I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 28



Terbangun di samping gadisku, tersadar dengan kedua mata yang masih tertidur pulas. Kepalanya yang berada di atas bahuku dengan rambut yang hampir menutupi wajahnya. Betapa letihnya karena semalaman sudah merawatku karena demam. Aku sibakkan rambutnya agar tidak menutupi wajah ayunya.


Kuraba bibirmu sekali lagi dan kukecup sebagai tanda terima kasih. Senyumku mengembang mengingat kemarin sudah menciummu seperti itu. Entahlah aku hanya terbawa perasaan dan menginginkannya. ‘Maafkan aku Dara karena sudah membuatmu bingung’ ucapku dalam hati. Aku tidak akan melupakan ciuman pertama kita.


Tiba-tiba suara dering ponselnya, Dara mulai bergerak perlahan, tersadar dari tidurnya dan aku berpura-pura masih tidur.


Aku mendengar Dara berbicara dengan Mama yang menanyakan kabarku. Dirinya sudah seperti istriku yang sesungguhnya, bahkan sangat pantas. Tangan hangatnya menyentuh dahi dan napasku untuk memeriksa suhu. Hampir saja aku ketawan jika sedang berpura-pura.


Setelah selesai perbincangan itu seakan-akan baru saja bangun dan memintanya membuatkan secangkir teh. Sengaja aku ingin melihat reaksinya tentang ciuman kemarin, namun sepertinya dirinya menganggapku sedang tidak sadar dan mengingau. Maka aku berpura-pura lagi jika tidak mengingat semuanya.


“Dara, aku ingin mengajakmu berkeliling kota?” ucapku.


Wajahnya langsung terlihat bersinar bahagia. Aku mengajaknya ke kota lama, kota bersejarah jaman penjajahan belanda. Di sana aku banyak memotretnya untuk kujadikan kenangan.


Shesa meneleponku entah 1000 kali panggilan tidak terjawab.


Aku hanya sedang ingin membayar kesalahan pada Dara. Hari ini adalah harimu sebelum kita kembali ke Jakarta.


***


Memperhatikan dirinya yang sangat menikmati setiap seluk beluk kota dan sudut keindahannya. Aku tersenyum bahagia melihat sikapnya yang begitu terkesan. Memang berbeda seseorang yang tidak pernah melihat dunia sebelumnya akan selalu merasa bersyukur ketika menginjakkan kaki untuk pertama kali. Aku akan sering-sering membawanya keliling Indonesia.


Sungguh kenangan yang tidak akan terlupakan untukku, berjalan berdua dengannya di atas paving-paving bersejarah ini, tembok-tembok kejayaan masa lalu, jendela-jendela besar hingga orang-orang yang ramah adat tradisinya.


“Raka,” ucapnya berteriak.


“Hem,” jawabku sembari memegang kamera kearahnya yang sedang berpose. Padahal aku sangat senang ketika dirinya meminta foto berdua. Foto kami hanya foto pernikahan yang tidak ada perasaan sentimentilnya waktu itu, entah baginya.


“Maukah kamu berfoto denganku….?” ucapnya tersipu malu sembari membetulkan rambutnya yang tersibak semilir angin.


“Ah … oke aku akan ke sana,” sembari mengambil foto selfie.


Foto berdua untuk pertama kalinya di depan gereja blenduk yang terkenal itu.


“Raka, aku takut lupa mengatakan ini … kalau aku sangat senang,” ucapnya tersenyum.


Tanpa sadar pipiku juga merona dan tersenyum malu. Jantungku berdebar kencang untuk kedua kalinya setelah yang pertama ketika menciumnya.


***


Sore harinya kami pulang dirinya sangat kelelahan hingga terjatuh dibahuku bersandar sepanjang perjalanan. Aku menjawab panggilan Shesa dan mengatakan jika sedang dalam perjalanan pulang. Aku mengatakan sangat sibuk mengurus bisnis Papa. Setelah mengatakan itu Dara terbangun dan memindahkan kepalanya ke sisi jendela, menjauh dariku.


Shesa bersikeras ingin bertemu karena sangat rindu. Aku menolaknya karena masih lelah. Namun, sepertinya dirinya tidak terima penolakan itu.


Hingga sampai di depan pintu rumah, Shesa sudah berdiri di sana dengan wajahnya yang emosional. Aku hanya bisa menarik napas panjang. Baru saja mengeluarkan koper-koper dan menaruhnya diteras. Shesa sudah mengomeliku tentang tidak menjawab panggilannya.


“Kenapa tidak menjawab telepon dariku?” ucapnya kesal.


Dara hanya pergi membawa koper-koper itu masuk ke dalam. Aku sungguh tidak enak dengan situasi ini.


“Shesa … kenapa kamu ke sini, ini rumahku dan apa kata tetangga nanti. Bagaimana jika orangtuaku juga melihatmu di sini,” ucapku meninggikan suara.


“Maafkan aku sayang, itu semua karena kamu tidak menjawab telepon dariku, aku khawatir.” ucapnya bersikap manja.


“Aku disana demam karena kelelahan mengurus bisnis Papa,” ucapku menjelaskan.


“Apa, kamu sakit? Kenapa tidak bilang. Ya sudah yang penting kamu sudah sehat sekarang,” sambungnya memperlihatkan kekhawatiran.


“Baiklah, tunggu aku di sini. Aku akan mengantarmu pulang,”


Aku ke atas untuk berganti baju dan mengambil kunci mobil. Aku menelepon Dara ke ponselnya untuk mengatakan pergi sebentar mengantar Shesa pulang. Namun, Dara tidak menjawabnya. Ketika aku turun, Shesa sedang berada di kamar Dara dan mengatakan sesuatu.


“Jadi di sini kamar tidurmu, syukurlah kamu tidak sekamar dengan Raka.” ucap Shesa sembari berdiri di depan pintu kamar Dara.


“Jangan coba-coba berpikir apalagi melakukan sesuatu untuk menggoda Raka.” sambungnya lagi.


‘Apa yang sedang dilakukan Shesa?’


Dara menutup pintu itu dengan sengaja, dirinya terlihat kesal.


“Shesa, kamu bicara apa? Dara bukan gadis seperti itu,” ucapku sedikit kesal.


“Syukurlah….” ucapnya angkuh.


“Ayo, aku antar kamu pulang!” sembari menarik tangannya untuk meninggalkan rumah ini.


***


banyak bicara dan Shesa tahu jika sedang marah padanya. Aku langsung memulangkannya dan pergi.


Entahlah sejak tadi aku memikirkan perasaan Dara yang saat ini pasti merasa tersinggung. Ingin rasanya segera pulang dan melihatnya. Sesampainya di rumah, ada mobil yang terparkir di garasi, aku mengenalinya. Eza berkunjung ketika aku sedang tidak ada di rumah. Apakah Dara sengaja memanggilnya untuk menemaninya.


Dari luar terdengar suara tertawaan mereka yang sangat akrab, aku kesal mendengarnya.


Kubuka pintu dan tercium aroma mi instan keseluruh ruangan.


“Bau apa ini?’ ucapku sedikit kesal.


“Kamu kan tahu kebiasaanku membuat mi….” ucap Dara terpotong.


“Aku tidak suka, buanglah….” ucapku sembari menaruh kunci mobil dan membuka jaket.


“Hei sayang, bagaimana bisnis Papamu … apa berjalan lancar?” tanya Eza.


“Aku ke atas dulu, tidak enak badan.” ucapku kesal. Memberikan sikap acuh pada Eza.


Menaiki tangga dan mendengar mereka bicara di belakangku semakin membuatku marah dan diliputi rasa yang aneh ini. Masuk ke kamar dan mondar-mandir di depan pintu, aku tidak paham ada perasaan yang tidak bisa kumengerti. Mengapa aku sangat kesal melihat Dara bersama Eza. Memegang kenop pintu itu, sebaiknya aku ke bawah untuk berbincang-bincang, tidak akan kubiarkan mereka berduaan saja.


Tetapi, aku akan terlihat sangat kekanak-kanakan. Sungguh perasaan yang aneh, virus kekanakan Shesa menular dengan cepat.


Aku akan pergi mandi saja untuk membuat kepalaku lebih dingin dan tubuhku terasa rileks.


Setelah setengah jam berendam di air hangat dengan aroma citrus orange dicampur lavender membuat pikiranku lebih ringan. Ketika keluar dari kamar mandi mengeringkan kepala dengan handuk. Seseorang mengetuk pintu kamarku.


“Tok … tok … tok”


“Siapa?” bertanya spontan.


“Aku … Dara,”


Aku segera membuka pintunya yang hanya memakai jubah handuk.


“Ada apa?” sahutku.


Dara melihatku dan tersipu. Dirinya membawakan potongan buah-buahan yang dibawakan oleh Eza. Aku menyuruhnya menaruh di diatas meja kerja. Ketika dirinya hendak keluar, aku mengatakan hal bodoh yang belum pernah kulakukan sebelumnya.


“Kenapa kamu membawa laki-laki masuk ke dalam rumah ketika aku tidak ada?” ucapku dalam sedetik menyesalinya. Aku juga bingung mengapa mengatakan itu.


“Apa?” ucapnya berhenti melangkah.


“Iya, apa kamu biasa dan merasa nyaman berbincang dengan laki-laki … harusnya kamu berbincang di teras saja, bukan di meja makan seperti tadi.” ucapku lagi.


“Jadi, aku dianggap perempuan nakal yang sudah biasa membawa laki-laki sedangkan kamu berciuman ditempat umum dengannya, kamu anggap itu bukan apa-apa? dasar picik,” ucapnya marah meninggalkanku dengan acuh.


Kukatakan lebih keras.


“Aku tidak suka kamu membawa laki-laki masuk kerumah ini!” sembari melempar handuk sebagai pelampiasan kekesalan.


Kekesalanku memuncak sampai membuat darahku naik hingga ke kepala, Asap mengepul dari sana menandakan ada kebakaran. ‘Aku terbakar api cemburu’ hanya tidak ingin mengakuinya.


Kebawah ingin melihatnya namun dirinya mengunci pintu kamar. Menuruni tangga ini dan melihat keadaan. Eza sudah pulang ternyata, aku menyesal telah berkata kasar padanya. Membuka pintu kulkas dan mengambil susu dan gelas, sembari mendekatkan diri perlahan ke depan pintunya, tidak terdengar apa-apa. Lalu, penasaran menempelkan telingaku di sana, terdengar isak tangisnya.


‘Aku sudah membuatnya menangis, sangat menyesal’ sembari menjeduk-jedukkan kepala di pintu itu tanpa sadar.


Tiba-tiba dirinya membuka pintu sembari menghapus airmatanya.


“Ada apa?” ucapnya.


Aku tertangkap basah sedang berada di depan pintunya.


“Tidak ada apa-apa … mau susu?” ucapku menyodorkan gelas dan susu itu.


Wajahnya cemberut dan segera menutup pintu itu lagi. Aku bisa bernapas lega.


“Bodoh … bodoh,” ucapku menghentakkan kepala beberapa kali.


Lalu aku duduk di meja makan dan meminum segelas susu dan menghabiskannya. Ketika menaruh gelas kotor itu di wastafel aku melihat semangkuk mi yang dibuang ke dalam tong sampah. Penyesalanku semakin besar karena aku telah menyuruhnya membuang mie itu ketika marah-marah tadi.


“Aku benar-benar bodoh dan menyebalkan!”


***


Berikan cinta sebanyak-banyaknya untuk penulis ya )