terlalu kencang,” keluhku.
“Kamu menyukai Dara kan? Katakan yang sejujurnya Eza,” gertak Raka mendadak.
“Apa, kenapa kamu….” timpalku tidak menyangka Raka berpikir seperti itu.
“Jawab Eza, kamu sahabatku,” raung Raka lagi.
“Iya, aku menyukainya. Jika kamu sudah benar-benar yakin untuk melepas tangannya, aku akan meraihnya dan tidak akan kulepaskan,” gertak Eza sembari menyorot matanya dengan tatapan tajam.
Menoleh ke kanan dan kiri, mata keduanya seperti mengeluarkan sinar merah pertanda permusuhan.
“Apa?” batinku terkejut dengan ucapannya..
“Haha … jadi benar selama ini kamu menyukainya,” sindir Raka. Wajahnya memerah menahan marah, namun di situasi seperti ini masih bisa tertawa. 'Raka sudah gila' pikirku.
“Tidak Raka, memang kuakui sejak pertama kali melihat Dara di restoran, aku menyukainya. Tetapi, aku tidak ingin mengejarnya karena kupikir kalian ada ikatan yang kuat. Setelah perlakukanmu tadi pagi, aku berubah pikiran. Aku akan mengejarnya.” ucap Eza menyakinkan.
Raka memberikan tatapan geram dan tidak suka pada Eza. Dan aku merasa semakin aneh dalam situasi ini. Semakin membuat kemelut dalam jiwaku. Mereka seperti anak kecil yang merebutkan sebuah permen favorit. Sedangkan aku yang tetap akan terluka akibat sikap kekanakkan itu.
Setelah pengakuan Eza tentang perasaannya. Raka terlihat gelisah malam ini, aku merasakannya di ranjang ini. Tubuhnya sedikit-sedikit membalik, seperti itu. Seharusnya aku yang tidak tenang dan canggung bagaimana menghadapi Eza besok.
“Raka bisakah kamu tidak bergerak terus, aku mau tidur nih,” keluhku kesal.
“Wah, sepertinya ada yang hatinya senang karena seseorang menyatakan perasaannya malam ini,” ucapnya menyindir.
“Tentu aku senang, baru kali ini ada yang mengatakan suka padaku, apalagi Eza sangat ganteng,” jawabku sekenanya.
“Kamu menyukainya juga?” tanyanya penasaran.
“Siapa yang tidak suka, Eza ganteng, usahanya dimana-mana. Bukan cuma seseoang yang memiliki satu perusahaan,” tuturku sembari terkekeh geli.
“Jadi kamu membanding-bandingkan diriku dengannya?” protesnya sembari terbangun dan membesarkan suaranya kearahku.
“Kenapa teriak? Kamu kesal? Kamu yang nanya tadi….” balasku kearahnya.
Kami berpandangan dan saling memberikan muka meledek. Lidah kami menjulur bersamaan seperti anak kecil yang berkelahi kecil.
Membanting tubuh kami ke kasur dengan kegeraman yang sama. 'Menyebalkan' batinku.
Aku mulai memejamkan mata. Namun, Raka akhirnya bicara.
“Baiklah, aku akan melepaskanmu jika kamu ingin lepas dariku,” sembari memunggungi.
Mataku terbuka mendengarnya mengucapkan itu. Aku tidak percaya jika Raka sangat egois. Dirinya sudah memiliki Shesa kenapa tidak ingin melepasku juga. Dan menunggu diri ini untuk melepaskan ikatan darinya. ‘Dasar laki-laki serakah’
Aku bangkit dari tidur dan memakai sandai hotel menuju ke pintu.
“Mau kemana?” ucapnya.
“Cari mi instant untuk menenangkan pengemis di dalam perut.” Jawabku sedikit acuh.
Raka juga bangun dari posisi tidurnya dan mengikutiku.
“Aku antar ya, sudah malam.”
Kami keluar hotel dengan berjalan kaki hanya dengan sandal dan piyama yang dibalut sweater. Semakin malam di sini sangat dingin. Tidak kusangka masih ada suhu seperti ini di pulau jawa. Bogor yang kutahu sudah tidak dingin, tetapi disini masih bisa membuatku menggigil.
Entah kenapa kami terlihat seperti anak kecil yang sedang berpetualang, ini sangat menyenangkan karena aku suka kejujuran dan sikap apa adanya. Tidak ada sikap jaga image atau berpura-pura.
Tidak ada warung didekat sini, akhirnya kembali ke hotel dan memesan mi rebus untuk menghangatkan tubuh. Dirinya memesan susu panas. Tiba-tiba, Eza muncul dari tangga dan Raka menghampiri lalu memeluknya. Saling berbisik dan menyapa, seperti tidak terjadi apa-apa. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi kupikir persahabatan lebih penting daripada segalanya.
Eza juga memesan yang sama denganku, kami tertawa dengan keras malam itu. Sangat menyenangkan.
Ketika aku dan Eza menyeruput mi yang panas. Raka mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir jika dirinya juga merasakan kesedihan.
“Kalian sangat cocok bersama,” ucapnya sembari melihat kejauhan taman yang sangat gelap hanya lampu-lampu taman yang sedikit menyinari.
Aku melihat ekspresi wajah itu untuk pertama kali. Wajah tersenyum tapi seperti menahan kesedihan, berusaha untuk mengelabui perasaannya sendiri. Entahlah.
***
Pada pesta perayaan penayangan premier film di sebuah hotel berbintang. Claudia datang ke pesta itu dan memberanikan dirinya untuk tampil di depan umum. Ini untuk pertama kalinya Claudia ingin menunjukkan harga dirinya sebagai seorang istri dari aktor film yang sudah dinikahinya. Semenjak dirinya tidak pulang kerumah, Claudia sangat canggung membayangkan akan berhadapan dengan Ahsraf dan juga wanita itu.
Meskipun kehadiran dirinya tidak diperlukan bahkan tidak dianggap, Claudia ingin menunjukkan jati dirinya yang tidak akan gentar atau pun terpuruk. Dengan anggunnya gaun pesta berwarna hitam dengan belahan di pangkal paha yang membuatnya semakin percaya diri. Claudia menunjukkan kelasnya didepan khalayak ramai.
Ketika memasuki gedung itu sontak mata Ashraf terpatri padanya. Wanita cantik yang sudah dipersuntingnya dan diabaikannya beberapa bulan belakangan. Ashraf mendatanginya dan meraih tangannya. Claudia mulai menyadari seluruh mata tertuju padanya karena kecantikan dan keanggunannya.
Claudia juga melihat sosok wanita yang telah membuat suaminya berpaling padanya. Namun, hanya menolehnya sebentar, tidak perlu lama-lama karena akulah ratu yang sebenarnya. “Begitulah caranya memperlakukan seorang pengagum sekaligus pengganggu,” Jangan berikan mereka panggung meskipun hanya sebentar.
'Batinku yang sangat geram'
Ashraf menghampiri dan menyambutnya dengan kepiawaiannya bersandiwara. Seakan-akan hubungan mereka baik-baik saja. Meskipun seluruh dunia pasti sudah tahu rumornya.
Claudia diperkenalkan dengan sutradara, produser dan kru film yang sebelumnya sudah dikenalnya. Berbincang-bincang sebentar hingga hatinya mulai kehilangan fokusnya. Claudia melihat wanita itu mulai mendekati Ashraf dan berbincang akrab. Semakin membuatnya gusar ketika Ashraf memandang wanita itu dengan perasaan. “Aku tidak
sanggup lagi.” batinku membara.
Claudia memang bukan wanita yang pandai bersandiwara, semua yang dilakukannya dengan tulus dan penuh kejujuran. Hal itulah yang membuat Ashraf jatuh cinta padanya. Teringat, pertemuan pertama mereka di sebuah pesta teman yang gemerlap seperti malam ini. Namun, sepertinya Ashraf sudah melupakan sejarah itu.
“Maaf, permisi,” Claudia meninggalkan pesta meskipun bel tengah malam belum berbunyi.
Hatinya sudah tidak tahan lagi jika semua ingatan itu muncul.
Keluar dari tempat itu dan menuruni tangga. Dirinya sudah puas karena menunjukkan kehadirannya sebagai seorang istri dan masih menjadi istri. Bukan pengecut yang hanya menangis di dalam kamar dan tidak melakukan apa-apa.
Ashraf mengejarnya yang sudah terlanjur pergi meninggalkannya.
“Claudia, tunggu,” ucapnya berteriak.
Claudia menghentikan langkahnya dan tersenyum padanya.
“Aku harus pulang Mama menungguku,” imbuhnya sembari tersenyum palsu.
“Apa yang kamu mau katakan? Katakanlah….” tuturnya.
“kenapa aku, kenapa bukan kamu yang katakan. Apa maumu?” keluh Claudia.
“Bisakah kamu menerimaku seperti ini.” timpal Ashraf dengan percaya diri.
“Maksudmu menerima setiap perselingkuhanmu?” sembari menggeleng tidak percaya.
“Kamu sudah tahu sejak awal Claudia, aku senang hidup di dunia sandiwara dan seringkali aku terbawa peran karena aku sangat menyukai peran itu. Hingga merasakan jatuh cinta berkali-kali dengan lawan mainku.”
“Kalau begitu, kamu bukan sedang bersandiwara. Kamu hanya memanfaatkan sandiwara itu sebagai kegemaranmu jatuh cinta dengan banyak wanita … sudahlah aku ingin sendiri.”
Claudia meneruskan langkahnya tanpa pegangan, hatinya terkoyak semakin dalam.
“Aku mencintaimu Claudia, terimalah kekuranganku ini. Ini hidupku, idealismeku, totalitas.” sambungnya.
Claudia menoleh untuk terakhir kalinya.
“Kalau begitu, aku bertanya padamu. Apakah kamu berkali-kali juga mencintaiku? Apakah kamu jatuh cinta berkali-kali juga padaku?” protes Claudia padanya.
Ashraf tidak bisa berucap apa-apa yang bisa membalas pertanyaannya.
“Sudah kuduga.” Claudia meninggalkannya mematung di sana.
Namun, Claudia yang paling terluka meskipun pertempuran malam ini dimenangkannya.
Ketika perjalanan pulang, Claudia bernyanyi dengan lagu sedih kesukaannya. All of me dari John Legend. Dirinya menyanyi sepenuh hati dan membebaskan hatinya dengan tangisan untuk terakhir kali. Claudia berjanji ini terakhir kalinya menangisi laki-laki itu.
Claudia berjanji akan bangkit dan membuat suaminya kembali padanya tanpa rengekan. Ashraf sudah berjanji dihadapan Tuhan dan orangtuaku akan menjaga dan selalu bersama hingga akhir hayat. ‘Aku hanya akan bersikap yang terbaik dan melihat dirinya mencintaiku lagi’
“Lihat saja nanti,”
Aku akan menjadi seseorang yang kamu inginkan berjuta-juta kali, bahkan bermilyar-milyar kali hingga dirinya menjadi lelah karena jatuh cinta.
***
Berikan Cinta untuk penulis yah ) Terima Kasih Readers