I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 38



Suara panggilan ponsel berbunyi di atas meja ruang tengah. Suaranya bergema hingga ke sudut-sudut ruangan yang luas dan megah. Bu Mesya bergegas melangkah dan mengambil ponselnya sebelum deringan terputus. Sejak tadi berjibaku di dapur memasak makanan kesukaan suaminya yang sedang berolahraga, jalan sehat  di atas treadmill diruang Gym.


“Halo … Mesya di sini,” ucapnya.


Bu Anggi, Mamanya Shesa ingin bertemu siang ini di restoran. Kenapa perasaanku tidak enak yah.


Lalu, Bu Mesya karena tidak sempat menyelesaikan masakannya, diserahkan kepada asisten rumah tangganya. Bersiap-siap, berdandan cantik untuk menemui Bu Anggi yang masih sangat terlihat muda dan cantik, seperti puterinya. Bu Anggi memang lebih muda usianya dibanding dengan Bu Mesya, mereka terpaut dua tahun saja.


Siang itu, ketika Bu Mesya datang, Bu Anggi sudah berada disana dengan minuman di mejanya.


Jangan-jangan Bu Anggi sudah lama menunggu. Jadi tidak enak hati aku.


“Halo, Bu Anggi apa kabarnya?” ucapku berbasa-basi. Namun, ucapan salamnya hanya dibalasnya dengan senyuman biasa tidak sumringah.


Seorang pelayan langsung datang dan menyodorkan menu untuk dipesan. Lalu, setelah makanan dan minuman sudah tersedia, mereka hanya menyantapnya tanpa berbicara. Mungkin kebiasaan Bu Anggi yang tidak pernah


bicara ketika makan, membuat Bu Mesya merasa sangat canggung, kalau begitu. Setelah piring-piring kotor itu sudah bersih dari depan kami. Bu Anggi mulai percakapan.


“Begini, Bu Mesya. Maksud saya mengundang….” ucapannya terpotong.


“Aduh, Bu Anggi … bicaranya santai saja … enggak perlu formal begitu, biar enak bicaranya,” ungkap Bu Mesya terus terang. Merasa tidak nyaman dengan sikapnya yang kaku.


“Baiklah, begini … saya sebagai orangtua Shesa merawa kuatir, karena sampai hari ini enggak ada kejelasannya.”


“Maksud Bu anggi?” tanyaku ingin penjelasan.


“Iya, apakah Raka ada niat untuk menikahi Shesa?”


“Saya juga sebenarnya mau minta maaf untuk itu, karena antara Shesa dan Raka….”


Tiba-tiba, Shesa datang memotong pembicaraan ini.


“Mah … ada apa sebenarnya. kalian bicara tanpa mengajakku?” sentak Shesa. Bu Anggi terkejut karena kedatangannya. Bu Mesya lebih terkejut lagi mendengar Shesa berbicara keras pada Ibunya.


“Shesa, dari mana kamu tahu pertemuan ini?” ucap Bu Anggi sembari berdiri. Shesa langsung duduk di sebelah Bu Mesya dan menggenggam tangannya sembari memohon.


“Tante, tolong bilang sama Raka untuk segera menikahi Shesa, yah?” ucap Shesa memohon. Sedangkan Bu Mesya masih syok dengan perubahan sikap Shesa.


“Shesa, apa kamu tidak punya harga diri, memohon seperti itu,” tuduh Bu Anggi pada Shesa yang merasa malu melihat puterinya mempermalukannya.


“Shesa sangat mencintai Raka, Mah. Jadi … biarkanlah kami menikah,”


“Maaf, Shesa … tante memang menginginkan kamu menikah dengan Raka, tetapi kali ini tante enggak bisa memaksanya.”


“Tante jahat! Dulu Raka pernah dipaksa menikah dengan Dara, kenapa sekarang enggak bisa. Lagipula, kalau bukan karena tante memaksanya menikahi gadis kampung itu, Raka akan kembali padaku!” ungkap Shesa histeris.


“Ini salah tante!” tangisannya semakin kencang.


"Apa?" benarkah ini salahku yang membuat mereka akhirnya berpisah.


Shesa menangis seperti anak kecil yang kehilangan boneka kesukaannya. Shesa seperti anak kecil yang tidak terima jika boneka itu dirampas, padahal boneka itu bukan miliknya.


***


Dalam perjalanan pulang, Bu Mesya menghubungi Raka.


“Raka, kamu di kantor?” tanya Bu Mesya. Raka menjawab baru selesai meeting. Bu Mesya menemuinya di kantor karena penasaran dengan ucapan shesa barusan.


“Tok … tok … tok”


“Pak Raka, Bu Santosa ingin bertemu,” ucap sekretarisnya.


“Masuk saja,” ucap Raka sembari menghampirinya. Mempersilahkannya duduk dan menawarkan minuman.


“Jadi Mama enggak boleh lagi ke sini, mentang-mentang bukan kantor Papamu lagi?” ucap Mama menyindir.


Raka hanya tertawa mendengar sindiran Ibunya.


“Raka, kamu enggak sibuk kan?” tanya Bu Mesya berbasa-basi.


“Enggak Mah, ada apa sih?” tanya Raka penasaran.


“Begini Raka, tadi siang Mama diundang makan siang sama Ibunya Shesa….”


Raka langsung menoleh kesegala arah, seakan bosan dengan nama itu.


“Raka, dengar Mama dulu. Memang, Bu anggi ingin menanyakan soal kepastianmu, ada niatan enggak untuk menikahi puterinya.”


“Mah, Raka kan sudah pernah bilang kalau enggak ada hubunga apa-apa lagi dengan Shesa!” ucap Raka menyakinkan Ibunya.


“Jadi … emang kamu sudah benar-benar enggak ada hubungan?” raut wajahnya penasaran sekali. Kepo banget.


“Iya, Mama sama Shesa kan yang seakan-akan masih ada kearah sana. Raka enggak mau berhubungan dengan siapa-siapa saat ini.” ungkap Raka tegas.


Jadi selama ini aku yang salah mengartikan hubungan kedekatan mereka. Lagipula, Shesa selalu mendekatiku dan


bercerita kalau hubungannya dengan Raka semakin dekat.


“Mama koq melamun sih, kaya Dara aja….” ucap Raka yang keceplosan menyebut Dara. Tenggorokannya seakan mengering tiba-tiba, sembari berdiri menghampiri mejanya yang terdapat gelas berisi air putih.


Bu Mesya mulai menyadari sesuatu dengan putera satu-satunya itu. Raka benar-benar mencintai Dara. Mengapa aku tidak sadar sedikitpun tentang perasaan Raka yang begitu besar untuk Dara.


“Raka, apa karena Mama kamu putus dengan Shesa?”


“Apa?”


“Jawab saja Raka, Mama mau semuanya jelas. Supaya Mama tidak melakukan kesalahan lagi,”


Setelah menenggak air putih itu, Raka menyandar pada meja kerjanya.


“Kami putus karena memulai hubungan dengan niatan yang salah dan begitu juga  dengan pernikahanku dengan Dara,” celoteh Raka menjelaskan dengan perkataan yang sulit dimengerti oleh Ibunya.


Raka bukan tipe pria yang  suka mengumbar kesalahan wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Kesalahan Shesa akan disimpannya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Begitu juga pernikahannya dengan Dara, sampai hari ini masih menjadi kenangan terindah.


“Raka, kenapa sih kamu mirip sekali Papamu!” keluh Bu mesya yang merasa geram.


Raka tersenyum kecil.


“Kamu masih mencintainya, ya kan? Dan Mama enggak menyadari kalau Dara adalah wanita yang kamu cintai. Maafkan Mama, Raka….” keluh Bu mesya yang mulai menangis. Penyesalannya semakin besar melihat sikap Raka yang masih saja tidak menyalahkannya dan sangat bijaksana.


“Mah … koq nangis, ini bukan salah Mama. Ini salah Raka sendiri, Raka sudah dewasa, Mah. Tenang yah, Mama jangan kuatir,” tutur Raka menenangkan Ibunya.


Mama memeluk Raka sangat erat.


Keinginannya hanya satu agar Raka bisa berbahagia dengan perempuan yang dicintainya. Mulai saat ini Mama akan mendukung setiap keputusan Raka. Tidak akan mencampuri lagi, meskipun keinginannya untuk menimang cucu sudah tidak terbendung lagi. Hari-hari tua-nya sangat sepi di rumah megah itu. Mama pulang dengan hati yang lega dan ringan.


"Baiklah, Raka Mama pulang dulu ya," Bu Mesya berpamitan pulang.


Melangkah dengan tenang, setelah menyelesaikan segala kesalahpahaman selama ini di antara keduanya.


***


Pencet Like, Vote, Rate 5, tambahkan ke favorit kamu dan komen yang banyak ya )