
Rasanya seperti hampir mencapai garis finish, tiba-tiba pelari lain dari arah belakang melaju dengan kencang, mendahuluiku. Sedangkan kaki ini terasa sudah maksimal tidak bisa lagi menambah kecepatan. Akhirnya kekalahan yang di dapat. Begitulah saat ini perasaanku, sejenak merasakan tidak lama lagi keinginan akan terwujud, nyatanya disalip oleh takdir yang berbeda.
Ku tatap pasi pantulan buram wajah di lantai, sembari menahan kepala yang terasa berat dengan kedua tangan. Pikiran ini buntu menghadapi semuanya, aku tidak bisa memenangkan hatinya. Apa sebaiknya aku pergi sementara, untuk melepas semua kepenatan. Mungkin sudah terlalu penuh pikiran ini hingga harus dikeluarkan.
Gelas yang terisi penuh air, ketika diisi, seluruhnya akan tumpah. Percuma jika dipaksakan, sebaiknya aku akan mengambil cuti panjang.
Terkadang aku ingin memaksakan keadaan, kunyatakan saja perasaan yang sebenarnya. Jika aku sangat mencintainya, itu yang sesungguhnya. Tetapi dalam situasi seperti ini perasaanku tidak penting lagi. Aku tidak ingin perasaan ini menjadi beban untuknya. Bagaimanapun semua yang dilaluinya aku tidak pernah ikut andil.
Bagaimana mungkin di saat seperti sekarang, aku tega untuk menghancurkan usahanya.
Sikap mundur alon-alon ini bukan berarti aku seorang pengecut dan menyerah. Aku akan kembali untuknya, meskipun akan sangat terlambat. Daripada memaksakan dan akhirnya kami berdua hancur bersama.
***
“Tolong, jadwal kosongkan untuk waktu yang cukup lama … mungkin saya akan mengambil cuti panjang,” ucap Raka pada sekretarisnya.
“Pak Raka perlu dipesankan reservasi?”
“Nanti saja, saya belum tahu tujuannya.”
“Baik, Pak. Kabari saja tanggalnya nanti saya akan urus semuanya.” timpal sekretaris itu.
“Deeerrttt … deerrrrttt”
Suara getar dari ponselnya, Eza menghubungi Raka.
“Say, enggak lupa kan kalau nanti malam ada acara soft opening restoran baruku, datang ya?” ujar Eza.
“Ya, aku pasti datang … kebetulan pikiran lagi mumet nih,” balasnya.
Raka tidak pulang kerumah langsung ke undangan pembukaan restorannya. Karena ini soft opening jadi tidak meriah, cukup memperkenalkan brand untuk beberapa kalangan. Tamu-tamu penting dalam undangan, seperti penikmat makanan, pengkritik makanan, chef ternama, vloger , keluarga dan teman-teman dekat saja.
Ketika datang ternyata para tamu sudah memenuhi tempat, Eza sedang berbicara dengan seseorang. Eza melambaikan tangannya memanggilku. Aku membalasnya dengan anggukan kepala. Tidak disangka wanita yang bersamanya adalah Dara dengan gaun yang dipakainya pada pernikahan kami.
Wajahnya tersipu malu. Entahlah, Dara terlihat semakin cantik, tidak ada yang berubah setelah tiga tahun.
Aku mencoba untuk menghindar karena sudah berjanji untuk menjauhinya. Mendekati bar dan memesan jus apple. Tiba-tiba Eza menarik lenganku dengan jus apel yang berceceran. Aku meminum yang tersisa dari gelas itu.
“Ini pesta ngapain kalau cuma duduk saja, berdansalah sebelum acara makan malam dimulai,” ucapnya memaksa. Eza mendekatkanku pada Dara. Wajahnya semakin tersipu malu ketika kami semakin dekat.
“Sebaiknya, aku pergi saja,” keluhnya.
“Jangan … nanti Eza kecewa kalau kamu pergi, aku saja yang pergi.” Sembari meninggalkannya.
“Kalau begitu, tinggallah di sini, aku tidak apa-apa.” ucapnya lagi.
Lalu, aku mengajaknya berdansa seperti yang diperintahkan Eza. Berada diruangan yang diatur menjadi lantai dansa dan ruangan makan malam yang mengelilingi lantai dansa itu. Eza sangat kreatif mengadakan soft opening restoran dengan acara pembukaan berdansa.
Aku menggenggam jarinya dan melingkarkan lenganku dipinggangnya, merengkuhnya dalam dekapan meskipun tidak begitu erat. Aku masih menjaga jarak untuk membuatnya nyaman.
“Apa, kamu tidak punya gaun lain?” tanyaku penasaran.
“Tidak, aku hanya punya apron,” jawab seadanya.
Aku tertawa, bukan bermaksud meledeknya. Tetapi jawabannya itu lucu.
“Kenapa? Apa kamu sangat menyukai gaun ini?”
“Aku hanya tidak perlu membeli gaun apapun, karena percuma tidak akan menggunakannya ke acara-acara seperti ini,” terangnya.
“Aku suka melihatmu memakai gaun ini, kamu seperti pengantin,”
“Bisakah kamu tidak membicarakan itu,” Dara sedikit gusar.
“Baiklah, aku hanya mencari pembicaraan,”
Aku lupa jika harus makan malam di tempat undangan seperti ini. Aku mencicipinya sedikit dan masih setengah bagian milikku, padahal masih ada beberapa menu lagi yang akan disediakan. Tiba-tiba Dara mengambil sisa potongan ikan halibut itu dan memindahkannya ke piringnya.
“Aku masih sangat lapar,” ujarnya dengan lugu. Sontak aku mengulum bibirku menahan tawa. Bahkan aku tidak tahan hingga menutupinya dengan serbet. Dara tidak pernah berubah, napsu makannya sangat besar dan itu yang kusuka darinya.
Semua fokus pada pengkritik makanan, chef ternama dan beberapa vloger dengan viewer jutaan. Sedangkan kami sangat leluasa, tidak perlu dimintakan pendapatnya cukup menikmati makanannya. Maksudku Dara yang sangat menikmati makanan itu.
Selanjutnya, Spring Chicken, Foie Roulade, Wagyu Cheek dan terakhir Black Forest. Dara sangat membantuku malam ini, menghabiskan seluruh makanan yang tersisa di piring.
Acara soft opening itu sangat sukses, bahkan menjadi trending topic dalam hitungan jam. Sebab para vloger menayangkannya live dari sini. Aku ikut senang usaha Eza begitu mengagumkan.
“Sukses ya Za,” ucapku sembari menjabat tangan dan memeluknya.
“Ini juga karena jasa dari perusahaan Raka Putra Santosa, hehe ….”
“Sama-sama!” timpalku.
“Dara terima kasih ya sudah datang, aku sangat senang!” ucapnya.
***
Aku mengantar Dara pulang karena sudah larut malam, lagipula Dara tidak keberatan. Sepanjang jalan kami tidak bicara hanya menikmati momen kebersamaan ini. Bukan karena tidak ada obrolan hanya hatiku merasa sudah siap melepasnya pergi.
“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucapnya.
“Sama-sama, berikan kecupan untuk Bumi,” balasku.
Dara turun dari mobil dan aku merasa ada sesuatu yang menggelitikku, yaitu keinginan untuk mengucapkan perpisahan.
“Dara … tunggu!”
Dara berbalik.
“Aku akan pergi, bisakah kamu mengabariku ….”
“Kabarin soal apa?”
“Yah … apa saja, apa yang ada dipikiranmu … atau tentang Bumi,”
“Kenapa?”
“Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kalian lakukan … ahh lupakan! Aku tahu kamu bukan orang yang suka memberikan pesan singkat. Kamu tipe orang yang menggunakan ponsel hanya untuk bekerja, baiklah maafkan aku.”
Aku berlalu dan membuka pintu mobil.
“A-aku akan mengirim pesan,” ucapnya pelan.
Aku senang mendengarnya. Lalu pergi meninggalkannya.
Melihat dari kaca spion, Dara masih di sana tidak langsung ke dalam. Apa yang membuatnya tertahan, kenapa masih melihatku dikejauhan, apakah dirinya ingin memandangku hingga menghilang, pada gelapnya malam dan terbatasnya pandangan.
Terima kasih Dara, aku senang malam ini.
***
Setibanya dirumah, aku mengecek pesan diponsel. Ada satu pesan darinya.
“Kecupanmu sudah kusampaikan pada Bumi.”
Sepertinya akan sangat sulit melepasmu.
***
Mohon dukungannya, pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )