I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 30



Hari ini sangat sibuk karena pada siangnya seseorang sudah memesan tempat dan makanan untuk 100 orang. Seseorang berulang dan merayakannya di restoran ini. Melihat kemeriahan itu membuatku senang. Balon, bunga dan kue ulang tahun yang dihadiri oleh teman dan keluarga. Sedangkan aku belum pernah merayakannya sekalipun.


Mungkin pernah waktu kecil, itupun Ibu memasakkan nasi kuning dan ayam goreng. Aku jadi rindu masakan Ibu. Meskipun hanya berlauk tempe, tahu, telor ceplok dan sambal. Tidak lupa mi rebus sebagai lauk berkuahnya.


“Ehem….” mendengus cukup keras.


“Kenapa menghela napas?” tanya Pak Ndut.


“Pasti yang berulang tahun sangat senang hari ini,” ucapku sembari tersenyum.


“Kamu iri yah … apa kamu tidak pernah merayakan ulang tahun?” timpalnya lagi.


“Seperti ini? Belum….” balasku.


Pak Ndut masuk lagi ke dalam setelah menerima panggilan. Di dapur sedang sangat sibuk.


***


“Bye Dara, aku duluan yah,” ucap Nia kasir yang baru.


“Dah … hati-hati dijalan,” tuturku sembari merapihkan kursi-kursi yang berantakan.


Tiba-tiba, Eza keluar dari ruangannya hanya mengucapkan salam yang umum saja untuk semua karyawan. Seperti tidak mengenalku sebagaimana biasanya. Aku jadi bingung dengan perubahan sikapnya. ‘Apa aku berbuat kesalahan yah?’ batinku.


“Hei, melamun saja kamu, ayo selesaikan biar cepat pulang.” sindir karyawan senior.


Setelah semua karyawan sudah pulang dan lampu dimatikan, aku orang terakhir yang melihat pintu restoran itu ditutup. Namun, Raka belum juga datang untuk menjemput. Sudah lama sekali aku menunggunya disini. Di bangku dekat tempat parkir.


Sebenarnya aku bisa pulang naik bis, entah kenapa aku ingin dijemput olehnya hari ini.


“Mungkin aku terlalu berharap” ucapku dalam kesendirian.


Sembari menatap langit yang penuh bintang, warna malam yang lebih gelap daripada kemarin dan tanpa semilir angin. Rasanya benar-benar sepi malam ini.


“Malam, bolehkah aku meminta hujan … aku ingin tidur lebih sejuk malam ini,” celotehku pada malam.


Tiba-tiba saja malam mengabulkan permohonannya, rintik hujan turun dengan pelan dan membuatku berlari kecil mencari tempat berteduh. Ketika aku kembali ke depan restoran, Eza juga berada di sana. Kami saling bertatapan seperti orang yang baru mengenal. Rasa canggung bertemu dengan seseorang yang asing.


Bergeser menjauh, memberinya jalan. Eza membuka pintu restoran dan masuk ke ruangannya tanpa menyapa. Aku berusaha menoleh padanya, entah hanya ingin melihatnya. Hujan semakin deras, sepertinya aku salah permohonan kali ini. Kenapa aku tidak memintanya setelah sampai di rumah saja.


“Aku antar pulang yah,” tuturnya sembari membuka sebuah payung.


“Ah … ya … baiklah,” balasku canggung.


Sepanjang perjalanan Eza tidak bicara. Rasanya ingin segera keluar, gugup membuatku melakukan sesuatu tanpa sadar. Aku mulai menggigit-gigit jari dan menggaruk berlebihan.


“Kamu lapar?”


“Enggak!” timpalku.


“kruweekkk….” suara ketua pengemis seakan protes atas jawabanku.


Eza menahan tawa. Aku melihatnya ingin tertawa.


‘Apa Eza sedang mempermainkanku?’


“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?” sindirku.


“Temani aku makan,” ucapnya datar.


“Kenapa?”


“Aku ulang tahun hari ini,”


“Apa?” tuturku terkejut.


Eza mengajakku ke suatu tempat. Kupikir ke restoran atau hotel ternyata ke apartemennya. Sebenarnya aku ragu untuk mengikutinya, tetapi karena ini hari ulang tahunnya aku menurut saja lagipula Eza sudah sangat baik padaku. Dan dirinya juga teman baik Raka.


“Kenapa kamu tidak mengajak Raka juga?”


“Aku hanya ingin ditemani oleh kado ulang tahunku,” celotehnya.


“Hah….”


‘Aku bingung dengan maksudnya’


***


“Duduklah di sofa senyaman mungkin, aku akan menatanya di piring,” ucapnya sembari mengeluarkan beberapa bungkus makanan.


“Hmm, baunya sangat lezat. Aku bantu yah, kapan kamu memasaknya?” ucapku sembari menghampirinya mengambil piring-piring dan menatanya di meja.


Aku membuatnya di kitchen tadi sore," ungkapnya sembari membuang beberapa bungkus makanan. Aku terperana kagum sosoknya yang ahli memasak makanan western seperti ini. Eza menghangatkannya di mikrowave, sembari menunggu aku bertanya padanya yang membuatku penasaran.


“Foto-foto yang ada di atas meja dekat sofa keluargamu?” imbuhku.


“Semua perempuan itu kakak-kakakku yang tinggal di London,” balasnya.


“Oh, seru yah pasti punya saudara perempuan banyak,”


“Berisik, cerewet dan yah seru banget. Terutama kalau bahas soal makanan, karena mereka semua chef dan memiliki resoran di London,” jawabnya.


“Benarkah? Wow pantas saja kamu juga punya restoran,” sanjungku.


“Yah, salah satu pengaruh mereka,”


“Oke, makanan sudah siap. Saatnya kita santap,” sambungnya lagi sembari menggosok kedua tangannya seakan


sudah tidak sabar.


“Tunggu, mana kue ulang tahunnya?” tanyaku.


“Jadi kamu bohong?” keluhku.


“Sedikit, sekali-kali aku berbuat nakal enggak apa-apa kan,” ucapnya sembari memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


“Baiklah, kali ini akan kumaafkan,” gerutuku.


Anehnya malam itu perasaanku sangat senang meskipun awalnya sangat kesal karena sikapnya yang tiba-tiba berubah cuek. Bahkan, sikapnya yang sudah membohongi tetap saja membuatku tidak bisa marah padanya. Aku senang karena kami bisa makan malam bersama.


“Aneh rasanya bisa makan malam bersama,” celotehku.


“Kenapa aneh?”


“Biasanya Raka tidak makan malam, hanya menemani sambil mengerjakan pekerjaannya di depan laptop.” timpalku.


“Bisakah tidak menyebut namanya ketika kita sedang bersama.” Gerutunya.


Aku hanya menatapnya terkejut, dirinya mengatakan itu sembari fokus pada makanannya. Sebenarnya apa yang ingin dikatakannya. ‘Aku sungguh tidak mengerti’


“Ah … sepertinya aku harus pulang,” keluhku yang mulai tidak nyaman dengan situasi ini.


“Tunggu, jangan pergi. Habiskan dulu makananmu.” cegahnya tidak ingin membiarkanku pergi.


“Tidak, Eza. Aku harus pulang karena situasi ini membuatku tidak nyaman. Aku bingung dengan sikapmu,” keluhku sembari berdiri.


“Sikapku yang mana? Dan kenapa kamu peduli?” sindirnya.


“Apa? kenapa kamu tanyakan itu?” protesku.


“Iya, kenapa kamu peduli dengan sikapku yang berubah, apa kamu menyukaiku?” sindirnya.


“Apa? kamu sudah mulai tidak masuk akal Eza,”


“Aku? Bukannya kamu yang tidak masuk akal?”


“Maksudmu?”


“Iya, kamu bertahan di dalam pernikahan tanpa cinta. Sedangkan kamu memikirkan sikapku yang berubah, apa kamu sadar kamu berada dimana?” tuduhnya.


‘Aku syok dan bingung dengan perkataannya yang membuatku geram dan menyadari sesuatu’


“Aku mau pulang sekarang,” raungku dan mulai berkaca-kaca.


“Pulang kemana?” sindirnya.


Sindiran itu semakin membuat hatiku seperti kaca yang pecah berserakkan. Tidak bisa menyatu dengan benar, seperti pikiranku saat ini. Aku mulai lunglai dan tersungkur ke lantai, menangis.


“Kenapa kamu mengatakan itu, kenyataan yang sebenarnya, aku hanya tidak ingin mengingatnya saat ini, bisakah kita berpura-pura hingga Raka mau melepasku,” ucapku menangis tersedu-sedu.


Eza bersimpuh dihadapanku dan meraih tangan ini.


“Aku tidak tahan membayangkanmu serumah dengannya, bisakah kita pergi jauh saja dari sini?” ucapnya.


“Apa? semudah itu … bagaimana dengan Mama, Papa yang sudah baik padaku. Bagaimana dengan keluargaku?”


“Kenapa kamu masih memikirkan orang lain, di saat ada yang memikirkan dirimu….” Keluhnya.


Sembari menghapus airmata ini aku bangkit dan meninggalkannya.


“Maaf, aku harus pulang.” gertakku.


“Dara … kenapa kamu tidak menyerah saja dan berlari padaku. Aku akan membawamu pergi ketempat yang kamu mau,” Eza yang menghalangiku untuk pergi.


“Eza, kumohon aku harus pulang, kamu membuatku bingung.” eranganku yang semakin lemah.


Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi.


“Tingnong … tingnong … tingnong!”


Eza membukanya, ternyata Raka yang sudah berada di pintu itu. Seketika pukulannya tepat mengenai wajahnya. Ujung bibirnya mengeluarkan darah bekas hantaman Raka.


‘Aku hanya syok tidak bisa berkata apa-apa’


Raka memegang kepalanya seperti frustrasi karena telah memukul sahabat terbaiknya, sedangkan Eza seakan menyadari kesalahannya.


“Za, kita selesaikan lain waktu aku enggak mau bahas ini sekarang!” terangnya seakan menahan amarah.


Raka meraih tanganku dan meninggalkan apartemen itu tanpa menoleh ke belakang. Aku hanya semakin menangis karena bingung dengan situasinya. Eza yang berubah dan memaksakan kehendaknya dan Raka yang sangat marah terhadapnya.


“Ini semua salahku, maafkan aku. Aku mau pulang saja!” teriakku sembari melepas genggamannya.


“Ini juga mau pulang!” bentaknya masih emosi.


“Itu bukan rumah, aku hanya menumpang di sana. Aku mau pulang ke kampung saja.” celotehku yang hampir menumpahkan semua perasaan yang berkecamuk.


“Dara, kumohon aku capek sekarang, kalau mau pulang kampung besok saja….” ucapnya sembari bertolak pinggang menatap ke awan.


Baru kali ini aku melihatnya sangat kelelahan. Apa yang membuatnya sangat lelah. Teringat, dirinya baru sembuh, dan sepulang dari Semarang hari ini kami langsung bekerja.


“Baiklah….” ucapku menurutinya.


Sepanjang perjalanan pulang Raka hanya terdiam, tidak menanyakan soal tadi. Bahkan tidak menanyakan kenapa aku bisa di apartemen Eza. Apakah dirinya benar-benar tidak peduli padaku, lalu tahu dari mana jika aku berada di sana. Sikapnya benar-benar membuatku bingung. Aku terjebak diantara keduanya yang membuatku gila.


Sesampainya dirumah, Raka hanya langsung naik ke kamarnya. Tidak ada ucapan selamat tidur atau apapun. Membuatku semakin merasa bersalah saja.


***


Berikan cinta dengan cara like, vote, rate 5 dan komen yang banyak yaa )