
Pesawat menuju Semarang,
Aku semakin gelisah karena suara baling-baling yang memutar dan mesin yang semakin keras. Menutupi telinga dan menundukkan kepala. Rasanya ingin berteriak tapi tidak bisa. Suara keras itu lebih memekakkan telinga dan hampir membuatnya pecah. Aku ingin menangis dan segera turun dari sini.
Mendadak Raka memegang kedua bahuku dari belakang dan menyadarkan. Membenarkan posisi duduk tegak dan
memasangkan sabuk.
“Sebentar lagi kita akan berangkat, bertahanlah hanya 45 menit lamanya,” ucapnya dengan lembut.
Raka juga memasangkan headphone ditelinga dengan berisi lagu-lagu yang disetelnya agar menenangkan. Benar aku sedikit tenang.
“Buka mulutmu?” ucapnya lagi.
Aku membuka mulut lebar-lebar.
“Aa….” bersuara A.
Dirinya memasukkan permen kedalam mulutku. Aku terkejut, Raka begitu perhatian. Seakan tahu kegelisahan dan ketakutan sejak tadi. Melihatnya memejamkan mata dan langsung tertidur. Sangat damai ekspresinya, tidak denganku yang harus melewati proses ini dengan perasaan was-was.
***
Kenapa Raka sering bermimpi buruk. Tubuhnya terguncang beberapa kali. Aku meletakkan tanganku diatas dadanya, ini terulang lagi ketika dirinya tertidur didepan pom bensin. Sebelum seseorang melakukan sesuatu yang buruk yaitu memukul belakang mobilnya. Kupikir-pikir orang itu pasti memiliki niat buruk pada kami. Untung saja tidak terjadi apa-apa.
Aku mendengar beberapa kali teleponnya berdering. Bagaimana ini jika Raka terbangun, aku akan menaruh ponselnya ditasnya saja. Terkejut, nama wanita itu sudah melakukan panggilan 15 kali. Apa yang diinginkan wanita itu terhadapnya, apakah mereka masih saling berhubungan. ‘Kenapa aku memikirkan mereka’
Akhirnya setelah mendengarkan musik yang menenangkan jiwa aku bisa memejamkan mata tanpa merasa tegang. Alunan musik ini membawaku berlabuh kesebuah tempat yang indah. Pulau terpencil yang dikelilingi oleh pantai biru dan lumba-lumba yang berlompatan dikedalaman.
Hanya ada aku dan Raka. Sembari duduk dipinggir tepian teras resort sambil mendayung air laut dengan telapak tangan, yang mengalir dibawahnya. Merasakan angin sepoi-sepoi dan hangatnya mentari yang menyinari tubuhku yang hanya menggunakan sehelai tipis baju seksi. Raka datang dari belakang dan memelukku. Membelai rambut dan memberikan kecupan ditengkuk yang membuat getaran hingga keujung kaki.
Meledak seakan aliran darah itu terkena setruman 10.000 volt. Menjalar kuinginkan lagi belaian itu, kecupan itu. Akhirnya Raka….
‘Terbangun dari tidur’
Raka membangunkanku dari mimpi indah yang mungkin tidak akan kudapatkan dari kenyataan. “Aku membencimu.” ucapku padanya jelas-jelas.
“Bukannya kamu senang jika turun dari pesawat ini?”
“Aku benci padamu….” ujarku lagi meluapkan kekesalan.
“Ada apa denganmu, tadi takut naik pesawat, giliran turun marah-marah, dasar perempuan aneh.” sahut Raka kesal.
Setelah turun dari pesawat Raka langsung mengecek ponselnya. Aku sudah tahu apa yang ada disana. Telepon berpuluh kali dari wanita itu. Mana ada seseorang menelepon suami orang lain hingga puluhan kali. “Tidak sopan!” sahutku kesal.
“Kamu bicara apa Dara?” tanyanya.
“Ah tidak apa-apa aku hanya pegal-pegal, he….”
“Ok aku mau telepon penting dulu, kamu ambil bagasinya.”
“Apa? Aku tidak paham dimana bagasi itu berada, ya ampun Raka.” ujarku kebingungan.
Raka tetap meninggalkan dengan kebingunganku. Berusaha mencari dari papan petunjuk diatas sana dan juga disamping. Semua petunjuk itu semakin membuatku pusing. Aku memutuskan untuk mengikuti seseorang yang menuju kesuatu arah. Aku yakin mereka juga akan mengambil bagasi. ‘Beginilah jika malu bertanya akan sesat di bandara’
Mengikuti kerumunan akhirnya sampai dimesin putaran yang membawa bagasi-bagasi itu. Mencari koper milikku dan Raka dibagasi sebanyak itu. Bagaimana mencarinya, semakin bingung raut wajahku menampilkan keruwetan semua ini. Kenapa pesawat tidak dibuat lebih besarnya untuk menaruh barang supaya tidak kesusahan seperti ini.
“Bingung carinya?” sahut seseorang dibelakangku tiba-tiba.
“Eza … koq masih … ada disini?” seruku kaget.
“Hehehe … aku mengikutimu!” jawabnya sembari menebar senyum manis itu.
‘Sadar Dara kamu istri orang’ sembari menggoyangkan kepala kekiri dan kanan.
“Hei melamun saja … mana Raka?” tanyanya.
“Sedang menelepon wanita itu … eh maksudku, aku tidak tahu pasti Raka dimana,” tukasku bingung sembari menggaruk-garuk kepala.
“Yauda ikut aku yuk, ke restoran bandara ada yang enak kamu pasti suka,” serunya sambil menarik tanganku.
“Bagasinya?”
“Oiya, kita akan ambil itu dulu.”
Eza mengajariku mencari kode dan koper itu diantara koper-koper yang berjalan. Setelah mendapatkannya, kami berdua berjalan keluar bandara dan menuju sebuah restoran jepang yang menyediakan mi udon. Baru pertama kalinya aku merasakan mi sebesar tali tambang. ‘Mungkin aku yang terlalu berlebihan’
“Enakkan mi instan….” jawabku spontan.
“Hahaha … baru kali ini ada anak jujur banget.” Eza tertawa lepas.
Tawanya sangat renyah, aku menyukainya. Eza orang yang baik dan tidak sombong. Apakah mereka manusia-manusia pilihan yang dikirim Tuhan untukku. Mengapa mereka sangat baik.
“Tuh kan melamun lagi,”
“Aku lebih suka kuah mi instan, karena lebih berasa mecin nya gitu. Kalau ini kurang nendang.”
“Hahaha … sumpah nih kamu kocak banget.” tawanya yang tidak pernah berhenti.
Setelah satu mangkok mi udon sudah habis kumakan. Raka meneleponku menanyakan aku dimana.
“Kamu dimana aku cari-cari enggak ada?”
“Aku….” ucapanku terpotong. Eza memintaku untuk memberikan ponselku padanya.
“Dara sama aku, kesini saja di restoran jepang,” seru Eza menjawab santai.
“Raka marah ya aku tinggal?” tanyaku.
“Sekali-kali enggak apa-apa bikin dia marah,” balasnya santai lagi.
“Oh begitu.”
Lima menit kemudian,
Raka terlihat murung dari kejauhan, seakan-akan ada beban dibahunya yang belum terangkat, Padahal aku membawa 2 koper sekaligus. Dirinya hanya membawa diri saja sudah kelelahan. Aku yakin ada yang dipikirkannya.
“Hai Say,” sahut Eza menyambut Raka.
“Katanya ke Semarangnya lusa….”
“Iya nih berubah tiba-tiba, aku mau nemenin Dara di Semarang. Boleh kan?”
Aku terheran-heran dengan kata-katanya. Dan lebih aneh lagi jika Raka mengizinkan Eza menemaniku selama di sini.
“Boleh dong, kasihan Dara belum pernah ke Semarang soalnya,”
Hancur sudah. Bayangan keromantisan dipulau terpencil atau disebuah gunung yang asri. Hancur sudah.
“Koq melamun terus sih kamu,” sahut Raka.
“Hehehe … aku cuma cape enggak biasa naik pesawat.”
Lalu kami melanjutkan ke hotel dengan supir yang menjemput. Dari bandara ke sebuah tempat resort diatas gunung yang bernama Susan Spa & Resort itu memerlukan waktu 45 menit dengan kecepatan sedang.
Perubahan cuaca terasa, memasuki kabupaten Semarang yang udaranya mulai dingin dan sejuk. Dikejauhan
terlihat gunung Ungaran yang tertutup kabut dilatarannya. Sungguh indah, padahal sekarang sudah pukul 08.00. Berbeda dengan udara di Jakarta yang semakin turun matahari semakin pekat polusinya.
“Sepertinya aku suka disini,” sembari menengadahkan tangan keluar jendela.
‘Raka hanya sibuk dengan ponselnya’
Sedangkan Eza sudah turun di kota tadi. Kami berpisah dengannya karena dirinya harus bertemu dengan seseorang di kota untuk urusan bisnis.
Medan perjalanannya semakin menanjak. Mirip dengan jalanan kearah Puncak Bogor. Tetapi mobil-mobil yang ada tidak sebanyak disana yang harus diatur dengan buka tutup jalan. Mungkin juga karena hari ini adalah hari kerja.
Pak Supir yang mengantar kami bercerita jika, arah ke Bandungan paling ramai sabtu-minggu. Arah keatas juga akan macet, sehingga harus pagi-pagi jika akan kesana.
Udara yang semakin dingin dan sejuk, tamanan sayuran hijau dirumah-rumah kaca yang berjejeran dikanan dan kiri jalan. Taman-taman bunga yang indah, pedagang-pedagang yang sudah ramai ketika melewati pasar. Buahnya besar-besar dan segar.
Akhirnya kami sampai juga di sini. Tempat penginapan yang paling tinggi, ucap Pak Supir. Dari depan tampak penginapan yang cukup nyaman. Kamar yang luas dan modern. Dilengkapi dengan fasilitas spa dan pijat terbaik. “Aku ingin mencobanya sekarang juga, sejak tadi tubuhku menegang.”
Raka mengizinkanku untuk mencoba massage di sini. Aku berlari kedalam kamar, menaruh barang dan bersiap untuk mencobanya. ‘Raka masih saja sibuk dengan ponselnya, aku kesal’
Ketika keluar kamar menuju tempat Massage & Spa, aku mendengar Raka sedang berbicara dengan seseorang ditelepon. “Shesa….”, hanya itu yang terdengar jelas darinya. Aku kesal dan sengaja kudekati dirinya dan berkata, “sayang temani aku pijat yuk….” ucapku lembut. Sontak dirinya terdiam dan segera menutup teleponnya, lalu aku
tinggalkan begitu saja selagi dirinya mematung.